Siapakah pendusta itu?
Bukankah dia yang menyangkal
bahwa Yesus adalah Kristus?
Dia itu adalah antikristus,
yaitu dia yang menyangkal
baik Bapa maupun Anak.
(1 Yoh. 2:22)
Tulisan ini adalah bagian terakhir dari seri 'Islam Sebagai Antitesis Agama'. Pada bagian pertama saya menjelaskan bagaimana Islam berupaya mengacaukan rancangan keselamatan yang telah dibangun Tuhan sendiri tanpa terputus dalam bentuk Agama Universal, yang dimulai sejak jaman Abraham hingga hari ini (Paus Benediktus XVI). Lalu pada bagian kedua saya mencoba menunjukkan bagaimana Alquran di hadapan kriteria obyektif bukanlah kitab suci yang berasal dari Tuhan, sebaliknya kehadiran Alquran tidak lebih dari upaya untuk menyesatkan manusia dari Sabda Tuhan yang sesungguhnya. Pada bagian ketiga saya menunjukkan bagaimana Islam sebagai agama gagal menawarkan visi peradaban yang ideal bagi manusia, bahkan dalam banyak hal ajaran-ajaran Islam justru memiliki unsur-unsur yang merusak peradaban.
Tulisan-tulisan ini memang bernuansa anti-islam. Mengapa saya melakukannya? Sebenarnya apa yang saya lakukan kurang lebih memiliki semangat yang sama seperti yang dilakukan oleh St. John of Damascus (676 - 479), atau juga Peter The Venerable (1092 - 1156) dalam tulisan-tulisan mereka tentang Islam. Bagi saya tulisan-tulisan ini bukanlah ekspresi kebencian, sebaliknya ini adalah sebuah ekspresi dari kecintaan saya pada kebenaran. Kalau anda mencintai kebenaran, pada saat yang sama anda juga akan membenci ketidakbenaran atau apapun yang melawan kebenaran (antitesis kebenaran). Tidak mungkin anda mencintai kebenaran tapi bersikap setuju terhadap antitesisnya. Kecuali anda seorang yang plin-plan, tidak punya pendirian, atau agak pengecut!
Agama-Agama Misioner
Sebenarnya diantara semua agama-agama di dunia, kedua agama ini: kristianitas dan Islam, memiliki karakter khas yang sama yaitu agama yang bersifat misioner. Tapi keduanya memiliki doktrin yang berbeda dalam mewujudkan tujuannya.
Doktrin misioner Gereja dijiwai oleh ayat ini:
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. (Mat. 28:19)
Sementara itu doktrin misioner Islam dijiwai ayat ini:
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian…sampai mereka membayar Jizyah dengan patuh sedang mereka mereka dalam keadaan tunduk”. (Qur’an 9:29)
Silahkan cermati kedua ayat tersebut baik-baik... Yang satu mengajak orang untuk mengenal Yesus dan menjadikanNya sebagai teladan hidup, kemudian memberikan sarana keselamatan dalam rupa baptisan. Sedangkan yang satunya memisahkan manusia menjadi dua golongan: 'beriman' dan 'tidak beriman/kafir', lalu memerintahkan pihak 'beriman' untuk memerangi 'kafir' sampai mereka tunduk.
Tidak heran jika kedua agama ini memiliki kedua cara yang berbeda juga dalam upaya-upaya misionernya. Hampir empat abad pertama sejarahnya, Gereja perdana mampu menyebarkan ajaran Kristus sepenuhnya tanpa bantuan kekuasaan. Meski abad-abad selanjutnya Gereja juga berkolaborasi dengan kekuasaan, sejarah Gereja perdana menunjukkan bahwa kristianitas punya kemampuan untuk menyebar tanpa bantuan kekuasaan duiniawi. Kekuasaan bukanlah keharusan dalam karya misioner Gereja tetapi sekedar pilihan! Gereja punya kemampuan dialogis dan juga inkulturatif dalam mewujudkan karya misionernya.
Sementara itu sejak awal sejarah Islam, penyebaran agama selalu diikuti oleh tindakan ekspansi kekuasaan politik. Entah agama digunakan sebagai alat kekuasaan atau sebaliknya kekuasaan dijadikan alat bagi penyebaran agama. Yang jelas tak pernah ada masa yang cukup signifikan dimana Islam dapat berkembang tanpa bantuan kekuasaan politik.
Bagi saya salah satu unsur yang membedakan keduanya (selain doktrin-doktrin ajarannya) adalah soal teladan hidup. Bagi Gereja, Yesus Kristus adalah teladan utama dan sempurna yang menjadi sumber inspirasi bagi para pengikutNya. Sebaliknya bagi Islam teladan terbaik yang tersedia mau tidak mau harus Muhamat. Mengajukan kandidat lain sebagai teladan jelas sebuah pelecehan dan penghujatan. Ironisnya Muhamat memiliki karakter yang kompleks, disamping memiliki perbuatan baik yang mungkin cukup layak diteladani Muhamat juga banyak melakukan perbuatan-perbuatan tidak terpuji seperti menzinahi budak-budak, mengawini anak di bawah umur (6 tahun), membunuh, menjarah, dan banyak lagi.
Karena ketiadaan teladan yang layak maka Islam mau tidak mau harus disebarkan melalui propaganda (dakwah) yang hanya efektif jika didukung oleh kekuasaan politik. Selanjutnya penerapan hukum-hukum Islam (syariah) juga membutuhkan dukungan politik. Akibatnya Islam tidak pernah disebarkan murni sebagai sistem religius, tapi juga sekaligus sistem politik. Tidak percaya? Tantanglah kaum muslim untuk menyebarkan Islam tanpa bantuan kekuatan politik (dalam berbagai bentuknya), sampai kiamat mereka tidak akan mampu!
Invasi Islam: Perang Jihad
Ketika St. John of Damascus menulis tentang Islam, dia melihat Islam hanya sebagai bidaah yang cukup diatasi dengan cara membongkar kekeliruannya. St. John of Damaskus tidak mengira bahwa Islam adalah sebuah agama baru yang sejak awal memang dirancang untuk menentang kristianitas dan peradaban manusia. Memang Islam juga berasal dari keturunan Abraham dan percaya pada nabi-nabi yang ada di Kitab Suci, tapi Islam tidak sungguh-sungguh berasal dari agama Abraham! Islam bukanlah gerakan bidaah penerus arianisme, Islam adalah agama baru yang berbeda!
Sejak awal berdirinya Islam sudah berlumuran darah. Muhamat sendiri memimpin tidak kurang dari 70 operasi peperangan atas nama penyebaran Islam. Dan perang atas nama agama ini tidak berhenti dengan meninggalnya Muhamat. Para pengikutnya dengan setia meneruskan semangat jihad ini untuk melakukan invasi ke luar wilayah Arab. Ini adalah fakta sejarah.
Memanfaatkan kelemahan kekaisaran Romawi Timur akibat konflik internal dan peperangan dengan Persia selama bertahun-tahun, tentara-tentara Islam terus melakukan jihad dengan menginvasi wilayah-wilayah yang pada awalnya merupakan basis kekristenan. Termasuk juga kota suci Yerusalem, ketika patriark Yerusalem St. Sophronios pada tahun 638 terpaksa harus menyerahkan kota suci ini pada penguasaan muslim untuk menghindari bahaya kelaparan dan penghancuran kota. Pada masa inilah Islam menodai kota suci Yerusalem dengan membangun mesjid 'Dome of Rock' tepat di tengah-tengah Gunung Bait Allah (Yahweh's Temple Mount). Tindakan ini oleh St. Sophronios dianggap telah melanggar kesepakatan sebelumnya sehingga dia berteriak-teriak dan meratap, "Sungguh ini sebuah penghujatan dan perusakan yang dinubuatkan oleh Daniel!"
Tidak berhenti di situ saja, Islam terus melancarkan serangan jihadnya untuk menguasai Mesir, Armenia, Afrika Utara, dan provinsi-provinsi kekaisaran Rowawi Timur (Byzantium) . Bahkan pada tahun 711 tentara Islam berhasil memasuki Spanyol. Setidaknya dua per tiga wilayah kekristenan dirampas oleh keganasan jihad Islam. Seandainya Charles Martel dari Perancis tidak berhasil mematahkan serangan tentara Islam dalam pertempuran di Tours pada tahun 732, bukan mustahil seluruh Eropa akan berhasil ditaklukkan. Bahkan kota Roma sendiri juga pernah mendapatkan ancaman tentara jihad, ketika tahun 827 mereka menyerang Sicilia dan Korsika, lalu berlanjut dengan upaya penyerangan di sekitar kota Roma pada tahun 846.
Dari episode beberapa ratus tahun perang jihad ini sudah cukup menjadi bukti bahwa Islam memang disebarkan melalui pedang. Muhamat boleh saja tidak berhasil memberikan teladan untuk hidup, tapi dia sangat berhasil memberikan teladan untuk mati: yaitu melancarkan jihad dengan imbalan surga penuh bidadari. Inilah warisan terbesar Muhamat untuk umat manusia: kultur kematian. Dan inilah wajah asli Islam yang sesungguhnya, yang entah mengapa sekarang ingin dihilangkan atau ditutup-tutupi dengan mempropagandakan Islam sebagai agama damai. Damai apanya?
Gereja Menentang Islam
Pada peperangan Manzikert, tahun 1071, Kekaisaran Bizantium mengalami kekalahan yang serius. Paus Gregorius II berupaya membantu dengan mengirimkan pasukan. Akan tetapi karena kekurangan dukungan, operasi ini tidak berhasil. Baru pada tahun 1095, Paus Urbanus II di Konsili Clairmont menyerukan upaya peperangan untuk mengambil alih kembali kota suci Yerusalem dari tangan kaum muslim. Ajakan heroik ini kemudian disambut oleh para pendengarnya dengan seruan: "Deus Vult", atau "Tuhan menghendakinya!"
Ajakan Paus yang kemudian menyulut dimulainya Perang Salib sebenarnya bukanlah seruan yang bersifat ofensif. Ini adalah tanggapan yang sangat terlambat atas serangan dan invasi jihad Islam yang sudah berlangsung berabad-abad sebelumnya. Meski Perang Salib I ini meraih sukses dan berhasil merebut kembali Yerusalem, perang-perang salib berikutnya tidak. Sebagian besar wilayah-wilayah kekristenan yang diinvasi Islam selama perang jihad seperti Mesir, Siria, Turki dan Afrika Utara tidak pernah kembali lagi sampai sekarang. Ini ongkos yang sangat mahal akibat terlambatnya tanggapan Gereja atas invasi jihad Islam.
Bahkan Yerusalem hanya sanggup dikuasai selama 100 tahun dan kemudian terlepas lagi selama berabad-abad. Sampai akhirnya pada tahun 1917 Jendral Allenby memasuki kota Jerusalem dan menyatakan ini sebagai akhir dari Perang Salib, Yerusalempun terlepas dari tangan muslim sampai hari ini. Mungkin Jendral Allenby tidak pernah menyadari bahwa sikapnya saat memasuki Yerusalem yang seolah-olah menjadi akhir drama Perang Salib membuat sakit hati dan dendam berkepanjangan di kalangan muslim karena dipaksa menerima keadaan sebagai pihak yang kalah.
Belajar Dari Sejarah Dan Tanda-Tanda Jaman
Sekalipun beberapa tahun yang lalu Paus Yohanes Paulus II menyatakan permintaan maaf atas segala kesalahan dan tindakan atas nama Gereja, diantaranya selama Perang Salib, Inkuisisi, perang Katolik - Protestan, dan lain-lain, tidak sedikitpun Paus meminta maaf atau menyesal atas Perang Salib itu sendiri.
Dengan demikian Gereja menyadari bahwa tindakannya melawan invasi jihad Islam dan penodaan kota suci Yerusalem adalah benar dan sudah seharusnya. Apa yang digalang oleh Paus Urbanus II dan ditanggapi dengan penuh antusias oleh raja-raja dan putra-putra terbaik Gereja bukanlah sebuah kesalahan, itu adalah kehendak Tuhan: Deus Vult!
Dalam konteks jamannya, mungkin seruan itu bertujuan untuk merebut kembali Yerusalem dan membantu Kekaisaran Bizantium merebut kembali wilayahnya yang dikuasai Islam. Tapi membatasinya pada konteks itu akan membuat kita gagal menangkap kehendak Tuhan dalam cakupan yang lebih luas!
Seruan perang Paus Urbanus II adalah sebuah pertanda pada jamannya bahwa Tuhan tidak menghendaki Islam menguasai dunia. Tuhan tidak menghendaki Islam menodai tempat-tempat suciNya! Tuhan tidak menghendaki Islam menggantikan SabdaNya dengan Alquran. Tuhan tidak menghendaki Islam menggantikan Agama Universal yang telah dibangunNya sendiri selama ribuan tahun! Lebih jauh lagi, seruan Paus Urbanus II juga berarti bahwa Tuhan menghendaki umatNya tidak tinggal diam menerima nasib, tapi melawan dengan semangat yang suci didasari kecintaan pada Tuhan dan Gereja!
Seruan perang ini tidak pernah ditarik kembali, dengan demikian semangatnya masih tetap hingga hari ini. Tapi perang ini tidak selalu berarti dengan senjata dan kekerasan, tentunya perlu disesuaikan dengan konteks jaman. Jika St. Bernard of Clairvaux memilih panggilan ini dengan mengangkat senjata, pada saat yang sama Bl. Peter The Venerable memilih panggilan ini dengan cara intelektual: "...aku menyerangmu bukan sebagaimana sebagian dari kami, dengan senjata, tapi dengan kata-kata, bukan dengan kekuatan tapi dengan akal-budi, bukan dengan kebencian tapi dengan kasih. Aku sungguh mengasihimu, dan aku memang menulis kepadamu, aku mengajakmu pada keselamatan."
Islam Agama Damai, Sebuah Topeng
Dalam konteks jaman sekarang cara yang ditempuh oleh Peter The Venerable mungkin lebih sesuai untuk menanggapi panggilan Gereja yang diserukan berabad-abad lalu. Tapi menjadi pertanyaan, apakah kita harus menganggap Islam sebagai musuh yang harus diperangi dan dilawan? Sebenarnya tidak juga! Jika bisa dilakukan dengan dialog dan saling pengertian mengapa memilih jalan perang? Upaya untuk melakukan dialog dan menjadikan Islam sebagai mitra dalam membangun peradaban manusia terus-menerus dilakukan Gereja, bahkan sampai sekarang.
Tetapi hal itu tidak pernah mengubah kenyataan bahwa Islam memang merupakan antitesis dari Gereja. Islam sejak awal berdirinya memang bermaksud melawan Gereja dan seluruh ajarannya. Tak ada yang dapat mengubah ini, bahkan para malaikat dari surga sekalipun! Sangat berbahaya memelihara anak macan, suatu saat macan tersebut menjadi besar dan akan menerkam anda saat merasa lapar! Demikian juga kurang bijaksana dan sia-sia mencoba percaya bahwa Islam tidak memusuhi Gereja, karena secara alamiah Islam memang dirancang sebagai antitesis dari Gereja!
Gereja punya wewenang untuk menafsirkan Sabda Tuhan dan mengambil berbagai kebijakan sesuai konteks jaman, termasuk mencoba menerima Islam sebagai mitra dalam membangun peradaban. Akan tetapi kita tidak boleh lupa bahwa tidak ada orang Islam atau organisasi Islam yang bisa dan berhak mengubah ajaran Islam. Jika sejak awal Islam memang dimaksudkan menjadi antitesis Gereja, maka Islam akan tetap seperti itu sampai kapanpun!
Anda mungkin akan bertanya, ajaran Islam memang tidak berubah tapi penafsirannya tentu bisa disesuaikan dalam konteks jaman dan orang-orang Islam yang berniat baik dapat menafsirkannya untuk kebaikan manusia tanpa harus bersikap memusuhi agama lain. Tapi masalahnya tidak ada penafsiran yang bersifat resmi dan mengikat dalam Islam. Penafsiran yang bersahabat, moderat, dan pluralis hanyalah salah satu dari sekian banyak penafsiran yang sama benarnya menurut Islam!
Akibatnya posisi golongan Islam moderat ini menjadi menjadi sedikit unik. Penafsiran mereka tidak ditolak oleh golongan Islam yang lain, tapi juga tidak didengarkan! Umumnya penafsiran Islam moderat ini tidak populer dan tidak membumi. Penafsiran semacam ini hanya menjadi konsumsi kaum intelektual dan pihak luar Islam. Jadilah Islam moderat sebagai juru bicara atau PR yang sangat efektif menggambarkan Islam sebagai agama damai, sementara rekan-rekannya dari golongan lain dengan tenang menyiapkan rencana serangan bom bunuh diri dan rudal nuklir.
Menurut saya, dari pada golongan moderat ini sibuk membersihkan citra buruk Islam dan berupaya menggambarkan Islam sebagai agama damai kepada orang lain, jauh lebih baik mereka meyakinkan penafsiran moderat itu kepada teman-temannya sendiri sesama muslim! Semoga dengan cara itu mereka bisa menjadikan dunia lebih damai.
Dunia Menentang Islam
Upaya Gereja untuk membangun dialog yang konstruktif dan bersahabat dengan Islam mencapai puncaknya pada jaman Paus Yohanes Paulus II. Untuk pertama kalinya seorang Paus memasuki sebuah mesjid di Siria dengan rasa hormat dan menyatakan Islam bersama Yahudi dan Kristen adalah 'tiga anak-anak Abraham'. Tapi segala upaya yang dilakukan tidak menghasilkan buah yang sepadan, 'kambing tidak juga berubah menjadi domba'. Upaya dialog hanya berpengaruh pada golongan elit kaum moderat tapi di tingkat 'grass-root' wajah Islam yang penuh kekerasan dan tidak toleran justru lebih alami, lebih mudah diterima, dan lebih populer. Tidak heran jika tindakan teror dan kekerasan atas nama Islam semakin menjadi fenomena umum.
Era wajah lemah-lembut Gereja kepada Islam mulai berubah menjadi lebih tegas pada jaman Paus Benediktus XVI. Sebelumnya Paus Yohanes Paulus II masih menyebut terorisme kaum fundamentalis berakar pada rasa ketidakadilan. Tapi dengan mengutip perkataan Kaisar Manuel II Paleologus mengenai Muhamat yang hanya membawa 'kejahatan dan ketidakmanusiawian' Paus Benediktus XVI seolah mengisyaratkan bahwa akar kekerasan itu ada di dalam ajaran yang dibawa Muhamat! Saya tidak menganggap ini sebuah kebetulan, dan meski Paus menyesali kemarahan kaum muslim, dia tidak pernah menarik ucapannya!
Di atas telah saya singgung bahwa Islam memang diciptakan dan dirancang sebagai antitesis dari Gereja dan seluruh ajarannya. Sebagai konsekuensi lanjutannya, yang menjadi lawan Islam tidak hanya Gereja, tapi juga seluruh dunia! Ketika Gereja berupaya membangun peradaban dan kultur kehidupan, Islam dengan sikap intoleran dan kekerasan yang mengatasnamakan agama justru berupaya menghancurkan peradaban dan membangun kultur kematian!
Bukan sebuah kebetulan jika seorang anggota parlemen Belanda yang atheis bernama Geertz Wilders membuat sebuah film berjudul FITNA yang isinya menunjukkan keterkaitan antara ajaran Islam dan tindakan-tindakan kekerasan atas nama Islam! Di akhir film FITNA Geertz Wilder dengan singkat dan tegas mengajak penontonnya untuk menyadari bahaya Islam dan menghentikan proses islamisasi yang mulai melanda Eropa. Geertz Wilders tidak sedang menyerang Islam, sebaliknya dia hanya berusaha mempertahankan kebebasan dan kedaulatan negerinya dari serangan Islam. Menyadari hal ini, selesai menonton film FITNA saya berteriak (tentu saja dalam hati): Deus Vult!
Bagi saya ini juga sebuah tanda-tanda jaman. Dulu beberapa abad yang lalu Paus Urbanus II menyerukan Perang Salib melawan Islam, selain itu banyak orang suci seperti St. John of Damascus, St. Bernard of Clairvaux atau juga Bl. Peter The Venerable yang sudah menyadarkan kita akan kekeliruan Islam. Kini seorang atheis juga menyuarakan seruan yang senada untuk melawan Islam. Dengan demikian Islam telah disadari sebagai musuh, tidak hanya oleh mereka yang beragama tapi juga yang tidak beragama. Islam seolah menjadi musuh seluruh kemanusiaan!
Lalu bagaimana kita menanggapi seruan ini? Tuhan jelas menghendaki kita bangkit melawan, bukan diam dan tidak peduli. Tentu saja saya tidak sedang menyarankan anda ikut latihan militer dan belajar merakit bom. Itu bukan konteks yang tepat untuk saat ini dan akan membuat kita tidak berbeda dengan apa yang kita lawan. Kita bisa mengikuti apa yang dilakukan Peter The Venerable: dengan kata-kata, akal-budi, dan kasih! Bukan untuk menghancurkan tapi untuk menyelamatkan.
Akan tetapi kita perlu belajar dari sejarah, apapun yang anda lakukan tidak pernah dapat mengubah Islam itu sendiri. Dari awalnya Islam memang diciptakan sebagai antitesis Agama Universal dan tidak mungkin berubah sampai kapanpun. Yang bisa kita lakukan adalah menunjukkan fakta wajah Islam yang sebenarnya dan sekaligus menunjukkan jalan kebenaran yang sejati, yaitu Agama Universal yang telah diciptakan Tuhan bagi manusia sejak jaman Abraham dan keberadaannya tidak pernah terputus sampai hari ini. Meski ini tidak akan mengubah Islam, tapi mungkin akan mengubah pengikutnya. Lebih dari itu sudah bukan wewenang kita lagi.
Jumat, 04 April 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



10 komentar:
Kok belum selesai juga?
BTW, tesis-nya bagus sekali.
Sangat mencerahkan.
Saya tunggu penyelesaian & artikel berikutnya.
GBU
Wow!
Bagus tesis-tesisnya!
1000% setuju!
Bagaimana mungkin tulisan ini bisa dianggap 'bernilai' kalau didasarkan pada dalil inzil yang palsu!
Silakan buktikan dulu di blog ini bahwa inzil yang Anda imani sekarang adalah asli. Setelah itu baru menilai agama orang lain!
kan islam yang menuduh INJIL palsu, silahkan berikan INJIL yang asli...the PROOF is on your side. gampang kan?
Tulisan : Islam Sebagai antitesis Agama 1 sd 4 kami pergunakan untuk bahan study (bukan satu2nya) untuk memastikan apa yang telah dinubuatkan dalam kitab Injil kususnya Yahanes dan Wahyu, bahwa Bilangan manusia yaitu 666 adalah tahun masehi. Karena tahun tersebut adalah tonggak sejarah kemunculan ajaran Arius yang anti Kristus, yang dibawa oleh Mamad.
Binatang yang keluar dari dalam bumi < Gua >.
Tulisanya sama sekali tidak ilmiah, banyak yang hanya terkaan subyektif. Penarikan kesimpulan dan analogi juga semuanya tidak logis.
Sebenarnya agama itu tidak perlu diperdebatkan, karena akan memecah belah persatuan bangsa.
Islam sendiri mengajarkan agar tidak mempermasalahkan agama orang lain dalam surat Al-Kafirun kalimatnya "Bagiku agamaku dan bagimu agamamu". Jadi kalau penulis mayakini agamanya, seharusnya tidak perlu mempermasalahkan agama lain. Ada pertanyaan simpel yang bisa memperlihatkan Agama penulis murni atau tidak.
Jesus itu lahir di mana?
Bagaimana namanya bisa Jesus?
Kalau Jesus itu juga tuhan, kenapa ketika di kayu salib dia berkata "Tuhan kenap engkau meninggalkan aku?"
Diskusi lebih lanjut bisa email saya di zainwisuda@yahoo.com
Terima kasih
Pelecehan Alkitab (Bibel) kepada Tuhan
1. Tuhan menyesal dan pilu hati? (Kejadian 6: 5-6, Keluaran 32: 14).
2. Tuhan mengah-mengah, megap-megap, dan mengerang seperti perempuan
yang melahirkan? (Yesaya 42: 13).
3. Roh Tuhan melayang-layang (terapung-apung) di atas permukaan air? (Kejadian
1: 1-2).
4. Tuhan jorok, menyuruh makan tahi? (Yehezkiel4: 12-15).
5. Tuhan kelihatan alas kaki-Nya? (Kleuaran 24: 10).
6. Tuhan merasa jenuh/jemu/bosan? (Yeremia 15: 6).
7. Tuhan petak umpet dengan Adam? ( Kejadian 3: 8-10).
8. Tuhan besanan dengan manusia? (Kejadian 6: 2).
This document is created with trial version of CHM2PDF Pilot 2.15.74.
9. Tuhan kalah dalam duel melawan Yakub? (Kejadian 32: 28).
10. Tuhan bersiul memanggil manusia? (Zakharia 10: 8).
11. Tuhan bersuit? (Yesaya 7: 18, Yesaya 5: 26).
12. Tuhan menengking? (Yeremia 25: 30).
13. Tuhan lelah kepayahan dan kecapaian? (Keluaran 31: 17).
14. Tuhan menyuruh mencintai pelacur? (Hosea 3: 1).
yg simple aja pertanyaan saya, Ayat berapa dalam kitab apa Yesus menyatakan sebagai TUHAN??
Karena ada orang kristen juga yg kebingungan ketika mereka tanya sendiri sebenarnya Yesus itu Tuhan atau Rasul?? Membingungkan katanya?
I dont know what u say...
Pada pergantian Siang dan Malam, Penciptaan Langit dan Bumi, Kapal yang belayar membawa muatan yang bermanfaat bagi manusia... terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang yang mengerti...
but... You Know my friends...
Islam So Beautiful :), you can see more on other side...
Poskan Komentar