Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham,
kata-Nya:
"Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri--demikianlah firman TUHAN--:
Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk
menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati
engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti
bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan
menduduki kota-kota musuhnya.
Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat,
karena engkau mendengarkan firman-Ku."
(Kej. 22:15-18)
------------------
Dipilih, Bukan Diklaim
Semoga sudah jelas bagimu bahwa Tuhan hanya menciptakan satu agama universal bagi seluruh umat manusia. Tapi mungkin akan timbul pertanyaan selanjutnya: agama universal yang mana? Banyak agama mengklaim dirinya sebagai agama universal. Atas dasar apa sebuah agama dapat mengklaim dirinya agama universal?
Jawabanku: tidak ada dasar apapun yang bisa digunakan untuk mengklaim sebuah agama sebagai agama universal. Agama universal itu dipilih dan dibentuk oleh Tuhan sendiri, tepat seperti yang dikatakan Yesus: “Bukan kamu yang memilih Aku tapi Akulah yang memilih kamu…" (Yoh.15:16). Agama universal bukanlah suatu status yang dapat diklaim, diraih, dilombakan apalagi diperdebatkan oleh manusia. Tuhan sendiri yang telah memilih dan membentuk agama universal ini, bukan berdasarkan pengakuan atau klaim manusia. Dan sekali Tuhan memilih, pilihanNya itu tetap, Tuhan tidak pernah mengganti pilihanNya di tengah jalan seolah-olah Dia telah melakukan kesalahan pada pilihan sebelumnya. Jadi apapun yang diupayakan manusia tidak dapat membuat agama universal menjadi bukan universal lagi, dan sebaliknya juga tidak dapat mengubah agama yang sebelumnya bukan agama universal menjadi agama universal. Manusia tidak bisa mengubah apa yang telah ditetapkan dan dipilih Tuhan sendiri.
Anakku, kalau engkau memahami ini akan menjadi lebih mudah bagimu untuk menentukan mana sesungguhnya agama universal diantara agama-agama lainnya. Kata kuncinya: dipilih, bukan diklaim. Ingatlah perkataanku ini: Tuhan hanya menciptakan satu agama universal dan Dia tidak pernah gagal. Prinsip ini dapat menjadi peganganmu dalam mencari agama universal yang otentik.
Engkau tinggal mencari dalam sejarah keselamatan, di dalam kisah-kisah para nabi kapan saat Tuhan menentukan pilihanNya dan mulai membangun agama universal ini. Bandingkanlah diantara sekian banyak agama yang ada, mana yang paling layak sebagai agama universal. Dan harus engkau ingat, sekali Ia menetapkan pilihan Tuhan tidak pernah menggantinya seolah-olah Ia telah gagal. PilihanNya sudah pasti benar dan lagi Tuhan selalu setia pada apa yang telah dipilihNya sendiri. Sekalipun manusia atau malaikat berupaya mengacaukan agama universal ini, Tuhan pasti sanggup memulihkannya. RancanganNya selalu berhasil.
Dan engkau akan melihat agama universal ini memiliki keunggulan yang jauh di atas semua agama lain, bedanya akan seperti langit dan bumi, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yes: 55:8-9). Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya agama universal ini memiliki suatu unsur yang hanya dapat dibuat oleh Tuhan dan tidak dapat dibuat oleh tangan manusia sebagai bukti otentik agama tersebut memang diciptakan sendiri oleh Tuhan. Ini yang akan menjadi pembeda signifikan antara agama universal dan agama-agama lain. Aku akan menerangkan soal ini nanti.
Sama seperti seorang nabi yang dipilih Tuhan untuk mengajar kebenaran, demikian juga agama universal ini dipilih Tuhan untuk mewartakan sabdaNya bagi seluruh umat manusia. Kalau engkau bijaksana dan sungguh-sungguh menggunakan akal-budimu engkau akan bisa menemukannya di antara sekian banyak agama yang ada.
Mereka yang mengatakan Tuhan telah memilih agama universal baru karena agama universal yang lama sudah gagal atau diselewengkan adalah sama dengan menghina Tuhan, seolah-olah Dia tidak mampu memilih dengan baik sejak awal dan rancanganNya gagal. Kalau sudah begitu sama sekali tidak ada jaminan ‘agama universal’ yang baru juga benar, mungkin saja Tuhan salah lagi dan kita butuh agama universal yang baru lagi. Lalu sampai kapan Tuhan akan membuat agama universal yang baru? Jangan engkau percaya perkataan orang-orang semacam itu, asumsi mereka tidak logis dan mereka hanya akan menyesatkanmu. Ujilah dengan akal sehatmu dan engkau akan menemukan kebenaran.
Perjanjian Dengan Abraham
Sebagai seorang Katolik aku percaya bahwa Gereja Katolik adalah agama universal yang diciptakan oleh Tuhan bagi seluruh umat manusia. Dari namanya, Katolik memang berarti universal. Sekalipun secara resmi Gereja Katolik baru hadir dalam panggung sejarah setelah kehadiran Yesus di dunia, Gereja Katolik bukanlah agama yang sepenuhnya baru. Gereja Katolik merupakan kelanjutan dan penggenapan dari ajaran-ajaran para nabi dalam tradisi agama Yahudi. Bisa dikatakan Gereja Katolik adalah agama universal yang dibentuk Tuhan secara bertahap sejak dimulainya tradisi keagamaan Yahudi yang digenapi dengan kehadiran Yesus Kristus dan berlanjut terus hingga hari ini melalui Paus dan para uskup.
Dalam pengertianku, Tuhan merencanakan penyelamatan manusia memang sejak kejatuhan Adam, tapi momen paling signifikan yang menandai dimulainya pembentukan agama universal ini adalah saat Tuhan melakukan perjanjian dengan Abraham. Setelah Abraham berhasil melewati ujian dimana dia diminta mengorbankan anaknya, Ishak, Tuhan mengikat perjanjian bahwa Ia akan menjadikan keturunan Abraham sebagai bangsa yang besar dan melalui keturunannya semua bangsa akan mendapatkan berkat.
Ini berkaitan erat dengan puncak karya keselamatan, yaitu penyaliban Yesus Kristus. Pada penyaliban Yesus, Tuhan menyelamatkan manusia dengan mengorbankan putraNya sendiri. Lihat benang merahnya, kesediaan dan ketaatan Abraham mengorbankan anaknya menjadi awal dari karya keselamatan yang berpuncak pada pengorbanan diri Yesus Sang Putra Allah. Kesediaan Abraham mengorbankan anaknya menjadi pembuka jalan bagi penyaliban Kristus, Putra Allah, Anak Domba Allah. Setelah Abraham menyatakan kesediaannya mengorbankan Ishak, Tuhan memberikan anak domba sebagai korban pengganti sekaligus tanda dimulainya karya keselamatan, dan ribuan tahun kemudian Tuhan memberikan lagi Yesus Kristus Sang Anak Domba Allah (Agnus Dei) sebagai korban salib yang menjadi puncak karya keselamatan.
Korelasi ini menegaskan hubungan yang tak terpisahkan antara perjanjian Tuhan dan Abraham dengan karya penebusan Yesus Kristus. Dengan sendirinya ini juga menjadi tanda adanya kesinambungan antara tradisi keagamaan Yahudi yang dimulai dari Abraham dan dilanjutkan oleh Gereja Katolik. Hubungan tak terpisahkan antara keturunan Abraham dan Gereja Katolik juga ditegaskan secara simbolik melalui 12 orang rasul pengikut Yesus yang melambangkan 12 suku Israel yang berasal dari 12 anak Yakub, cucu Abraham. Sulit sekali menyangkal ini semua saling berkaitan.
Lihatlah anakku, perjanjian Tuhan dan Abraham ini juga menjadi kunci untuk memahami mengapa Tuhan memilih Abraham dan keturunannya sebagai agama universal, bukan bangsa yang lain: Abraham telah menunjukkan iman dan ketaatan yang begitu besar kepada Tuhan dengan sanggup mengorbankan miliknya yang terbaik bagi Tuhan. Ketaatan dan iman Abraham yang demikian besar ini telah membuat Tuhan berkenan mempercayakan seluruh karya keselamatan melalui Abraham dan keturunannya. Ini semua menjadikan bangunan agama universal ciptaan Tuhan begitu indah, kokoh, dan penuh makna simbolik: dimulai dengan iman dan ketaatan Abraham lalu dipuncaki oleh cinta kasih Yesus Kristus.
Kesetiaan Tuhan
Aku ingin mengulangi lagi pernyataanku: Tuhan hanya menciptakan satu agama universal dan Dia tidak pernah gagal. Eksistensi Gereja Katolik hingga saat ini sebagai perwujudan dari agama universal yang dibentuk Tuhan sejak perjanjianNya dengan Abraham menjadi bukti yang tidak terbantahkan. Sekalipun perjalanan sejarah agama universal ini tidak mulus dan penuh dengan pergolakan, agama universal ini tetap eksis dan terus menjadi cahaya kebenaran bagi seluruh bangsa hingga saat ini.
Faktor yang paling berperan dalam eksistensi agama universal ini adalah kesetiaan Tuhan. Pada masa Perjanjian Lama (PL), bangsa Israel sebagai pembawa agama universal berkali-kali ditaklukkan dan ditindas bangsa lain, mengalami pembuangan, bahkan berkali-kali tidak setia pada Tuhan dan berpaling pada dewa-dewa bangsa asing, namun itu semua tidak membuat Tuhan meninggalkan bangsa Israel. Tuhan tetap percaya dan setia pada keturunan Abraham, Dia tetap menjadikan keturunan Abraham sebagai sarana sabda-Nya.
Demikian juga di dalam sejarah Gereja Katolik, agama universal ini berkali-kali mengalami upaya penghancuran, mulai dari munculnya aliran-aliran bidaah yang memecah-belah gereja, mengalami berbagai tekanan dan penindasan politis, peperangan, ancaman invasi Islam yang memicu munculnya Perang Salib, dan banyak lagi. Ini tidak membuat Gereja Katolik runtuh. Bahkan ketika Gereja Katolik menjadi demikian korup, penuh skandal, tidak setia pada Tuhan dan mencintai keduniawian sehingga memunculkan gerakan reformasi dari Martin Luther, Tuhan juga tidak pernah meninggalkannya. Tuhan hanya memberikan peringatan dan dengan caraNya sendiri Tuhan memulihkan kembali kemurnian Gereja Katolik sebagai agama universal pembawa sabdaNya.
Sama seperti bangsa Israel yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, Gereja Katolik juga penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Namun itu semua tidak mengalihkan penyertaan Tuhan. Kesetiaan dan belas kasih Tuhan jauh lebih besar dari ketidaksetiaan Gereja Katolik. Sebagai penerus keturunan Abraham (secara rohani) sampai saat ini Gereja Katolik tetap dipercaya sebagai agama universal yang menjadi sarana berkat Tuhan bagi seluruh bangsa. Tuhan tetap mempercayakan seluruh SabdaNya kepada Gereja dan menjaganya dari segala kesesatan hingga saat ini. Tak ada satu momen yang cukup signifikan dalam sejarah yang menunjukkan Tuhan pernah mengalihkan berkat dan sabdaNya dari Gereja Katolik. Ini semua membuktikan kesetiaan Tuhan yang tanpa syarat sebagaimana pernah ditegaskan kembali oleh Yesus sendiri: "...Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat. 28:20).
Jumat, 02 Oktober 2009
Langgan:
Entri (Atom)


