Minggu, 05 Oktober 2008

Satu Kawanan Satu Gembala (2): Naiklah Keatas

Kemudian naiklah Musa dari dataran Moab ke atas gunung Nebo, yakni ke atas puncak Pisga, yang di tentangan Yerikho, lalu TUHAN memperlihatkan kepadanya seluruh negeri itu: daerah Gilead sampai ke kota Dan, seluruh Naftali, tanah Efraim dan Manasye, seluruh tanah Yehuda sampai laut sebelah barat, Tanah Negeb dan lembah Yordan, lembah Yerikho, kota pohon korma itu, sampai Zoar.
(Ul. 34:1-3)


-----------------------

Aku akan mulai dengan cerita sederhana ini.

Ada dua anak yang sedang mencari jalan pulang ke rumahnya. Di tengah hutan mereka tersesat dan bingung dengan banyaknya pilihan jalan. Mereka berpikir semua jalan-jalan itu tentunya akan membawa mereka pergi dari tempat itu, tapi apakah jalan tersebut akan membawa mereka pulang? Belum tentu! Merekapun kebingungan dan mulai menangis tidak tahu harus memilih jalan yang mana. Beberapa saat kemudian kakaknya mulai dapat menguasai diri dan berpikir dengan jernih.

"Adikku, jangan menangis. Kita tidak mungkin sampai di rumah kalau engkau terus menangis seperti ini. Ayo kita naik ke atas pohon yang tinggi, supaya kita bisa melihat jalan mana yang bisa membawa kita pulang ke rumah."

Mulailah mereka naik ke pohon yang tinggi. Semakin tinggi mereka naik, semakin jelas ke arah mana jalan-jalan tersebut akan membawa mereka. Ada jalan yang hanya berputar-putar di sekitar hutan, ada jalan yang menuju hutan lain, ada juga jalan yang tampaknya mengarah ke rumah mereka tapi sesungguhnya justru membawa mereka menjauh dari rumah. Setelah mengamati semuanya dengan seksama akhirnya mereka menemukan sebuah jalan yang bisa membawa mereka pulang ke rumah. Merekapun turun dan mengikuti jalan tersebut hingga akhirnya sampai di rumah dengan selamat.


Begitulah anakku, dulu manakala manusia masih terkotak-kotak pada komunitasnya sendiri seorang anak tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti agama orang tua atau masyarakat sekitarnya. Dalam kondisi seperti itu engkau tidak akan disalahkan sepenuhnya jika mengikuti agama yang kurang baik karena memang hanya itu jalan terbaik yang tersedia. Tapi sekarang tidak demikian lagi, engkau dihadapkan pada banyak pilihan agama yang masing-masing mengklaim dirinya sebagai jalan kebenaran. Bukan hanya kalian tapi ada begitu banyak orang di seluruh dunia ini yang berada dalam kebingungan untuk memilih jalan kebenaran di tengah begitu banyaknya pilihan agama-agama yang ada.

Ada yang memilih jalan berdasarkan dorongan hatinya dan pertimbangan-pertimbangan yang sederhana seperti keuntungan-keuntungan ekonomis maupun politis, ada juga yang sekedar mengikuti apa yang dipilih oleh orang tua, teman hidup, atau lingkungannya. Cara demikian sangat besar resikonya dan sungguh-sungguh tidak bertanggungjawab. Tak ada jaminan agama yang menarik dan semarak adalah agama yang benar. Tak ada jaminan agama yang memberikan keuntungan-keuntungan duniawi adalah agama yang benar. Dan tak ada jaminan agama yang diikuti orang-orang yang terdekat dengan kita atau agama yang secara tradisi diikuti keluarga kita secara turun-temurun adalah agama yang benar.

Aku mengharapkan kalian bertindak seperti kedua anak yang tersesat itu: naiklah ke atas dan lihatlah jalan mana yang akan membawamu pulang. Yang kumaksudkan dengan naik ke atas adalah kalian harus membebaskan diri dari sikap-sikap subyektif, pandangan-pandangan sempit, tradisi-tradisi yang keliru dan tawaran-tawaran kebenaran palsu. Selanjutnya kalian harus mulai menggunakan akal budi dan hati nurani supaya kalian dapat melihat dengan lebih jelas kemana agama-agama itu akan mengarahkan jiwamu dan agama mana yang akan mengarahkanmu pada kebenaran yang sesungguhnya. Hanya dengan cara naik ke atas engkau dapat melihat kebenaran sejati.

Dengan menggunakan akal budi dan hati nurani kalian akan melihat bahwa semua agama memang mengajarkan kebaikan, tapi sesungguhnya kebaikan yang diajarkan sekian banyak agama yang berbeda-beda itu tidak sama. Engkau akan melihatnya kalau engkau mau naik ke atas. Ini seperti cerita di atas, semua jalan memang akan membawa kedua anak pergi dari tempat itu, tapi tidak semua jalan dapat mengarahkan anak-anak itu pulang. Melalui akal budi dan nurani, kalian akan mengetahui ke arah mana tujuan perjalanan hidupmu yang sesungguhnya, dan jalan mana yang akan membawa kalian ke tujuan itu. Sekarang aku akan mencoba mengajak kalian naik ke atas untuk melihat jalan mana yang membawa kalian sampai ke tempat tujuan. Semoga kalian dapat melihat jalan itu dan selanjutnya kalian berani mengambil keputusan untuk mengikutinya sampai ke tujuan.

1 komentar:

Emanuel Setio Dewo mengatakan...

Jika saja setiap orang memiliki kebijaksanaan seperti Anda...

GBU