Anak-anakku, kalian adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepadaku. Sama seperti kata-kata para bijak, kalian bukanlah milikku ataupun milik kami orang tuamu. Kalian adalah pribadi-pribadi bebas ciptaan Tuhan yang dipercayakan pada kami.
Adalah sebuah kebahagiaan dan kegembiraan bagi kami karena telah dipercaya Tuhan untuk menjadi sarana kehadiran kalian di dunia. Tapi bersama dengan itu di dalamnya terkandung suatu tugas dan tanggung jawab yang berat sekaligus suci, yaitu membimbing dan membesarkan kalian sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri.
Di antara sekian banyak tugas dan kewajiban kami dalam membesarkan kalian, bagiku salah satu yang terpenting dan terluhur adalah ini: mengarahkan kalian ke dalam jalan Tuhan supaya kalian dapat menapaki jalan yang telah dipersiapkanNya untuk menjadi manusia yang utuh sesuai dengan kehendakNya.
Ini bukan tugas yang ringan, tapi sebaliknya sangat berat dan menuntut seluruh kemampuan terbaik yang aku miliki. Tugas ini sungguh berat karena kalian hidup dalam masyarakat yang plural dimana ada banyak jalan yang memproklamirkan diri sebagai jalan Tuhan yang benar sehingga kebenaran sejati semakin sulit ditemukan.
Dan yang lebih berat lagi karena kalian dibesarkan dalam dua tradisi iman yang berbeda. Ibumu, sama seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, mengikuti agama Islam sebagai jalan hidupnya. Sebaliknya aku ayahmu, sekalipun dulu sedikit-banyak pernah menjalani hidup sebagai seorang muslim serta pernah mengikuti berbagai ajaran agama dan kepercayaan, sekarang telah menetapkan pilihan menjadi seorang Katolik.
Memang hidup dalam kondisi demikian membuat kalian sulit untuk menentukan pilihan agama. Tapi menurutku hal tersebut justru memiliki keuntungan tersendiri karena kalian dituntut memiliki kesadaran untuk memilih agama secara bertanggungjawab, bukan mengikuti tradisi yang belum tentu benar.
Kalian tentu tidak akan memilih Katolik hanya karena ingin mengikuti agama ayahmu, sikap itu akan melukai ibumu yang telah melahirkan kalian dengan susah payah dan mencintai kalian lebih dari dirinya sendiri. Atau kalian juga tidak akan memilih Islam hanya karena ingin mengikuti ibumu, sikap tersebut tentunya akan mengecewakan dan melukai ayahmu yang juga menyayangi kalian sama besarnya dengan yang dilakukan ibumu.
Kalianpun jangan memilih agama karena agama tersebut sudah diikuti oleh nenek-moyang kalian. Ibumu, ayahmu, bahkan nenek-moyangmu belum tentu benar dalam memilih agama. Jangan sampai kesalahan mereka kalian ikuti dan kalian telan butal-bulat begitu saja. Demi kebenaran, kalian berhak untuk mengambil pilihan yang berbeda dengan siapapun. Kalian punya kebebasan yang suci untuk memilih kebenaran sejati.
Juga hendaknya kalian tidak memilih agama hanya karena agama tersebut cocok atau sesuai dengan selera kalian. Agama bukanlah pakaian yang bisa kalian pilih berdasarkan unsur suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok. Sewaktu kalian bersekolah, mungkin jajanan yang penuh warna-warni dengan aneka rasa nikmat yang ditawarkan penjual makanan di luar sekolah lebih menarik selera dibanding bekal makanan yang sehat yang telah dipersiapkan ibumu dari rumah. Tapi kemungkinan besar jajanan itu bukanlah makanan yang sehat dan tidak selayaknya kalian makan. Demikian juga dalam memilih agama, jangan kalian memilihnya hanya karena alasan-alasan subyektif (suka tidak suka, cocok tidak cocok, senang tidak senang) karena dengan begitu kalian telah mengabaikan akal budi dan hati nurani yang telah diberikan Tuhan sebagai bekal untuk mencari dan menemukan kebenaran. Perlu kalian ketahui, dalam banyak hal jalan kebenaran sejati justru jauh tidak menarik dan lebih sempit dibanding kebenaran palsu.
Sebaliknya kalian dituntut untuk memilih suatu agama berdasarkan pertimbangan seluruh akal budi dan hati nuranimu yang terdalam bahwa agama tersebut memang benar dan sungguh-sungguh berasal dari Tuhan. Jika hal tersebut adalah alasannya, apapun pilihannya maka aku maupun ibumu tidak punya alasan untuk kecewa dan sakit hati oleh karena anaknya telah menemukan jalan kebenaran.
Sebagai ayahmu aku tidak akan membiarkan kalian mencari jalan kebenaran itu sendirian tanpa arah dan terombang-ambing diantara sekian banyak pilihan. Dan sebagai ujud dari tanggungjawabku untuk membimbing kalian, pada tulisan sederhana ini aku akan menuangkan apa yang kuketahui berdasarkan anugerah dan hikmat pengertian yang telah diberikan Tuhan kepadaku selama ini. Inilah bagian terbaik dari hidupku dan akan kuberikan kepada kalian dengan tujuan agar kalian dapat menemukan jalan kebenaran sebagaimana aku percaya akupun telah menemukan jalan kebenaran itu. Mungkin saat kalian membaca ini, kalian masih sangat belia dan belum semuanya dapat kalian pahami isinya. Baca dan pahami apa yang dapat kalian pahami saat ini, dalam perjalanan waktu semoga Tuhan memberi kalian hikmat pengertian yang baik untuk memahami seluruhnya secara bertahap.
Sekalipun demikian aku tidak pernah memaksa kalian menerima begitu saja apa yang kukatakan dalam buku ini, kalian punya hak yang suci untuk berpikir dan menilai berdasarkan akal budi dan hati nurani yang dianugerahkan Tuhan kepada kalian. Tapi dari diriku aku percaya bahwa aku telah berkata dan mengajarkan apa yang benar. Kalian adalah anugerah terbesar dalam hidupku, kalian adalah darah dagingku sendiri dan aku tidak akan pernah menipu atau menyesatkan darah dagingku sendiri.
Minggu, 05 Oktober 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



1 komentar:
Tulisan ini sangat indah. Semoga dapat menjadi berkat bagi banyak orang, tidak hanya bagi putera/i Anda.
GBU
Poskan Komentar