Minggu, 05 Juni 2011
ISLAM: Spiritual Pathology
Ketika mencoba merangkum keseluruhan isi bukunya, Robert R. Reilly dengan tajam dan tegas menyimpulkan sebagai berikut, "Islamism is a spiritual pathology founded on a theological deformation that has produced the dysfunctional culture." Islam adalah penyakit spiritual yang merusak peradaban dunia!
Tidak bisa tidak saya 100% setuju dengan sang pengarang.
Islam Dan Kemajuan Peradaban
Ketika berbicara mengenai sumbangan Islam terhadap peradaban dunia, kaum intelektual Islam seringkali merujuk pada 'peradaban emas Islam' di abad-abad awal perkembangan ekspansi Islam dimana muncul pemikiran-pemikiran dan pusat-pusat intelektual yang menjadi sumber inspirasi abad pencerahan Eropa. Tapi ironisnya, kemajuan peradaban Islam ini seolah tidak berlanjut lagi dan malah bergerak mundur sehingga peradaban Islam justru menjadi peradaban yang terbelakang.
Kaum intelektual Islam kebanyakan setuju bahwa kemunduran pemikiran dunia Islam terutama disebabkan oleh semakin besarnya pengaruh pemikiran Al-Ghazalli yang berupaya membungkam kaum Mutazillah (motor pemikiran intelektual Islam). Al-Ghazalli bagi Islam kurang lebih sama perannya seperti St. Paulus bagi kristianitas. Pemikiran-pemikiran Al-Ghazalli yang cenderung meminggirkan pentingnya peran akal budi dalam memahami kebenaran inilah yang kemudian memberikan arah bagi perkembangan peradaban Islam hingga saat ini.
Lalu bagaimana kita memahami kemajuan peradaban Islam yang hanya sebentar dan sekaligus kemundurannya yang permanen?
Bagi saya kenyataan sejarah ini menunjukkan satu hal: apapun yang menyebabkan kemajuan peradaban Islam pada masa itu pasti tidak sesuai dengan karakter Islam yang sesungguhnya. Dalam hal ini perjumpaan Islam dengan peradaban Yunani saat mereka menguasai Byzantium adalah penyebab utama dari kemajuan peradaban Islam. Sementara itu pada dasarnya Islam tidak memiliki apa-apa yang ditawarkan kepada dunia selain semangat ekspansi yang ingin mempertobatkan dunia. Pemikiran-pemikiran Yunani yang dijumpai dalam proses ekspansinya berupaya dirangkul ke dalam Islam karena pada masa itu dilihat sebagai alat yang ampuh untuk memajukan Islam dan untuk menaklukkan dunia lebih lanjut. Jadi penyebab kemajuan peradaban Islam tidak berasal dari dalam Islam itu sendiri, melainkan berasal dari perjumpaannya dengan peradaban Yunani yang disinergikan dengan semangat ekspansi dakwah Islam.
Tapi kemudian muncul persoalan besar. Pemikiran Yunani ternyata memberi dampak buruk bagi Islam karena akal budi mulai leluasa mempertanyakan kebenaran-kebenaran Islam. Dan ini membuat Islam tidak tahan. Helenisasi adalah racun maut yang akan membunuh Islam, dan racun itu harus segera dikeluarkan! Inilah yang terjadi ketika pemikiran-pemikiran Al-Ghazalli, teolog besar kaum Asy'syariah, mulai mendominasi dunia Islam untuk mencegah hancurnya Islam akibat racun helenisasi yang disebarkan kaum Mutazillah.
Bandingkan ini dengan Gereja yang justru terus berupaya menunjukkan keselarasan antara iman dan akal budi dalam memahami kebenaran sampai sekarang. Tak pernah ada satu katapun yang mempertentangkan iman dan akal budi dalam ajaran Gereja.
Lalu pertanyaan lain yang muncul: mengapa proses helenisasi yang mengedepankan terang akal budi tidak selaras dengan Islam? Jawaban saya satu: Islam sejak awalnya adalah sebuah kebohongan dan agama palsu yang dapat terbongkar kesesatannya jika diperiksa dalam terang akal budi. Dengan tepat ini juga dirumuskan oleh Robert R. Reilly yang mengkategorikan Islam sebagai 'spiritual pathology' alias penyakit spiritual.
Lalu apa yang harus kita lakukan dengan sebuah 'penyakit'? Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan membuangnya jauh-jauh dan selanjutnya mencegah penyakit itu datang lagi.
Re-helenisasi Islam, mungkinkah?
Akibat dari proses de-helenisasi di dunia Islam sangat jelas, paling tidak kita bisa mengamati dari fenomena-fenomenanya. Tidak berfungsinya akal-budi dalam pemahaman Islam pada akhirnya hanya menyebabkan munculnya kekerasan-kekerasan atas nama iman. Sangat logis, ketika akal budi tidak lagi mampu menjawab tantangan maka solusinya yang paling gampang adalah penggunaan kekerasan dan kekuasaan. Terorisme, jihad, pembakaran gereja, dan banyak lagi kekerasan atas nama agama adalah contoh-contoh yang begitu jelas untuk masalah ini.
Kondisi memalukan ini bukannya tidak menimbulkan keprihatinan dari kalangan internal Islam sendiri. Bagaimanapun masih banyak orang Islam yang berpihak pada hati nurani dan akal sehat mereka. Banyak pemikir-pemikir Islam yang mencoba menentang arus dengan melakukan kritik-kritik atas pemikiran tradisional Islam. Ini mungkin merupakan bagian dari proses re-helenisasi dunia Islam yang sedang diupayakan untuk mencegah kemunduran Islam lebih lanjut.
Di Indonesia upaya re-helenisasi ini bisa kita lihat dari pemikiran-pemikiran kaum intelektual seperti Gus Dur dan juga Ulii Abshar Abdalla dengan teman-teman JIL-nya. Dan kurang lebih kita tahu bagaimana reaksi Islam terhadap pemikiran-pemikiran semacam ini.
Lalu apakah upaya ini akan berhasil atau bagaimanakah pengaruh pemikiran-pemikiran mereka terhadap Islam? Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap pemikiran-pemikiran kaum pembaharu Islam ini saya hanya mengatakan kemungkinannya ada dua: pemikiran-pemikiran mereka akan gagal dan dilibas oleh pandangan kaum tradisional ATAU pemikiran mereka berhasil tapi akibatnya di luar dugaan mereka: Islam bukannya terbaharui melainkan justru hancur dan ditinggalkan pengikutnya karena segala kepalsuannya terbuka di hadapan nalar dan kebenaran.
Mengapa saya berani mengatakan demikian? Yang pertama berdasarkan kenyataan sejarah akan kegagalan kaum Mutazillah dan sejarah ini akan berulang. Yang kedua berdasarkan fakta bahwa Islam adalah sebuah 'penyakit spiritual' atau agama palsu yang tidak mungkin diperbaiki dengan cara apapun kecuali dengan membongkar kepalsuannya dan membuangnya jauh-jauh dari peradaban. Intervensi akal budi ke dalam sistem Islam hanya akan membuat semua kepalsuan dan kesesatannya telanjang. Dengan cara apakah uang palsu diperbaiki supaya menjadi asli dan berharga? Tidak ada cara apapun yang bisa dilakukan, satu-satunya solusi hanyalah dengan membuangnya jauh-jauh atau membakarnya supaya tidak ada lagi orang yang memanfaatkannya untuk menipu orang lain...
Selasa, 04 Mei 2010
Perintah Baru - Apanya Yang Baru?
Itu tadi kutipan Injil Yohanes yang dibacakan dalam Misa kemarin. Sebuah ayat yang bagi saya sangat berarti, terutama karena itu diucapkan oleh Yesus pada saat menjelang Ia meninggalkan murid-murid-Nya. Tentunya ini sebuah wasiat yang luar biasa penting dan berharga.
Tapi apa yang diucapkan romo dalam homili agak mengagetkan saya dan membuat saya kehilangan konsentrasi sampai misa selesai. Romo tersebut mengatakan kira-kira demikian, "Yesus memberikan sebuah perintah baru, tapi sebenarnya ini bukan perintah baru...."
Bagaimana mungkin Yesus sendiri mengatakan ini perintah baru tapi romo tersebut menyangkalnya?
Akhirnya setelah misa selesai saya mendatangi romo tersebut dan mengutarakan keberatan saya. Kami berbincang-bincang santai kurang lebih 5 menit karena romo harus segera pergi. Maklum tuaian banyak tapi pekerja sedikit. Beliau berjanji untuk ngobrol-ngobrol lagi di lain waktu.
Mengapa homili tersebut begitu mengganggu saya? Dengan mengatakan 'perintah baru' sebenarnya Yesus telah mengklaim bahwa apa yang dikatakan-Nya sungguh-sungguh khas berasal dari-Nya, belum pernah dituntut oleh nabi-nabi dan guru-guru lain. Sebaliknya ketika orang menganggap apa yang dikatakan Yesus bukanlah perintah baru maka itu sama saja dengan mengatakan Yesus adalah seorang plagiator, menyatakan suatu perintah yang bukan khas berasal dariNya sebagai perintah yang berasal dariNya. Atau Yesus telah membohongi murid-muridNya sendiri dengan mengatakan ada suatu perintah baru, padahal sesungguhnya tidak ada.
Yesus seorang plagiator? No way!
Alasan romo tersebut sederhana: perintah untuk saling mengasihi sudah sejak lama diajarkan oleh nabi-nabi lain sebelum Yesus.
Tapi bagi saya bukan disini masalahnya. Perintah untuk saling mengasihi memang bukan sesuatu yang baru, bahkan itu adalah bagian dari hukum utama yang menjadi inti dari seluruh hukum Taurat.
Yang sungguh-sungguh baru menurut saya dan menjadikan perkataan Yesus mengenai perintah baru menjadi benar 100% adalah kualitas kasih yang dituntut dari para pengikut-Nya.
Pada hukum utama bunyinya cukup jelas: kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Disini standar kasih yang menjadi tuntutan pada perintah lama adalah kasih kepada diri sendiri. Jadi dengan kata lain standarnya adalah kasih manusiawi. Ini perintah lama.
Tapi pada perintah baru standarnya diubah setinggi langit: "sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi"
Standar kasih pada perintah baru tidak lagi manusiawi, tapi ilahi. Manusia dituntut untuk mengasihi sesamanya tidak lagi seperti dia mengasihi dirinya sendiri melainkan lebih dari itu, yakni seperti Tuhan sendiri telah mengasihi manusia.
Ini jelas perintah yang sungguh-sungguh baru dan memang belum pernah diberikan oleh nabi atau guru manapun. Dan perintah ini sesungguhnya tidak mungkin diberikan oleh siapapun di muka bumi ini kecuali oleh Yesus sendiri.
Rabu, 09 Desember 2009
Alquran - Kitab Suci Palsu
Tulisan ini saya posting di forum MyQuran untuk menanggapi sebuah topik yang berjudul "Pemalsuan Bibel, ....dst..dst..."
Setelah tulisan ini tidak mendapat respons atau bantahan selama berhari-hari pada akhirnya (10 Desember 2009) saya mendapatkan pesan bahwa saya di-banned di forum tersebut.
Maaf EENS, Anda dikucilkan dari penulisan ataupun pengiriman pesan pribadi pada forum ini.
Tidak masalah, itu hak mereka.
--------------------------------------------------
Membaca judul thread ini sebenarnya saya agak geli, 'Pemalsuan Bibel...'.
Apa yang ada di otak naif TS saat memberi judul?
Oh ya, sebuah tipikal prasangka muslim yang ditanamkan dengan kuat selama berabad-abad: kitab-kitab suci sebelumnya (Taurat. Zabur/Mazmur, dan Injil) sudah diselewengkan, ditambah-tambah dan diubah sedemikian rupa sehingga sudah kehilangan keasliannya sebagai Sabda Tuhan. Dengan kata lain kitab-kitab tersebut sudah dipalsukan.
Sebenarnya cukup dengan akal sehat kita akan tahu bahwa tuduhan semacam ini hanyalah sebuah fitnah yang tidak bertanggung jawab, yang memang perlu dilancarkan agar manusia mau menerima sebuah 'kitab suci' baru bernama Alquran. Nanti di artikel lain akan saya jelaskan mengapa tuduhan semacam ini tidak bisa tidak hanyalah sebuah fitnah yang berlandaskan pada pemikiran yang sesat. Ya betul, dasar pemikirannya adalah ajaran sesat.
Sekarang saya ingin berkonsentrasi pada apa itu kitab palsu?
Banyak orang yang terlalu mudah menerima begitu saja definisi pemalsuan kitab suci yang diberikan oleh golongan muslim: apabila kitab tersebut sudah mengalami perubahan, apapun itu, maka itu artinya dipalsukan. Padahal tidak sesederhana itu.
Bukan Teks Tapi Substansi Makna
Perkembangan peradaban niscaya juga mengakibatkan perkembangan bahasa. Konsekuensinya, suatu teks yang ditulis berabad-abad sebelumnya akan mengalami pergeseran makna sehingga memerlukan penyesuaian-penyesuaian jika ingin menampilkan makna yang sama seperti yang dimaksudkan penulis teks asli. Maka dari itu perubahan-perubahan teks yang dilakukan dengan maksud seperti ini sama sekali bukanlah pemalsuan. Yang penting bukanlah otentisitas teks, tetapi otentisitas makna atau substansi dari teks tersebut. Sejauh substansi dari teks-teks kitab suci tersebut tetap terjaga maka perubahan teks bukanlah suatu masalah.
Bukan Teks Tapi Manusia
Jadi dari sudut ini keutuhan teks itu sendiri sesungguhnya tidak mampu menjamin dan menjaga keutuhan substansi isi karena adanya perkembangan bahasa. Ini fakta ilmiah. Menyerahkan keutuhan substansi pada keaslian teks (seperti pada Alquran, misalnya) menjadi sesuatu yang konyol dan absurd. Lalu kepada siapakah keutuhan substansi ini dipercayakan penjagaannya?
Ketika kita berbicara substansi kitab suci berupa Sabda Tuhan maka satu-satunya yang layak dipercaya untuk menjaga keutuhannya adalah justru manusia, bukan teks. Sejarah keselamatan telah menunjukkan bahwa Tuhan mempercayakan keutuhan substansi isi kitab suci ini kepada manusia, bukan kepada teks-teks. Berkali-kali teks kitab suci hilang, rusak atau mengalami perubahan, namun substansi Sabda Tuhan tetap terjaga utuh sampai akhir jaman. Dalam hal menjaga keutuhan substansi Sabda Tuhan, tentunya Tuhan sendiri lebih percaya kepada manusia ciptaan-Nya daripada kepada hasil budaya manusia (teks dan kertas). Setidaknya begitulah menurut akal sehat. Dan dalam kenyataannya, manusia tidak hanya dipercaya untuk menjaga Sabda Tuhan tapi juga untuk menyampaikan Sabda Tuhan.
Menyatakan otentisitas substansi kitab suci dipercayakan pada teks dan bukan kepada manusia sama saja dengan menghina Tuhan karena menganggap ciptaan Tuhan lebih buruk dan lebih tidak layak dipercaya dari pada ciptaan manusia.
Para Penjaga dan Pembawa Sabda Tuhan
Demikianlah dapat kita simpulkan bahwa yang paling layak dalam menjaga otentisitas substansi Sabda Tuhan adalah manusia, bukan yang lain. Maka jika Tuhan menurunkan Sabda-Nya tentu Dia juga HARUS menyediakan manusia-manusia pilihan yang dipercaya untuk menjaga dan menyampaikan Sabda-Nya, tidak mungkin tidak. Tentunya yang dimaksud adalah manusia-manusia pilihan yang mendapatkan karunia dan anugerah khusus dari Tuhan. Inilah yang di sepanjang sejarah PL kita kenal sebagai nabi-nabi, raja-raja, imam-imam dan banyak orang pilihan lainnya yang PASTI disiapkan Tuhan untuk mewartakan sekaligus menjaga keutuhan Sabda-Nya.
Dalam era PB, manusia pilihan penjaga dan pembawa Sabda Tuhan ini diserahkan pada para rasul, dan seluruh hirarki Gereja yang kita kenal sebagai Tradisi Suci. Dengan demikian apapun yang telah disetujui dan diakui Tradisi Suci (hirarki Gereja) sebagai Sabda Tuhan sudah pasti merupakan Sabda Tuhan yang otentik. Jadi kalau kita ingin mengetahui Kitab Suci yang otentik maka yang perlu kita lakukan adalah mengetahui Kitab Suci yang diakui secara sah oleh Tradisi Suci, bukan yang lain.
Kitab-kitab Palsu
Saya akan memberi ilustrasi sederhana sebagai berikut:
BI adalah otoritas yang dapat menerbitkan uang di negeri ini. Uang apapun, berapapun nilainya seperti apapun bentuk dan gambarnya sepanjang BI menetapkannya sebagai uang yang resmi maka uang tersebut berlaku sebagai alat pembayaran yang sah. Jika beberapa waktu kemudian BI menerbitkan uang dengan bentuk atau desain yang berbeda, uang tersebut bukanlah uang palsu, itu uang asli dan nilainya tidak berubah sama sekali.
Tapi jika ada orang lain (yang tidak berhak) menerbitkan uang yang bentuknya sama, meski segala sesuatunya mirip, uang tersebut adalah uang palsu. Bukan karena bentuknya tapi karena uang tersebut diterbitkan oleh otoritas yang tidak berhak menerbitkannya.
Dari ilustrasi sederhana di atas kita bisa mengambil analoginya untuk masalah kitab suci dan menyimpulkan bahwa palsu atau tidaknya suatu Kitab Suci sangat ditentukan oleh pengakuan dari otoritas yang berhak, bukan oleh hal-hal lain atau pertimbangan pihak-pihak lain. Harus saya ingatkan bahwa otoritas ini PASTI ADA karena Tuhan sendiri menghendakinya sebagai penjaga dan pewarta Sabda-Nya. Dalam konteks Gereja Katolik, otoritas ini ada di tangan hirarki Gereja yang kita kenal sebagai Tradisi Suci.
Nah, sekarang situasinya jadi terbalik.... dari sudut ini malah kita bisa mengatakan bahwa justru Alquran adalah kitab palsu yang sesungguhnya. Jika Alquran hanya membuat kisah tentang Muhamat saja maka hal itu mungkin bukan masalah, orang Arab sah-sah saja menyebutnya sebagai kitab suci tentang Muhamat. Itu urusan mereka. Tapi ketika Alquran mengambil dan mengklaim kisah-kisah nabi-nabi PL dan juga kisah-kisah tentang Yesus dalam kitabnya maka persoalannya menjadi lain. Selain kisah tersebut secara substansi berbeda dengan aslinya, Muhamat sama sekali tidak punya otoritas apapun untuk mengangkat kisah-kisah nabi PL dan kisah tentang Yesus di dalam Alquran. Kira-kira seperti Malaysia yang mengaku-aku batik atau reog. Kita bisa katakan batik atau reog versi Malaysia tentunya adalah batik dan reog yang palsu. Jadi dari sudut ini kita bisa menyatakan bahwa Alquran adalah kitab suci yang palsu.
Ketika orang Islam berteriak-teriak soal pemalsuan kitab suci sebelumnya, itu seperti MALING BERTERIAK MALING.
Soal ini Rasul Paulus sudah mengingatkan:
Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. (Gal.1:6-9)
Ini adalah sebuah nubuat yang sangat meyakinkan dan akurat tentang Muhamat (rasul palsu) yang mengaku mendapat bisikan Jibril (malaikat palsu) dan memberitakan tentang Injil palsu, yaitu kisah tentang Yesus yang diputarbalikkan dan berbeda dengan yang diajarkan dan diberitakan Gereja. Terkutuklah dia, kata Paulus.
Jumat, 02 Oktober 2009
Satu Kawanan Satu Gembala (6): Keturunan Abraham Dan Agama Universal
kata-Nya:
"Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri--demikianlah firman TUHAN--:
Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk
menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati
engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti
bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan
menduduki kota-kota musuhnya.
Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat,
karena engkau mendengarkan firman-Ku."
(Kej. 22:15-18)
------------------
Dipilih, Bukan Diklaim
Semoga sudah jelas bagimu bahwa Tuhan hanya menciptakan satu agama universal bagi seluruh umat manusia. Tapi mungkin akan timbul pertanyaan selanjutnya: agama universal yang mana? Banyak agama mengklaim dirinya sebagai agama universal. Atas dasar apa sebuah agama dapat mengklaim dirinya agama universal?
Jawabanku: tidak ada dasar apapun yang bisa digunakan untuk mengklaim sebuah agama sebagai agama universal. Agama universal itu dipilih dan dibentuk oleh Tuhan sendiri, tepat seperti yang dikatakan Yesus: “Bukan kamu yang memilih Aku tapi Akulah yang memilih kamu…" (Yoh.15:16). Agama universal bukanlah suatu status yang dapat diklaim, diraih, dilombakan apalagi diperdebatkan oleh manusia. Tuhan sendiri yang telah memilih dan membentuk agama universal ini, bukan berdasarkan pengakuan atau klaim manusia. Dan sekali Tuhan memilih, pilihanNya itu tetap, Tuhan tidak pernah mengganti pilihanNya di tengah jalan seolah-olah Dia telah melakukan kesalahan pada pilihan sebelumnya. Jadi apapun yang diupayakan manusia tidak dapat membuat agama universal menjadi bukan universal lagi, dan sebaliknya juga tidak dapat mengubah agama yang sebelumnya bukan agama universal menjadi agama universal. Manusia tidak bisa mengubah apa yang telah ditetapkan dan dipilih Tuhan sendiri.
Anakku, kalau engkau memahami ini akan menjadi lebih mudah bagimu untuk menentukan mana sesungguhnya agama universal diantara agama-agama lainnya. Kata kuncinya: dipilih, bukan diklaim. Ingatlah perkataanku ini: Tuhan hanya menciptakan satu agama universal dan Dia tidak pernah gagal. Prinsip ini dapat menjadi peganganmu dalam mencari agama universal yang otentik.
Engkau tinggal mencari dalam sejarah keselamatan, di dalam kisah-kisah para nabi kapan saat Tuhan menentukan pilihanNya dan mulai membangun agama universal ini. Bandingkanlah diantara sekian banyak agama yang ada, mana yang paling layak sebagai agama universal. Dan harus engkau ingat, sekali Ia menetapkan pilihan Tuhan tidak pernah menggantinya seolah-olah Ia telah gagal. PilihanNya sudah pasti benar dan lagi Tuhan selalu setia pada apa yang telah dipilihNya sendiri. Sekalipun manusia atau malaikat berupaya mengacaukan agama universal ini, Tuhan pasti sanggup memulihkannya. RancanganNya selalu berhasil.
Dan engkau akan melihat agama universal ini memiliki keunggulan yang jauh di atas semua agama lain, bedanya akan seperti langit dan bumi, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yes: 55:8-9). Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya agama universal ini memiliki suatu unsur yang hanya dapat dibuat oleh Tuhan dan tidak dapat dibuat oleh tangan manusia sebagai bukti otentik agama tersebut memang diciptakan sendiri oleh Tuhan. Ini yang akan menjadi pembeda signifikan antara agama universal dan agama-agama lain. Aku akan menerangkan soal ini nanti.
Sama seperti seorang nabi yang dipilih Tuhan untuk mengajar kebenaran, demikian juga agama universal ini dipilih Tuhan untuk mewartakan sabdaNya bagi seluruh umat manusia. Kalau engkau bijaksana dan sungguh-sungguh menggunakan akal-budimu engkau akan bisa menemukannya di antara sekian banyak agama yang ada.
Mereka yang mengatakan Tuhan telah memilih agama universal baru karena agama universal yang lama sudah gagal atau diselewengkan adalah sama dengan menghina Tuhan, seolah-olah Dia tidak mampu memilih dengan baik sejak awal dan rancanganNya gagal. Kalau sudah begitu sama sekali tidak ada jaminan ‘agama universal’ yang baru juga benar, mungkin saja Tuhan salah lagi dan kita butuh agama universal yang baru lagi. Lalu sampai kapan Tuhan akan membuat agama universal yang baru? Jangan engkau percaya perkataan orang-orang semacam itu, asumsi mereka tidak logis dan mereka hanya akan menyesatkanmu. Ujilah dengan akal sehatmu dan engkau akan menemukan kebenaran.
Perjanjian Dengan Abraham
Sebagai seorang Katolik aku percaya bahwa Gereja Katolik adalah agama universal yang diciptakan oleh Tuhan bagi seluruh umat manusia. Dari namanya, Katolik memang berarti universal. Sekalipun secara resmi Gereja Katolik baru hadir dalam panggung sejarah setelah kehadiran Yesus di dunia, Gereja Katolik bukanlah agama yang sepenuhnya baru. Gereja Katolik merupakan kelanjutan dan penggenapan dari ajaran-ajaran para nabi dalam tradisi agama Yahudi. Bisa dikatakan Gereja Katolik adalah agama universal yang dibentuk Tuhan secara bertahap sejak dimulainya tradisi keagamaan Yahudi yang digenapi dengan kehadiran Yesus Kristus dan berlanjut terus hingga hari ini melalui Paus dan para uskup.
Dalam pengertianku, Tuhan merencanakan penyelamatan manusia memang sejak kejatuhan Adam, tapi momen paling signifikan yang menandai dimulainya pembentukan agama universal ini adalah saat Tuhan melakukan perjanjian dengan Abraham. Setelah Abraham berhasil melewati ujian dimana dia diminta mengorbankan anaknya, Ishak, Tuhan mengikat perjanjian bahwa Ia akan menjadikan keturunan Abraham sebagai bangsa yang besar dan melalui keturunannya semua bangsa akan mendapatkan berkat.
Ini berkaitan erat dengan puncak karya keselamatan, yaitu penyaliban Yesus Kristus. Pada penyaliban Yesus, Tuhan menyelamatkan manusia dengan mengorbankan putraNya sendiri. Lihat benang merahnya, kesediaan dan ketaatan Abraham mengorbankan anaknya menjadi awal dari karya keselamatan yang berpuncak pada pengorbanan diri Yesus Sang Putra Allah. Kesediaan Abraham mengorbankan anaknya menjadi pembuka jalan bagi penyaliban Kristus, Putra Allah, Anak Domba Allah. Setelah Abraham menyatakan kesediaannya mengorbankan Ishak, Tuhan memberikan anak domba sebagai korban pengganti sekaligus tanda dimulainya karya keselamatan, dan ribuan tahun kemudian Tuhan memberikan lagi Yesus Kristus Sang Anak Domba Allah (Agnus Dei) sebagai korban salib yang menjadi puncak karya keselamatan.
Korelasi ini menegaskan hubungan yang tak terpisahkan antara perjanjian Tuhan dan Abraham dengan karya penebusan Yesus Kristus. Dengan sendirinya ini juga menjadi tanda adanya kesinambungan antara tradisi keagamaan Yahudi yang dimulai dari Abraham dan dilanjutkan oleh Gereja Katolik. Hubungan tak terpisahkan antara keturunan Abraham dan Gereja Katolik juga ditegaskan secara simbolik melalui 12 orang rasul pengikut Yesus yang melambangkan 12 suku Israel yang berasal dari 12 anak Yakub, cucu Abraham. Sulit sekali menyangkal ini semua saling berkaitan.
Lihatlah anakku, perjanjian Tuhan dan Abraham ini juga menjadi kunci untuk memahami mengapa Tuhan memilih Abraham dan keturunannya sebagai agama universal, bukan bangsa yang lain: Abraham telah menunjukkan iman dan ketaatan yang begitu besar kepada Tuhan dengan sanggup mengorbankan miliknya yang terbaik bagi Tuhan. Ketaatan dan iman Abraham yang demikian besar ini telah membuat Tuhan berkenan mempercayakan seluruh karya keselamatan melalui Abraham dan keturunannya. Ini semua menjadikan bangunan agama universal ciptaan Tuhan begitu indah, kokoh, dan penuh makna simbolik: dimulai dengan iman dan ketaatan Abraham lalu dipuncaki oleh cinta kasih Yesus Kristus.
Kesetiaan Tuhan
Aku ingin mengulangi lagi pernyataanku: Tuhan hanya menciptakan satu agama universal dan Dia tidak pernah gagal. Eksistensi Gereja Katolik hingga saat ini sebagai perwujudan dari agama universal yang dibentuk Tuhan sejak perjanjianNya dengan Abraham menjadi bukti yang tidak terbantahkan. Sekalipun perjalanan sejarah agama universal ini tidak mulus dan penuh dengan pergolakan, agama universal ini tetap eksis dan terus menjadi cahaya kebenaran bagi seluruh bangsa hingga saat ini.
Faktor yang paling berperan dalam eksistensi agama universal ini adalah kesetiaan Tuhan. Pada masa Perjanjian Lama (PL), bangsa Israel sebagai pembawa agama universal berkali-kali ditaklukkan dan ditindas bangsa lain, mengalami pembuangan, bahkan berkali-kali tidak setia pada Tuhan dan berpaling pada dewa-dewa bangsa asing, namun itu semua tidak membuat Tuhan meninggalkan bangsa Israel. Tuhan tetap percaya dan setia pada keturunan Abraham, Dia tetap menjadikan keturunan Abraham sebagai sarana sabda-Nya.
Demikian juga di dalam sejarah Gereja Katolik, agama universal ini berkali-kali mengalami upaya penghancuran, mulai dari munculnya aliran-aliran bidaah yang memecah-belah gereja, mengalami berbagai tekanan dan penindasan politis, peperangan, ancaman invasi Islam yang memicu munculnya Perang Salib, dan banyak lagi. Ini tidak membuat Gereja Katolik runtuh. Bahkan ketika Gereja Katolik menjadi demikian korup, penuh skandal, tidak setia pada Tuhan dan mencintai keduniawian sehingga memunculkan gerakan reformasi dari Martin Luther, Tuhan juga tidak pernah meninggalkannya. Tuhan hanya memberikan peringatan dan dengan caraNya sendiri Tuhan memulihkan kembali kemurnian Gereja Katolik sebagai agama universal pembawa sabdaNya.
Sama seperti bangsa Israel yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, Gereja Katolik juga penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Namun itu semua tidak mengalihkan penyertaan Tuhan. Kesetiaan dan belas kasih Tuhan jauh lebih besar dari ketidaksetiaan Gereja Katolik. Sebagai penerus keturunan Abraham (secara rohani) sampai saat ini Gereja Katolik tetap dipercaya sebagai agama universal yang menjadi sarana berkat Tuhan bagi seluruh bangsa. Tuhan tetap mempercayakan seluruh SabdaNya kepada Gereja dan menjaganya dari segala kesesatan hingga saat ini. Tak ada satu momen yang cukup signifikan dalam sejarah yang menunjukkan Tuhan pernah mengalihkan berkat dan sabdaNya dari Gereja Katolik. Ini semua membuktikan kesetiaan Tuhan yang tanpa syarat sebagaimana pernah ditegaskan kembali oleh Yesus sendiri: "...Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat. 28:20).
Minggu, 05 Oktober 2008
Satu Kawanan Satu Gembala (5): Sabda Tuhan Dan Agama Universal
(Yes. 59:21)
-----------------
Nabi Pewarta Sabda
Semoga sudah menjadi jelas bagimu bahwa Tuhan menghendaki manusia menjadi sempurna. Di dalam hati nurani setiap manusia sesungguhnya terdapat panggilan menuju kesempurnaan, yang ditanamkan oleh Tuhan sendiri. Hal ini sengaja kuulang-ulang supaya benar-benar tertanam dalam pikiranmu yang terdalam.
Lalu dengan cara apa Tuhan memulihkan keadaan manusia yang penuh kelemahan dan dosa ini menjadi sempurna?
Ketika Tuhan memulai karya ciptaNya Dia bersabda, “Jadilah terang…” maka terangpun terjadilah. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan sabdaNya. Ketika ciptaanNya yang utama, yaitu manusia, jatuh ke dalam dosa maka Dia juga memulihkannya dengan sabdaNya yang menyelamatkan. Dengan sabdaNya Dia menciptakan segalanya dan dengan sabdaNya juga Dia memulihkan segalanya.
Memang benar sabda Tuhan terus menyapa semua manusia sepanjang jaman dan di setiap bangsa. Di setiap bangsa selalu muncul orang-orang bijak yang mengajarkan dan mencontohkan kebaikan. Dan itu dalam arti tertentu memang sabda Tuhan juga. Disitu aku bisa menerima kenyataan bahwa agama-agama lain juga pembawa cahaya kebenaran. Namun agama-agama tersebut tidak dimaksudkan sebagai pembawa sabda Tuhan yang bersifat universal, jadi sifatnya cuma lokal dan parsial. Sabda yang diwartakannya hanya dimaksudkan untuk mempersiapkan manusia menerima sabdaNya yang universal. Disini aku menghendaki engkau mengenali keterbatasan yang ada dalam agama-agama lokal tersebut.
Ketika agama-agama tersebut menyadari keterbatasannya, itu bagus. Aku kira itu memang kehendak Tuhan. Keterbatasan yang ada dalam agama-agama itu juga termasuk tidak adanya jaminan tidak dapat salah, dengan kata lain agama-agama tersebut bisa memiliki kesesatan yang berdampingan dengan kebenaran. Tapi ketika agama-agama itu tidak mau menyadari keterbatasannya dan berusaha mengklaim keuniversalan yang bukan haknya, masalahnya menjadi lain. Agama semacam itu bukan lagi pewarta sabda Tuhan melainkan penyesat yang harus dihindari dan dimusnahkan.
Pikirkan seperti ini, bayangkan seolah-olah engkau hidup di jaman seorang nabi. Bukankah melalui orangtuamu engkau juga menerima berbagai ajaran yang baik, yang telah diajarkan nenek-moyangmu secara turun-temurun? Itu tidak salah, tapi ajaran kedua orangtuamu bahkan nenek-moyangmu bagaimanapun ada keterbatasannya. Dan seorang nabi yang dipilih oleh Tuhan telah diberi kuasa dan kemampuan untuk mengajarkan lebih dari apa yang bisa diajarkan kedua orang tuamu. Kalau orang tuamu menyadari keterbatasannya dan menyerahkan engkau untuk belajar serta mendengarkan nabi itu tentu bagus. Itu adalah kehendak Tuhan. Tapi kalau orang tuamu melarang engkau pergi mengikuti sang nabi, tentu menjadi salah. Orang tuamu telah menjadi kaki-tangan iblis dan berbalik menentang Tuhan. Dengan analogi ini mudah-mudahan engkau bisa memahami keterbatasan agama-agama lokal di hadapan agama universal.
Demikian juga melalui rencana keselamatan yang universal sabdaNya secara penuh hadir menyapa manusia melalui sarana pilihan yang dirancang dan dibuatNya sendiri. Sarana ini yang sekarang kita kenal sebagai agama universal. Ini seperti sang nabi yang dipilih Tuhan dalam analogi di atas.
Di dalam agama universal ini kita bisa mengenal sabda Tuhan di sepanjang jaman yang diterima manusia melalui para nabi, rasul, orang-orang kudus, dan juga kitab-kitab suci. Melalui sarana ini Tuhan secara total mencurahkan sabdaNya, apapun yang perlu diketahui manusia demi keselamatannya akan disampaikan melalui sarana ini, bukan yang lain. Bukankah tidak ada sarana yang lebih baik selain agama universal yang telah dibuat dengan tanganNya sendiri?.
Sabda Tuhan - Satu Sabda Banyak Sarana
Sekarang aku ingin engkau juga memperluas wawasanmu bahwa yang namanya sabda Tuhan tidak hanya disampaikan melalui kitab suci saja. Sabda Tuhan bisa hadir juga melalui manusia, baik itu para nabi, orang-orang kudus, atau siapapun yang dipilihNya untuk mewartakan sabda. Nanti aku akan menjelaskan padamu lebih lanjut bahwa sabda Tuhan tidak hanya dipercayakan pada kitab suci saja, tetapi juga pada orang-orang pilihan. Bagaimanapun sabda Tuhan yang tertulis dalam berbagai kitab suci pada awalnya juga hadir melalui manusia. Tuhan itu maha kreatif, Dia bisa menggunakan banyak sarana untuk menyampaikan sabdaNya. Kitab suci hanyalah salah satunya, tapi bukan satu-satunya.
Mungkin timbul pertanyaan, jika Tuhan bisa menggunakan banyak sarana mengapa hanya melalui agama universal? Mengapa Tuhan tidak menggunakan agama-agama lain juga? Sebenarnya kalau engkau cermati dengan baik, agama universal yang aku bicarakan merupakan kumpulan dari banyak ajaran, tulisan, dan kisah-kisah para nabi serta orang-orang pilihan di berbagai jaman. Tetapi para nabi dan ajaran-ajarannya tidak membentuk agama yang berbeda-beda melainkan membentuk satu kesatuan ajaran yang utuh dalam satu agama universal. Jadi bisa dikatakan sabda Tuhan dalam agama universal sebenarnya sudah mencerminkan penggunaan banyak sarana pewartaan sabda Tuhan karena merupakan kumpulan dari ajaran-ajaran para nabi dan kitab-kitab suci. Ajaran para nabi dan kitab-kitab suci yang berbeda-beda namun membentuk satu kesatuan dalam agama universal ini menandakan adanya satu sumber sabda Tuhan yang sama.
Agama Universal Sebagai Jaminan Otentisitas Sabda
Adanya satu agama universal juga merupakan cara Tuhan untuk memberi jaminan otentisitas sabdaNya. Melalui agama universal yang satu Tuhan menegaskan bahwa apa yang ada di dalamnya adalah sabdaNya yang sesungguhnya (otentik) dan bebas dari kesesatan. Ini sangat penting untuk menghindarkan manusia dari sabda Tuhan yang palsu. Harus engkau sadari bahwa ada banyak upaya-upaya untuk menyesatkan manusia dengan cara memalsukan dan membajak sabda Tuhan untuk maksud-maksud lain.
Jika tidak ada agama universal pasti akan menimbulkan kesulitan yang serius: bagaimana manusia bisa menemukan sabda Tuhan yang otentik diantara sekian banyak ajaran dan agama-agama dunia yang berbeda satu sama lain? Tanpa adanya agama universal ini manusia akan dibingungkan dengan begitu banyak ‘kitab suci’ dan ajaran yang mengklaim sebagai sabda Tuhan. Semuanya kelihatannya baik, ajaran-ajaran palsu ini sepintas lalu memang mirip dengan sabda Tuhan yang sesungguhnya. Sungguh-sungguh sulit untuk membedakannya. Apalagi manusia begitu mudah termakan oleh propaganda yang menyesatkan sehingga apa yang salah dianggap benar sedangkan yang benar justru dikira palsu. Apa pegangan manusia dalam situasi seperti ini? Tanpa agama universal maka tidak ada kepastian jalan kebenaran dan jurang menuju kesesatan akan terbuka lebar.
Butuh karunia dan rahmat khusus untuk bisa mengetahui mana sabda Tuhan yang benar dan mana yang bukan. Sama seperti Tuhan di jaman dulu telah memberikan karunia khusus ini kepada para nabi yang dipilihNya dan tidak kepada semua orang, Tuhan sampai sekarang juga mempercayakan rahmat dan karunia khusus ini kepada agama universal yang dibangun dengan tanganNya sendiri, bukan kepada yang lain. Adanya agama universal memberikan kepastian sabda Tuhan yang benar dan otentik. Cukup dengan percaya pada apa yang diajarkan agama universal, engkau sudah terhindar dari kesesatan dan engkau sudah mendengarkan sabda Tuhan yang membawa kebenaran dan menyelamatkan. Tidak perlu ada keraguan lagi.
Sekarang bagimu sudah cukup jelas bahwa sabda Tuhan yang otentik dipercayakan pada agama universal. Ada dua hal yang penting yang akan engkau dapatkan melalui agama universal. Yang pertama terdapat jaminan bahwa seluruh sabda Tuhan yang perlu bagi keselamatan manusia sudah tersedia seluruhnya di dalam agama universal. Yang kedua, terdapat jaminan bahwa seluruh ajaran yang ada di dalamnya terbebas dari kesesatan. Ini semua dimungkinkan karena Tuhan sendirilah yang membentuk agama universal ini. Kedua hal penting ini, kebenaran yang penuh dan bebas dari kesesatan, tidak mungkin ada dalam agama lain. Jadi sekalipun ada kebenaran dan kebaikan di dalam agama lain, kebenaran tersebut tidak penuh dan juga tidak bebas dari kekeliruan. Extra ecclesiam nulla salus - Tuhan tidak memberikan jalan keselamatan lain selain yang telah diberikanNya melalui agama universal!
Satu Kawanan Satu Gembala (4): Manusia Dan Citra Tuhan
(Kej. 1:26-27)
----------------
Semua agama tanpa kecuali menawarkan ini: transformasi atau perubahan manusia menuju keadaan yang lebih baik. Sampai di titik ini memang tidak ada yang salah. Namun kalau engkau tidak berhati-hati pandangan ini bisa menyesatkan. Biasanya pandangan ini diikuti dengan anggapan bahwa semua agama membawa kebaikan. Inipun masih betul. Tetapi mulai menjadi masalah ketika pandangan ini dimanfaatkan oleh pandangan pluralistik: semua agama sama-sama baik dan semua agama sama-sama benar.
Kalau engkau mengikuti dengan seksama tulisan sebelumnya maka engkau akan tahu bahwa pandangan ini tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kita sudah sampai pada kesimpulan bahwa hanya ada satu agama universal ciptaan Tuhan, lalu bagaimana mungkin agama ciptaan Tuhan bisa sama baik dan sama benarnya dengan agama-agama yang bukan ciptaan Tuhan? Akal sehat akan mengatakan: jelas tidak mungkin!
Tapi masalahnya juga menjadi tidak adil dan akan terasa sebagai klaim sepihak jika aku mengatakan agama universal ciptaan Tuhan itu adalah Katolik tanpa memberikan alasan yang kuat selain sekedar keyakinan iman. Semua agama dapat melakukan klaim sepihak semacam itu dan hal itu sama sekali tidak ada artinya bagimu. Perlu penjelasan yang bukan sekedar pernyataan iman saja tapi juga dapat diterima oleh akal-budi.
Konsep Manusia Sempurna
Kita akan mulai dengan melihat apa yang ditawarkan oleh agama-agama kepada manusia, yaitu transformasi atau perubahan. Semua agama menawarkan untuk menjadi jalan menuju manusia yang lebih baik. Tapi sampai dimana batasnya? Batas tertinggi yang bisa dicapai tentu saja adalah menjadi manusia sempurna. Dari sini kita akan menjumpai banyak definisi manusia sempurna yang diberikan agama-agama.
Misalnya dalam Islam ada istilah ‘insan kamil’ sebagai konsep manusia sempurna. Sayangnya ini hanyalah suatu konsep ideal yang malahan diakui oleh Islam tidak mungkin dicapai oleh manusia selain oleh Muhamat, nabi mereka. Sehebat apapun Islam mengajarkan kebenaran kepada manusia, kesempurnaan ini tidak mungkin dicapai karena tidak ada manusia yang mampu menyamai Muhamat. Dengan kata lain dalam Islam manusia sempurna adalah suatu kondisi ideal yang hanya mungkin didekati tapi tidak mungkin dicapai.
Lebih ironis lagi, ternyata tidak ada satupun contoh tindakan atau perilaku mulia dan bijak dari Muhamat yang mampu menunjukkan dirinya sebagai manusia sempurna, yang pernah dicatat dalam Alquran ataupun Hadis sahih (tolong koreksi ini jika aku salah). Tidak perlu heran kalau keteladanan Muhamat yang diikuti umatnya lebih banyak unsur lahiriah dan duniawinya saja seperti cara berpakaian, cara makan, poligami (contohnya AA Gym) , pedofili (contohnya Syech Puji), dan lain-lain yang dikenal dengan istilah ‘sunnah-rasul’. Jadi secara sederhana bisa kita simpulkan bahwa kesempurnaan Muhamat lebih tepat sebagai mitos dan asumsi yang tidak memiliki dasar historis. Itulah hal terbaik yang bisa ditawarkan Islam.
Lalu bagaimana dengan konsep manusia sempurna dalam Katolik? Dalam agama Katolik konsep manusia sempurna bukanlah suatu konsep ideal yang baru sama sekali. Coba engkau perhatikan perikop Kitab Suci yang ada di atas (Kej. 1:26-27). Konsep manusia sempurna justru merupakan kondisi awal manusia sewaktu diciptakan Tuhan: manusia diciptakan sebagai citra Tuhan sendiri. Konsep manusia sempurna sesungguhnya sudah ada dalam DNA manusia sejak awal eksistensinya. Hanya saja karena ketidaktaatan Adam kondisi sempurna ini tidak lagi dikenali manusia dan manusia semakin terjatuh dalam ketidaksempurnaan. Ini dikenal sebagai dosa asal yang menjadi bagian dari kodrat semua keturunan Adam.
Dari apa yang aku pahami mengenai ajaran Katolik dapat aku simpulkan bahwa ajaran Katolik menawarkan jalan kasih untuk membawa manusia kembali menjadi manusia sempurna sebagaimana manusia diciptakan Tuhan sejak semula.
Inilah perintah Yesus:
“Karena itu haruslah kamu SEMPURNA seperti Bapamu yang di surga adalah SEMPURNA” (Mat. 5:48).
Jelas sekali bahwa batasan manusia sempurna dalam ajaran Katolik tidak bersifat ideal ataupun relatif, tapi sungguh-sungguh nyata dan mutlak yaitu sempurna seperti Tuhan sendiri! Adakah ukuran kesempurnaan yang melebihi Tuhan? Jelas tidak ada. Itulah batasan kesempurnaan yang mungkin ada dan menjadi tujuan pencapaian transformasi yang ditawarkan Gereja Katolik kepada manusia.
Tetapi menjadi sempurna seperti Tuhan tidak mungkin dapat ditawarkan oleh Islam kepada manusia. Islam sendiri sudah membatasi kesempurnaan manusia itu hanya seperti Muhamat dan manusia tidak mungkin sama sempurnanya seperti Muhamat. Semoga engkau dapat melihat perbedaannya dengan jelas.
Jalan Kesempurnaan
Karena Islam sudah membatasi tingkat kesempurnaan yang mampu dicapai manusia maka pertanyaan bagaimana cara Islam membawa manusia untuk meraih kesempurnaan menjadi tidak relevan dan tidak mungkin dijawab.
Sebaliknya dalam ajaran Katolik manusia oleh Yesus sendiri dituntut untuk menjadi sempurna seperti Tuhan. Maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana itu bisa dicapai? Apa yang diajarkan dan diberikan Gereja Katolik agar manusia dapat menjadi sempurna seperti Tuhan? Kalau engkau cermati perintah Yesus, Dia tidak mengatakan ‘hendaknya’ melainkan ‘haruslah’. Artinya menjadi sempurna seperti Tuhan bukanlah sebuah pilihan yang boleh diabaikan tapi suatu kewajiban yang harus dipenuhi kalau kita berani mengaku sebagai murid Yesus. Karenanya aku sangat yakin bahwa Yesuspun mengajarkan bagaimana caranya manusia bisa menjadi sempurna seperti Tuhan.
Ini kata Yesus:
"Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Mat. 19:21).
Untuk menjadi sempurna seperti Tuhan pertama-tama orang harus bersedia untuk lepas dari keterikatan duniawi dan mulai menghargai harta surgawi, ini adalah persyaratan awal. Tahap berikutnya adalah datang kepada Yesus dan mengikuti Dia, atau dengan kata lain menjadi seperti Yesus (Imitatio Christi).
Ini penegasan Yesus:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh. 14:6)
Hanya ada satu jalan untuk menjadi sempurna seperti Bapa di surga yaitu dengan mengikuti Yesus dan menjadi seperti Yesus. Tapi seperti apakah Yesus itu sehingga Dia menyatakan DiriNya sebagai satu-satunya jalan untuk menjadi sempurna seperti Tuhan? Tak seorang nabipun berani menyatakan dirinya sebagai jalan kesempurnaan, tapi siapakah Yesus ini sehingga Dia melampaui semua nabi yang pernah ada di dunia?
Hanya satu jawaban yang mungkin: Yesus adalah sungguh-sungguh Tuhan yang berinkarnasi menjadi manusia. Karena Yesus adalah Tuhan maka tentunya Dia adalah sempurna, dan karena Dia juga hidup sebagai manusia maka kehidupanNya di dunia sekaligus menjadi teladan terbaik bagaimana manusia bisa hidup sempurna seperti Tuhan. Dalam hal ini Yesus tidak hanya mengajarkan manusia untuk menjadi sempurna melalui kata-kataNya tapi juga melalui perbuatanNya. “Barang siapa telah melihat Aku, Ia telah melihat Bapa…” (Yoh. 14:9).
Dengan demikian ungkapan yang mengatakan mengikuti Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan bukanlah sebuah ungkapan kesombongan religius tapi sungguh-sungguh sebuah kebenaran yang dapat diterima akal budi kita. Fakta ini, yakni ketuhanan Yesus, adalah kunci penting yang membuat ajaran Gereja Katolik menjadi demikian berbeda dengan ajaran agama apapun di dunia.
Mungkin engkau bertanya bukankah ada banyak orang yang tidak percaya Yesus itu Tuhan? Memang benar nak, orang Yahudi tidak percaya, demikian juga dengan orang Islam. Tapi jika Yesus bukan Tuhan maka perikop-perikop Kitab Suci di atas menjadi kehilangan maknanya yang terdalam dan kita harus menerima kenyataan bahwa proses keselamatan sampai saat ini belum tuntas karena tidak ada jalan yang memungkinkan manusia menjadi sempurna seperti Tuhan dan kembali ke kodrat awal sebagai citra Tuhan. Manusia masih akan terus menantikan Mesias yang akan menuntaskan ajaran keselamatan seperti yang dialami oleh orang-orang Yahudi.
Tapi menerima Yesus sebagai Tuhan membuat penantian ini sesungguhnya telah selesai, ajaran keselamatan menjadi tuntas dan semua nubuat para nabi akan kedatangan Mesias sudah tergenapi. Jadi ketika orang Yahudi saat ini masih menantikan penggenapan jalan keselamatan yang tidak pernah datang lagi, orang Katolik sudah menjalaninya. Lalu bagaimana dengan Islam? Engkau tentu tahu bahwa orang-orang Islam meyakini agamanya berusaha mengembalikan kemurnian ajaran para nabi. Mereka begitu bangga karena merasa kembali ke ajaran Abraham dan Musa yang murni. Biarlah mereka berupaya kembali ke ajaran para nabi, sesungguhnya tidak butuh seorang nabi untuk mengulang-ulang ajaran nabi-nabi sebelumnya. Gereja Katolik tidak ingin mengembalikan manusia sekedar mengikuti ajaran para nabi tapi justru ingin maju lebih jauh yaitu menggenapinya dengan ajaran Kristus yang mampu mengantarkan manusia menuju keselamatan yang penuh: menjadi sempurna seperti Bapa di surga. Itu sebabnya Gereja Katolik sejak 2000 tahun yang lalu tidak pernah berhenti bersaksi bahwa Yesus adalah Tuhan dan Penyelamat.
Pada titik ini aku berharap engkau bisa mengerti bagaimana ketuhanan Yesus menjadi kunci penting dan satu-satunya bagi keselamatan manusia. Ini jika keselamatan itu diartikan secara penuh yaitu manusia menjadi sempurna seperti Bapa. Tapi kalau keselamatan itu cuma diartikan secara parsial yaitu menjadi manusia yang ‘lebih baik’, maka mungkin mengimani Yesus sebagai Tuhan bukanlah sebuah kebutuhan. Banyak ajaran agama lain yang bisa menyediakan jalan untuk sampai tingkatan ini. Manusia tidak butuh Yesus untuk menjadi lebih baik, tapi manusia mutlak membutuhkan Yesus kalau ia ingin menjadi sempurna. Dan sesungguhnya perjalanan manusia tidak pernah selesai sebelum ia menjadi sempurna seperti Bapa di surga.
Sekarang pilihan ada di tanganmu: kalau engkau merasa cukup dengan menjadi manusia yang ‘lebih baik’ maka ada banyak agama yang bisa engkau pilih. Tapi kalau engkau ingin menjadi sempurna seperti Tuhan, kalau engkau ingin kembali ke kodrat awal manusia sebagai citra Tuhan, maka satu-satunya jalan adalah dengan menerima Yesus sebagai Tuhan sebagaimana yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Itu satu-satunya sarana yang disediakan Tuhan bagi manusia.
Satu Kawanan Satu Gembala (3): Jalan-Jalan Menuju Tuhan
(Mat. 7:13-14)
--------------------
Ada Banyak Tawaran Jalan
Anakku, memilih jalan yang benar di antara sekian banyak jalan yang ada di hadapan kalian bukan perkara mudah. Adalah sebuah kenyataan yang harus kalian terima bahwa kalian hidup dalam masyarakat yang plural dengan agamanya yang beragam. Dan kalau kalian mengamati dengan baik agama-agama yang berbeda tersebut, kalian akan sampai pada kesimpulan yang sama dengan aku: semua agama mengajarkan kebaikan.
Tapi apakah dengan demikian semua agama sama saja? Apakah semua agama mengajarkan kebaikan-kebaikan yang sama dan mengarahkan manusia pada tujuan yang sama? Atau lebih jauh lagi apakah semua agama yang beragam itu berasal dari Tuhan yang satu dan sama?
Mungkin ada banyak orang yang terpancing menjawab pertanyaan ini dengan jawaban penuh basa-basi dan semangat toleransi: semua agama sama baiknya, semua agama berasal dari Tuhan atau semua agama sama-sama mengarahkan manusia pada Tuhan. Ada yang mengambil perumpamaan seolah-olah agama-agama yang berbeda itu seperti orang-orang buta yang sedang memegang bagian-bagian yang berbeda dari seekor gajah dan berusaha menjelaskan apa itu gajah sesuai dengan apa yang dipegangnya. Ada juga yang mengambil perumpamaan seolah-olah agama itu hanyalah jalan yang berbeda-beda yang sebenarnya mengarahkan manusia pada tujuan yang sama. Dan ada banyak lagi jawaban basa-basi lainnya yang kira-kira serupa.
Jawaban semacam ini tidak dapat dipertanggungjawabkan oleh akal sehat. Bagaimana mungkin dua agama atau lebih yang saling bertentangan bisa sama-sama benar? Aku akan mengambil contoh yang ekstrim: orang Katolik (dan juga Kristen pada umumnya) percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, tapi Islam menolak keras Yesus sebagai Tuhan. Bisakah kedua ajaran tersebut dikatakan sama-sama benar? Salah satunya sudah pasti salah. Ada jawaban yang mencoba mengambil jalan tengah dengan mengatakan bahwa pemakaian atribut Tuhan pada pribadi Yesus hanyalah sekedar simbol dan tidak berarti Tuhan yang sesungguhnya. Tapi aku sebagai seorang Katolik akan mengatakan dengan tegas bahwa Yesus memang benar diyakini sebagai Tuhan dalam arti kata yang sesungguhnya dalam iman Katolik, tidak pernah kurang dari itu. Jadi menurutku ini kenyataan pahit yang harus diterima: salah satu dari kedua agama itu pasti salah. Kalau Katolik benar maka Islam pasti salah, demikian juga sebaliknya. Tidak banyak orang yang berani menyatakan fakta sederhana ini secara terus-terang.
Meskipun demikian jawaban basa-basi yang mencoba mengkompromikan keduanya harus dimengerti sebagai upaya untuk menjaga kerukunan umat beragama dan untuk menjaga perasaan orang lain yang berbeda agama. Maklumlah, bangsa kita bukanlah bangsa yang rasional dan mampu menerima kelemahan dengan kepala dingin. Apalagi dalam hal yang sangat sensitif seperti agama. Bisa kalian bayangkan apa yang terjadi kalau di negara kita ini agama seseorang dikatakan sebagai agama yang keliru dan tidak berasal dari Tuhan?
Agama Memang Tidak Sama
Sebaliknya, aku tidak akan memberikan jawaban basa-basi semacam itu yang hanya akan membuat kalian bingung untuk memutuskan jalan kebenaran yang harus kalian pilih. Sekiranya aku harus memilih sikap, aku lebih takut menyesatkan kalian dari pada menyinggung perasaan orang lain. Membimbing kalian menuju kebenaran adalah tugas suci yang aku terima dari Tuhan sebagai orang tua, dan aku lebih takut kepada Tuhan dari pada kepada manusia.
Pada kenyataannya cepat atau lambat aku harus memilih tetap berbasa-basi pada manusia atau bersikap tegas demi kebenaran Tuhan. Dan sekarang aku memutuskan untuk bersikap tegas demi kebenaran, aku akan menjawab pertanyaan di atas: tidak semua agama sama baiknya. Sekalipun kebaikan dan ajaran-ajaran yang ada dalam semua agama mungkin berasal dari Tuhan yang satu tapi tidak semua agama tersebut dirancang dan diciptakan Tuhan bagi manusia. Bahkan aku akan mengatakan yang lebih ekstrim lagi: Tuhan hanya menciptakan satu agama untuk manusia, tidak lebih. Memang benar Tuhan yang sama di berbagai jaman telah memilih dan mengutus banyak nabi serta orang-orang pilihan untuk mengajarkan manusia jalan kebenaranNya. Bagiku itu adalah bagian dari sebuah proses panjang yang dilakukan Tuhan dalam menciptakan satu agama untuk manusia, tidak lebih.
Ada pandangan yang mengatakan bahwa agama sesungguhnya hanyalah ciptaan manusia sebagai ungkapan kerinduan kepada Tuhan, oleh karenanya tidak ada satupun agama yang bisa merasa berhak sebagai agama yang paling benar bagi manusa. Benar, tapi tidak semuanya. Jika agama itu semata-mata ciptaan manusia, siapakah yang bisa melarang kita untuk menciptakan agama baru bagi diri kita sendiri? Tidak ada! Konsekuensinya tidak ada nilai-nilai absolut, dan semua kebenaran akan bersifat relatif. Semua orang akan menciptakan versi kebenaran sesuai keinginan dan ukurannya sendiri. Jadi bagiku memang benar ada banyak agama ciptaan manusia, tapi pasti ada agama universal yang sungguh-sungguh diciptakan Tuhan sendiri dan menjadi jalan keselamatan bagi manusia.
Satu Agama Untuk Semua
Jadi hanya mungkin ada agama yang layak ditaati manusia kalau agama itu memang ciptaan Tuhan, bukan ciptaan manusia. Agama ciptaan Tuhan memiliki kewibawaan surgawi untuk ditaati sedangkan agama ciptaan manusia tidak. Tapi apakah Tuhan menciptakan hanya satu agama? Mengapa Dia tidak menciptakan agama yang berbeda-beda untuk manusia yang berbeda-beda budayanya?
Memang betul manusia berbeda-beda kebudayaan dan tradisinya, tapi apakah Tuhan juga harus menciptakan lebih dari satu agama yang berbeda satu sama lain? Ini bisa kita temukan jawabannya kalau kita mau memahami bagaimana Tuhan melihat manusia. Bagi Tuhan perbedaan ras, budaya dan tradisi tidak mengubah kenyataan bahwa semuanya itu adalah satu umat manusia yang sama. Di mata Tuhan tidak ada perbedaan ras dan budaya, Tuhan sama sekali tidak rasialis! Bagi Tuhan semua manusia adalah satu umat ciptaanNya.
Jika demikian tidakkah Tuhan mampu menciptakan hanya satu agama untuk seluruh manusia yang satu itu? Adakah manusia yang berani menganggap Tuhan tidak sanggup menciptakan satu agama yang dapat berlaku secara universal untuk semua manusia? Tentu jawabannya Tuhan pasti mampu menciptakan satu agama universal semacam itu. Memang ada orang yang dalam semangat pluralis yang populer mengatakan demikian: Tuhan tidak cukup dimengerti hanya melalui satu agama. Sekali lagi, pandangan itu benar jika agama yang dimaksud adalah agama-agama ciptaan manusia. Bahkan sebanyak apapun agama diciptakan manusia memang tidak akan pernah mampu memahami dan mengenal Tuhan secara utuh. Tetapi untuk agama universal yang diciptakan Tuhan tentu saja pandangan itu tidak berlaku. Tuhan pasti mampu menjelaskan secara utuh tentang DiriNya kepada manusia. Maka dari itu agama universal ciptaan Tuhan pasti sanggup memberikan semua kebenaran yang dibutuhkan manusia untuk mengenal dan mencintai Tuhan. Bahkan boleh dikatakan hanya melalui agama universal yang diciptakanNya sendiri manusia dimungkinkan untuk dapat mengenal Tuhan secara utuh.
Pertanyaan lain yang mungkin muncul, mengapa Tuhan tidak menciptakan dua atau tiga agama yang berbeda, yang sama benarnya dan sama baiknya? Mengapa Tuhan hanya menciptakan satu agama saja?
Sebelum engkau menjawabnya tanyalah pada dirimu sendiri adakah sebuah negara di dunia ini yang diatur oleh dua atau lebih undang-undang dasar? Tentu saja tidak, dua undang-undang dasar yang berbeda dalam satu negara hanya akan membuat keadaan menjadi kacau dan memunculkan pertentangan yang tidak ada habisnya. Adakah kapal yang dipimpin oleh dua nahkoda atau lebih? Tentu tidak ada, karena kalau ada kapal semacam itu tentu tidak pernah sampai ke tujuan atau akan tenggelam di tengah lautan karena pertentangan diantara awaknya. Demikian juga jika Tuhan melihat manusia sebagai satu umat, tentunya Dia akan memberikan satu hukum yang sama untuk semua orang, bukan dua atau lebih yang hanya akan membawa perpecahan abadi.
Coba engkau bayangkan apa jadinya jika Tuhan menciptakan agama-agama yang berbeda, satu agama untuk orang Jawa, satu agama untuk orang Arab, satu agama untuk orang Cina, dan masing-masing satu agama untuk bangsa-bangsa lain?
Pada masa lalu dimana bangsa-bangsa merupakan komunitas yang cenderung terpisah satu sama lain ide semacam ini tampak baik. Tapi menjadi tidak memadai lagi jika komunitas manusia cenderung menjadi satu dan tidak lagi terpisah-pisah dalam wilayah geografis atau komunitas-komunitas etnis seperti yang sekarang terjadi dalam era globalisasi. Aku yakin tentu saja Tuhan sudah memperhitungkan kemungkinan semakin bersatunya manusia menjadi satu komunitas global.
Agama-agama yang berbeda itu, yang dalam banyak hal memiliki perbedaan yang mendasar (seperti contoh soal ketuhanan Yesus itu tadi) hanya akan menghalangi manusia untuk percaya akan adanya kebenaran mutlak. Akibatnya kebenaran akan bersifat kompromistis dan terus berubah dari waktu ke waktu. Dengan kata lain kebenaran menjadi relatif dan subyektif. Karena kebenaran mutlak menjadi mustahil, maka itu juga berarti manusia tidak dimungkinkan untuk mengenal Tuhan. Dari alasan ini saja engkau mengetahui bahwa Tuhan tidak mungkin menciptakan banyak agama karena hal itu hanya akan menjauhkan manusia dari kebenaran.
Jadi kesimpulannya jelas, Tuhan memang menghendaki satu agama universal yang akan menjadi jalan kebenaran mutlak dan keselamatan bagi seluruh manusia. Dapat dikatakan bahwa agama universal yang satu adalah konsekuensi logis dari eksistensi Tuhan: jika Tuhan memang ada dan Dia mencintai manusia pastilah Dia menciptakan satu dan hanya satu agama universal demi keselamatan semua manusia.
Dengan memahami ini engkau semoga engkau memahami bahwa dari sekian banyak agama yang ada sekarang ini memang hanya ada satu agama yang layak menjadi agamamu dan Tuhan menghendaki engkau memilih agama itu, yaitu agama yang telah diciptakanNya sendiri bagi manusia.
Lalu bagaimana dengan agama-agama lainnya? Bukankah ada banyak orang yang sungguh-sungguh tulus dan baik yang berasal dari agama-agama tersebut?
Anakku, aku tidak pernah mengatakan bahwa agama-agama lain adalah agama yang sepenuhnya buruk dan tidak mengandung ajaran kebenaran. Aku sungguh menaruh hormat pada agama-agama itu karena bagamanapun agama-agama itu telah menjadi penerang bagi sebagian manusia yang dengan tulus berusaha mencari Tuhan dan kebenaranNya.
Dalam kenyataannya agama-agama tersebut dalam batas-batas tertentu juga mengajarkan kebenaran dan membawa manusia menjadi lebih baik. Tapi dengan sangat menyesal aku harus mengatakan bahwa agama-agama tersebut tidak mampu mengajarkan kebenaran dan kebaikan pada tingkat yang sama dengan agama yang diciptakan Tuhan bagi manusia, yakni agama universal yang aku maksudkan. Logikanya sederhana saja: tidak mungkin yang bukan Tuhan mampu menyamai atau bahkan melebihi karya Tuhan sendiri. Tuhan tentu tidak akan repot membuat agama universal jika manusia sudah mampu membangun agama yang mengandung kebenaran dan jalan keselamatan yang penuh. Jadi engkau tidak perlu ragu untuk memilih agama universal dan melepaskan yang lain. Cari dan temukan agama universal itu nak… aku percaya suatu saat engkau akan menemukannya.
Engkau mungkin akan bertanya: lalu dari manakah kebaikan dan kebenaran yang ada pada agama-agama itu berasal? Sumbernya banyak, dan langsung atau tidak langsung memang berasal dari Tuhan juga. Bukankah Tuhan itu sumber segala kebaikan dan kebenaran?
Pada setiap manusia Tuhan telah memberikan hati nurani yang memiliki bibit kebaikan dan kerinduan akan kebenaran. Dari orang-orang yang sungguh tulus mencari kebenaran dan melakukan kebaikan ini agama-agama yang muncul dalam berbagai tradisi dan bangsa mendapatkan ajaran kebenarannya. Sementara itu beberapa agama lainnya memperoleh ajaran kebenaran dan kebaikan dengan jalan mencomot sebagian ajaran-ajaran yang sudah ada dalam agama ciptaan Tuhan.
Baik kebenaran yang muncul dari hati nurani orang-orang suci maupun kebenaran yang ditiru dari agama Tuhan, semuanya langsung atau tidak langsung memang berasal dari Tuhan juga. Pada suatu bangsa, yang entah karena jaman atau karena terpisah secara geografis belum mengenal agama Tuhan, agama-agama ini juga bisa menjadi sarana untuk mengarahkan manusia pada kebenaran meski belum sempurna. Aku percaya, menurut kebijaksanaan-Nya sendiri Tuhan juga menggunakan agama-agama buatan manusia ini untuk mengarahkan manusia kepada-Nya. Seperti kata pepatah: tidak ada rotan akarpun berguna, atau jika tidak ada matahari maka bulan dan bintang juga bisa menjadi penerang.
Aku ingin mengumpamakan ini seperti air yang sama tapi diambil dari tempat yang berbeda-beda, ada yang mengambilnya dari mata air yang jernih, tapi ada juga yang mengambil dari sungai atau tempat lain yang sedikit banyak sudah tercemar dan tidak murni lagi. Agama universal ini seperti mata air yang dipersiapkan oleh Tuhan supaya manusia bisa mengambil air yang jernih dan berlimpah yang tidak pernah habis. Sedangkan agama-agama lain seperti sungai-sungai atau danau-danau kecil yang sedikit banyak sudah tercemar dan tidak murni seperti halnya mata air tadi. Kalau engkau belum bisa menemukan mata air itu, tentu mengambil air dari sungai atau danau juga tidak apa-apa asalkan engkau memasaknya lebih dulu supaya kuman-kumannya hilang. Tapi jika engkau sudah menemukan mata air yang jernih yang dipersiapkan Tuhan sendiri, untuk apa lagi mengambil dari sungai atau danau? Jika engkau tetap mengambil air di tempat lain bisa jadi engkau justru mengecewakan dan menyakiti hati Tuhan yang telah dengan susah payah menyiapkan sumber mata air murni.
Atau, agama universal itu seperti jalan bebas hambatan yang dibangun Tuhan untuk mengantarkan semua manusia ke rumahNya. Meski dalam Kitab Suci diibaratkan pintunya sesak dan sempit, tapi jalan tersebut benar-benar aman, bebas hambatan dan pasti dapat mengantarkan siapapun sampai di tujuan. Sedangkan agama-agama lain ibarat jalan-jalan yang dibangun manusia untuk menuju rumah Tuhan tapi tidak pernah benar-benar sampai. Karena selain tidak ada manusia yang benar-benar tahu dimana rumah Tuhan, ada begitu banyak halangan dan hambatan di jalan menuju kesana. Bukan hanya jalan-jalan tersebut tidak mampu mengantarkan manusia, tapi juga malahan bisa menyesatkan. Hanya melalui jalan bebas hambatan yang dibangun Tuhan sendirilah manusia dapat dengan aman dan pasti dapat berjalan menuju ke rumahNya. Aku sungguh percaya jalan bebas hambatan (agama universal) ini sudah dibangunNya dan tetap utuh sampai sekarang. Jalan ini siap mengantar setiap manusia menuju ke rumahNya. Yang perlu engkau lakukan cuma ini: abaikan jalan-jalan yang lain dan masuklah ke jalan bebas hambatan ini lalu ikuti arah yang ditunjukkan jalan tersebut maka cepat atau lambat engkau akan sampai ke rumahNya.
Baiklah, kita sudah sampai pada kesimpulan penting ini: Tuhan hanya menciptakan satu agama universal untuk seluruh manusia, tidak lebih. Sekarang bagaimanakah kita bisa mengetahui yang mana agama universal ciptaan Tuhan diantara sekian banyak agama yang mengaku sebagai agama yang berasal dari Tuhan? Adakah ciri khusus yang bisa membuat kita mampu membedakan agama universal ini dengan agama-agama lainnya?
Jika kalian percaya bahwa karya Tuhan jauh melampaui karya-karya manusia, maka agama universal ini tentunya memiliki keunggulan yang jauh melampaui agama lainnya. Kalau engkau bisa melihatnya, pastilah seperti langit dan bumi bedanya… Keunggulan itu menjadi mutlak dan tak terbantahkan lagi apabila di dalam agama universal itu terdapat unsur-unsur yang secara obyektif hanya mungkin dibuat oleh Tuhan sendiri.
Tentunya kalian akan bertanya untuk apa Tuhan menciptakan agama universal kalau manusia sendiri sudah mampu menciptakan agama yang membawa kebenaran dan keselamatan? Tuhan menciptakan agama universal karena manusia sampai kapanpun memang tidak mampu menciptakan agama yang semacam itu. Dengan kata lain di dalam agama universal itu pastilah terdapat unsur-unsur penting bagi keselamatan manusia yang tidak mungkin dapat dibuat dan dirancang oleh tangan manusia, tidak peduli seberapa hebatnyapun manusia itu.
Jadi inilah kesimpulanku: agama universal selain memiliki kebenaran yang melampaui agama-agama lainnya pasti memiliki unsur-unsur yang tidak mungkin diciptakan oleh manusia, tidak peduli seberapapun kerasnya usaha manusia dan sampai kapanpun manusia mencobanya. Dengan demikian sesungguhnya ada landasan obyektif untuk memilih manakah agama universal itu diantara sekian banyak agama yang ada. Ini adalah salah satu kunci penting untuk menemukan agama universal ciptaan Tuhan dan pada tulisan berikut aku akan mencoba menjelaskannya kepadamu.
Aku tidak ingin mengatakan bahwa aku berangkat dari sikap yang sepenuhnya netral seolah-olah saat ini aku tidak memeluk agama apapun. Dalam perjalanan hidupku aku telah berkesempatan mempelajari dan menjalani berbagai ajaran agama sampai akhirnya aku menemukan agama universal itu, yaitu Katolik. Kebetulan dari namanyapun Katolik sudah berarti universal. Aku tidak memilihnya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan subyektif saja, tapi juga berdasarkan pertimbangan-pertimbangan obyektif. Antara lain konsep-konsep ajarannya yang melampaui agama manapun juga, dan dalam agama Katolik terdapat elemen-elemen mendasar yang sangat kokoh yang tidak mungkin dapat dibuat oleh manusia. Ini yang membuatnya unggul jauh melampaui agama-agama lain yang tidak diciptakan Tuhan. Aku akan berupaya menjelaskan ini semua kepadamu, selain untuk membantumu memilih agama yang benar juga sebagai bagian dari pertanggungjawaban imanku sendiri.



