Baru-baru ini seorang tokoh kanan garis keras Belanda Geertz Wilders (yang masih keturunan Indo juga) membuat heboh dunia dengan filmnya yang berjudul FITNA. Hebat juga nih... saya sebelumnya nggak kenal siapa itu orang, sekarang jadi pengen tau. Hm... jalan pintas menuju ketenaran kelas dunia...
Di YouTube film ini ditampilkan dalam dua bagian dengan durasi total sekitar 16 menit. Film itu dimulai dengan tampilnya gambar kartun Muhamat dengan bom di atas surbannya dan timer yang menunjukkan perhitungan mundur 15 menit.
Selanjutnya ditampilkan ayat Alquran Surah Al-Anfal (8:60) yang diikuti dengan cuplikan serangan WTC 9/11 serta bom kereta di Madrid. Kemudian diikuti komentar seorang imam yang mengatakan bahwa "Allah senang jika non-muslim terbunuh".
Ayat Alquran berikutnya yang ditampilkan adalah An-Nisa (4:5) yang menggambarkan sikap anti-semit dari ajaran Islam. Berikutnya tampak seorang imam sedang berkotbah dengan berapi-api sambil menghunus pedang: "...bahkan batu-batu akan berkata, 'Wahai Muslim, seorang Yahudi bersembunyi di belakangku, datang dan penggallah kepalanya.' Dan kita akan memenggal kepalanya! Demi Allah, kita akan memenggalnya. Wahai Yahudi, Allahu Akbar! Jihad demi Allah!"
Kemudian bergemuruhlah suara para pendengar yang meneriakkan takbir sambil mengepalkan kepalanya ke atas.
Gambar berikutnya adalah seorang anak kecil berusia 3 tahun yang tampaknya sudah diindoktrinasi sedemikian rupa dengan ajaran Islam sehingga ketika ditanya soal orang Yahudi anak itu dengan polos menjawab Yahudi adalah 'monyet dan babi'. Lalu ditampilkan bagaimana seorang imam dalam sebuah penampilan di Iqra-TV menyatakan bahwa, "Yahudi adalah tetap Yahudi, mereka harus dibunuh dan dibantai".
Berikutnya ditampilkan gambar pengunjuk rasa berjilbab yang dengan bangga mengangkat spanduk bertuliskan 'Prepare For The Real Holocaust', lalu 'God Bless Htler'. Ditampilkan juga gambar sepasukan teroris berbaris dibelakang para imam sambil memberi penghormatan ala Nazi.
Ayat Alquran yang ditampilkan berikutnya adalah Surah 47:4, yang kemudian dihubungkan dengan pembunuhan Theo van Gogh. Dilanjutkan dengan menampilkan Mohammed B, pembunuh Van Gogh yang dengan tegas menyatakan akan melakukan hal yang sama jika kesempatan itu terulang lagi. Sementara itu para pendukung pembunuh Van Gogh berunjuk rasa mengingatkan semua orang untuk mengambil pelajaran dari kasus Theo Van Gogh atau menghadapi resiko pembunuhan. Kemudian ditampilkan juga culikan gambar pemenggalan Hensley oleh teroris Al Qaeda atas nama Islam.
Selanjutnya Surah 4:89 yang berisi ajakan untuk membunuhi kaum kafir dimanapun berada dihubungkan dengan berbagai upaya pembunuhan dan ancaman pembunuhan bagi orang-orang murtad dan 'musuh Islam' seperti Salman Rushdi, dll.
Giliran berikutnya adalah Surah 8:39 yang berisi ajakan untuk memerangi 'seluruh dunia' sampai semuanya menjadi Islam. Ajaran fasis dan imperialis ala Islam ini kemudian diperkuat dengan pernyataan-pernyataan seorang imam Iran:
"Islam adalah agama yang akan (ingin) menguasai dunia. Islam pernah melakukannya (dulu) dan pasti akan melakukannya lagi".
Berikutnya tampil juga pahlawan dunia Islam, Mahmoud Ahmadinejad:
"Pesan dari revolusi Islam bersifat global, dan tidak dibatasi oleh tempat dan waktu tertentu saja. Jangan ragu... Allah menghendaki, Islam menaklukkan apa? Islam akan menaklukkan semua puncak-puncak gunung di dunia"
Kemudian tampil gambar beberapa ulama yang meneriakkan semangat imperialis ini dengan berapi-api,
"Kita pernah menguasai dunia sebelumnya, dan atas kehendak Allah, kita akan menguasai dunia lagi. Harinya akan tiba dimana kita akan menguasai Amerika. Harinya akan tiba dimana kita akan menguasai Inggris dan seluruh dunia."
"Allah memerintahkan kita untuk menyebarkan Islam ke seluruh dunia"
"Kalian akan menguasai Amerika. Kalian akan menguasai Inggris. Kalian akan menguasai seluruh Eropa. Kalian akan mengalahkan mereka semua. Kalian akan memperoleh kemenangan!...."
Pada film bagian kedua, Geertz Wilder mengutarakan keprihatinan politiknya atas berkembangnya pengaruh Islam di Belanda (akibat membanjirnya imigran dari negara-negara muslim) dengan judul "Belanda dalam pengaruh Islam" Disitu digambarkan bagaimana parlemen Belanda mengijinkan pemakaian burqa, statistik jumlah imigran muslim di Belanda dan seluruh Eropa yang meningkat secara eksponensial, pembangunan mesjid-mesjid megah yang begitu mencolok sampai-sampai kartupos dari Belanda juga bergambar masjid. Juga digambarkan bagaimana polisi Belanda harus melepas sepatunya saat memasuki masjid, dsb.
Selanjutnya Geertz Wilder menggambarkan apa yang akan terjadi apabila Islam menguasai Belanda dan Eropa. Digambarkan bagaimana seseorang harus menjalani hukuman gantung hanya karena dia seorang gay, lalu wanita menghadapi pemenggalan dan hukuman mati hanya karena zina, wanita-wanita harus mengalami penyunatan, anak-anak kecil mengalami penyiksaan dalam suatu acara ritual, kebebasan berbicara dan berpendapat akan dilarang, dsb.
Gambar-gambar berikutnya adalah potongan-potongan headline surat kabar yang menggambarkan semangat kekerasan dalam Islam dan bagaimana Islam menghendaki Belanda menjadi negara muslim.
Kemudian film ditutup dengan pesan ini:
Karena bukan terserah saya, tapi bagi kaum muslim sendiri
untuk merobek ayat-ayat penuh kebencian dari Alquran.
Islam menuntut anda untuk memberi tempat bagi mereka,
tapi Islam tidak memberi tempat bagi anda.
Pemerintah menuntut anda menghormati Islam,
tapi Islam tidak memiliki rasa hormat pada anda.
Islam ingin mengatur, menguasai,
dan berupaya menghancurkan peradaban barat.
Tahun 1945, Nazi sudah dikalahkan di Eropa.
Tahun 1989, komunisme sudah dikalahkan di Eropa.
Sekarang ideologi Islam juga harus dikalahkan.
Hentikan islamisasi.
Lindungi kebebasan kita.
Dan timer berhenti... lalu meledaklah gambar kartun Muhamat.
That's all folks.....
Buat mereka yang sudah terbiasa melihat Islam dari sudut pandang tertentu apa yang ditampilkan oleh Geertz Wilders sama sekali bukan apa-apa. Memang begitulah Islam!
Itu semua memang fakta, bukan rekayasa. Malah saya pikir seharusnya Geertz juga menampilkan teror bom Bali dan bagaimana para teroris begitu bangga menjalankan misi bom bunuh diri atas nama perintah agama Islam.
Tapi justru karena film ini bukan fitnah dan rekayasa maka dunia Islam menjadi sangat marah dan malu. Bagaimana mau menuntut Geertz kalau semua yang ditampilkannya adalah fakta-fakta yang memang ada!
Bandingkan ini dengan novel 'Da Vinci Code' karya Dan Brown atau film dokumenter tentang 'Makam Talpiot dan osuarium Yesus' karya James Cameron. Tidak ada hujatan atau ancaman hukuman mati, sebaliknya dengan kepala dingin semuanya dibantah dengan argumen dan fakta-fakta sejarah! Beginilah seharusnya Islam bersikap, tapi sayang sekali Islam memang tidak punya kemampuan untuk itu.
Geertz sama sekali tidak merekayasa apa-apa, ia hanya berupaya mencari benang merah dari semua kejadian-kejadian dan berita-berita tentang Islam yang kita semua terlalu takut atau malu untuk mengakuinya. Mungkin kesalahan Geertz hanya ia terlalu frontal dan tanpa basa-basi serta tidak menyisakan ruang bagi Islam untuk membela diri selain dengan kemarahan. Apa yang dilakukan Geertz hanyalah berteriak 'maling' kepada seorang koruptor, sementara banyak orang malu atau sungkan melakukannya karena koruptor itu seorang pejabat.
Kalau anda semua juga ikut marah dan malu itu bagus.. setidaknya anda mengakui bahwa memang ada yang salah dengan Islam. Toh anda tidak bisa menunjukkan apa yang salah dari film itu.
Apa yang dilakukan Geertz tidak akan berhenti dengan adanya pelarangan dan hujatan. Justru ini akan memancing lebih banyak orang mempelajari Islam dari sudut pandang yang dipakai oleh Geertz. Akibatnya, cepat atau lambat wajah buruk Islam akan tampil telanjang di hadapan seluruh dunia. Siapa yang bisa menahan arus informasi di jaman ini?
Minggu, 30 Maret 2008
Sabtu, 01 Maret 2008
Islam Sebagai Antitesis Agama (3): Visi Peradaban
Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru,
sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama
telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.
Dan aku melihat kota yang kudus,
Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah,
yang berhias bagaikan pengantin perempuan
yang berdandan untuk suaminya.
(Why. 21:1-2)
Dewasa ini cukup banyak orang yang mempertanyakan apakah kehadiran agama masih cukup relevan? Untuk menjawab pertanyaan ini dengan baik tentu perlu diketahui hal penting apa yang dapat diberikan agama pada manusia yang tidak mampu diberikan oleh apapun sebaik agama. Salah satunya adalah: tujuan hidup. Untuk apakah manusia hidup dan kemanakah manusia seharusnya mengarahkan hidupnya? Ada banyak yang berupaya memberi jawaban, termasuk diantaranya filsafat dan sains, tapi pertanyaan ini secara khas mendapat jawaban terbaiknya dalam agama.
Bukan hanya tujuan hidup yang bersifat personal, tapi bahkan untuk seluruh umat manusia agama mampu memberikan sebuah visi peradaban global yang secara ideal menjadi akhir perjalanan peradaban manusia. Dalam ayat yang saya kutip di atas tampak jelas bahwa dalam kristianitas peradaban manusia akan berakhir pada suatu tatanan peradaban baru yang ideal dan sempurna, yang merupakan duplikat dari kehidupan surgawi.
Memang benar, itu tadi adalah gagasan dari kristianitas dan anda mungkin akan bertanya, bukankah ada banyak agama? Jika ada banyak agama, tentu ada banyak visi peradaban yang berbeda-beda. Atas hak apa kristianitas menjadikan visinya menjadi visi universal umat manusia? Jawaban saya adalah atas dasar obyektivitas. Dari semua visi peradaban yang ditawarkan agama-agama, adakah yang lebih baik dari sebuah peradaban surgawi? Inilah puncak peradaban yang ditawarkan kristianitas pada manusia!
Satu Kapal Satu Nahkoda
Pernahkah anda mengetahui ada sebuah kapal yang dinahkodai oleh dua orang atau lebih? Saya belum pernah, dan saya yakin tidak pernah ada karena kapal semacam itu sudah tentu tidak pernah sampai ke tujuan dan mungkin akan tenggelam di tengah lautan. Perlunya satu kapal dikendalikan oleh hanya satu orang nahkoda adalah sebuah kebenaran yang kita terima begitu saja secara wajar. Tapi anehnya banyak orang, terutama kaum pluralis, merasa alergi kalau saya katakan bahwa peradaban manusia ini juga hanya membutuhkan satu agama universal dengan satu visi global untuk menjadi nahkoda yang mengarahkan kemana peradaban manusia ini hendak menuju. Seperti misalnya Paul F. Knitter dalam bukunya "No Other Name?" yang agaknya merasa malu dengan ajaran Gereja yang menempatkan Kristus sebagai jalan keselamatan satu-satunya.
Banyak agama sudah pasti memunculkan banyak visi. Dulu, pada saat manusia masih hidup dalam komunitas-komunitas yang cenderung terpisah satu sama lain adanya agama-agama lokal mungkin memang diperlukan untuk menjadi visi peradaban (sementara) bagi komunitas tersebut. Eyang saya orang jawa, yang karena segala keterbatasan situasi dan kondisi pada masa itu hanya mengenal agama Islam dan kejawen. Tentu saja apa yang baik dalam kedua jenis kepercayaan itu cukup untuk menjadi jalan kebenaran bagi mereka. Dari sini saya dapat memahami kebenaran dari sikap inklusif Gereja sebagaimana diungkapkan Karl Rahner bahwa agama-agama lain pada batasan tertentu juga mengarahkan manusia pada keselamatan karena mengajarkan kristianitas secara anonim.
Tapi itu situasi yang mungkin hanya cocok sampai pada milenium kedua. Pada milenium ketiga, yaitu sekarang, secara umum semua orang memiliki akses untuk mengenali agama universal. Manusia semakin lama semakin membaur menjadi satu komunitas global. Sekat-sekat yang dahulu membatasi perjumpaan antar bangsa, tradisi, dan iman sudah terkikis oleh kemajuan jaman. Ini realitas yang tidak bisa dibantah atau dihalangi. Dalam kondisi seperti ini kehadiran banyak visi peradaban sebagaimana yang ditawarkan agama-agama hanya akan membuat manusia kebingungan dan justru kehilangan visi peradaban yang sesungguhnya. Akibatnya peradaban manusia akan kehilangan arah dan jalan di tempat. Satu komunitas manusia global seharusnya membutuhkan hanya satu visi peradaban yang universal, yang berasal dari satu agama universal!
Dengan demikian dalam komunitas global kehadiran banyak agama dengan beragam visi sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi. Manusia harus menerima kenyataan bahwa kemajemukan agama adalah realitas masa lalu yang segera hilang ditelan perjalanan sejarah. Tugas agama-agama lokal dan parsial sudah saatnya berakhir, untuk itu perlu kita sampaikan ucapan terima kasih pada agama-agama masa lalu itu dan menempatkan mereka pada bagian yang cukup terhormat dalam panggung sejarah umat manusia. Sayang sekali tidak banyak orang yang siap menerima kenyataan ini.
Visi Bersama Agama-Agama
Bagi kaum pluralis ide-ide perlunya umat manusia memiliki satu visi yang berasal dari satu agama universal tidak dapat diterima. Bagi mereka itu adalah ungkapan kesombongan agama tertentu dan sekaligus pelecehan terhadap kemanusiaan. Dalam pandangan mereka visi peradaban universal, kalau itu ada, seharusnya merupakan visi bersama yang diterima semua agama, bukan visi agama tertentu. Setidaknya upaya mencari titik temu agama yang digagas kaum pluralis seperti Fritjof Schuon, Harold Coward, John Hick, Huston Smith, dan lain-lain mengarah pada ide yang demikian. Manusia, menurut mereka, mampu memutuskan sendiri visi peradabannya berdasarkan apa yang diberikan dan disepakati oleh semua agama-agama manusia.
Tapi pandangan ini memiliki kelemahan yang mendasar. Siapa yang memutuskan visi bersama itu sebagai visi universal dan atas dasar apa visi bersama ini menjadi visi universal yang bersifat tetap dan mengikat? Tidak ada yang mampu menjamin itu! Akibatnya visi bersama, kalaupun itu berhasil diupayakan, hanya merupakan visi bersama yang bersifat sementara, tidak memiliki kekuatan yang mengikat dan dapat berubah-ubah oleh selera jaman. Selain itu, karena sifatnya yang kompromis pastilah dangkal.
Salah satu contoh upaya kompromi ini adalah 'Global Ethic' gagasan Hans Kung dan Karl-Josef Kuschel yang mau tidak mau membatasi cakupannya pada relasi antar manusia. Memang 'Global Ethic' tidak dimaksudkan untuk menjadi visi peradaban, tapi itu sebuah contoh dangkalnya hasil yang dicapai dari upaya kompromi agama-agama. Nasib yang sama akan terjadi kalau manusia mengupayakan visi bersama agama-agama. Apalagi kalau manusia mau mencoba menentukan visinya sendiri secara independen di luar ajaran agama-agama, keadaannya bisa jadi akan lebih parah. Visi yang bersifat dangkal (karena bersifat kompromistis) dan sementara (tidak mengikat, bisa direvisi sewaktu-waktu) bukanlah visi peradaban global.
Gereja Universal Dan Visi Peradaban Global
Seperti yang saya ungkapkan di bagian awal, Gereja universal telah menawarkan sebuah visi peradaban berupa sebuah peradaban surgawi. Memang ini terasa arogan dan tidak akan menyenangkan bagi mereka yang tidak mengimani Kristus. Tapi secara teoritispun peradaban semacam ini adalah peradaban terbaik yang mungkin dicapai oleh manusia.
Memang setiap agama tentu punya visi peradabannya sendiri, tapi seperti apa visi peradaban yang ditawarkan dan bagaimana agama-agama itu menjadikan visi peradaban tersebut sebagai kesadaran umat? Saya belum menemukan jawaban yang memuaskan.
Sebaliknya, peradaban surgawi yang ditawarkan Gereja sebagai tujuan akhir perjalanan peradaban manusia tidak hanya berhenti sebagai konsep teoritis dan asumsi teologis saja tapi terus-menerus ditanamkan sebagai harapan dan kesadaran umat. Bagi saya, sejak awal berdirinya Gereja memang sudah dirancang untuk membawa manusia pada sebuah peradaban surgawi. Ini akan tampak jelas sekali dalam doa satu-satunya yang diajarkan Yesus di dalam Injil:
Bapa kami yang ada di surga
Dimuliakanlah namamu
Datanglah KerajaanMu
Jadilah kehendakMu
Di atas bumi seperti di dalam Surga......
Dalam teks doa ini terkandung jelas sebuah harapan akan datangnya peradaban baru yang ideal, peradaban surgawi yang hadir di bumi sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Lalu seperti apa gambaran peradaban surgawi itu akan tampak pada lanjutan doa ini:
Berilah kami rejeki pada hari ini
Dalam peradaban baru itu manusia tidak akan mengalami kekurangan kebutuhan sehari-hari, Tuhan akan menyediakannya.
Dan ampunilah kesalahan kami
seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dalam peradaban baru itu akan hadir perdamaian yang sejati, yaitu perdamaian dengan Tuhan dan sesama.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat
Dalam peradaban baru itu tidak akan ada lagi penderitaan dan kejahatan.
Saya yakin Yesus mengajarkan doa-doa lain juga, tapi bukan sebuah kebetulan jika doa ini adalah satu-satunya doa yang diajarkan Yesus yang tercatat dalam Injil. Tampaknya doa ini memang dimaksudkan menjadi doa seluruh Gereja sekaligus seluruh umat manusia yang akan membawa peradaban manusia menuju peradaban surgawi. Doa Bapa Kami adalah doa yang membangun peradaban baru. Sejauh yang saya tahu tidak ada doa yang sedahsyat ini.
Islam Dan Visi Peradaban Global
Dalam kaitannya dengan peradaban manusia Islam memiliki posisi yang sedikit janggal. Islam mengaku sebagai agama pamungkas yang mengakhiri rangkaian pewahyuan nabi-nabi. Tapi visi peradaban yang ditawarkan Islam pada manusia tidak begitu jelas apakah lebih baik dari peradaban surgawi yang sudah ditawarkan oleh Gereja.
Ada beberapa hal dalam Islam yang justru membuat saya sangat yakin bahwa Islam tidak mampu menawarkan peradaban yang ideal bagi manusia. Banyak prinsip-prinsip dan ajaran Islam yang justru bersifat menghancurkan peradaban manusia. Saya akan paparkan beberapa kelemahan mendasar Islam dalam konteks ini:
1. Islam tidak memiliki gambaran ideal peradaban manusia yang damai.
Ketika Gereja merujuk Kerajaan Surga sebagai gambaran ideal peradaban manusia, Islam tidak memiliki rujukan apa-apa untuk visi peradabannya selain peradaban teoritis yang disebut Darul Islam. Jangan dulu bicara soal surga sebagai rujukan, gambaran Islam tentang surga ternyata sangat duniawi. Seperti misalnya hidup yang penuh kenikmatan karena dikawinkan dengan banyak bidadari (Ath-Thuur:17-20).
Ini dapat dipahami karena Muhamat, seperti kebanyakan manusia umumnya, memang tidak pernah tahu seperti apa itu surga. Jadi gambarannya tentang surga tidak lebih dari proyeksi imajinasinya sendiri yang kebetulan sangat terobsesi pada kenikmatan seksual. Dengan demikian di Islam yang terjadi serba terbalik, bukannya berharap peradaban manusia menjadi seperti kehidupan surgawi tapi justru gambaran tentang kehidupan surga yang menjadi seperti kehidupan duniawi, hanya saja dengan kenikmatan tanpa batas.
Dalam pandangan Islam, puncak peradaban manusia adalah terbentuknya Darul Islam yang bersifat global. Tapi sayangnya Islam tidak mempunyai cara lain yang efektif untuk mewujudkan itu selain melalui kekerasan (dengan berbagai manifestasinya). Secara teoritis mungkin saja Islam mengajarkan dan membawa damai, setidaknya begitulah klaim mereka. Bahkan banyak kalangan Islam moderat mencoba dengan berbagai upaya untuk menunjukkan wajah Islam yang penuh damai. Tapi kenyataan sejarah menunjukkan fakta yang bertentangan.
Sejak awal sejarahnya Islam tidak pernah berkembang dengan cara damai, Islam selalu menggunakan kekerasan, baik melalui kekuatan senjata maupun dominasi ekonomi / politik. Tidak heran jika seorang kaisar Byzantium, Manuel II Paleologus, sebagai seorang saksi jaman pada masa ekspansi Islam mengatakan: "Tunjukkanlah sesuatu yang baru yang dibawa Muhammad, dan yang Anda temukan hanyalah kejahatan dan ketidakmanusiawian, seperti dalam perintahnya untuk menyebarkan iman dengan pedang." Kutipan ini menjadi sangat populer karena pernah dikutip oleh Paus Benedictus XVI dan menjadi kontroversi. Sang kaisar tentu tidak berbicara tanpa dukungan fakta yang diketahuinya. Bahkan kenyataan sejarah menunjukkan Muhamat sendiripun terlibat dalam banyak peperangan demi menyebarkan Islam. Secara praktis tak ada satu fase sejarah yang signifikan dimana Islam berkembang dengan damai tanpa campur tangan kekuasaan.
Jika Muhamat sendiri tidak mampu mengembangkan Islam dengan damai, apa mungkin pengikutnya bisa melakukan yang lebih baik? Kalau sudah seperti itu bagaimana mungkin Islam menawarkan sebuah peradaban masa depan yang damai kepada manusia? Ada pepatah bijak, jangan pernah percaya pada orang telanjang yang menawari anda baju, kemungkinan besar anda akan ditipunya.
2. Islam juga tidak mampu membangun komunitas manusia yang baik
Kalau membangun peradaban yang damai berada di luar jangkauan Islam, kita akan turunkan lagi standarnya menjadi sekedar membangun komunitas manusia. Tapi untuk inipun ternyata ajaran Islam tidak memiliki kualifikasi yang cukup. Ini bukan tuduhan yang mengada-ada. Saya mengacu pada prinsip sederhana: barangsiapa tidak dapat melakukan hal kecil dengan baik, jangan berharap dapat melakukan hal besar. Bagaimana mungkin Islam dapat membangun komunitas manusia yang baik, atau bahkan peradaban yang baik, jika Islam tidak memiliki ajaran yang memadai tentang perkawinan?
Bandingkan ini dengan ajaran Gereja tentang perkawinan yang bersifat sakral, monogami dan tak terceraikan. Perkawinan dalam Islam tidak pernah merupakan perkawinan yang sakral, melainkan sekedar sebuah kontrak perjanjian manusiawi yang setiap saat bisa dibatalkan. Kehadiran Tuhan dalam janji perkawinan hanya sekedar hiasan pemanis atau alat legalitas saja, tidak lebih. Sepasang mempelai Islam yang baru menikah akan sangat yakin bahwa pasangannya adalah jodoh yang telah ditentukan Tuhan. Tapi setelah dua tahun menikah kemudian mereka bercerai, menurut mereka hal itu adalah kehendak Tuhan karena mereka tidak berjodoh. Tidak jelas Tuhan mana yang betul, yang mengawinkan mereka atau yang menceraikan mereka.
Islam juga mengijinkan poligami, dengan embel-embel asalkan dapat berlaku adil. Siapapun yang mau menggunakan akal sehatnya akan tahu bahwa perkawinan poligami tidak pernah adil, sehebat apapun keadilan itu diupayakan. Perkawinan poligami pada dasarnya sudah mengandung unsur ketidakadilan yang melekat. Dimana letak keadilan bagi seorang istri yang menyerahkan diri dan cinta seutuhnya bagi seorang suami sementara sang suami tidak pernah mampu memberikan diri dan cinta seutuhnya bagi sang istri karena harus membaginya dengan istri yang lain? Akhirnya pengertian keadilan dalam perkawinan poligami hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat material dan dangkal seperti harta, waktu kunjungan, dan sebagainya.
Lebih jauh lagi perkawinan poligami hanya bisa berlangsung dengan baik jika diikuti dengan tindakan-tindakan manipulatif: si teteh diberi pengertian bahwa itu semua sudah takdir dan kehendak Tuhan, bahwa penderitaan karena ikhlas dimadu adalah sesuatu yang mulia di mata Tuhan, dan sebagainya, sementara si aak cengar-cengir setiap malam menikmati istri baru.
Fakta yang lebih menyedihkan tentang perkawinan islami akan banyak kita temukan dengan melihat sejarah kehidupan Muhamat, nabi mereka. Tidak perlu saya paparkan semua disini, cukup saya ambil kasus yang mungkin paling menonjol yaitu perkawinan Muhamat (yang berusia lebih dari setengah abad) dengan Aisyah yang baru berusia 6 tahun. Bukan hanya perkawinan semacam itu menunjukkan sifat pedofil Muhamat, tapi jelas sekali tidak mungkin dilandaskan oleh adanya unsur saling cinta. Bagaimana mungkin seorang Aisyah yang berusia 6 tahun dapat memahami apa itu cinta suami-istri? Dari sini jelas sekali bahwa perkawinan dalam Islam tidak perlu dilandasi oleh unsur cinta, tapi bisa unsur lain seperti kepentingan politik, ekonomi, atau sekedar hawa nafsu. Soal perkawinan yang berdasarkan hawa nafsu, ini terlihat pada adanya konsep nikah mut'ah yang kontroversial itu dimana sepasang suami-istri dapat melakukan ikatan perkawinan hanya untuk jangka waktu tertentu. Edan....
Jika Islam tidak mampu meletakkan cinta dan keadilan sebagai landasan dari perkawinan islami, bagaimana mungkin Islam mampu membangun keluarga yang baik? Karena keluarga adalah bentuk komunitas yang paling kecil dan sederhana, jika Islam tidak mampu membangun keluarga yang baik bagaimana mungkin Islam membangun komunitas manusia yang baik? Sudah jelas tidak mungkin.
3. Islam bahkan tidak memahami awal mula kehidupan
Sangat ironis, ajaran Islam ternyata memiliki kesalahan yang fatal dalam memahami awal mula kehidupan. Gereja mengajarkan bahwa kehidupan manusia dimulai saat pembuahan. Setelah terjadi pembuahan, sekalipun masih dalam bentuk organisme yang sangat sederhana, embryo sudah memiliki martabat manusiawi dan dihargai sebagai pribadi. Lalu apa kata Islam tentang awal mula kehidupan? Entah ilham dari mana dan atas dasar apa ajaran Islam mengatakan, dengan merujuk pada hadis, bahwa roh kehidupan baru ditiupkan 40 hari setelah terjadinya pembuahan.
Secara ideal, pembuahan adalah hasil dari persetubuhan dua manusia yang terikat dalam sebuah perkawinan. Dan persetubuhan adalah ungkapan cinta kasih suami-istri. Jadi hadirnya kehidupan adalah buah dari cinta kasih, oleh sebab itu hadirnya kehidupan tidak bisa dipisahkan dari cinta kasih.
Tapi dengan mengajarkan roh kehidupan baru ditiupkan 40 hari setelah pembuahan maka hadirnya kehidupan bukan lagi merupakan ungkapan dari cinta kasih tapi semata-mata sebuah mekanisme biologis. Dalam ajaran Islam kehadiran kehidupan dipisahkan dari cinta kasih. Ini jelas sebuah pelecehan terhadap martabat kehidupan manusia. Saya tidak ragu mengatakan ini ajaran sesat.
Konsekuensi yang mengerikan dari ajaran sesat ini cepat atau lambat akan segera mengikuti. Beberapa waktu yang lalu MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa aborsi adalah halal bagi wanita korban perkosaan jika dilakukan sebelum usia 40 hari kehamilan. Ini sebuah langkah yang semakin mendekati legalisasi aborsi. Karena janin yang berusia di bawah 40 hari dianggap bukan manusia dan tidak memiliki roh kehidupan maka bisa seenaknya dimusnahkan untuk alasan-alasan tertentu.
Sama sekali tidak jelas atas dasar apa angka 40 hari itu diambil, tapi ini sebuah spekulasi teologis yang sangat berbahaya dan kehidupan manusia menjadi taruhannya. Dengan mengajarkan prinsip sesat ini Islam akan membuat banyak sekali wanita-wanita dan semua orang yang terlibat dalam proses aborsi menjadi pembunuh-pembunuh berdarah dingin. Melalui ajaran sesatnya Islam mengarahkan mereka semua ke pintu neraka seperti menggiring sekawanan domba ke tempat pembantaian!
Agama Anti Peradaban
Membandingkan visi peradaban yang ditawarkan Gereja dan visi peradaban Islam sama seperti membandingkan langit dan bumi. Peradaban surgawi yang ingin dicapai oleh Gereja dibangun dengan pertama-tama menghargai martabat kehidupan sejak saat pembuahan dan menempatkan kehidupan sebagai buah dari cinta kasih. Lalu Gereja mempersiapkan peradaban surgawi itu dengan membangun unit terkecil peradaban manusia, yaitu keluarga dengan membentuk lembaga perkawinan yang sakral, monogamis dan tak terceraikan, yang didasari cinta kasih, keadilan dan kesetaraan. Selanjutnya peradaban surgawi ini juga diwujudkan tidak hanya melalui kekuatan dan upaya manusiawi tetapi juga dengan membuka diri pada penyertaan dan kuasa Tuhan, salah satunya melalui doa yang mengubah peradaban: Doa Bapa Kami.
Sedangkan Islam, jangankan bicara soal membangun peradaban, membangun lembaga perkawinan yang sakral dan didasari cinta kasih, keadilan dan kesetaraan sebagai prasyarat untuk membangun unit terkecil komunitas manusia yang membentuk peradaban saja Islam sudah tidak mampu.
Mengingat kelemahan-kelemahan mendasar yang saya sebutkan di atas, ajaran Islam tampaknya tidak dimaksudkan untuk membangun sebuah peradaban manusia yang sejati. Sebaliknya ajaran-ajaran itu, yang di dalamnya terkandung kultur kekerasan dan kematian, justru berupaya melemahkan dan menghalangi hadirnya peradaban surga di bumi. Kesimpulan sederhana saya: Islam pada dasarnya adalah agama yang anti-peradaban.
Meskipun demikian bukan berarti upaya menghadirkan peradaban Islam (yaitu Darul Islam yang bersifat global) tidak ada. Upaya ini berlangsung terus dengan berbagai cara. Namun karena sejak awal berdirinya Islam tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk membangun peradaban dengan jalan damai, maka yang digunakan adalah sarana-sarana kekuasaan politik, dominasi ekonomi, dan kalau perlu dengan teror. Jadi jangan heran kalau terorisme dan Islam itu seperti bersaudara.
Tapi seberapa lama peradaban semu yang dibangun dengan kekuasaan dan kekerasan ini dapat bertahan? Sejarah membuktikan kekalifahan Islam yang pernah hadir pada awal terbentuknya Islam hanya bertahan beberapa abad saja. Nasib yang sama juga akan dialami oleh peradaban Islam di masa sekarang, jika itu ingin diwujudkan lagi.
sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama
telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.
Dan aku melihat kota yang kudus,
Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah,
yang berhias bagaikan pengantin perempuan
yang berdandan untuk suaminya.
(Why. 21:1-2)
Dewasa ini cukup banyak orang yang mempertanyakan apakah kehadiran agama masih cukup relevan? Untuk menjawab pertanyaan ini dengan baik tentu perlu diketahui hal penting apa yang dapat diberikan agama pada manusia yang tidak mampu diberikan oleh apapun sebaik agama. Salah satunya adalah: tujuan hidup. Untuk apakah manusia hidup dan kemanakah manusia seharusnya mengarahkan hidupnya? Ada banyak yang berupaya memberi jawaban, termasuk diantaranya filsafat dan sains, tapi pertanyaan ini secara khas mendapat jawaban terbaiknya dalam agama.
Bukan hanya tujuan hidup yang bersifat personal, tapi bahkan untuk seluruh umat manusia agama mampu memberikan sebuah visi peradaban global yang secara ideal menjadi akhir perjalanan peradaban manusia. Dalam ayat yang saya kutip di atas tampak jelas bahwa dalam kristianitas peradaban manusia akan berakhir pada suatu tatanan peradaban baru yang ideal dan sempurna, yang merupakan duplikat dari kehidupan surgawi.
Memang benar, itu tadi adalah gagasan dari kristianitas dan anda mungkin akan bertanya, bukankah ada banyak agama? Jika ada banyak agama, tentu ada banyak visi peradaban yang berbeda-beda. Atas hak apa kristianitas menjadikan visinya menjadi visi universal umat manusia? Jawaban saya adalah atas dasar obyektivitas. Dari semua visi peradaban yang ditawarkan agama-agama, adakah yang lebih baik dari sebuah peradaban surgawi? Inilah puncak peradaban yang ditawarkan kristianitas pada manusia!
Satu Kapal Satu Nahkoda
Pernahkah anda mengetahui ada sebuah kapal yang dinahkodai oleh dua orang atau lebih? Saya belum pernah, dan saya yakin tidak pernah ada karena kapal semacam itu sudah tentu tidak pernah sampai ke tujuan dan mungkin akan tenggelam di tengah lautan. Perlunya satu kapal dikendalikan oleh hanya satu orang nahkoda adalah sebuah kebenaran yang kita terima begitu saja secara wajar. Tapi anehnya banyak orang, terutama kaum pluralis, merasa alergi kalau saya katakan bahwa peradaban manusia ini juga hanya membutuhkan satu agama universal dengan satu visi global untuk menjadi nahkoda yang mengarahkan kemana peradaban manusia ini hendak menuju. Seperti misalnya Paul F. Knitter dalam bukunya "No Other Name?" yang agaknya merasa malu dengan ajaran Gereja yang menempatkan Kristus sebagai jalan keselamatan satu-satunya.
Banyak agama sudah pasti memunculkan banyak visi. Dulu, pada saat manusia masih hidup dalam komunitas-komunitas yang cenderung terpisah satu sama lain adanya agama-agama lokal mungkin memang diperlukan untuk menjadi visi peradaban (sementara) bagi komunitas tersebut. Eyang saya orang jawa, yang karena segala keterbatasan situasi dan kondisi pada masa itu hanya mengenal agama Islam dan kejawen. Tentu saja apa yang baik dalam kedua jenis kepercayaan itu cukup untuk menjadi jalan kebenaran bagi mereka. Dari sini saya dapat memahami kebenaran dari sikap inklusif Gereja sebagaimana diungkapkan Karl Rahner bahwa agama-agama lain pada batasan tertentu juga mengarahkan manusia pada keselamatan karena mengajarkan kristianitas secara anonim.
Tapi itu situasi yang mungkin hanya cocok sampai pada milenium kedua. Pada milenium ketiga, yaitu sekarang, secara umum semua orang memiliki akses untuk mengenali agama universal. Manusia semakin lama semakin membaur menjadi satu komunitas global. Sekat-sekat yang dahulu membatasi perjumpaan antar bangsa, tradisi, dan iman sudah terkikis oleh kemajuan jaman. Ini realitas yang tidak bisa dibantah atau dihalangi. Dalam kondisi seperti ini kehadiran banyak visi peradaban sebagaimana yang ditawarkan agama-agama hanya akan membuat manusia kebingungan dan justru kehilangan visi peradaban yang sesungguhnya. Akibatnya peradaban manusia akan kehilangan arah dan jalan di tempat. Satu komunitas manusia global seharusnya membutuhkan hanya satu visi peradaban yang universal, yang berasal dari satu agama universal!
Dengan demikian dalam komunitas global kehadiran banyak agama dengan beragam visi sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi. Manusia harus menerima kenyataan bahwa kemajemukan agama adalah realitas masa lalu yang segera hilang ditelan perjalanan sejarah. Tugas agama-agama lokal dan parsial sudah saatnya berakhir, untuk itu perlu kita sampaikan ucapan terima kasih pada agama-agama masa lalu itu dan menempatkan mereka pada bagian yang cukup terhormat dalam panggung sejarah umat manusia. Sayang sekali tidak banyak orang yang siap menerima kenyataan ini.
Visi Bersama Agama-Agama
Bagi kaum pluralis ide-ide perlunya umat manusia memiliki satu visi yang berasal dari satu agama universal tidak dapat diterima. Bagi mereka itu adalah ungkapan kesombongan agama tertentu dan sekaligus pelecehan terhadap kemanusiaan. Dalam pandangan mereka visi peradaban universal, kalau itu ada, seharusnya merupakan visi bersama yang diterima semua agama, bukan visi agama tertentu. Setidaknya upaya mencari titik temu agama yang digagas kaum pluralis seperti Fritjof Schuon, Harold Coward, John Hick, Huston Smith, dan lain-lain mengarah pada ide yang demikian. Manusia, menurut mereka, mampu memutuskan sendiri visi peradabannya berdasarkan apa yang diberikan dan disepakati oleh semua agama-agama manusia.
Tapi pandangan ini memiliki kelemahan yang mendasar. Siapa yang memutuskan visi bersama itu sebagai visi universal dan atas dasar apa visi bersama ini menjadi visi universal yang bersifat tetap dan mengikat? Tidak ada yang mampu menjamin itu! Akibatnya visi bersama, kalaupun itu berhasil diupayakan, hanya merupakan visi bersama yang bersifat sementara, tidak memiliki kekuatan yang mengikat dan dapat berubah-ubah oleh selera jaman. Selain itu, karena sifatnya yang kompromis pastilah dangkal.
Salah satu contoh upaya kompromi ini adalah 'Global Ethic' gagasan Hans Kung dan Karl-Josef Kuschel yang mau tidak mau membatasi cakupannya pada relasi antar manusia. Memang 'Global Ethic' tidak dimaksudkan untuk menjadi visi peradaban, tapi itu sebuah contoh dangkalnya hasil yang dicapai dari upaya kompromi agama-agama. Nasib yang sama akan terjadi kalau manusia mengupayakan visi bersama agama-agama. Apalagi kalau manusia mau mencoba menentukan visinya sendiri secara independen di luar ajaran agama-agama, keadaannya bisa jadi akan lebih parah. Visi yang bersifat dangkal (karena bersifat kompromistis) dan sementara (tidak mengikat, bisa direvisi sewaktu-waktu) bukanlah visi peradaban global.
Gereja Universal Dan Visi Peradaban Global
Seperti yang saya ungkapkan di bagian awal, Gereja universal telah menawarkan sebuah visi peradaban berupa sebuah peradaban surgawi. Memang ini terasa arogan dan tidak akan menyenangkan bagi mereka yang tidak mengimani Kristus. Tapi secara teoritispun peradaban semacam ini adalah peradaban terbaik yang mungkin dicapai oleh manusia.
Memang setiap agama tentu punya visi peradabannya sendiri, tapi seperti apa visi peradaban yang ditawarkan dan bagaimana agama-agama itu menjadikan visi peradaban tersebut sebagai kesadaran umat? Saya belum menemukan jawaban yang memuaskan.
Sebaliknya, peradaban surgawi yang ditawarkan Gereja sebagai tujuan akhir perjalanan peradaban manusia tidak hanya berhenti sebagai konsep teoritis dan asumsi teologis saja tapi terus-menerus ditanamkan sebagai harapan dan kesadaran umat. Bagi saya, sejak awal berdirinya Gereja memang sudah dirancang untuk membawa manusia pada sebuah peradaban surgawi. Ini akan tampak jelas sekali dalam doa satu-satunya yang diajarkan Yesus di dalam Injil:
Bapa kami yang ada di surga
Dimuliakanlah namamu
Datanglah KerajaanMu
Jadilah kehendakMu
Di atas bumi seperti di dalam Surga......
Dalam teks doa ini terkandung jelas sebuah harapan akan datangnya peradaban baru yang ideal, peradaban surgawi yang hadir di bumi sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Lalu seperti apa gambaran peradaban surgawi itu akan tampak pada lanjutan doa ini:
Berilah kami rejeki pada hari ini
Dalam peradaban baru itu manusia tidak akan mengalami kekurangan kebutuhan sehari-hari, Tuhan akan menyediakannya.
Dan ampunilah kesalahan kami
seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dalam peradaban baru itu akan hadir perdamaian yang sejati, yaitu perdamaian dengan Tuhan dan sesama.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat
Dalam peradaban baru itu tidak akan ada lagi penderitaan dan kejahatan.
Saya yakin Yesus mengajarkan doa-doa lain juga, tapi bukan sebuah kebetulan jika doa ini adalah satu-satunya doa yang diajarkan Yesus yang tercatat dalam Injil. Tampaknya doa ini memang dimaksudkan menjadi doa seluruh Gereja sekaligus seluruh umat manusia yang akan membawa peradaban manusia menuju peradaban surgawi. Doa Bapa Kami adalah doa yang membangun peradaban baru. Sejauh yang saya tahu tidak ada doa yang sedahsyat ini.
Islam Dan Visi Peradaban Global
Dalam kaitannya dengan peradaban manusia Islam memiliki posisi yang sedikit janggal. Islam mengaku sebagai agama pamungkas yang mengakhiri rangkaian pewahyuan nabi-nabi. Tapi visi peradaban yang ditawarkan Islam pada manusia tidak begitu jelas apakah lebih baik dari peradaban surgawi yang sudah ditawarkan oleh Gereja.
Ada beberapa hal dalam Islam yang justru membuat saya sangat yakin bahwa Islam tidak mampu menawarkan peradaban yang ideal bagi manusia. Banyak prinsip-prinsip dan ajaran Islam yang justru bersifat menghancurkan peradaban manusia. Saya akan paparkan beberapa kelemahan mendasar Islam dalam konteks ini:
1. Islam tidak memiliki gambaran ideal peradaban manusia yang damai.
Ketika Gereja merujuk Kerajaan Surga sebagai gambaran ideal peradaban manusia, Islam tidak memiliki rujukan apa-apa untuk visi peradabannya selain peradaban teoritis yang disebut Darul Islam. Jangan dulu bicara soal surga sebagai rujukan, gambaran Islam tentang surga ternyata sangat duniawi. Seperti misalnya hidup yang penuh kenikmatan karena dikawinkan dengan banyak bidadari (Ath-Thuur:17-20).
Ini dapat dipahami karena Muhamat, seperti kebanyakan manusia umumnya, memang tidak pernah tahu seperti apa itu surga. Jadi gambarannya tentang surga tidak lebih dari proyeksi imajinasinya sendiri yang kebetulan sangat terobsesi pada kenikmatan seksual. Dengan demikian di Islam yang terjadi serba terbalik, bukannya berharap peradaban manusia menjadi seperti kehidupan surgawi tapi justru gambaran tentang kehidupan surga yang menjadi seperti kehidupan duniawi, hanya saja dengan kenikmatan tanpa batas.
Dalam pandangan Islam, puncak peradaban manusia adalah terbentuknya Darul Islam yang bersifat global. Tapi sayangnya Islam tidak mempunyai cara lain yang efektif untuk mewujudkan itu selain melalui kekerasan (dengan berbagai manifestasinya). Secara teoritis mungkin saja Islam mengajarkan dan membawa damai, setidaknya begitulah klaim mereka. Bahkan banyak kalangan Islam moderat mencoba dengan berbagai upaya untuk menunjukkan wajah Islam yang penuh damai. Tapi kenyataan sejarah menunjukkan fakta yang bertentangan.
Sejak awal sejarahnya Islam tidak pernah berkembang dengan cara damai, Islam selalu menggunakan kekerasan, baik melalui kekuatan senjata maupun dominasi ekonomi / politik. Tidak heran jika seorang kaisar Byzantium, Manuel II Paleologus, sebagai seorang saksi jaman pada masa ekspansi Islam mengatakan: "Tunjukkanlah sesuatu yang baru yang dibawa Muhammad, dan yang Anda temukan hanyalah kejahatan dan ketidakmanusiawian, seperti dalam perintahnya untuk menyebarkan iman dengan pedang." Kutipan ini menjadi sangat populer karena pernah dikutip oleh Paus Benedictus XVI dan menjadi kontroversi. Sang kaisar tentu tidak berbicara tanpa dukungan fakta yang diketahuinya. Bahkan kenyataan sejarah menunjukkan Muhamat sendiripun terlibat dalam banyak peperangan demi menyebarkan Islam. Secara praktis tak ada satu fase sejarah yang signifikan dimana Islam berkembang dengan damai tanpa campur tangan kekuasaan.
Jika Muhamat sendiri tidak mampu mengembangkan Islam dengan damai, apa mungkin pengikutnya bisa melakukan yang lebih baik? Kalau sudah seperti itu bagaimana mungkin Islam menawarkan sebuah peradaban masa depan yang damai kepada manusia? Ada pepatah bijak, jangan pernah percaya pada orang telanjang yang menawari anda baju, kemungkinan besar anda akan ditipunya.
2. Islam juga tidak mampu membangun komunitas manusia yang baik
Kalau membangun peradaban yang damai berada di luar jangkauan Islam, kita akan turunkan lagi standarnya menjadi sekedar membangun komunitas manusia. Tapi untuk inipun ternyata ajaran Islam tidak memiliki kualifikasi yang cukup. Ini bukan tuduhan yang mengada-ada. Saya mengacu pada prinsip sederhana: barangsiapa tidak dapat melakukan hal kecil dengan baik, jangan berharap dapat melakukan hal besar. Bagaimana mungkin Islam dapat membangun komunitas manusia yang baik, atau bahkan peradaban yang baik, jika Islam tidak memiliki ajaran yang memadai tentang perkawinan?
Bandingkan ini dengan ajaran Gereja tentang perkawinan yang bersifat sakral, monogami dan tak terceraikan. Perkawinan dalam Islam tidak pernah merupakan perkawinan yang sakral, melainkan sekedar sebuah kontrak perjanjian manusiawi yang setiap saat bisa dibatalkan. Kehadiran Tuhan dalam janji perkawinan hanya sekedar hiasan pemanis atau alat legalitas saja, tidak lebih. Sepasang mempelai Islam yang baru menikah akan sangat yakin bahwa pasangannya adalah jodoh yang telah ditentukan Tuhan. Tapi setelah dua tahun menikah kemudian mereka bercerai, menurut mereka hal itu adalah kehendak Tuhan karena mereka tidak berjodoh. Tidak jelas Tuhan mana yang betul, yang mengawinkan mereka atau yang menceraikan mereka.
Islam juga mengijinkan poligami, dengan embel-embel asalkan dapat berlaku adil. Siapapun yang mau menggunakan akal sehatnya akan tahu bahwa perkawinan poligami tidak pernah adil, sehebat apapun keadilan itu diupayakan. Perkawinan poligami pada dasarnya sudah mengandung unsur ketidakadilan yang melekat. Dimana letak keadilan bagi seorang istri yang menyerahkan diri dan cinta seutuhnya bagi seorang suami sementara sang suami tidak pernah mampu memberikan diri dan cinta seutuhnya bagi sang istri karena harus membaginya dengan istri yang lain? Akhirnya pengertian keadilan dalam perkawinan poligami hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat material dan dangkal seperti harta, waktu kunjungan, dan sebagainya.
Lebih jauh lagi perkawinan poligami hanya bisa berlangsung dengan baik jika diikuti dengan tindakan-tindakan manipulatif: si teteh diberi pengertian bahwa itu semua sudah takdir dan kehendak Tuhan, bahwa penderitaan karena ikhlas dimadu adalah sesuatu yang mulia di mata Tuhan, dan sebagainya, sementara si aak cengar-cengir setiap malam menikmati istri baru.
Fakta yang lebih menyedihkan tentang perkawinan islami akan banyak kita temukan dengan melihat sejarah kehidupan Muhamat, nabi mereka. Tidak perlu saya paparkan semua disini, cukup saya ambil kasus yang mungkin paling menonjol yaitu perkawinan Muhamat (yang berusia lebih dari setengah abad) dengan Aisyah yang baru berusia 6 tahun. Bukan hanya perkawinan semacam itu menunjukkan sifat pedofil Muhamat, tapi jelas sekali tidak mungkin dilandaskan oleh adanya unsur saling cinta. Bagaimana mungkin seorang Aisyah yang berusia 6 tahun dapat memahami apa itu cinta suami-istri? Dari sini jelas sekali bahwa perkawinan dalam Islam tidak perlu dilandasi oleh unsur cinta, tapi bisa unsur lain seperti kepentingan politik, ekonomi, atau sekedar hawa nafsu. Soal perkawinan yang berdasarkan hawa nafsu, ini terlihat pada adanya konsep nikah mut'ah yang kontroversial itu dimana sepasang suami-istri dapat melakukan ikatan perkawinan hanya untuk jangka waktu tertentu. Edan....
Jika Islam tidak mampu meletakkan cinta dan keadilan sebagai landasan dari perkawinan islami, bagaimana mungkin Islam mampu membangun keluarga yang baik? Karena keluarga adalah bentuk komunitas yang paling kecil dan sederhana, jika Islam tidak mampu membangun keluarga yang baik bagaimana mungkin Islam membangun komunitas manusia yang baik? Sudah jelas tidak mungkin.
3. Islam bahkan tidak memahami awal mula kehidupan
Sangat ironis, ajaran Islam ternyata memiliki kesalahan yang fatal dalam memahami awal mula kehidupan. Gereja mengajarkan bahwa kehidupan manusia dimulai saat pembuahan. Setelah terjadi pembuahan, sekalipun masih dalam bentuk organisme yang sangat sederhana, embryo sudah memiliki martabat manusiawi dan dihargai sebagai pribadi. Lalu apa kata Islam tentang awal mula kehidupan? Entah ilham dari mana dan atas dasar apa ajaran Islam mengatakan, dengan merujuk pada hadis, bahwa roh kehidupan baru ditiupkan 40 hari setelah terjadinya pembuahan.
Secara ideal, pembuahan adalah hasil dari persetubuhan dua manusia yang terikat dalam sebuah perkawinan. Dan persetubuhan adalah ungkapan cinta kasih suami-istri. Jadi hadirnya kehidupan adalah buah dari cinta kasih, oleh sebab itu hadirnya kehidupan tidak bisa dipisahkan dari cinta kasih.
Tapi dengan mengajarkan roh kehidupan baru ditiupkan 40 hari setelah pembuahan maka hadirnya kehidupan bukan lagi merupakan ungkapan dari cinta kasih tapi semata-mata sebuah mekanisme biologis. Dalam ajaran Islam kehadiran kehidupan dipisahkan dari cinta kasih. Ini jelas sebuah pelecehan terhadap martabat kehidupan manusia. Saya tidak ragu mengatakan ini ajaran sesat.
Konsekuensi yang mengerikan dari ajaran sesat ini cepat atau lambat akan segera mengikuti. Beberapa waktu yang lalu MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa aborsi adalah halal bagi wanita korban perkosaan jika dilakukan sebelum usia 40 hari kehamilan. Ini sebuah langkah yang semakin mendekati legalisasi aborsi. Karena janin yang berusia di bawah 40 hari dianggap bukan manusia dan tidak memiliki roh kehidupan maka bisa seenaknya dimusnahkan untuk alasan-alasan tertentu.
Sama sekali tidak jelas atas dasar apa angka 40 hari itu diambil, tapi ini sebuah spekulasi teologis yang sangat berbahaya dan kehidupan manusia menjadi taruhannya. Dengan mengajarkan prinsip sesat ini Islam akan membuat banyak sekali wanita-wanita dan semua orang yang terlibat dalam proses aborsi menjadi pembunuh-pembunuh berdarah dingin. Melalui ajaran sesatnya Islam mengarahkan mereka semua ke pintu neraka seperti menggiring sekawanan domba ke tempat pembantaian!
Agama Anti Peradaban
Membandingkan visi peradaban yang ditawarkan Gereja dan visi peradaban Islam sama seperti membandingkan langit dan bumi. Peradaban surgawi yang ingin dicapai oleh Gereja dibangun dengan pertama-tama menghargai martabat kehidupan sejak saat pembuahan dan menempatkan kehidupan sebagai buah dari cinta kasih. Lalu Gereja mempersiapkan peradaban surgawi itu dengan membangun unit terkecil peradaban manusia, yaitu keluarga dengan membentuk lembaga perkawinan yang sakral, monogamis dan tak terceraikan, yang didasari cinta kasih, keadilan dan kesetaraan. Selanjutnya peradaban surgawi ini juga diwujudkan tidak hanya melalui kekuatan dan upaya manusiawi tetapi juga dengan membuka diri pada penyertaan dan kuasa Tuhan, salah satunya melalui doa yang mengubah peradaban: Doa Bapa Kami.
Sedangkan Islam, jangankan bicara soal membangun peradaban, membangun lembaga perkawinan yang sakral dan didasari cinta kasih, keadilan dan kesetaraan sebagai prasyarat untuk membangun unit terkecil komunitas manusia yang membentuk peradaban saja Islam sudah tidak mampu.
Mengingat kelemahan-kelemahan mendasar yang saya sebutkan di atas, ajaran Islam tampaknya tidak dimaksudkan untuk membangun sebuah peradaban manusia yang sejati. Sebaliknya ajaran-ajaran itu, yang di dalamnya terkandung kultur kekerasan dan kematian, justru berupaya melemahkan dan menghalangi hadirnya peradaban surga di bumi. Kesimpulan sederhana saya: Islam pada dasarnya adalah agama yang anti-peradaban.
Meskipun demikian bukan berarti upaya menghadirkan peradaban Islam (yaitu Darul Islam yang bersifat global) tidak ada. Upaya ini berlangsung terus dengan berbagai cara. Namun karena sejak awal berdirinya Islam tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk membangun peradaban dengan jalan damai, maka yang digunakan adalah sarana-sarana kekuasaan politik, dominasi ekonomi, dan kalau perlu dengan teror. Jadi jangan heran kalau terorisme dan Islam itu seperti bersaudara.
Tapi seberapa lama peradaban semu yang dibangun dengan kekuasaan dan kekerasan ini dapat bertahan? Sejarah membuktikan kekalifahan Islam yang pernah hadir pada awal terbentuknya Islam hanya bertahan beberapa abad saja. Nasib yang sama juga akan dialami oleh peradaban Islam di masa sekarang, jika itu ingin diwujudkan lagi.
Langgan:
Entri (Atom)


