Sabtu, 22 November 2014

Di Atas Bumi Seperti Di Dalam Surga

Sungguh sangat beruntung kita mendapatkan seorang Paus Fransiskus. Well, kelihatannya ini bukan saya yang sedang menulis kalimat tersebut. Tapi memang benar saya merasakan sebuah blessing in disguise. Karena berbagai tindakan dan ucapannya yang kontroversial, termasuk kata-katanya yang menjadi ikon, "Who am I to judge" saat ditanya soal homoseksualitas membuat saya segera tersadar bahwa ada sesuatu yang salah dengan Gereja kita. Suaranya berbeda dengan semangat Gereja Katolik sejauh yang saya tahu. Jika bukan karena kontroversi Paus Fransiskus mungkin sampai hari ini saya masih seorang pengikut setia Konsili Vatikan II.

Sabtu, 01 November 2014

Sinode Luar Biasa Tentang Keluarga 2014: Absurd Tapi Nyata

Absurditas menggelikan ini selalu terjadi setiap tahun: menjelang Idul Fitri kaum ulama mengadakan sidang isbat untuk menentukan kapan tepatnya tanggal 1 Syawal itu. Aneh tapi nyata. Seharusnya di jaman serba modern hal sederhana itu sudah bisa ditentukan dan disepakati secara ilmiah, tidak perlu sidang bertele-tele yang lucu setiap tahun. Hal yang sederhana dan jelas tapi bisa menjadi rumit dan berlarut-larut, itulah absurditas agama.

Sekarang absurditas itu juga tengah terjadi secara mencolok, bukan di agama lain, tapi di Gereja Katolik. Bayangkan, begitu banyak uskup yang punya karunia khusus sebagai gembala, setidaknya secara formal, bersidang begitu lama tanpa keputusan jelas untuk membahas hal yang sudah jelas: apakah kumpul-kebo itu dosa atau tidak, apakah bercerai dan kawin lagi itu dosa atau tidak, apakah gaya hidup gay itu punya nilai tambah (sehingga layak di dukung dan dihormati keadaannya) atau tidak.

Quo Vadis Homine?

"...Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak. (Mat.16:3)

Kata-kata Yesus di atas makin menjadi relevan akhir-akhir ini ketika manusia dibuat bingung dengan apa yang terjadi dalam Sinode Luar Biasa Keluarga di Vatikan. Gereja yang secara tradisional begitu kokoh mempertahankan nilai kesucian perkawinan dan menolak pembenaran perilaku homoseksualitas tiba-tiba mengkhianati seluruh nilai-nilai tradisionalnya dan berubah menjadi permisif dengan alasan kebijakan pastoral. Menyedihkan.

Minggu, 05 Januari 2014

Quo Vadis Francisce (3/3)

Satu hal yang membuat saya perlu berterimakasih pada Paus Fransiskus adalah: saya dipaksa untuk menggali lebih jauh apa yang membuat paus ini hadir sebagai sosok yang sangat kontroversial. Saya sebagai manusia tidak bisa dan tidak punya hak untuk menghakimi seorang paus, oleh karenanya saya harus memastikan bahwa ajaran Gereja yang infallible dan Tuhan sedirilah yang telah menghakiminya. Apa yang saya temukan ternyata sangat membantu untuk memahami apa yang terjadi di Gereja Katolik sekarang ini. Munculnya sosok kontroversial Paus Fransiskus bukanlah terjadi begitu saja, melainkan merupakan puncak dari suatu proses panjang yang bisa ditarik benang merahnya bukan hanya sampai pada Konsili Vatikan II tapi sampai pada peristiwa penampakan Bunda Maria di Fatima dan bahkan sampai pada penglihatan yang dialami oleh Paus Leo XIII pada tahun 1884. Saya akan coba menunjukkan bahwa seluruhnya berkaitan satu sama lain karena pada dasarnya apa yang terjadi adalah bagian dari peperangan antara Kristus melawan iblis dan seluruh pengikutnya.

Quo Vadis Francisce (2/3)

Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.  (Mat.24:32)
..Dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. (1Tes.5:20)

Pertanda Dari Tuhan Atau Kebetulan?

Tanggal 11 Februari 2013, Paus Benediktus XVI mengambil sebuah keputusan penting: beliau memutuskan untuk mengundurkan diri pada tanggal 28 Februari 2013. Dalam 600 tahun terakhir, Paus Benediktus XVI menjadi paus pertama yang mengundurkan diri. Hanya beberapa jam setelah keputusannya, sebuah kilat menyambar kubah Basilika St. Petrus. Apakah ini sekedar kebetulan atau sebuah pertanda dari Tuhan?

Quo Vadus Francisce (1/3)

Paus dan dunia

Belum setahun umat Katolik mendapat pemimpin baru setelah pemimpin sebelumnya, seorang paus yang luar biasa, jawara ortodoksi, Paus Benediktus XVI mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Kardinal Jorge Maria Bergoglio sekarang menjadi pemimpin Gereja Universal dengan nama Paus Fransiskus.

Berbeda dengan pendahulunya, baik Paus Yohanes Paulus II maupun Paus Benediktus XVI, kepemimpinan Paus Fransiskus mendapat sambutan yang luar biasa, tidak hanya dari sebagian besar umat Katolik tapi juga dari seluruh dunia. Semua orang berharap Paus ini mampu membawa perubahan besar. Beberapa jajak-pendapat menunjukkan bahwa Paus ini adalah orang paling populer sejagad. Majalah TIME menobatkan Paus Fransiskus sebagai 'Person of The Year 2013'. Bahkan ikon perubahan yang sebelumnya dipegang oleh Presiden Obama sekarang bergeser ke Paus Fransiskus. Dalam waktu singkat Paus Fransiskus tidak hanya menjadi Paus bagi umat Katolik tapi juga bagi seluruh dunia.

Senin, 30 Juli 2012

Berkat Dan Kutuk Terbesar Sepanjang Sejarah


(Catatan: Tulisan ini pernah diposting ke forum EDO tapi dihapus oleh moderatornya tanpa bisa menunjukkan kesalahan apapun dalam isinya kecuali masalah: gaya bahasa)

Pada suatu kesempatan saya berbincang-bincang dengan seorang klien, usianya sekitar 60-an. Entah dari mana mulanya akhirnya dia curhat tentang masalah agama, “Saya ini seorang muslim, semua keluarga saya juga muslim, tapi saya kok ngeri ya melihat muslim-muslim yang berjenggot itu… apalagi kalau mendengar kotbah-kotbah ulama mereka. Katanya Islam itu satu, tidak seperti kristen yang ada banyak gereja, tapi saya rasa Islam saya dan Islam mereka berbeda…”