Adapun Aku, inilah perjanjian-Ku dengan mereka, firman TUHAN: Roh-Ku yang menghinggapi engkau dan firman-Ku yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya, firman TUHAN.
(Yes. 59:21)
-----------------
Nabi Pewarta Sabda
Semoga sudah menjadi jelas bagimu bahwa Tuhan menghendaki manusia menjadi sempurna. Di dalam hati nurani setiap manusia sesungguhnya terdapat panggilan menuju kesempurnaan, yang ditanamkan oleh Tuhan sendiri. Hal ini sengaja kuulang-ulang supaya benar-benar tertanam dalam pikiranmu yang terdalam.
Lalu dengan cara apa Tuhan memulihkan keadaan manusia yang penuh kelemahan dan dosa ini menjadi sempurna?
Ketika Tuhan memulai karya ciptaNya Dia bersabda, “Jadilah terang…” maka terangpun terjadilah. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan sabdaNya. Ketika ciptaanNya yang utama, yaitu manusia, jatuh ke dalam dosa maka Dia juga memulihkannya dengan sabdaNya yang menyelamatkan. Dengan sabdaNya Dia menciptakan segalanya dan dengan sabdaNya juga Dia memulihkan segalanya.
Memang benar sabda Tuhan terus menyapa semua manusia sepanjang jaman dan di setiap bangsa. Di setiap bangsa selalu muncul orang-orang bijak yang mengajarkan dan mencontohkan kebaikan. Dan itu dalam arti tertentu memang sabda Tuhan juga. Disitu aku bisa menerima kenyataan bahwa agama-agama lain juga pembawa cahaya kebenaran. Namun agama-agama tersebut tidak dimaksudkan sebagai pembawa sabda Tuhan yang bersifat universal, jadi sifatnya cuma lokal dan parsial. Sabda yang diwartakannya hanya dimaksudkan untuk mempersiapkan manusia menerima sabdaNya yang universal. Disini aku menghendaki engkau mengenali keterbatasan yang ada dalam agama-agama lokal tersebut.
Ketika agama-agama tersebut menyadari keterbatasannya, itu bagus. Aku kira itu memang kehendak Tuhan. Keterbatasan yang ada dalam agama-agama itu juga termasuk tidak adanya jaminan tidak dapat salah, dengan kata lain agama-agama tersebut bisa memiliki kesesatan yang berdampingan dengan kebenaran. Tapi ketika agama-agama itu tidak mau menyadari keterbatasannya dan berusaha mengklaim keuniversalan yang bukan haknya, masalahnya menjadi lain. Agama semacam itu bukan lagi pewarta sabda Tuhan melainkan penyesat yang harus dihindari dan dimusnahkan.
Pikirkan seperti ini, bayangkan seolah-olah engkau hidup di jaman seorang nabi. Bukankah melalui orangtuamu engkau juga menerima berbagai ajaran yang baik, yang telah diajarkan nenek-moyangmu secara turun-temurun? Itu tidak salah, tapi ajaran kedua orangtuamu bahkan nenek-moyangmu bagaimanapun ada keterbatasannya. Dan seorang nabi yang dipilih oleh Tuhan telah diberi kuasa dan kemampuan untuk mengajarkan lebih dari apa yang bisa diajarkan kedua orang tuamu. Kalau orang tuamu menyadari keterbatasannya dan menyerahkan engkau untuk belajar serta mendengarkan nabi itu tentu bagus. Itu adalah kehendak Tuhan. Tapi kalau orang tuamu melarang engkau pergi mengikuti sang nabi, tentu menjadi salah. Orang tuamu telah menjadi kaki-tangan iblis dan berbalik menentang Tuhan. Dengan analogi ini mudah-mudahan engkau bisa memahami keterbatasan agama-agama lokal di hadapan agama universal.
Demikian juga melalui rencana keselamatan yang universal sabdaNya secara penuh menyapa manusia melalui sarana yang dirancang dan dibuatNya sendiri. Sarana ini yang sekarang kita kenal sebagai agama universal. Ini seperti sang nabi yang dipilih Tuhan dalam analogi di atas.
Di dalam agama universal ini kita bisa mengenal sabda Tuhan di sepanjang jaman yang diterima manusia melalui para nabi, rasul, orang-orang kudus, dan juga kitab-kitab suci. Melalui sarana ini Tuhan secara total mencurahkan sabdaNya, apapun yang perlu diketahui manusia demi keselamatannya akan disampaikan melalui sarana lain. Bukankah tidak ada sarana yang lebih baik selain agama universal yang telah dibuatNya sendiri?.
Sabda Tuhan - Satu Wadah Banyak Cara
Sekarang aku ingin engkau juga memperluas wawasanmu bahwa yang namanya sabda Tuhan tidak hanya disampaikan melalui kitab suci saja. Bongkar habis batasan-batasan yang keliru semacam itu, yang mungkin ditanamkan oleh mereka yang tidak ingin manusia mengenal sabda Tuhan yang sesungguhnya. Seperti yang sudah aku singgung tadi, sabda Tuhan bisa hadir juga melalui manusia, baik itu para nabi, orang-orang kudus, atau siapapun yang dipilihNya untuk mewartakan sabda. Anakku, Tuhan itu maha kreatif, Dia bisa menggunakan banyak sarana untuk menyampaikan sabdaNya. Kitab suci hanyalah salah satunya, bukan satu-satuNya.
Tapi jika Tuhan bisa menggunakan banyak sarana mengapa hanya melalui agama universal? Alasannya sederhana, yaitu supaya manusia bisa mendapat jaminan bahwa apa yang disampaikan adalah sabda Tuhan yang sesungguhnya dan bebas dari kesesatan. Hadirnya sabda Tuhan hanya melalui agama universal adalah cara terbaik untuk menghindarkan manusia dari sabda Tuhan yang palsu. Harus engkau sadari bahwa ada banyak upaya-upaya untuk menyesatkan manusia dengan cara memalsukan dan membajak sabda Tuhan.
Tanpa adanya agama universal ini manusia akan dibingungkan dengan begitu banyak ‘kitab suci’ dan ajaran yang mengklaim sebagai sabda Tuhan. Semuanya kelihatannya baik, ajaran-ajaran palsu ini sepintas lalu memang mirip dengan sabda Tuhan yang sesungguhnya. Sungguh-sungguh sulit untuk membedakannya. Apalagi manusia begitu mudah termakan oleh propaganda yang menyesatkan sehingga apa yang salah dianggap benar sedangkan yang benar justru dikira palsu. Apa pegangan manusia dalam situasi seperti ini?
Butuh karunia dan rahmat khusus untuk bisa mengetahui mana sabda Tuhan yang benar dan mana yang bukan. Sama seperti Tuhan di jaman dulu telah memberikan karunia khusus ini kepada para nabi yang dipilihNya dan tidak kepada semua orang, Tuhan sampai sekarang juga mempercayakan rahmat dan karunia khusus ini kepada agama universal yang dibangun dengan tanganNya sendiri, bukan kepada yang lain. Adanya agama universal memberikan kepastian sabda Tuhan yang benar. Cukup dengan percaya pada apa yang diajarkan agama universal, engkau sudah terhindar dari kesesatan dan engkau sudah mendengarkan sabda Tuhan yang membawa kebenaran dan menyelamatkan.
Dipilih, Bukan Diklaim
Baiklah anakku, mungkin sekarang bagimu sudah cukup jelas bahwa sabda Tuhan dipercayakan pada agama universal. Jadi ada dua hal yang penting yang akan engkau dapatkan melalui agama universal. Yang pertama terdapat jaminan bahwa seluruh sabda Tuhan yang perlu bagi keselamatan manusia tersedia dalam agama universal. Yang kedua, terdapat jaminan bahwa seluruh ajaran yang ada di dalamnya terbebas dari kesesatan. Kedua hal penting ini tidak mungkin ada dalam agama lain.
Tapi mungkin akan timbul pertanyaan agama universal yang mana? Banyak agama mengklaim dirinya sebagai agama universal. Atas dasar apa sebuah agama dapat mengklaim dirinya agama universal?
Jawabanku: tidak ada dasar apapun yang bisa digunakan untuk mengklaim agama universal. Agama universal itu dipilih dan dibentuk oleh Tuhan sendiri, tepat seperti yang dikatakan Yesus: “Bukan kamu yang memilih Aku tapi Akulah yang memilih kamu…”. Agama universal bukanlah status yang dapat diklaim, dilombakan apalagi diperdebatkan. Dan sekali Tuhan memilih, pilihanNya itu tetap, Tuhan tidak pernah mengganti pilihanNya di tengah jalan seolah-olah Dia telah melakukan kesalahan.
Anakku, kalau engkau memahami ini akan menjadi lebih mudah bagimu untuk menentukan mana sesungguhnya agama universal diantara agama-agama lainnya. Kata kuncinya: dipilih, bukan diklaim. Kalau sudah begini engkau tinggal mencari dalam sejarah keselamatan, di dalam kisah-kisah para nabi kapan saat Tuhan menentukan pilihanNya. Dan harus engkau ingat, sekali Ia menetapkan pilihan Tuhan tidak pernah menggantinya. PilihanNya pasti benar dan lagi Tuhan selalu setia pada apa yang telah dipilihNya sendiri.
Mereka yang mengatakan Tuhan telah memilih agama universal baru karena agama universal yang lama sudah gagal atau diselewengkan adalah sama dengan menghina Tuhan, seolah-olah Dia tidak mampu memilih dengan baik dan rancanganNya gagal. Kalau sudah begitu sama sekali tidak ada jaminan ‘agama universal’ yang baru juga benar, mungkin saja Tuhan salah lagi. Konyol khan…?
(belum selesai....)
Minggu, 2008 Oktober 05
Satu Kawanan Satu Gembala (4): Manusia Dan Citra Tuhan
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
(Kej. 1:26-27)
----------------
Agama Dan Kesempurnaan
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang agama universal ini, aku ingin mengajak kalian merenungkan lagi mengapa Tuhan menciptakan agama universal. Agama diciptakan tentu agar dapat membawa manusia menuju kebenaran dan menjadikan manusia menjadi lebih baik. Kalau manusia sudah berada dalam keadaan baik, untuk apa lagi Tuhan menciptakan agama?
Jadi adanya agama mengandaikan bahwa manusia berada dalam keadaan tidak mengenal kebenaran dan dalam kondisi yang tidak baik. Keadaan ini tidak dikehendaki oleh Tuhan sehingga Dia menciptakan agama universal untuk membawa manusia pada kebenaranNya dan menjadikan manusia lebih baik. Jika agama universal adalah jalan terbaik yang telah disediakan Tuhan sendiri, maka tentunya jalan tersebut dapat membawa manusia pada kondisi terbaik yang mungkin ada pada manusia. Dan kondisi terbaik yang mungkin pada manusia adalah menjadi manusia sempurna, tidak ada lagi kondisi yang lebih baik dari itu.
Tapi masalahnya ada banyak ukuran sempurna. Jika engkau tanyakan pada 10 orang mungkin akan ada 10 ukuran sempurna yang berbeda-beda. Tidak heran jika ada banyak agama yang menawarkan manusia untuk sampai pada kesempurnaan tapi pada akhirnya jatuh pada ukuran sempurna yang relatif. Bahkan ada yang bilang tidak ada ciptaan yang sempurna, termasuk manusia. Tidak ada manusia yang sempurna, katanya…. Bagiku ini sebuah penghinaan terhadap Tuhan karena sama saja dengan mengatakan Tuhan tidak mampu menciptakan mahluk yang sempurna! Dimana kesempurnaan Tuhan kalau begitu?
Sebenarnya hanya ada satu ukuran sempurna yang mutlak, yaitu sempurna seperti Tuhan sendiri. Adakah yang akan membantah perkataanku ini dan memberikan alternatif yang lebih baik daripada menjadi sempurna seperti Tuhan sendiri? Tak ada yang lebih baik dari pada Tuhan maka dari itu bagi manusia tak ada yang lebih baik dari pada menjadi seperti Tuhan sendiri. Itu adalah ukuran sempurna yang mutlak.
Dengan demikian Tuhan menciptakan agama universal bagi manusia bukan sekedar membuat manusia menjadi lebih baik tapi lebih dari itu. Yaitu manusia bisa menjadi sempurna seperti Dia sendiri adalah sempurna. Ini harus engkau ingat baik-baik karena akan menjadi salah satu unsur pembeda penting yang memisahkan agama universal dengan agama-agama lainnya.
Engkau akan melihat bahwa panggilan untuk menjadi sempurna seperti Tuhan ini ada dalam Injil:
"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
(Mat. 5:48)
Kesempurnaan Sebagai Jati Diri Manusia
Dari apa yang telah aku pelajari dari agama Katolik aku mengetahui bahwa kondisi sempurna ini bukan suatu kondisi yang baru sama sekali. Kondisi inilah yang justru pada mulanya ada pada manusia. Dalam pemahaman iman Katolik, manusia merupakan puncak karya penciptaan Tuhan. Setelah menciptakan manusia, Tuhan merasa puas dan merayakannya dengan beristirahat. Dan karya terbaik yang mampu dihasilkan oleh Tuhan adalah membuat ciptaan yang serupa dengan diriNya sendiri, yaitu manusia yang diciptakan sesuai dengan citraNya.
Demikianlah, Adam dan Hawa yang kisahnya tertulis dalam Kitab Suci adalah gambaran metaforis manusia awal sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna dan hidup dalam kondisi ideal. Namun sayang sekali karena ketidaktaatan dan penyalahgunaan kehendak bebas, manusia pertama kehilangan kondisinya yang sempurna sebagai citra Tuhan dan untuk selanjutnya hidup dalam penderitaan selama turun-temurun. Ketidaktaatan manusia pertama dan hilangnya hidup manusia sebagai citra Tuhan adalah adalah dosa asal yang suatu saat harus dipulihkan kembali.
Ketika manusia pertama, ciptaan Tuhan yang sempurna, kehilangan martabatnya sebagai citra Tuhan maka Tuhan sendirilah yang pertama-tama ingin memulihkan keadaan manusia. Saat Tuhan kehilangan ciptaan terunggulNya, manusia berusaha sembunyi tapi Tuhan justru mencarinya, "Dimanakah engkau?"
Karena manusia telah jatuh ke dalam dosa dan kehilangan kesempurnaannya, manusia memang harus diusir dari Taman Eden karena tidak layak lagi hidup bersama Tuhan. Ini bukan berarti Tuhan membenci manusia karena bersamaan dengan itu Tuhan sendiri menyiapkan suatu rencana penyelamatan yang akan membuat manusia kembali menemukan martabatnya sebagai citra-Nya. Tuhan ingin manusia kembali lagi kepadaNya sebagai anak-anakNya yang sempurna, bukan sebagai hamba dosa.
Telah kukatakan tadi bahwa setelah manusia terpisah dari Tuhan, bukan manusia yang ingin kembali pada Tuhan tapi sebaliknya Tuhanlah yang mencari manusia. Sekalipun manusia sudah jatuh kedalam tipu daya Iblis, Tuhan tahu bahwa ciptaanNya tidak sepenuhnya gagal dan kejatuhan ini bisa dipulihkan dengan suatu rencana keselamatan. Dan soal rencana keselamatan itu, Tuhan tidak peduli harganya, berapapun biayanya Tuhan siap melaksanakannya karena manusia adalah ciptaan yang begitu berharga dimataNya. Jadi hal ini perlu engkau pahami baik-baik: rencana keselamatan adalah inisiatif yang berasal dari Tuhan sendiri.
Karya Keselamatan Sebagai Karya Cinta Tuhan
Kalian mungkin masih ingat sewaktu kalian kecil dulu aku membelikan kalian beberapa ekor kelinci yang lucu. Kalian senang sekali dengan kelinci-kelinci itu dan setiap hari aku mengeluarkannya dari kandang supaya kalian bisa bermain-main dengan kelinci-kelinci itu. Suatu saat salah satu kelinci itu lepas dari kandang dan hilang entah kemana, kalian sedih dan aku beserta ibumu mencari-cari kelinci kecil itu semalaman sampai akhirnya ketemu. Kelinci itu cuma binatang yang harganya hanya puluhan ribu seekor dan aku sebenarnya bisa membelinya lagi, tapi toh kita semua terlanjur sayang dan kehilangannya membuat kita mau bersusah payah mencarinya sampai ketemu. Maka dari itu kita juga bisa memahami betapa besar rasa kehilangan Tuhan saat manusia ciptaanNya yang begitu dikasihi jatuh ke dalam dosa dan kehilangan martabatnya oleh tipu daya iblis. Dan bagaimana Tuhan sendiri juga akan melakukan apapun yang mungkin untuk dapat menyelamatkan manusia kembali.
Dengan demikian inilah yang menurutku menjadi alasan mengapa Tuhan membangun sebuah agama universal untuk manusia: Tuhan ingin memulihkan martabat manusia agar kembali menjadi sempurna sebagai citra Tuhan. Supaya manusia layak hidup bersama-sama dengan Tuhan dalam cinta kasih yang maha membahagiakan.
Jadi bisa disimpulkan bahwa agama universal ini adalah rencana keselamatan yang telah dirancang sendiri oleh Tuhan sejak kejatuhan Adam. Dan dalam ajaran Katolik, harga dari rencana keselamatan ini sungguh tidak terbayangkan besarnya: Tuhan sendiri rela mati di kayu salib untuk memulihkan martabat manusia. Engkau bayangkan nak, harga sebesar itu untuk menebus manusia-manusia durhaka seperti kita ini sungguh tidak masuk di akal kecuali dipahami dengan alasan ini: begitu besar kasih Tuhan kepada manusia sehingga Dia sendiri mau menyerahkan nyawaNya di kayu salib untuk menebus kesalahan dan dosa-dosa manusia, agar manusia kembali memperoleh martabatnya sebagai citra Tuhan dan hidup dalam kemuliaan surgawi bersamaNya.
Sejauh ini aku telah menjelaskan mengapa Tuhan menciptakan agama dan apa tujuan Tuhan menciptakan agama. Sekarang coba engkau selidiki hal tersebut pada agama-agama lain. Telah kukatakan bahwa Tuhan menciptakan agama karena Dia begitu mencintai manusia dan ingin menyelamatkannya dari kejatuhan akibat dosa. Selidiki adakah alasan yang lebih baik dari ini dalam agama-agama lain?
Juga kukatakan bahwa tujuan agama adalah memulihkan martabat manusia untuk kembali menjadi sempurna sebagai citra Tuhan. Selidiki adakah tujuan yang lebih baik dari ini dalam agama-agama lain? Aku sendiri terus terang belum sanggup menemukannya.
(Kej. 1:26-27)
----------------
Agama Dan Kesempurnaan
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang agama universal ini, aku ingin mengajak kalian merenungkan lagi mengapa Tuhan menciptakan agama universal. Agama diciptakan tentu agar dapat membawa manusia menuju kebenaran dan menjadikan manusia menjadi lebih baik. Kalau manusia sudah berada dalam keadaan baik, untuk apa lagi Tuhan menciptakan agama?
Jadi adanya agama mengandaikan bahwa manusia berada dalam keadaan tidak mengenal kebenaran dan dalam kondisi yang tidak baik. Keadaan ini tidak dikehendaki oleh Tuhan sehingga Dia menciptakan agama universal untuk membawa manusia pada kebenaranNya dan menjadikan manusia lebih baik. Jika agama universal adalah jalan terbaik yang telah disediakan Tuhan sendiri, maka tentunya jalan tersebut dapat membawa manusia pada kondisi terbaik yang mungkin ada pada manusia. Dan kondisi terbaik yang mungkin pada manusia adalah menjadi manusia sempurna, tidak ada lagi kondisi yang lebih baik dari itu.
Tapi masalahnya ada banyak ukuran sempurna. Jika engkau tanyakan pada 10 orang mungkin akan ada 10 ukuran sempurna yang berbeda-beda. Tidak heran jika ada banyak agama yang menawarkan manusia untuk sampai pada kesempurnaan tapi pada akhirnya jatuh pada ukuran sempurna yang relatif. Bahkan ada yang bilang tidak ada ciptaan yang sempurna, termasuk manusia. Tidak ada manusia yang sempurna, katanya…. Bagiku ini sebuah penghinaan terhadap Tuhan karena sama saja dengan mengatakan Tuhan tidak mampu menciptakan mahluk yang sempurna! Dimana kesempurnaan Tuhan kalau begitu?
Sebenarnya hanya ada satu ukuran sempurna yang mutlak, yaitu sempurna seperti Tuhan sendiri. Adakah yang akan membantah perkataanku ini dan memberikan alternatif yang lebih baik daripada menjadi sempurna seperti Tuhan sendiri? Tak ada yang lebih baik dari pada Tuhan maka dari itu bagi manusia tak ada yang lebih baik dari pada menjadi seperti Tuhan sendiri. Itu adalah ukuran sempurna yang mutlak.
Dengan demikian Tuhan menciptakan agama universal bagi manusia bukan sekedar membuat manusia menjadi lebih baik tapi lebih dari itu. Yaitu manusia bisa menjadi sempurna seperti Dia sendiri adalah sempurna. Ini harus engkau ingat baik-baik karena akan menjadi salah satu unsur pembeda penting yang memisahkan agama universal dengan agama-agama lainnya.
Engkau akan melihat bahwa panggilan untuk menjadi sempurna seperti Tuhan ini ada dalam Injil:
"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
(Mat. 5:48)
Kesempurnaan Sebagai Jati Diri Manusia
Dari apa yang telah aku pelajari dari agama Katolik aku mengetahui bahwa kondisi sempurna ini bukan suatu kondisi yang baru sama sekali. Kondisi inilah yang justru pada mulanya ada pada manusia. Dalam pemahaman iman Katolik, manusia merupakan puncak karya penciptaan Tuhan. Setelah menciptakan manusia, Tuhan merasa puas dan merayakannya dengan beristirahat. Dan karya terbaik yang mampu dihasilkan oleh Tuhan adalah membuat ciptaan yang serupa dengan diriNya sendiri, yaitu manusia yang diciptakan sesuai dengan citraNya.
Demikianlah, Adam dan Hawa yang kisahnya tertulis dalam Kitab Suci adalah gambaran metaforis manusia awal sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna dan hidup dalam kondisi ideal. Namun sayang sekali karena ketidaktaatan dan penyalahgunaan kehendak bebas, manusia pertama kehilangan kondisinya yang sempurna sebagai citra Tuhan dan untuk selanjutnya hidup dalam penderitaan selama turun-temurun. Ketidaktaatan manusia pertama dan hilangnya hidup manusia sebagai citra Tuhan adalah adalah dosa asal yang suatu saat harus dipulihkan kembali.
Ketika manusia pertama, ciptaan Tuhan yang sempurna, kehilangan martabatnya sebagai citra Tuhan maka Tuhan sendirilah yang pertama-tama ingin memulihkan keadaan manusia. Saat Tuhan kehilangan ciptaan terunggulNya, manusia berusaha sembunyi tapi Tuhan justru mencarinya, "Dimanakah engkau?"
Karena manusia telah jatuh ke dalam dosa dan kehilangan kesempurnaannya, manusia memang harus diusir dari Taman Eden karena tidak layak lagi hidup bersama Tuhan. Ini bukan berarti Tuhan membenci manusia karena bersamaan dengan itu Tuhan sendiri menyiapkan suatu rencana penyelamatan yang akan membuat manusia kembali menemukan martabatnya sebagai citra-Nya. Tuhan ingin manusia kembali lagi kepadaNya sebagai anak-anakNya yang sempurna, bukan sebagai hamba dosa.
Telah kukatakan tadi bahwa setelah manusia terpisah dari Tuhan, bukan manusia yang ingin kembali pada Tuhan tapi sebaliknya Tuhanlah yang mencari manusia. Sekalipun manusia sudah jatuh kedalam tipu daya Iblis, Tuhan tahu bahwa ciptaanNya tidak sepenuhnya gagal dan kejatuhan ini bisa dipulihkan dengan suatu rencana keselamatan. Dan soal rencana keselamatan itu, Tuhan tidak peduli harganya, berapapun biayanya Tuhan siap melaksanakannya karena manusia adalah ciptaan yang begitu berharga dimataNya. Jadi hal ini perlu engkau pahami baik-baik: rencana keselamatan adalah inisiatif yang berasal dari Tuhan sendiri.
Karya Keselamatan Sebagai Karya Cinta Tuhan
Kalian mungkin masih ingat sewaktu kalian kecil dulu aku membelikan kalian beberapa ekor kelinci yang lucu. Kalian senang sekali dengan kelinci-kelinci itu dan setiap hari aku mengeluarkannya dari kandang supaya kalian bisa bermain-main dengan kelinci-kelinci itu. Suatu saat salah satu kelinci itu lepas dari kandang dan hilang entah kemana, kalian sedih dan aku beserta ibumu mencari-cari kelinci kecil itu semalaman sampai akhirnya ketemu. Kelinci itu cuma binatang yang harganya hanya puluhan ribu seekor dan aku sebenarnya bisa membelinya lagi, tapi toh kita semua terlanjur sayang dan kehilangannya membuat kita mau bersusah payah mencarinya sampai ketemu. Maka dari itu kita juga bisa memahami betapa besar rasa kehilangan Tuhan saat manusia ciptaanNya yang begitu dikasihi jatuh ke dalam dosa dan kehilangan martabatnya oleh tipu daya iblis. Dan bagaimana Tuhan sendiri juga akan melakukan apapun yang mungkin untuk dapat menyelamatkan manusia kembali.
Dengan demikian inilah yang menurutku menjadi alasan mengapa Tuhan membangun sebuah agama universal untuk manusia: Tuhan ingin memulihkan martabat manusia agar kembali menjadi sempurna sebagai citra Tuhan. Supaya manusia layak hidup bersama-sama dengan Tuhan dalam cinta kasih yang maha membahagiakan.
Jadi bisa disimpulkan bahwa agama universal ini adalah rencana keselamatan yang telah dirancang sendiri oleh Tuhan sejak kejatuhan Adam. Dan dalam ajaran Katolik, harga dari rencana keselamatan ini sungguh tidak terbayangkan besarnya: Tuhan sendiri rela mati di kayu salib untuk memulihkan martabat manusia. Engkau bayangkan nak, harga sebesar itu untuk menebus manusia-manusia durhaka seperti kita ini sungguh tidak masuk di akal kecuali dipahami dengan alasan ini: begitu besar kasih Tuhan kepada manusia sehingga Dia sendiri mau menyerahkan nyawaNya di kayu salib untuk menebus kesalahan dan dosa-dosa manusia, agar manusia kembali memperoleh martabatnya sebagai citra Tuhan dan hidup dalam kemuliaan surgawi bersamaNya.
Sejauh ini aku telah menjelaskan mengapa Tuhan menciptakan agama dan apa tujuan Tuhan menciptakan agama. Sekarang coba engkau selidiki hal tersebut pada agama-agama lain. Telah kukatakan bahwa Tuhan menciptakan agama karena Dia begitu mencintai manusia dan ingin menyelamatkannya dari kejatuhan akibat dosa. Selidiki adakah alasan yang lebih baik dari ini dalam agama-agama lain?
Juga kukatakan bahwa tujuan agama adalah memulihkan martabat manusia untuk kembali menjadi sempurna sebagai citra Tuhan. Selidiki adakah tujuan yang lebih baik dari ini dalam agama-agama lain? Aku sendiri terus terang belum sanggup menemukannya.
Satu Kawanan Satu Gembala (3): Jalan-Jalan Menuju Tuhan
Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.
(Mat. 7:13-14)
--------------------
Ada Banyak Tawaran Jalan
Anakku, memilih jalan yang benar di antara sekian banyak jalan yang ada di hadapan kalian bukan perkara mudah. Adalah sebuah kenyataan yang harus kalian terima bahwa kalian hidup dalam masyarakat yang plural dengan agamanya yang beragam. Dan kalau kalian mengamati dengan baik agama-agama yang berbeda tersebut, kalian akan sampai pada kesimpulan yang sama dengan aku: semua agama mengajarkan kebaikan.
Tapi apakah dengan demikian semua agama sama saja? Apakah semua agama mengajarkan kebaikan-kebaikan yang sama dan mengarahkan manusia pada tujuan yang sama? Atau lebih jauh lagi apakah semua agama yang beragam itu berasal dari Tuhan yang satu dan sama?
Mungkin ada banyak orang yang terpancing menjawab pertanyaan ini dengan jawaban penuh basa-basi dan semangat toleransi: semua agama sama baiknya, semua agama berasal dari Tuhan atau semua agama sama-sama mengarahkan manusia pada Tuhan. Ada yang mengambil perumpamaan seolah-olah agama-agama yang berbeda itu seperti orang-orang buta yang sedang memegang bagian-bagian yang berbeda dari seekor gajah dan berusaha menjelaskan apa itu gajah sesuai dengan apa yang dipegangnya. Ada juga yang mengambil perumpamaan seolah-olah agama itu hanyalah jalan yang berbeda-beda yang sebenarnya mengarahkan manusia pada tujuan yang sama. Dan ada banyak lagi jawaban basa-basi lainnya yang kira-kira serupa.
Jawaban semacam ini tidak dapat dipertanggungjawabkan oleh akal sehat. Bagaimana mungkin dua agama atau lebih yang saling bertentangan bisa sama-sama benar? Aku akan mengambil contoh yang ekstrim: orang Katolik (dan juga Kristen pada umumnya) percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, tapi Islam menolak keras Yesus sebagai Tuhan. Bisakah kedua ajaran tersebut sama-sama benar? Salah satunya sudah pasti salah. Ada jawaban yang mencoba jalan tengah dengan mengatakan bahwa pemakaian atribut Tuhan pada pribadi Yesus hanyalah sekedar simbol dan tidak berarti Tuhan yang sesungguhnya. Tapi aku akan mengatakan sebagai seorang Katolik bahwa Yesus memang benar diyakini sebagai Tuhan dalam arti kata yang sesungguhnya dalam iman Katolik, tidak pernah kurang dari itu. Jadi menurutku ini kenyataan pahit yang harus diterima: salah satu dari kedua agama itu pasti salah.
Meskipun demikian jawaban basa-basi yang mencoba mengkompromikan keduanya harus dimengerti sebagai upaya untuk menjaga kerukunan umat beragama dan untuk menjaga perasaan orang lain yang berbeda agama. Maklumlah, bangsa kita bukanlah bangsa yang rasional dan mampu menerima kelemahan dengan kepala dingin. Apalagi dalam hal yang sangat sensitif seperti agama. Bisa kalian bayangkan apa yang terjadi kalau di negara kita ini agama seseorang dikatakan sebagai agama yang keliru dan tidak berasal dari Tuhan?
Agama Memang Tidak Sama
Sebaliknya, aku tidak akan memberikan jawaban basa-basi semacam itu yang hanya akan membuat kalian bingung untuk memutuskan jalan kebenaran yang harus kalian pilih. Sekiranya aku harus memilih sikap, aku lebih takut menyesatkan kalian dari pada menyinggung perasaan orang lain. Membimbing kalian menuju kebenaran adalah tugas suci yang aku terima dari Tuhan sebagai orang tua, dan aku lebih takut kepada Tuhan dari pada kepada manusia.
Pada kenyataannya cepat atau lambat aku harus memilih tetap berbasa-basi pada manusia atau bersikap tegas demi kebenaran Tuhan. Oleh karenanya sekarang aku akan menjawab pertanyaan di atas dengan tegas: tidak semua agama sama baiknya. Sekalipun kebaikan dan ajaran-ajaran yang ada dalam semua agama memang berasal dari Tuhan yang satu tapi tidak semua agama tersebut dirancang dan diciptakan Tuhan bagi manusia. Bahkan aku akan mengatakan yang lebih ekstrim lagi: Tuhan hanya menciptakan satu agama untuk manusia, tidak lebih. Tuhan di berbagai jaman telah memilih dan mengutus banyak nabi serta orang-orang pilihan untuk mengajarkan manusia jalan kebenaranNya. Bagiku itu adalah bagian dari sebuah proses yang dilakukan Tuhan dalam menciptakan satu agama untuk manusia, tidak lebih.
Memang ada pandangan yang mengatakan bahwa agama sesungguhnya hanyalah ciptaan manusia, oleh karenanya tidak ada satupun agama yang bisa merasa berhak sebagai agama yang paling benar bagi manusa. Jika agama itu ciptaan manusia, siapakah yang bisa melarang kita untuk menciptakan agama baru bagi diri kita sendiri? Tidak ada!
Satu Agama Untuk Semua
Ok, hanya mungkin ada agama yang layak ditaati manusia kalau agama itu ciptaan Tuhan, tapi apakah Tuhan menciptakan hanya satu agama? Mengapa tidak menciptakan agama yang berbeda-beda untuk manusia yang berbeda-beda budayanya?
Memang betul manusia berbeda-beda kebudayaan dan tradisinya, tapi apakah Tuhan juga harus menciptakan lebih dari satu agama yang berbeda satu sama lain? Bagi Tuhan perbedaan budaya dan tradisi tidak mengubah kenyataan bahwa kesemuanya itu adalah satu umat manusia yang sama. Di mata Tuhan tidak ada perbedaan ras dan budaya, Tuhan sama sekali tidak rasialis! Bagi Tuhan semua manusia itu satu.
Jika demikian tidak mampukah Tuhan menciptakan hanya satu agama untuk seluruh manusia yang satu itu? Atau adakah manusia yang berani menganggap Tuhan tidak mampu menciptakan satu agama yang dapat berlaku secara universal untuk semua manusia? Tentu jawabannya Tuhan pasti mampu menciptakan satu agama universal semacam itu.
Pertanyaan lainnya, jika Tuhan mampu menciptakan agama universal semacam itu akankah Dia menciptakannya? Mengapa Tuhan tidak menciptakan dua atau tiga agama yang berbeda yang sama benarnya dan sama baiknya?
Sebelum engkau menjawabnya tanyalah pada dirimu sendiri adakah sebuah negara di dunia ini yang diatur oleh dua atau lebih undang-undang dasar? Tentu saja tidak, dua undang-undang dasar yang berbeda dalam satu negara hanya akan membuat keadaan menjadi kacau dan memunculkan pertentangan yang tidak ada habisnya. Adakah kapal yang dipimpin oleh dua nahkoda atau lebih? Tentu tidak ada, karena kalau ada kapal semacam itu tentu tidak pernah sampai ke tujuan atau akan tenggelam di tengah lautan karena pertentangan diantara awaknya. Demikian juga jika Tuhan melihat manusia sebagai satu umat, tentunya Dia akan memberikan satu hukum yang sama untuk semua orang, bukan dua atau lebih yang hanya akan membawa perpecahan abadi.
Coba engkau bayangkan apa jadinya jika Tuhan menciptakan satu agama untuk orang Jawa, satu agama untuk orang Arab, satu agama untuk orang Cina, dan masing-masing satu agama untuk bangsa-bangsa lain?
Pada masa lalu dimana bangsa-bangsa merupakan komunitas yang cenderung terpisah satu sama lain ide semacam ini tampak baik. Tapi menjadi tidak memadai lagi jika komunitas manusia cenderung menjadi satu dan tidak lagi terpisah-pisah dalam wilayah geografis atau komunitas-komunitas etnis seperti yang sekarang terjadi dalam era globalisasi.
Agama-agama yang berbeda itu, yang dalam banyak hal memiliki perbedaan yang mendasar (seperti contoh soal ketuhanan Yesus itu tadi) hanya akan menghalangi manusia untuk percaya akan adanya kebenaran mutlak. Semua kebenaran menjadi relatif dan subyektif. Karena kebenaran mutlak menjadi mustahil, maka juga berarti tidak ada Tuhan. Dari alasan ini saja engkau mengetahui bahwa Tuhan tidak mungkin menciptakan banyak agama. Jadi kesimpulannya jelas, Tuhan tidak hanya mampu menciptakan agama universal untuk mempersatukan manusia dalam satu hukum yang sama tapi Dia juga menghendakinya.
Dengan memahami ini kalian menjadi tahu bahwa dari sekian banyak agama yang ada sekarang ini memang hanya ada satu agama yang layak menjadi agama kalian dan Tuhan menghendaki kalian memilih agama itu, yaitu agama yang telah diciptakanNya sendiri bagi manusia.
Lalu bagaimana dengan agama-agama lainnya? Bukankah ada banyak orang yang sungguh-sungguh tulus dan baik yang berasal dari agama-agama tersebut?
Anakku, aku tidak pernah mengatakan bahwa agama-agama lain adalah agama yang sepenuhnya buruk dan tidak mengandung ajaran kebenaran. Aku sungguh menaruh hormat pada agama-agama itu karena bagamanapun agama-agama itu telah menjadi penerang bagi sebagian manusia yang dengan tulus berusaha mencari Tuhan dan kebenaranNya.
Dalam kenyataannya agama-agama tersebut dalam batas-batas tertentu juga mengajarkan kebenaran dan membawa manusia menjadi lebih baik. Tapi dengan sangat menyesal aku harus mengatakan bahwa agama-agama tersebut tidak mampu mengajarkan kebenaran dan kebaikan pada tingkat yang sama dengan agama yang diciptakan Tuhan bagi manusia, yakni agama universal yang aku maksudkan. Logikanya sederhana saja: tidak mungkin yang bukan Tuhan mampu menyamai atau bahkan melebihi karya Tuhan sendiri.
Kalian mungkin akan bertanya: lalu dari manakah kebaikan dan kebenaran yang ada pada agama-agama itu berasal? Sumbernya banyak, dan langsung atau tidak langsung memang berasal dari Tuhan juga. Bukankah Tuhan itu sumber segala kebaikan dan kebenaran?
Pada setiap manusia Tuhan telah memberikan hati nurani yang memiliki bibit kebaikan dan kerinduan akan kebenaran. Dari orang-orang yang sungguh tulus mencari kebenaran dan melakukan kebaikan ini agama-agama yang muncul dalam berbagai tradisi dan bangsa mendapatkan ajaran kebenarannya. Sementara itu beberapa agama lainnya memperoleh ajaran kebenaran dan kebaikan dengan jalan mencomot sebagian ajaran-ajaran yang sudah ada dalam agama ciptaan Tuhan.
Baik kebenaran yang muncul dari hati nurani orang-orang suci maupun kebenaran yang dicomot dari agama Tuhan, semuanya langsung atau tidak langsung memang berasal dari Tuhan juga. Pada suatu bangsa, yang entah karena jaman atau karena terpisah secara geografis belum mengenal agama Tuhan, agama-agama ini juga bisa menjadi sarana untuk mengarahkan manusia pada kebenaran meski belum sempurna. Aku percaya, menurut kebijaksanaan-Nya sendiri Tuhan juga menggunakan agama-agama buatan manusia ini untuk mengarahkan manusia kepada-Nya. Seperti kata pepatah: tidak ada rotan, akarpun berguna.
Aku ingin mengumpamakan ini seperti air yang sama tapi diambil dari tempat yang berbeda-beda, ada yang mengambilnya dari mata air yang jernih, tapi ada juga yang mengambil dari sungai atau tempat lain yang sedikit banyak sudah tercemar dan tidak murni lagi. Agama universal ini seperti mata air yang dipersiapkan oleh Tuhan supaya manusia bisa mengambil air yang jernih dan berlimpah yang tidak pernah habis. Sedangkan agama-agama lain seperti sungai-sungai atau danau-danau kecil yang sedikit banyak sudah tercemar dan tidak murni seperti mata air tadi. Kalau engkau belum bisa menemukan mata air itu, tentu mengambil air dari sungai atau danau juga tidak apa-apa asalkan engkau memasaknya lebih dulu supaya kuman-kumannya hilang. Tapi jika engkau sudah menemukan mata air yang jernih yang dipersiapkan Tuhan sendiri, untuk apa lagi mengambil dari sungai atau danau?
Membedakan Agama Universal Dengan Yang Lain
Baiklah kita sudah sampai pada kesimpulan penting ini: Tuhan hanya menciptakan satu agama universal untuk seluruh manusia, tidak lebih. Sekarang bagaimanakah kita bisa mengetahui yang mana agama universal ciptaan Tuhan diantara sekian banyak agama yang mengaku sebagai agama yang berasal dari Tuhan? Adakah ciri khusus yang bisa membuat kita mampu membedakan agama universal ini dengan agama-agama lainnya?
Jika kalian percaya bahwa karya Tuhan jauh melampaui karya-karya manusia, maka agama universal ini tentunya memiliki keunggulan yang jauh melampaui agama lainnya. Keunggulan itu menjadi mutlak dan tak terbantahkan lagi manakala di dalam agama universal itu terdapat unsur-unsur yang hanya mungkin dibuat oleh Tuhan sendiri.
Untuk apa Tuhan menciptakan agama universal kalau manusia sendiri sudah mampu menciptakan agama yang setara dengan itu? Tuhan menciptakan agama universal karena manusia memang tidak mampu menciptakan agama yang semacam itu. Dengan kata lain dalam agama universal itu pasti terdapat unsur-unsur yang tidak mungkin dapat dibuat oleh tangan manusia seberapa hebatnyapun manusia itu.
Jadi inilah kesimpulanku: agama universal selain memiliki keunggulan yang melampaui agama-agama lainnya juga memiliki unsur-unsur yang tidak mungkin diciptakan oleh manusia, tidak peduli seberapapun kerasnya usaha mereka dan sampai kapanpun mereka mencobanya. Dengan demikian ada landasan obyektif untuk memilih manakah agama universal itu diantara sekian banyak agama yang ada.
Aku tidak ingin mengatakan bahwa aku berangkat dari sikap yang sepenuhnya netral seolah-olah saat ini aku tidak memeluk agama apapun. Dalam perjalanan hidupku aku telah berkesempatan mempelajari dan menjalani berbagai ajaran agama sampai akhirnya aku menemukan agama universal itu, yaitu Katolik. Kebetulan dari namanyapun Katolik sudah berarti universal. Aku tidak memilihnya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan subyektif saja, tapi juga berdasarkan pertimbangan-pertimbangan obyektif. Antara lain konsep-konsep ajarannya yang melampaui agama manapun juga, dan dalam agama Katolik terdapat elemen-elemen mendasar yang sangat kokoh yang tidak mungkin dapat dibuat oleh manusia. Ini yang membuatnya unggul jauh melampaui agama-agama lain yang tidak diciptakan Tuhan. Aku akan berupaya menjelaskan ini semua kepadamu, selain untuk membantumu memilih agama yang benar juga sebagai bagian dari pertanggungjawaban imanku sendiri.
(Mat. 7:13-14)
--------------------
Ada Banyak Tawaran Jalan
Anakku, memilih jalan yang benar di antara sekian banyak jalan yang ada di hadapan kalian bukan perkara mudah. Adalah sebuah kenyataan yang harus kalian terima bahwa kalian hidup dalam masyarakat yang plural dengan agamanya yang beragam. Dan kalau kalian mengamati dengan baik agama-agama yang berbeda tersebut, kalian akan sampai pada kesimpulan yang sama dengan aku: semua agama mengajarkan kebaikan.
Tapi apakah dengan demikian semua agama sama saja? Apakah semua agama mengajarkan kebaikan-kebaikan yang sama dan mengarahkan manusia pada tujuan yang sama? Atau lebih jauh lagi apakah semua agama yang beragam itu berasal dari Tuhan yang satu dan sama?
Mungkin ada banyak orang yang terpancing menjawab pertanyaan ini dengan jawaban penuh basa-basi dan semangat toleransi: semua agama sama baiknya, semua agama berasal dari Tuhan atau semua agama sama-sama mengarahkan manusia pada Tuhan. Ada yang mengambil perumpamaan seolah-olah agama-agama yang berbeda itu seperti orang-orang buta yang sedang memegang bagian-bagian yang berbeda dari seekor gajah dan berusaha menjelaskan apa itu gajah sesuai dengan apa yang dipegangnya. Ada juga yang mengambil perumpamaan seolah-olah agama itu hanyalah jalan yang berbeda-beda yang sebenarnya mengarahkan manusia pada tujuan yang sama. Dan ada banyak lagi jawaban basa-basi lainnya yang kira-kira serupa.
Jawaban semacam ini tidak dapat dipertanggungjawabkan oleh akal sehat. Bagaimana mungkin dua agama atau lebih yang saling bertentangan bisa sama-sama benar? Aku akan mengambil contoh yang ekstrim: orang Katolik (dan juga Kristen pada umumnya) percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, tapi Islam menolak keras Yesus sebagai Tuhan. Bisakah kedua ajaran tersebut sama-sama benar? Salah satunya sudah pasti salah. Ada jawaban yang mencoba jalan tengah dengan mengatakan bahwa pemakaian atribut Tuhan pada pribadi Yesus hanyalah sekedar simbol dan tidak berarti Tuhan yang sesungguhnya. Tapi aku akan mengatakan sebagai seorang Katolik bahwa Yesus memang benar diyakini sebagai Tuhan dalam arti kata yang sesungguhnya dalam iman Katolik, tidak pernah kurang dari itu. Jadi menurutku ini kenyataan pahit yang harus diterima: salah satu dari kedua agama itu pasti salah.
Meskipun demikian jawaban basa-basi yang mencoba mengkompromikan keduanya harus dimengerti sebagai upaya untuk menjaga kerukunan umat beragama dan untuk menjaga perasaan orang lain yang berbeda agama. Maklumlah, bangsa kita bukanlah bangsa yang rasional dan mampu menerima kelemahan dengan kepala dingin. Apalagi dalam hal yang sangat sensitif seperti agama. Bisa kalian bayangkan apa yang terjadi kalau di negara kita ini agama seseorang dikatakan sebagai agama yang keliru dan tidak berasal dari Tuhan?
Agama Memang Tidak Sama
Sebaliknya, aku tidak akan memberikan jawaban basa-basi semacam itu yang hanya akan membuat kalian bingung untuk memutuskan jalan kebenaran yang harus kalian pilih. Sekiranya aku harus memilih sikap, aku lebih takut menyesatkan kalian dari pada menyinggung perasaan orang lain. Membimbing kalian menuju kebenaran adalah tugas suci yang aku terima dari Tuhan sebagai orang tua, dan aku lebih takut kepada Tuhan dari pada kepada manusia.
Pada kenyataannya cepat atau lambat aku harus memilih tetap berbasa-basi pada manusia atau bersikap tegas demi kebenaran Tuhan. Oleh karenanya sekarang aku akan menjawab pertanyaan di atas dengan tegas: tidak semua agama sama baiknya. Sekalipun kebaikan dan ajaran-ajaran yang ada dalam semua agama memang berasal dari Tuhan yang satu tapi tidak semua agama tersebut dirancang dan diciptakan Tuhan bagi manusia. Bahkan aku akan mengatakan yang lebih ekstrim lagi: Tuhan hanya menciptakan satu agama untuk manusia, tidak lebih. Tuhan di berbagai jaman telah memilih dan mengutus banyak nabi serta orang-orang pilihan untuk mengajarkan manusia jalan kebenaranNya. Bagiku itu adalah bagian dari sebuah proses yang dilakukan Tuhan dalam menciptakan satu agama untuk manusia, tidak lebih.
Memang ada pandangan yang mengatakan bahwa agama sesungguhnya hanyalah ciptaan manusia, oleh karenanya tidak ada satupun agama yang bisa merasa berhak sebagai agama yang paling benar bagi manusa. Jika agama itu ciptaan manusia, siapakah yang bisa melarang kita untuk menciptakan agama baru bagi diri kita sendiri? Tidak ada!
Satu Agama Untuk Semua
Ok, hanya mungkin ada agama yang layak ditaati manusia kalau agama itu ciptaan Tuhan, tapi apakah Tuhan menciptakan hanya satu agama? Mengapa tidak menciptakan agama yang berbeda-beda untuk manusia yang berbeda-beda budayanya?
Memang betul manusia berbeda-beda kebudayaan dan tradisinya, tapi apakah Tuhan juga harus menciptakan lebih dari satu agama yang berbeda satu sama lain? Bagi Tuhan perbedaan budaya dan tradisi tidak mengubah kenyataan bahwa kesemuanya itu adalah satu umat manusia yang sama. Di mata Tuhan tidak ada perbedaan ras dan budaya, Tuhan sama sekali tidak rasialis! Bagi Tuhan semua manusia itu satu.
Jika demikian tidak mampukah Tuhan menciptakan hanya satu agama untuk seluruh manusia yang satu itu? Atau adakah manusia yang berani menganggap Tuhan tidak mampu menciptakan satu agama yang dapat berlaku secara universal untuk semua manusia? Tentu jawabannya Tuhan pasti mampu menciptakan satu agama universal semacam itu.
Pertanyaan lainnya, jika Tuhan mampu menciptakan agama universal semacam itu akankah Dia menciptakannya? Mengapa Tuhan tidak menciptakan dua atau tiga agama yang berbeda yang sama benarnya dan sama baiknya?
Sebelum engkau menjawabnya tanyalah pada dirimu sendiri adakah sebuah negara di dunia ini yang diatur oleh dua atau lebih undang-undang dasar? Tentu saja tidak, dua undang-undang dasar yang berbeda dalam satu negara hanya akan membuat keadaan menjadi kacau dan memunculkan pertentangan yang tidak ada habisnya. Adakah kapal yang dipimpin oleh dua nahkoda atau lebih? Tentu tidak ada, karena kalau ada kapal semacam itu tentu tidak pernah sampai ke tujuan atau akan tenggelam di tengah lautan karena pertentangan diantara awaknya. Demikian juga jika Tuhan melihat manusia sebagai satu umat, tentunya Dia akan memberikan satu hukum yang sama untuk semua orang, bukan dua atau lebih yang hanya akan membawa perpecahan abadi.
Coba engkau bayangkan apa jadinya jika Tuhan menciptakan satu agama untuk orang Jawa, satu agama untuk orang Arab, satu agama untuk orang Cina, dan masing-masing satu agama untuk bangsa-bangsa lain?
Pada masa lalu dimana bangsa-bangsa merupakan komunitas yang cenderung terpisah satu sama lain ide semacam ini tampak baik. Tapi menjadi tidak memadai lagi jika komunitas manusia cenderung menjadi satu dan tidak lagi terpisah-pisah dalam wilayah geografis atau komunitas-komunitas etnis seperti yang sekarang terjadi dalam era globalisasi.
Agama-agama yang berbeda itu, yang dalam banyak hal memiliki perbedaan yang mendasar (seperti contoh soal ketuhanan Yesus itu tadi) hanya akan menghalangi manusia untuk percaya akan adanya kebenaran mutlak. Semua kebenaran menjadi relatif dan subyektif. Karena kebenaran mutlak menjadi mustahil, maka juga berarti tidak ada Tuhan. Dari alasan ini saja engkau mengetahui bahwa Tuhan tidak mungkin menciptakan banyak agama. Jadi kesimpulannya jelas, Tuhan tidak hanya mampu menciptakan agama universal untuk mempersatukan manusia dalam satu hukum yang sama tapi Dia juga menghendakinya.
Dengan memahami ini kalian menjadi tahu bahwa dari sekian banyak agama yang ada sekarang ini memang hanya ada satu agama yang layak menjadi agama kalian dan Tuhan menghendaki kalian memilih agama itu, yaitu agama yang telah diciptakanNya sendiri bagi manusia.
Lalu bagaimana dengan agama-agama lainnya? Bukankah ada banyak orang yang sungguh-sungguh tulus dan baik yang berasal dari agama-agama tersebut?
Anakku, aku tidak pernah mengatakan bahwa agama-agama lain adalah agama yang sepenuhnya buruk dan tidak mengandung ajaran kebenaran. Aku sungguh menaruh hormat pada agama-agama itu karena bagamanapun agama-agama itu telah menjadi penerang bagi sebagian manusia yang dengan tulus berusaha mencari Tuhan dan kebenaranNya.
Dalam kenyataannya agama-agama tersebut dalam batas-batas tertentu juga mengajarkan kebenaran dan membawa manusia menjadi lebih baik. Tapi dengan sangat menyesal aku harus mengatakan bahwa agama-agama tersebut tidak mampu mengajarkan kebenaran dan kebaikan pada tingkat yang sama dengan agama yang diciptakan Tuhan bagi manusia, yakni agama universal yang aku maksudkan. Logikanya sederhana saja: tidak mungkin yang bukan Tuhan mampu menyamai atau bahkan melebihi karya Tuhan sendiri.
Kalian mungkin akan bertanya: lalu dari manakah kebaikan dan kebenaran yang ada pada agama-agama itu berasal? Sumbernya banyak, dan langsung atau tidak langsung memang berasal dari Tuhan juga. Bukankah Tuhan itu sumber segala kebaikan dan kebenaran?
Pada setiap manusia Tuhan telah memberikan hati nurani yang memiliki bibit kebaikan dan kerinduan akan kebenaran. Dari orang-orang yang sungguh tulus mencari kebenaran dan melakukan kebaikan ini agama-agama yang muncul dalam berbagai tradisi dan bangsa mendapatkan ajaran kebenarannya. Sementara itu beberapa agama lainnya memperoleh ajaran kebenaran dan kebaikan dengan jalan mencomot sebagian ajaran-ajaran yang sudah ada dalam agama ciptaan Tuhan.
Baik kebenaran yang muncul dari hati nurani orang-orang suci maupun kebenaran yang dicomot dari agama Tuhan, semuanya langsung atau tidak langsung memang berasal dari Tuhan juga. Pada suatu bangsa, yang entah karena jaman atau karena terpisah secara geografis belum mengenal agama Tuhan, agama-agama ini juga bisa menjadi sarana untuk mengarahkan manusia pada kebenaran meski belum sempurna. Aku percaya, menurut kebijaksanaan-Nya sendiri Tuhan juga menggunakan agama-agama buatan manusia ini untuk mengarahkan manusia kepada-Nya. Seperti kata pepatah: tidak ada rotan, akarpun berguna.
Aku ingin mengumpamakan ini seperti air yang sama tapi diambil dari tempat yang berbeda-beda, ada yang mengambilnya dari mata air yang jernih, tapi ada juga yang mengambil dari sungai atau tempat lain yang sedikit banyak sudah tercemar dan tidak murni lagi. Agama universal ini seperti mata air yang dipersiapkan oleh Tuhan supaya manusia bisa mengambil air yang jernih dan berlimpah yang tidak pernah habis. Sedangkan agama-agama lain seperti sungai-sungai atau danau-danau kecil yang sedikit banyak sudah tercemar dan tidak murni seperti mata air tadi. Kalau engkau belum bisa menemukan mata air itu, tentu mengambil air dari sungai atau danau juga tidak apa-apa asalkan engkau memasaknya lebih dulu supaya kuman-kumannya hilang. Tapi jika engkau sudah menemukan mata air yang jernih yang dipersiapkan Tuhan sendiri, untuk apa lagi mengambil dari sungai atau danau?
Membedakan Agama Universal Dengan Yang Lain
Baiklah kita sudah sampai pada kesimpulan penting ini: Tuhan hanya menciptakan satu agama universal untuk seluruh manusia, tidak lebih. Sekarang bagaimanakah kita bisa mengetahui yang mana agama universal ciptaan Tuhan diantara sekian banyak agama yang mengaku sebagai agama yang berasal dari Tuhan? Adakah ciri khusus yang bisa membuat kita mampu membedakan agama universal ini dengan agama-agama lainnya?
Jika kalian percaya bahwa karya Tuhan jauh melampaui karya-karya manusia, maka agama universal ini tentunya memiliki keunggulan yang jauh melampaui agama lainnya. Keunggulan itu menjadi mutlak dan tak terbantahkan lagi manakala di dalam agama universal itu terdapat unsur-unsur yang hanya mungkin dibuat oleh Tuhan sendiri.
Untuk apa Tuhan menciptakan agama universal kalau manusia sendiri sudah mampu menciptakan agama yang setara dengan itu? Tuhan menciptakan agama universal karena manusia memang tidak mampu menciptakan agama yang semacam itu. Dengan kata lain dalam agama universal itu pasti terdapat unsur-unsur yang tidak mungkin dapat dibuat oleh tangan manusia seberapa hebatnyapun manusia itu.
Jadi inilah kesimpulanku: agama universal selain memiliki keunggulan yang melampaui agama-agama lainnya juga memiliki unsur-unsur yang tidak mungkin diciptakan oleh manusia, tidak peduli seberapapun kerasnya usaha mereka dan sampai kapanpun mereka mencobanya. Dengan demikian ada landasan obyektif untuk memilih manakah agama universal itu diantara sekian banyak agama yang ada.
Aku tidak ingin mengatakan bahwa aku berangkat dari sikap yang sepenuhnya netral seolah-olah saat ini aku tidak memeluk agama apapun. Dalam perjalanan hidupku aku telah berkesempatan mempelajari dan menjalani berbagai ajaran agama sampai akhirnya aku menemukan agama universal itu, yaitu Katolik. Kebetulan dari namanyapun Katolik sudah berarti universal. Aku tidak memilihnya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan subyektif saja, tapi juga berdasarkan pertimbangan-pertimbangan obyektif. Antara lain konsep-konsep ajarannya yang melampaui agama manapun juga, dan dalam agama Katolik terdapat elemen-elemen mendasar yang sangat kokoh yang tidak mungkin dapat dibuat oleh manusia. Ini yang membuatnya unggul jauh melampaui agama-agama lain yang tidak diciptakan Tuhan. Aku akan berupaya menjelaskan ini semua kepadamu, selain untuk membantumu memilih agama yang benar juga sebagai bagian dari pertanggungjawaban imanku sendiri.
Satu Kawanan Satu Gembala (2): Naiklah Keatas
Kemudian naiklah Musa dari dataran Moab ke atas gunung Nebo, yakni ke atas puncak Pisga, yang di tentangan Yerikho, lalu TUHAN memperlihatkan kepadanya seluruh negeri itu: daerah Gilead sampai ke kota Dan, seluruh Naftali, tanah Efraim dan Manasye, seluruh tanah Yehuda sampai laut sebelah barat, Tanah Negeb dan lembah Yordan, lembah Yerikho, kota pohon korma itu, sampai Zoar.
(Ul. 34:1-3)
-----------------------
Aku akan mulai dengan cerita sederhana ini.
Ada dua anak yang sedang mencari jalan pulang ke rumahnya. Di tengah hutan mereka tersesat dan bingung dengan banyaknya pilihan jalan. Mereka berpikir semua jalan-jalan itu tentunya akan membawa mereka pergi dari tempat itu, tapi apakah jalan tersebut akan membawa mereka pulang? Belum tentu! Merekapun kebingungan dan mulai menangis tidak tahu harus memilih jalan yang mana. Beberapa saat kemudian kakaknya mulai dapat menguasai diri dan berpikir dengan jernih.
"Adikku, jangan menangis. Kita tidak mungkin sampai di rumah kalau engkau terus menangis seperti ini. Ayo kita naik ke atas pohon yang tinggi, supaya kita bisa melihat jalan mana yang bisa membawa kita pulang ke rumah."
Mulailah mereka naik ke pohon yang tinggi. Semakin tinggi mereka naik, semakin jelas ke arah mana jalan-jalan tersebut akan membawa mereka. Ada jalan yang hanya berputar-putar di sekitar hutan, ada jalan yang menuju hutan lain, ada juga jalan yang tampaknya mengarah ke rumah mereka tapi sesungguhnya justru membawa mereka menjauh dari rumah. Setelah mengamati semuanya dengan seksama akhirnya mereka menemukan sebuah jalan yang bisa membawa mereka pulang ke rumah. Merekapun turun dan mengikuti jalan tersebut hingga akhirnya sampai di rumah dengan selamat.
Begitulah anakku, dulu manakala manusia masih terkotak-kotak pada komunitasnya sendiri seorang anak tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti agama orang tua atau masyarakat sekitarnya. Dalam kondisi seperti itu engkau tidak akan disalahkan sepenuhnya jika mengikuti agama yang kurang baik karena memang hanya itu jalan terbaik yang tersedia. Tapi sekarang tidak demikian lagi, engkau dihadapkan pada banyak pilihan agama yang masing-masing mengklaim dirinya sebagai jalan kebenaran. Bukan hanya kalian tapi ada begitu banyak orang di seluruh dunia ini yang berada dalam kebingungan untuk memilih jalan kebenaran di tengah begitu banyaknya pilihan agama-agama yang ada.
Ada yang memilih jalan berdasarkan dorongan hatinya dan pertimbangan-pertimbangan yang sederhana seperti keuntungan-keuntungan ekonomis maupun politis, ada juga yang sekedar mengikuti apa yang dipilih oleh orang tua, teman hidup, atau lingkungannya. Cara demikian sangat besar resikonya dan sungguh-sungguh tidak bertanggungjawab. Tak ada jaminan agama yang menarik dan semarak adalah agama yang benar. Tak ada jaminan agama yang memberikan keuntungan-keuntungan duniawi adalah agama yang benar. Dan tak ada jaminan agama yang diikuti orang-orang yang terdekat dengan kita atau agama yang secara tradisi diikuti keluarga kita secara turun-temurun adalah agama yang benar.
Aku mengharapkan kalian bertindak seperti kedua anak yang tersesat itu: naiklah ke atas dan lihatlah jalan mana yang akan membawamu pulang. Yang kumaksudkan dengan naik ke atas adalah kalian harus membebaskan diri dari sikap-sikap subyektif, pandangan-pandangan sempit, tradisi-tradisi yang keliru dan tawaran-tawaran kebenaran palsu. Selanjutnya kalian harus mulai menggunakan akal budi dan hati nurani supaya kalian dapat melihat dengan lebih jelas kemana agama-agama itu akan mengarahkan jiwamu dan agama mana yang akan mengarahkanmu pada kebenaran yang sesungguhnya. Hanya dengan cara naik ke atas engkau dapat melihat kebenaran sejati.
Dengan menggunakan akal budi dan hati nurani kalian akan melihat bahwa semua agama memang mengajarkan kebaikan, tapi sesungguhnya kebaikan yang diajarkan sekian banyak agama yang berbeda-beda itu tidak sama. Engkau akan melihatnya kalau engkau mau naik ke atas. Ini seperti cerita di atas, semua jalan memang akan membawa kedua anak pergi dari tempat itu, tapi tidak semua jalan dapat mengarahkan anak-anak itu pulang. Melalui akal budi dan nurani, kalian akan mengetahui ke arah mana tujuan perjalanan hidupmu yang sesungguhnya, dan jalan mana yang akan membawa kalian ke tujuan itu. Sekarang aku akan mencoba mengajak kalian naik ke atas untuk melihat jalan mana yang membawa kalian sampai ke tempat tujuan.
(Ul. 34:1-3)
-----------------------
Aku akan mulai dengan cerita sederhana ini.
Ada dua anak yang sedang mencari jalan pulang ke rumahnya. Di tengah hutan mereka tersesat dan bingung dengan banyaknya pilihan jalan. Mereka berpikir semua jalan-jalan itu tentunya akan membawa mereka pergi dari tempat itu, tapi apakah jalan tersebut akan membawa mereka pulang? Belum tentu! Merekapun kebingungan dan mulai menangis tidak tahu harus memilih jalan yang mana. Beberapa saat kemudian kakaknya mulai dapat menguasai diri dan berpikir dengan jernih.
"Adikku, jangan menangis. Kita tidak mungkin sampai di rumah kalau engkau terus menangis seperti ini. Ayo kita naik ke atas pohon yang tinggi, supaya kita bisa melihat jalan mana yang bisa membawa kita pulang ke rumah."
Mulailah mereka naik ke pohon yang tinggi. Semakin tinggi mereka naik, semakin jelas ke arah mana jalan-jalan tersebut akan membawa mereka. Ada jalan yang hanya berputar-putar di sekitar hutan, ada jalan yang menuju hutan lain, ada juga jalan yang tampaknya mengarah ke rumah mereka tapi sesungguhnya justru membawa mereka menjauh dari rumah. Setelah mengamati semuanya dengan seksama akhirnya mereka menemukan sebuah jalan yang bisa membawa mereka pulang ke rumah. Merekapun turun dan mengikuti jalan tersebut hingga akhirnya sampai di rumah dengan selamat.
Begitulah anakku, dulu manakala manusia masih terkotak-kotak pada komunitasnya sendiri seorang anak tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti agama orang tua atau masyarakat sekitarnya. Dalam kondisi seperti itu engkau tidak akan disalahkan sepenuhnya jika mengikuti agama yang kurang baik karena memang hanya itu jalan terbaik yang tersedia. Tapi sekarang tidak demikian lagi, engkau dihadapkan pada banyak pilihan agama yang masing-masing mengklaim dirinya sebagai jalan kebenaran. Bukan hanya kalian tapi ada begitu banyak orang di seluruh dunia ini yang berada dalam kebingungan untuk memilih jalan kebenaran di tengah begitu banyaknya pilihan agama-agama yang ada.
Ada yang memilih jalan berdasarkan dorongan hatinya dan pertimbangan-pertimbangan yang sederhana seperti keuntungan-keuntungan ekonomis maupun politis, ada juga yang sekedar mengikuti apa yang dipilih oleh orang tua, teman hidup, atau lingkungannya. Cara demikian sangat besar resikonya dan sungguh-sungguh tidak bertanggungjawab. Tak ada jaminan agama yang menarik dan semarak adalah agama yang benar. Tak ada jaminan agama yang memberikan keuntungan-keuntungan duniawi adalah agama yang benar. Dan tak ada jaminan agama yang diikuti orang-orang yang terdekat dengan kita atau agama yang secara tradisi diikuti keluarga kita secara turun-temurun adalah agama yang benar.
Aku mengharapkan kalian bertindak seperti kedua anak yang tersesat itu: naiklah ke atas dan lihatlah jalan mana yang akan membawamu pulang. Yang kumaksudkan dengan naik ke atas adalah kalian harus membebaskan diri dari sikap-sikap subyektif, pandangan-pandangan sempit, tradisi-tradisi yang keliru dan tawaran-tawaran kebenaran palsu. Selanjutnya kalian harus mulai menggunakan akal budi dan hati nurani supaya kalian dapat melihat dengan lebih jelas kemana agama-agama itu akan mengarahkan jiwamu dan agama mana yang akan mengarahkanmu pada kebenaran yang sesungguhnya. Hanya dengan cara naik ke atas engkau dapat melihat kebenaran sejati.
Dengan menggunakan akal budi dan hati nurani kalian akan melihat bahwa semua agama memang mengajarkan kebaikan, tapi sesungguhnya kebaikan yang diajarkan sekian banyak agama yang berbeda-beda itu tidak sama. Engkau akan melihatnya kalau engkau mau naik ke atas. Ini seperti cerita di atas, semua jalan memang akan membawa kedua anak pergi dari tempat itu, tapi tidak semua jalan dapat mengarahkan anak-anak itu pulang. Melalui akal budi dan nurani, kalian akan mengetahui ke arah mana tujuan perjalanan hidupmu yang sesungguhnya, dan jalan mana yang akan membawa kalian ke tujuan itu. Sekarang aku akan mencoba mengajak kalian naik ke atas untuk melihat jalan mana yang membawa kalian sampai ke tempat tujuan.
Satu Kawanan Satu Gembala (1): Untuk Anak-Anakku
Anak-anakku, kalian adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepadaku. Sama seperti kata-kata para bijak, kalian bukanlah milikku ataupun milik kami orang tuamu. Kalian adalah pribadi-pribadi bebas ciptaan Tuhan yang dipercayakan pada kami.
Adalah sebuah kebahagiaan dan kegembiraan bagi kami karena telah dipercaya Tuhan untuk menjadi sarana kehadiran kalian di dunia. Tapi bersama dengan itu di dalamnya terkandung suatu tugas dan tanggung jawab yang berat sekaligus suci, yaitu membimbing dan membesarkan kalian sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri.
Di antara sekian banyak tugas dan kewajiban kami dalam membesarkan kalian, bagiku salah satu yang terpenting dan terluhur adalah ini: mengarahkan kalian ke dalam jalan Tuhan supaya kalian dapat menapaki jalan yang telah dipersiapkanNya untuk menjadi manusia yang utuh sesuai dengan kehendakNya.
Ini bukan tugas yang ringan, tapi sebaliknya sangat berat dan menuntut seluruh kemampuan terbaik yang aku miliki. Tugas ini sungguh berat karena kalian hidup dalam masyarakat yang plural dimana ada banyak jalan yang memproklamirkan diri sebagai jalan Tuhan yang benar sehingga kebenaran sejati semakin sulit ditemukan.
Dan yang lebih berat lagi karena kalian dibesarkan dalam dua tradisi iman yang berbeda. Ibumu, sama seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, mengikuti agama Islam sebagai jalan hidupnya. Sebaliknya aku ayahmu, sekalipun dulu sedikit-banyak pernah menjalani hidup sebagai seorang muslim serta pernah mengikuti berbagai ajaran agama dan kepercayaan, sekarang telah menetapkan pilihan menjadi seorang Katolik.
Memang hidup dalam kondisi demikian membuat kalian sulit untuk menentukan pilihan agama. Tapi menurutku hal tersebut justru memiliki keuntungan tersendiri karena kalian dituntut memiliki kesadaran untuk memilih agama secara bertanggungjawab, bukan mengikuti tradisi yang belum tentu benar.
Kalian tentu tidak akan memilih Katolik hanya karena ingin mengikuti agama ayahmu, sikap itu akan melukai ibumu yang telah melahirkan kalian dengan susah payah dan mencintai kalian lebih dari dirinya sendiri. Atau kalian juga tidak akan memilih Islam hanya karena ingin mengikuti ibumu, sikap tersebut tentunya akan mengecewakan dan melukai ayahmu yang juga menyayangi kalian sama besarnya dengan yang dilakukan ibumu.
Kalianpun jangan memilih agama karena agama tersebut sudah diikuti oleh nenek-moyang kalian. Ibumu, ayahmu, bahkan nenek-moyangmu belum tentu benar dalam memilih agama. Jangan sampai kesalahan mereka kalian ikuti dan kalian telan butal-bulat begitu saja. Demi kebenaran, kalian berhak untuk mengambil pilihan yang berbeda dengan siapapun. Kalian punya kebebasan yang suci untuk memilih kebenaran sejati.
Juga hendaknya kalian tidak memilih agama hanya karena agama tersebut cocok atau sesuai dengan selera kalian. Agama bukanlah pakaian yang bisa kalian pilih berdasarkan unsur suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok. Sewaktu kalian bersekolah, mungkin jajanan yang penuh warna-warni dengan aneka rasa nikmat yang ditawarkan penjual makanan di luar sekolah lebih menarik selera dibanding bekal makanan yang sehat yang telah dipersiapkan ibumu dari rumah. Tapi kemungkinan besar jajanan itu bukanlah makanan yang sehat dan tidak selayaknya kalian makan. Demikian juga dalam memilih agama, jangan kalian memilihnya hanya karena alasan-alasan subyektif (suka tidak suka, cocok tidak cocok, senang tidak senang) karena dengan begitu kalian telah mengabaikan akal budi dan hati nurani yang telah diberikan Tuhan sebagai bekal untuk mencari dan menemukan kebenaran. Perlu kalian ketahui, dalam banyak hal jalan kebenaran sejati justru jauh tidak menarik dan lebih sempit dibanding kebenaran palsu.
Sebaliknya kalian dituntut untuk memilih suatu agama berdasarkan pertimbangan seluruh akal budi dan hati nuranimu yang terdalam bahwa agama tersebut memang benar dan sungguh-sungguh berasal dari Tuhan. Jika hal tersebut adalah alasannya, apapun pilihannya maka aku maupun ibumu tidak punya alasan untuk kecewa dan sakit hati oleh karena anaknya telah menemukan jalan kebenaran.
Sebagai ayahmu aku tidak akan membiarkan kalian mencari jalan kebenaran itu sendirian tanpa arah dan terombang-ambing diantara sekian banyak pilihan. Dan sebagai ujud dari tanggungjawabku untuk membimbing kalian, pada tulisan sederhana ini aku akan menuangkan apa yang kuketahui berdasarkan anugerah dan hikmat pengertian yang telah diberikan Tuhan kepadaku selama ini. Inilah bagian terbaik dari hidupku dan akan kuberikan kepada kalian dengan tujuan agar kalian dapat menemukan jalan kebenaran sebagaimana aku percaya akupun telah menemukan jalan kebenaran itu. Mungkin saat kalian membaca ini, kalian masih sangat belia dan belum semuanya dapat kalian pahami isinya. Baca dan pahami apa yang dapat kalian pahami saat ini, dalam perjalanan waktu semoga Tuhan memberi kalian hikmat pengertian yang baik untuk memahami seluruhnya secara bertahap.
Sekalipun demikian aku tidak pernah memaksa kalian menerima begitu saja apa yang kukatakan dalam buku ini, kalian punya hak yang suci untuk berpikir dan menilai berdasarkan akal budi dan hati nurani yang dianugerahkan Tuhan kepada kalian. Tapi dari diriku aku percaya bahwa aku telah berkata dan mengajarkan apa yang benar. Kalian adalah anugerah terbesar dalam hidupku, kalian adalah darah dagingku sendiri dan aku tidak akan pernah menipu atau menyesatkan darah dagingku sendiri.
Adalah sebuah kebahagiaan dan kegembiraan bagi kami karena telah dipercaya Tuhan untuk menjadi sarana kehadiran kalian di dunia. Tapi bersama dengan itu di dalamnya terkandung suatu tugas dan tanggung jawab yang berat sekaligus suci, yaitu membimbing dan membesarkan kalian sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri.
Di antara sekian banyak tugas dan kewajiban kami dalam membesarkan kalian, bagiku salah satu yang terpenting dan terluhur adalah ini: mengarahkan kalian ke dalam jalan Tuhan supaya kalian dapat menapaki jalan yang telah dipersiapkanNya untuk menjadi manusia yang utuh sesuai dengan kehendakNya.
Ini bukan tugas yang ringan, tapi sebaliknya sangat berat dan menuntut seluruh kemampuan terbaik yang aku miliki. Tugas ini sungguh berat karena kalian hidup dalam masyarakat yang plural dimana ada banyak jalan yang memproklamirkan diri sebagai jalan Tuhan yang benar sehingga kebenaran sejati semakin sulit ditemukan.
Dan yang lebih berat lagi karena kalian dibesarkan dalam dua tradisi iman yang berbeda. Ibumu, sama seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, mengikuti agama Islam sebagai jalan hidupnya. Sebaliknya aku ayahmu, sekalipun dulu sedikit-banyak pernah menjalani hidup sebagai seorang muslim serta pernah mengikuti berbagai ajaran agama dan kepercayaan, sekarang telah menetapkan pilihan menjadi seorang Katolik.
Memang hidup dalam kondisi demikian membuat kalian sulit untuk menentukan pilihan agama. Tapi menurutku hal tersebut justru memiliki keuntungan tersendiri karena kalian dituntut memiliki kesadaran untuk memilih agama secara bertanggungjawab, bukan mengikuti tradisi yang belum tentu benar.
Kalian tentu tidak akan memilih Katolik hanya karena ingin mengikuti agama ayahmu, sikap itu akan melukai ibumu yang telah melahirkan kalian dengan susah payah dan mencintai kalian lebih dari dirinya sendiri. Atau kalian juga tidak akan memilih Islam hanya karena ingin mengikuti ibumu, sikap tersebut tentunya akan mengecewakan dan melukai ayahmu yang juga menyayangi kalian sama besarnya dengan yang dilakukan ibumu.
Kalianpun jangan memilih agama karena agama tersebut sudah diikuti oleh nenek-moyang kalian. Ibumu, ayahmu, bahkan nenek-moyangmu belum tentu benar dalam memilih agama. Jangan sampai kesalahan mereka kalian ikuti dan kalian telan butal-bulat begitu saja. Demi kebenaran, kalian berhak untuk mengambil pilihan yang berbeda dengan siapapun. Kalian punya kebebasan yang suci untuk memilih kebenaran sejati.
Juga hendaknya kalian tidak memilih agama hanya karena agama tersebut cocok atau sesuai dengan selera kalian. Agama bukanlah pakaian yang bisa kalian pilih berdasarkan unsur suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok. Sewaktu kalian bersekolah, mungkin jajanan yang penuh warna-warni dengan aneka rasa nikmat yang ditawarkan penjual makanan di luar sekolah lebih menarik selera dibanding bekal makanan yang sehat yang telah dipersiapkan ibumu dari rumah. Tapi kemungkinan besar jajanan itu bukanlah makanan yang sehat dan tidak selayaknya kalian makan. Demikian juga dalam memilih agama, jangan kalian memilihnya hanya karena alasan-alasan subyektif (suka tidak suka, cocok tidak cocok, senang tidak senang) karena dengan begitu kalian telah mengabaikan akal budi dan hati nurani yang telah diberikan Tuhan sebagai bekal untuk mencari dan menemukan kebenaran. Perlu kalian ketahui, dalam banyak hal jalan kebenaran sejati justru jauh tidak menarik dan lebih sempit dibanding kebenaran palsu.
Sebaliknya kalian dituntut untuk memilih suatu agama berdasarkan pertimbangan seluruh akal budi dan hati nuranimu yang terdalam bahwa agama tersebut memang benar dan sungguh-sungguh berasal dari Tuhan. Jika hal tersebut adalah alasannya, apapun pilihannya maka aku maupun ibumu tidak punya alasan untuk kecewa dan sakit hati oleh karena anaknya telah menemukan jalan kebenaran.
Sebagai ayahmu aku tidak akan membiarkan kalian mencari jalan kebenaran itu sendirian tanpa arah dan terombang-ambing diantara sekian banyak pilihan. Dan sebagai ujud dari tanggungjawabku untuk membimbing kalian, pada tulisan sederhana ini aku akan menuangkan apa yang kuketahui berdasarkan anugerah dan hikmat pengertian yang telah diberikan Tuhan kepadaku selama ini. Inilah bagian terbaik dari hidupku dan akan kuberikan kepada kalian dengan tujuan agar kalian dapat menemukan jalan kebenaran sebagaimana aku percaya akupun telah menemukan jalan kebenaran itu. Mungkin saat kalian membaca ini, kalian masih sangat belia dan belum semuanya dapat kalian pahami isinya. Baca dan pahami apa yang dapat kalian pahami saat ini, dalam perjalanan waktu semoga Tuhan memberi kalian hikmat pengertian yang baik untuk memahami seluruhnya secara bertahap.
Sekalipun demikian aku tidak pernah memaksa kalian menerima begitu saja apa yang kukatakan dalam buku ini, kalian punya hak yang suci untuk berpikir dan menilai berdasarkan akal budi dan hati nurani yang dianugerahkan Tuhan kepada kalian. Tapi dari diriku aku percaya bahwa aku telah berkata dan mengajarkan apa yang benar. Kalian adalah anugerah terbesar dalam hidupku, kalian adalah darah dagingku sendiri dan aku tidak akan pernah menipu atau menyesatkan darah dagingku sendiri.
Sabtu, 2008 Juli 12
Penyakit Kronis Islam
Adalah sebuah ironi ketika begitu banyak tindakan-tindakan teror di berbagai belahan dunia dilakukan dengan pembenaran yang mengatasnamakan ISLAM. Terorisme bernuansa islami memang dalam beberapa tahun terakhir ini telah menjadi keprihatinan mendalam semua orang beradab. Ikon terorisme Islam di jaman modern yang begitu membekas mungkin adalah tragedi 9/11 (WTC) di New York.
Agama yang seharusnya membawa perdamaian sekarang menjadi sosok yang mengancam perdamaian. Nama Islam, suka atau tidak suka, kini memang erat kaitannya dengan terorisme dan kekerasan. Seandainya dibuat sebuah polling tentang agama yang terkait tindak kekerasan dan terorisme maka saya yakin Islam akan menjadi pemenangnya.
Apakah ini sekedar penafsiran Islam yang keliru atau memang inilah wajah Islam yang sesungguhnya? Tentu saja golongan Islam moderat yang merasa malu dan tercoreng wajahnya selalu mengatakan Islam adalah agama damai yang menentang kekerasan. Tapi kaum jihadis toh terus tumbuh makin banyak dan tetap menafsirkan ajaran Islam sebagai pembenaran tindakan-tindakan teror mereka.
Islam Moderat, Sang 'PR'
Kesibukan cendekiawan dan ulama Islam moderat yang mencoba meyakinkan dunia tentang wajah Islam yang damai justru menguntungkan kaum jihadis. Sementara dunia berusaha memahami Islam menurut penafsiran moderat, kaum fundamentalis terus menjalankan rencana-rencana terornya tanpa ada satu pihakpun yang bisa menghentikan mereka. Sayangnya kaum cendekiawan dan ulama moderat hanya sibuk berusaha berbicara pada dunia untuk mengubah persepsi dunia tentang Islam, bukannya pada kaum jihadis yang seharusnya mereka ubah cara berpikirnya.
Pada kenyataannya kaum Islam moderat seperti Abdurrahman Wahid, Nurcholis Majid, Jalaludin Rahmat,dll memang tidak mampu berbuat apa-apa mengatasi masalah ini, mereka tidak punya kekuasaan dan superioritas apapun untuk memaksakan penafsiran Islam moderat pada para jihadis. Apapun penafsiran dan ajaran para kaum moderat, tidak akan pernah didengar oleh kaum jihadis karena mereka sudah punya ulama otoritatif yang menafsirkan Islam sejalan dengan ideologi mereka.
Singkatnya yang dilakukan oleh golongan Islam moderat tidak lebih dari upaya mengubah persepsi orang lain tentang Islam. Para kaum moderat tidak lebih dari petugas PR dalam agama Islam.
Islam Dan Kekerasan
Ironisnya, ajaran yang menganjurkan penggunaan kekerasan itu memang ada di dalam Islam, meski ini memiliki batasan-batasan tertentu. Ajaran-ajaran tersebut bertebaran di Alquran dan Hadis. Apa yang dilakukan cendekiawan dan ulama moderat cuma berusaha mengabaikan ayat-ayat keras ini, atau menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan makna yang bersifat rohani, bukan fisik. Tapi sesungguhnya di dalam Islam tidak ada yang bisa memaksakan penafsiran lembut semacam ini. Bahkan sebagian orang menganggap arti harafiahnya yang keras lebih kuat dari pada penafsiran lembut.
Harus diakui upaya kaum moderat selalu gagal untuk membuat perubahan yang permanen. Mereka hanya mampu mengubah trend pemikiran yang bersifat sementara, dan kemudian Islam akan selalu kembali pada wajah aslinya. Tampaknya kekerasan memang sudah menjadi karakter dasar Islam yang tidak dapat diubah dan ditutupi oleh siapapun.
Bagi kaum jihadis, ayat-ayat pedang lebih mudah diterima apa adanya tanpa perlu penafsiran yang rumit. Dengan cara ini mereka dengan mudah mengakomodasi nafsu-nafsu kekerasan dengan pembenaran ajaran Islam untuk mencapai tujuan, entah politis entah religius. Terlebih lagi ini ditunjang dengan contoh-contoh aplikasi ajaran keras tersebut pada jaman Muhamad, nabi mereka. Penafsiran yang diberikan golongan moderat bagi mereka tidak lebih hanya sebuah alternatif yang sama sekali tidak menarik. Tidak ada kewajiban apapun untuk menerima penafsiran kaum moderat. Setiap upaya kaum moderat akan selalu berakhir sia-sia.
Saya ambil contoh sebuah ayat Alquran:
Q 9:29
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah ataupun kepada Hari Kiamat, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab (Yahudi dan Kristen) kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.
Islam moderat akan berusaha mengatakan bahwa ayat ini tidak relevan untuk diterapkan pada masa kini karena umat Islam tidak berperang melawan siapapun melainkan bersama-sama dengan umat lain membangun dunia yang damai. Sebuah pandangan yang menyejukkan dan membuat orang percaya bahwa Islam itu membawa damai.
Tapi kaum jihadis dan ulama-ulamanya melihat dunia dengan cara lain, mereka melihat Islam yang sedang dipinggirkan dan menjadi korban ketidakadilan. Oleh karena itu mereka memandang ayat tersebut sebagai perintah Tuhan untuk memerangi negara atau kelompok yang mereka anggap sebagai musuh-musuh Islam. Pandangan inilah yang sedang tumbuh dengan subur sementara dunia masih terbuai oleh penafsiran Islam moderat.
Penafsiran mana yang benar? Tidak ada seorangpun yang bisa menentukannya.Masing-masing golongan mendapat dukungan ulama-ulamanya sendiri.
Relativisme penafsiran memang menjadi masalah pelik bagi Islam. Sambil mengagung-agungkan Islam sebagai agama yang paling sempurna, tidak ada satu pihakpun yang bisa menentukan bagaimana 'agama yang sempurna' itu harus ditafsirkan. Semua orang yang entah bagaimana asal mulanya mendapat predikat ulama bisa menafsirkan Islam dengan cara apapun yang mereka inginkan.
Akibatnya ajaran Islam menjadi begitu fleksibel, bisa ditafsirkan untuk tujuan apapun. Termasuk untuk tujuan-tujuan kekerasan yang dibungkus dengan dalih 'pembelaan terhadap agama'. Dengan demikian dalam Islam akan selalu ada golongan yang memilih melakukan penafsiran yang keras untuk mengakomodasi kepentingan kelompoknya sendiri dan tidak ada satu golonganpun yang bisa mencegahnya.
Membongkar mitos dan menampilkan Islam apa adanya.
Lalu bagaimana solusinya? Islam sudah terlanjur dimitoskan sebagai ajaran yang sempurna, tak ada apapun yang dapat dilakukan manusia untuk mengubah Islam tanpa mengundang protes dan pertentangan. Setiap upaya perubahan Islam akan selalu ditolak. Kaum Islam liberal dan moderat tidak akan pernah bisa menghentikan siapapun yang ingin menafsirkan Islam secara keras. Siapapun di dunia tidak akan bisa mencegah orang menafsirkan ayat-ayat keras guna melakukan tindakan teror yang merusak kedamaian. Adanya unsur kekerasan dalam ajaran Islam dan relativisme penafsiran adalah persoalan dilematis dalam Islam. Ini sebuah penyakit kronis yang tidak mungkin disembuhkan lagi. Ini adalah sebuah kesalahan mendasar yang mungkin tidak disadari pendiri Islam. Dan penyakit itu sekarang mulai menebarkan terornya pada dunia.
Buat saya tidak ada solusi lain selain mengungkapkan Islam apa adanya termasuk memperlihatkan sisi Islam yang keras. Dengan demikian orang akan menyadari wajah Islam yang sesungguhnya dan akan berpikir untuk meninggalkan Islam. Karena Islam dengan segala cacat bawaannya sudah tidak mungin diperbaiki lagi, maka jalan satu-satunya adalah mengajak sebanyak mungkin pengikut Islam yang masih merindukan kedamaian untuk segera meninggalkan Islam. Ini solusi terbaik.
Gambaran Islam yang lembut dan damai dari kaum Islam moderat harus dikritisi dan dianggap sebagai upaya untuk mengelabui manusia dari kenyataan Islam yang sebenarnya. Saya pribadi menyadari betul adanya cacat produk dari agama bernama Islam ini. Oleh karena itu saya tidak pernah bersimpati dengan upaya-upaya para golongan Islam moderat untuk 'menetralisir' kondisi Islam yang sesungguhnya. Sama seperti saya tidak pernah bersimpati dengan para juru bicara perusahaan pelaku pembalakan liar ataupun pengacara para koruptor. Sekalipun saya tahu orang-orang Islam moderat semacam Gus Dur atau Nurcholis Madjid mungkin tidak berniat jahat dan mengelabui publik. Mereka hanyalah orang-orang tulus yang terlanjur terjebak sebagai orang Islam dan ingin mencoba menunjukkan sisi baik Islam.
Bagi saya, mitos-mitos yang mengatakan Islam sebagai agama damai harus dibongkar dan kenyataan seperti apa Islam sesungguhnya harus diungkapkan. Biarkan semua orang melihat Islam apa adanya, tanpa polesan apapun. Orang harus disadarkan bahwa Islam memang memiliki kesalahan yang mendasar dalam ajarannya yang sama sekali tidak dapat diperbaiki lagi. Islam adalah agama rusak yang sejak awal tidak layak untuk menjadi agama manusia. Tetapi sekeras dan sekejam apapun ajaran Islam, tidak akan berarti apa-apa lagi bagi dunia kalau sudah tidak ada pengikutnya. Saya percaya pada akhirnya kebenaran akan mengalahkan Islam.
Agama yang seharusnya membawa perdamaian sekarang menjadi sosok yang mengancam perdamaian. Nama Islam, suka atau tidak suka, kini memang erat kaitannya dengan terorisme dan kekerasan. Seandainya dibuat sebuah polling tentang agama yang terkait tindak kekerasan dan terorisme maka saya yakin Islam akan menjadi pemenangnya.
Apakah ini sekedar penafsiran Islam yang keliru atau memang inilah wajah Islam yang sesungguhnya? Tentu saja golongan Islam moderat yang merasa malu dan tercoreng wajahnya selalu mengatakan Islam adalah agama damai yang menentang kekerasan. Tapi kaum jihadis toh terus tumbuh makin banyak dan tetap menafsirkan ajaran Islam sebagai pembenaran tindakan-tindakan teror mereka.
Islam Moderat, Sang 'PR'
Kesibukan cendekiawan dan ulama Islam moderat yang mencoba meyakinkan dunia tentang wajah Islam yang damai justru menguntungkan kaum jihadis. Sementara dunia berusaha memahami Islam menurut penafsiran moderat, kaum fundamentalis terus menjalankan rencana-rencana terornya tanpa ada satu pihakpun yang bisa menghentikan mereka. Sayangnya kaum cendekiawan dan ulama moderat hanya sibuk berusaha berbicara pada dunia untuk mengubah persepsi dunia tentang Islam, bukannya pada kaum jihadis yang seharusnya mereka ubah cara berpikirnya.
Pada kenyataannya kaum Islam moderat seperti Abdurrahman Wahid, Nurcholis Majid, Jalaludin Rahmat,dll memang tidak mampu berbuat apa-apa mengatasi masalah ini, mereka tidak punya kekuasaan dan superioritas apapun untuk memaksakan penafsiran Islam moderat pada para jihadis. Apapun penafsiran dan ajaran para kaum moderat, tidak akan pernah didengar oleh kaum jihadis karena mereka sudah punya ulama otoritatif yang menafsirkan Islam sejalan dengan ideologi mereka.
Singkatnya yang dilakukan oleh golongan Islam moderat tidak lebih dari upaya mengubah persepsi orang lain tentang Islam. Para kaum moderat tidak lebih dari petugas PR dalam agama Islam.
Islam Dan Kekerasan
Ironisnya, ajaran yang menganjurkan penggunaan kekerasan itu memang ada di dalam Islam, meski ini memiliki batasan-batasan tertentu. Ajaran-ajaran tersebut bertebaran di Alquran dan Hadis. Apa yang dilakukan cendekiawan dan ulama moderat cuma berusaha mengabaikan ayat-ayat keras ini, atau menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan makna yang bersifat rohani, bukan fisik. Tapi sesungguhnya di dalam Islam tidak ada yang bisa memaksakan penafsiran lembut semacam ini. Bahkan sebagian orang menganggap arti harafiahnya yang keras lebih kuat dari pada penafsiran lembut.
Harus diakui upaya kaum moderat selalu gagal untuk membuat perubahan yang permanen. Mereka hanya mampu mengubah trend pemikiran yang bersifat sementara, dan kemudian Islam akan selalu kembali pada wajah aslinya. Tampaknya kekerasan memang sudah menjadi karakter dasar Islam yang tidak dapat diubah dan ditutupi oleh siapapun.
Bagi kaum jihadis, ayat-ayat pedang lebih mudah diterima apa adanya tanpa perlu penafsiran yang rumit. Dengan cara ini mereka dengan mudah mengakomodasi nafsu-nafsu kekerasan dengan pembenaran ajaran Islam untuk mencapai tujuan, entah politis entah religius. Terlebih lagi ini ditunjang dengan contoh-contoh aplikasi ajaran keras tersebut pada jaman Muhamad, nabi mereka. Penafsiran yang diberikan golongan moderat bagi mereka tidak lebih hanya sebuah alternatif yang sama sekali tidak menarik. Tidak ada kewajiban apapun untuk menerima penafsiran kaum moderat. Setiap upaya kaum moderat akan selalu berakhir sia-sia.
Saya ambil contoh sebuah ayat Alquran:
Q 9:29
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah ataupun kepada Hari Kiamat, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab (Yahudi dan Kristen) kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.
Islam moderat akan berusaha mengatakan bahwa ayat ini tidak relevan untuk diterapkan pada masa kini karena umat Islam tidak berperang melawan siapapun melainkan bersama-sama dengan umat lain membangun dunia yang damai. Sebuah pandangan yang menyejukkan dan membuat orang percaya bahwa Islam itu membawa damai.
Tapi kaum jihadis dan ulama-ulamanya melihat dunia dengan cara lain, mereka melihat Islam yang sedang dipinggirkan dan menjadi korban ketidakadilan. Oleh karena itu mereka memandang ayat tersebut sebagai perintah Tuhan untuk memerangi negara atau kelompok yang mereka anggap sebagai musuh-musuh Islam. Pandangan inilah yang sedang tumbuh dengan subur sementara dunia masih terbuai oleh penafsiran Islam moderat.
Penafsiran mana yang benar? Tidak ada seorangpun yang bisa menentukannya.Masing-masing golongan mendapat dukungan ulama-ulamanya sendiri.
Relativisme penafsiran memang menjadi masalah pelik bagi Islam. Sambil mengagung-agungkan Islam sebagai agama yang paling sempurna, tidak ada satu pihakpun yang bisa menentukan bagaimana 'agama yang sempurna' itu harus ditafsirkan. Semua orang yang entah bagaimana asal mulanya mendapat predikat ulama bisa menafsirkan Islam dengan cara apapun yang mereka inginkan.
Akibatnya ajaran Islam menjadi begitu fleksibel, bisa ditafsirkan untuk tujuan apapun. Termasuk untuk tujuan-tujuan kekerasan yang dibungkus dengan dalih 'pembelaan terhadap agama'. Dengan demikian dalam Islam akan selalu ada golongan yang memilih melakukan penafsiran yang keras untuk mengakomodasi kepentingan kelompoknya sendiri dan tidak ada satu golonganpun yang bisa mencegahnya.
Membongkar mitos dan menampilkan Islam apa adanya.
Lalu bagaimana solusinya? Islam sudah terlanjur dimitoskan sebagai ajaran yang sempurna, tak ada apapun yang dapat dilakukan manusia untuk mengubah Islam tanpa mengundang protes dan pertentangan. Setiap upaya perubahan Islam akan selalu ditolak. Kaum Islam liberal dan moderat tidak akan pernah bisa menghentikan siapapun yang ingin menafsirkan Islam secara keras. Siapapun di dunia tidak akan bisa mencegah orang menafsirkan ayat-ayat keras guna melakukan tindakan teror yang merusak kedamaian. Adanya unsur kekerasan dalam ajaran Islam dan relativisme penafsiran adalah persoalan dilematis dalam Islam. Ini sebuah penyakit kronis yang tidak mungkin disembuhkan lagi. Ini adalah sebuah kesalahan mendasar yang mungkin tidak disadari pendiri Islam. Dan penyakit itu sekarang mulai menebarkan terornya pada dunia.
Buat saya tidak ada solusi lain selain mengungkapkan Islam apa adanya termasuk memperlihatkan sisi Islam yang keras. Dengan demikian orang akan menyadari wajah Islam yang sesungguhnya dan akan berpikir untuk meninggalkan Islam. Karena Islam dengan segala cacat bawaannya sudah tidak mungin diperbaiki lagi, maka jalan satu-satunya adalah mengajak sebanyak mungkin pengikut Islam yang masih merindukan kedamaian untuk segera meninggalkan Islam. Ini solusi terbaik.
Gambaran Islam yang lembut dan damai dari kaum Islam moderat harus dikritisi dan dianggap sebagai upaya untuk mengelabui manusia dari kenyataan Islam yang sebenarnya. Saya pribadi menyadari betul adanya cacat produk dari agama bernama Islam ini. Oleh karena itu saya tidak pernah bersimpati dengan upaya-upaya para golongan Islam moderat untuk 'menetralisir' kondisi Islam yang sesungguhnya. Sama seperti saya tidak pernah bersimpati dengan para juru bicara perusahaan pelaku pembalakan liar ataupun pengacara para koruptor. Sekalipun saya tahu orang-orang Islam moderat semacam Gus Dur atau Nurcholis Madjid mungkin tidak berniat jahat dan mengelabui publik. Mereka hanyalah orang-orang tulus yang terlanjur terjebak sebagai orang Islam dan ingin mencoba menunjukkan sisi baik Islam.
Bagi saya, mitos-mitos yang mengatakan Islam sebagai agama damai harus dibongkar dan kenyataan seperti apa Islam sesungguhnya harus diungkapkan. Biarkan semua orang melihat Islam apa adanya, tanpa polesan apapun. Orang harus disadarkan bahwa Islam memang memiliki kesalahan yang mendasar dalam ajarannya yang sama sekali tidak dapat diperbaiki lagi. Islam adalah agama rusak yang sejak awal tidak layak untuk menjadi agama manusia. Tetapi sekeras dan sekejam apapun ajaran Islam, tidak akan berarti apa-apa lagi bagi dunia kalau sudah tidak ada pengikutnya. Saya percaya pada akhirnya kebenaran akan mengalahkan Islam.
Jumat, 2008 April 04
Islam Sebagai ANTITESIS AGAMA (4 - Habis): Deus Vult!
Siapakah pendusta itu?
Bukankah dia yang menyangkal
bahwa Yesus adalah Kristus?
Dia itu adalah antikristus,
yaitu dia yang menyangkal
baik Bapa maupun Anak.
(1 Yoh. 2:22)
Tulisan ini adalah bagian terakhir dari seri 'Islam Sebagai Antitesis Agama'. Pada bagian pertama saya menjelaskan bagaimana Islam berupaya mengacaukan rancangan keselamatan yang telah dibangun Tuhan sendiri tanpa terputus dalam bentuk Agama Universal, yang dimulai sejak jaman Abraham hingga hari ini (Paus Benediktus XVI). Lalu pada bagian kedua saya mencoba menunjukkan bagaimana Alquran di hadapan kriteria obyektif bukanlah kitab suci yang berasal dari Tuhan, sebaliknya kehadiran Alquran tidak lebih dari upaya untuk menyesatkan manusia dari Sabda Tuhan yang sesungguhnya. Pada bagian ketiga saya menunjukkan bagaimana Islam sebagai agama gagal menawarkan visi peradaban yang ideal bagi manusia, bahkan dalam banyak hal ajaran-ajaran Islam justru memiliki unsur-unsur yang merusak peradaban.
Tulisan-tulisan ini memang bernuansa anti-islam. Mengapa saya melakukannya? Sebenarnya apa yang saya lakukan kurang lebih memiliki semangat yang sama seperti yang dilakukan oleh St. John of Damascus (676 - 479), atau juga Peter The Venerable (1092 - 1156) dalam tulisan-tulisan mereka tentang Islam. Bagi saya tulisan-tulisan ini bukanlah ekspresi kebencian, sebaliknya ini adalah sebuah ekspresi dari kecintaan saya pada kebenaran. Kalau anda mencintai kebenaran, pada saat yang sama anda juga akan membenci ketidakbenaran atau apapun yang melawan kebenaran (antitesis kebenaran). Tidak mungkin anda mencintai kebenaran tapi bersikap setuju terhadap antitesisnya. Kecuali anda seorang yang plin-plan, tidak punya pendirian, atau agak pengecut!
Agama-Agama Misioner
Sebenarnya diantara semua agama-agama di dunia, kedua agama ini: kristianitas dan Islam, memiliki karakter khas yang sama yaitu agama yang bersifat misioner. Tapi keduanya memiliki doktrin yang berbeda dalam mewujudkan tujuannya.
Doktrin misioner Gereja dijiwai oleh ayat ini:
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. (Mat. 28:19)
Sementara itu doktrin misioner Islam dijiwai ayat ini:
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian…sampai mereka membayar Jizyah dengan patuh sedang mereka mereka dalam keadaan tunduk”. (Qur’an 9:29)
Silahkan cermati kedua ayat tersebut baik-baik... Yang satu mengajak orang untuk mengenal Yesus dan menjadikanNya sebagai teladan hidup, kemudian memberikan sarana keselamatan dalam rupa baptisan. Sedangkan yang satunya memisahkan manusia menjadi dua golongan: 'beriman' dan 'tidak beriman/kafir', lalu memerintahkan pihak 'beriman' untuk memerangi 'kafir' sampai mereka tunduk.
Tidak heran jika kedua agama ini memiliki kedua cara yang berbeda juga dalam upaya-upaya misionernya. Hampir empat abad pertama sejarahnya, Gereja perdana mampu menyebarkan ajaran Kristus sepenuhnya tanpa bantuan kekuasaan. Meski abad-abad selanjutnya Gereja juga berkolaborasi dengan kekuasaan, sejarah Gereja perdana menunjukkan bahwa kristianitas punya kemampuan untuk menyebar tanpa bantuan kekuasaan duiniawi. Kekuasaan bukanlah keharusan dalam karya misioner Gereja tetapi sekedar pilihan! Gereja punya kemampuan dialogis dan juga inkulturatif dalam mewujudkan karya misionernya.
Sementara itu sejak awal sejarah Islam, penyebaran agama selalu diikuti oleh tindakan ekspansi kekuasaan politik. Entah agama digunakan sebagai alat kekuasaan atau sebaliknya kekuasaan dijadikan alat bagi penyebaran agama. Yang jelas tak pernah ada masa yang cukup signifikan dimana Islam dapat berkembang tanpa bantuan kekuasaan politik.
Bagi saya salah satu unsur yang membedakan keduanya (selain doktrin-doktrin ajarannya) adalah soal teladan hidup. Bagi Gereja, Yesus Kristus adalah teladan utama dan sempurna yang menjadi sumber inspirasi bagi para pengikutNya. Sebaliknya bagi Islam teladan terbaik yang tersedia mau tidak mau harus Muhamat. Mengajukan kandidat lain sebagai teladan jelas sebuah pelecehan dan penghujatan. Ironisnya Muhamat memiliki karakter yang kompleks, disamping memiliki perbuatan baik yang mungkin cukup layak diteladani Muhamat juga banyak melakukan perbuatan-perbuatan tidak terpuji seperti menzinahi budak-budak, mengawini anak di bawah umur (6 tahun), membunuh, menjarah, dan banyak lagi.
Karena ketiadaan teladan yang layak maka Islam mau tidak mau harus disebarkan melalui propaganda (dakwah) yang hanya efektif jika didukung oleh kekuasaan politik. Selanjutnya penerapan hukum-hukum Islam (syariah) juga membutuhkan dukungan politik. Akibatnya Islam tidak pernah disebarkan murni sebagai sistem religius, tapi juga sekaligus sistem politik. Tidak percaya? Tantanglah kaum muslim untuk menyebarkan Islam tanpa bantuan kekuatan politik (dalam berbagai bentuknya), sampai kiamat mereka tidak akan mampu!
Invasi Islam: Perang Jihad
Ketika St. John of Damascus menulis tentang Islam, dia melihat Islam hanya sebagai bidaah yang cukup diatasi dengan cara membongkar kekeliruannya. St. John of Damaskus tidak mengira bahwa Islam adalah sebuah agama baru yang sejak awal memang dirancang untuk menentang kristianitas dan peradaban manusia. Memang Islam juga berasal dari keturunan Abraham dan percaya pada nabi-nabi yang ada di Kitab Suci, tapi Islam tidak sungguh-sungguh berasal dari agama Abraham! Islam bukanlah gerakan bidaah penerus arianisme, Islam adalah agama baru yang berbeda!
Sejak awal berdirinya Islam sudah berlumuran darah. Muhamat sendiri memimpin tidak kurang dari 70 operasi peperangan atas nama penyebaran Islam. Dan perang atas nama agama ini tidak berhenti dengan meninggalnya Muhamat. Para pengikutnya dengan setia meneruskan semangat jihad ini untuk melakukan invasi ke luar wilayah Arab. Ini adalah fakta sejarah.
Memanfaatkan kelemahan kekaisaran Romawi Timur akibat konflik internal dan peperangan dengan Persia selama bertahun-tahun, tentara-tentara Islam terus melakukan jihad dengan menginvasi wilayah-wilayah yang pada awalnya merupakan basis kekristenan. Termasuk juga kota suci Yerusalem, ketika patriark Yerusalem St. Sophronios pada tahun 638 terpaksa harus menyerahkan kota suci ini pada penguasaan muslim untuk menghindari bahaya kelaparan dan penghancuran kota. Pada masa inilah Islam menodai kota suci Yerusalem dengan membangun mesjid 'Dome of Rock' tepat di tengah-tengah Gunung Bait Allah (Yahweh's Temple Mount). Tindakan ini oleh St. Sophronios dianggap telah melanggar kesepakatan sebelumnya sehingga dia berteriak-teriak dan meratap, "Sungguh ini sebuah penghujatan dan perusakan yang dinubuatkan oleh Daniel!"
Tidak berhenti di situ saja, Islam terus melancarkan serangan jihadnya untuk menguasai Mesir, Armenia, Afrika Utara, dan provinsi-provinsi kekaisaran Rowawi Timur (Byzantium) . Bahkan pada tahun 711 tentara Islam berhasil memasuki Spanyol. Setidaknya dua per tiga wilayah kekristenan dirampas oleh keganasan jihad Islam. Seandainya Charles Martel dari Perancis tidak berhasil mematahkan serangan tentara Islam dalam pertempuran di Tours pada tahun 732, bukan mustahil seluruh Eropa akan berhasil ditaklukkan. Bahkan kota Roma sendiri juga pernah mendapatkan ancaman tentara jihad, ketika tahun 827 mereka menyerang Sicilia dan Korsika, lalu berlanjut dengan upaya penyerangan di sekitar kota Roma pada tahun 846.
Dari episode beberapa ratus tahun perang jihad ini sudah cukup menjadi bukti bahwa Islam memang disebarkan melalui pedang. Muhamat boleh saja tidak berhasil memberikan teladan untuk hidup, tapi dia sangat berhasil memberikan teladan untuk mati: yaitu melancarkan jihad dengan imbalan surga penuh bidadari. Inilah warisan terbesar Muhamat untuk umat manusia: kultur kematian. Dan inilah wajah asli Islam yang sesungguhnya, yang entah mengapa sekarang ingin dihilangkan atau ditutup-tutupi dengan mempropagandakan Islam sebagai agama damai. Damai apanya?
Gereja Menentang Islam
Pada peperangan Manzikert, tahun 1071, Kekaisaran Bizantium mengalami kekalahan yang serius. Paus Gregorius II berupaya membantu dengan mengirimkan pasukan. Akan tetapi karena kekurangan dukungan, operasi ini tidak berhasil. Baru pada tahun 1095, Paus Urbanus II di Konsili Clairmont menyerukan upaya peperangan untuk mengambil alih kembali kota suci Yerusalem dari tangan kaum muslim. Ajakan heroik ini kemudian disambut oleh para pendengarnya dengan seruan: "Deus Vult", atau "Tuhan menghendakinya!"
Ajakan Paus yang kemudian menyulut dimulainya Perang Salib sebenarnya bukanlah seruan yang bersifat ofensif. Ini adalah tanggapan yang sangat terlambat atas serangan dan invasi jihad Islam yang sudah berlangsung berabad-abad sebelumnya. Meski Perang Salib I ini meraih sukses dan berhasil merebut kembali Yerusalem, perang-perang salib berikutnya tidak. Sebagian besar wilayah-wilayah kekristenan yang diinvasi Islam selama perang jihad seperti Mesir, Siria, Turki dan Afrika Utara tidak pernah kembali lagi sampai sekarang. Ini ongkos yang sangat mahal akibat terlambatnya tanggapan Gereja atas invasi jihad Islam.
Bahkan Yerusalem hanya sanggup dikuasai selama 100 tahun dan kemudian terlepas lagi selama berabad-abad. Sampai akhirnya pada tahun 1917 Jendral Allenby memasuki kota Jerusalem dan menyatakan ini sebagai akhir dari Perang Salib, Yerusalempun terlepas dari tangan muslim sampai hari ini. Mungkin Jendral Allenby tidak pernah menyadari bahwa sikapnya saat memasuki Yerusalem yang seolah-olah menjadi akhir drama Perang Salib membuat sakit hati dan dendam berkepanjangan di kalangan muslim karena dipaksa menerima keadaan sebagai pihak yang kalah.
Belajar Dari Sejarah Dan Tanda-Tanda Jaman
Sekalipun beberapa tahun yang lalu Paus Yohanes Paulus II menyatakan permintaan maaf atas segala kesalahan dan tindakan atas nama Gereja, diantaranya selama Perang Salib, Inkuisisi, perang Katolik - Protestan, dan lain-lain, tidak sedikitpun Paus meminta maaf atau menyesal atas Perang Salib itu sendiri.
Dengan demikian Gereja menyadari bahwa tindakannya melawan invasi jihad Islam dan penodaan kota suci Yerusalem adalah benar dan sudah seharusnya. Apa yang digalang oleh Paus Urbanus II dan ditanggapi dengan penuh antusias oleh raja-raja dan putra-putra terbaik Gereja bukanlah sebuah kesalahan, itu adalah kehendak Tuhan: Deus Vult!
Dalam konteks jamannya, mungkin seruan itu bertujuan untuk merebut kembali Yerusalem dan membantu Kekaisaran Bizantium merebut kembali wilayahnya yang dikuasai Islam. Tapi membatasinya pada konteks itu akan membuat kita gagal menangkap kehendak Tuhan dalam cakupan yang lebih luas!
Seruan perang Paus Urbanus II adalah sebuah pertanda pada jamannya bahwa Tuhan tidak menghendaki Islam menguasai dunia. Tuhan tidak menghendaki Islam menodai tempat-tempat suciNya! Tuhan tidak menghendaki Islam menggantikan SabdaNya dengan Alquran. Tuhan tidak menghendaki Islam menggantikan Agama Universal yang telah dibangunNya sendiri selama ribuan tahun! Lebih jauh lagi, seruan Paus Urbanus II juga berarti bahwa Tuhan menghendaki umatNya tidak tinggal diam menerima nasib, tapi melawan dengan semangat yang suci didasari kecintaan pada Tuhan dan Gereja!
Seruan perang ini tidak pernah ditarik kembali, dengan demikian semangatnya masih tetap hingga hari ini. Tapi perang ini tidak selalu berarti dengan senjata dan kekerasan, tentunya perlu disesuaikan dengan konteks jaman. Jika St. Bernard of Clairvaux memilih panggilan ini dengan mengangkat senjata, pada saat yang sama Bl. Peter The Venerable memilih panggilan ini dengan cara intelektual: "...aku menyerangmu bukan sebagaimana sebagian dari kami, dengan senjata, tapi dengan kata-kata, bukan dengan kekuatan tapi dengan akal-budi, bukan dengan kebencian tapi dengan kasih. Aku sungguh mengasihimu, dan aku memang menulis kepadamu, aku mengajakmu pada keselamatan."
Islam Agama Damai, Sebuah Topeng
Dalam konteks jaman sekarang cara yang ditempuh oleh Peter The Venerable mungkin lebih sesuai untuk menanggapi panggilan Gereja yang diserukan berabad-abad lalu. Tapi menjadi pertanyaan, apakah kita harus menganggap Islam sebagai musuh yang harus diperangi dan dilawan? Sebenarnya tidak juga! Jika bisa dilakukan dengan dialog dan saling pengertian mengapa memilih jalan perang? Upaya untuk melakukan dialog dan menjadikan Islam sebagai mitra dalam membangun peradaban manusia terus-menerus dilakukan Gereja, bahkan sampai sekarang.
Tetapi hal itu tidak pernah mengubah kenyataan bahwa Islam memang merupakan antitesis dari Gereja. Islam sejak awal berdirinya memang bermaksud melawan Gereja dan seluruh ajarannya. Tak ada yang dapat mengubah ini, bahkan para malaikat dari surga sekalipun! Sangat berbahaya memelihara anak macan, suatu saat macan tersebut menjadi besar dan akan menerkam anda saat merasa lapar! Demikian juga kurang bijaksana dan sia-sia mencoba percaya bahwa Islam tidak memusuhi Gereja, karena secara alamiah Islam memang dirancang sebagai antitesis dari Gereja!
Gereja punya wewenang untuk menafsirkan Sabda Tuhan dan mengambil berbagai kebijakan sesuai konteks jaman, termasuk mencoba menerima Islam sebagai mitra dalam membangun peradaban. Akan tetapi kita tidak boleh lupa bahwa tidak ada orang Islam atau organisasi Islam yang bisa dan berhak mengubah ajaran Islam. Jika sejak awal Islam memang dimaksudkan menjadi antitesis Gereja, maka Islam akan tetap seperti itu sampai kapanpun!
Anda mungkin akan bertanya, ajaran Islam memang tidak berubah tapi penafsirannya tentu bisa disesuaikan dalam konteks jaman dan orang-orang Islam yang berniat baik dapat menafsirkannya untuk kebaikan manusia tanpa harus bersikap memusuhi agama lain. Tapi masalahnya tidak ada penafsiran yang bersifat resmi dan mengikat dalam Islam. Penafsiran yang bersahabat, moderat, dan pluralis hanyalah salah satu dari sekian banyak penafsiran yang sama benarnya menurut Islam!
Akibatnya posisi golongan Islam moderat ini menjadi menjadi sedikit unik. Penafsiran mereka tidak ditolak oleh golongan Islam yang lain, tapi juga tidak didengarkan! Umumnya penafsiran Islam moderat ini tidak populer dan tidak membumi. Penafsiran semacam ini hanya menjadi konsumsi kaum intelektual dan pihak luar Islam. Jadilah Islam moderat sebagai juru bicara atau PR yang sangat efektif menggambarkan Islam sebagai agama damai, sementara rekan-rekannya dari golongan lain dengan tenang menyiapkan rencana serangan bom bunuh diri dan rudal nuklir.
Menurut saya, dari pada golongan moderat ini sibuk membersihkan citra buruk Islam dan berupaya menggambarkan Islam sebagai agama damai kepada orang lain, jauh lebih baik mereka meyakinkan penafsiran moderat itu kepada teman-temannya sendiri sesama muslim! Semoga dengan cara itu mereka bisa menjadikan dunia lebih damai.
Dunia Menentang Islam
Upaya Gereja untuk membangun dialog yang konstruktif dan bersahabat dengan Islam mencapai puncaknya pada jaman Paus Yohanes Paulus II. Untuk pertama kalinya seorang Paus memasuki sebuah mesjid di Siria dengan rasa hormat dan menyatakan Islam bersama Yahudi dan Kristen adalah 'tiga anak-anak Abraham'. Tapi segala upaya yang dilakukan tidak menghasilkan buah yang sepadan, 'kambing tidak juga berubah menjadi domba'. Upaya dialog hanya berpengaruh pada golongan elit kaum moderat tapi di tingkat 'grass-root' wajah Islam yang penuh kekerasan dan tidak toleran justru lebih alami, lebih mudah diterima, dan lebih populer. Tidak heran jika tindakan teror dan kekerasan atas nama Islam semakin menjadi fenomena umum.
Era wajah lemah-lembut Gereja kepada Islam mulai berubah menjadi lebih tegas pada jaman Paus Benediktus XVI. Sebelumnya Paus Yohanes Paulus II masih menyebut terorisme kaum fundamentalis berakar pada rasa ketidakadilan. Tapi dengan mengutip perkataan Kaisar Manuel II Paleologus mengenai Muhamat yang hanya membawa 'kejahatan dan ketidakmanusiawian' Paus Benediktus XVI seolah mengisyaratkan bahwa akar kekerasan itu ada di dalam ajaran yang dibawa Muhamat! Saya tidak menganggap ini sebuah kebetulan, dan meski Paus menyesali kemarahan kaum muslim, dia tidak pernah menarik ucapannya!
Di atas telah saya singgung bahwa Islam memang diciptakan dan dirancang sebagai antitesis dari Gereja dan seluruh ajarannya. Sebagai konsekuensi lanjutannya, yang menjadi lawan Islam tidak hanya Gereja, tapi juga seluruh dunia! Ketika Gereja berupaya membangun peradaban dan kultur kehidupan, Islam dengan sikap intoleran dan kekerasan yang mengatasnamakan agama justru berupaya menghancurkan peradaban dan membangun kultur kematian!
Bukan sebuah kebetulan jika seorang anggota parlemen Belanda yang atheis bernama Geertz Wilders membuat sebuah film berjudul FITNA yang isinya menunjukkan keterkaitan antara ajaran Islam dan tindakan-tindakan kekerasan atas nama Islam! Di akhir film FITNA Geertz Wilder dengan singkat dan tegas mengajak penontonnya untuk menyadari bahaya Islam dan menghentikan proses islamisasi yang mulai melanda Eropa. Geertz Wilders tidak sedang menyerang Islam, sebaliknya dia hanya berusaha mempertahankan kebebasan dan kedaulatan negerinya dari serangan Islam. Menyadari hal ini, selesai menonton film FITNA saya berteriak (tentu saja dalam hati): Deus Vult!
Bagi saya ini juga sebuah tanda-tanda jaman. Dulu beberapa abad yang lalu Paus Urbanus II menyerukan Perang Salib melawan Islam, selain itu banyak orang suci seperti St. John of Damascus, St. Bernard of Clairvaux atau juga Bl. Peter The Venerable yang sudah menyadarkan kita akan kekeliruan Islam. Kini seorang atheis juga menyuarakan seruan yang senada untuk melawan Islam. Dengan demikian Islam telah disadari sebagai musuh, tidak hanya oleh mereka yang beragama tapi juga yang tidak beragama. Islam seolah menjadi musuh seluruh kemanusiaan!
Lalu bagaimana kita menanggapi seruan ini? Tuhan jelas menghendaki kita bangkit melawan, bukan diam dan tidak peduli. Tentu saja saya tidak sedang menyarankan anda ikut latihan militer dan belajar merakit bom. Itu bukan konteks yang tepat untuk saat ini dan akan membuat kita tidak berbeda dengan apa yang kita lawan. Kita bisa mengikuti apa yang dilakukan Peter The Venerable: dengan kata-kata, akal-budi, dan kasih! Bukan untuk menghancurkan tapi untuk menyelamatkan.
Akan tetapi kita perlu belajar dari sejarah, apapun yang anda lakukan tidak pernah dapat mengubah Islam itu sendiri. Dari awalnya Islam memang diciptakan sebagai antitesis Agama Universal dan tidak mungkin berubah sampai kapanpun. Yang bisa kita lakukan adalah menunjukkan fakta wajah Islam yang sebenarnya dan sekaligus menunjukkan jalan kebenaran yang sejati, yaitu Agama Universal yang telah diciptakan Tuhan bagi manusia sejak jaman Abraham dan keberadaannya tidak pernah terputus sampai hari ini. Meski ini tidak akan mengubah Islam, tapi mungkin akan mengubah pengikutnya. Lebih dari itu sudah bukan wewenang kita lagi.
Bukankah dia yang menyangkal
bahwa Yesus adalah Kristus?
Dia itu adalah antikristus,
yaitu dia yang menyangkal
baik Bapa maupun Anak.
(1 Yoh. 2:22)
Tulisan ini adalah bagian terakhir dari seri 'Islam Sebagai Antitesis Agama'. Pada bagian pertama saya menjelaskan bagaimana Islam berupaya mengacaukan rancangan keselamatan yang telah dibangun Tuhan sendiri tanpa terputus dalam bentuk Agama Universal, yang dimulai sejak jaman Abraham hingga hari ini (Paus Benediktus XVI). Lalu pada bagian kedua saya mencoba menunjukkan bagaimana Alquran di hadapan kriteria obyektif bukanlah kitab suci yang berasal dari Tuhan, sebaliknya kehadiran Alquran tidak lebih dari upaya untuk menyesatkan manusia dari Sabda Tuhan yang sesungguhnya. Pada bagian ketiga saya menunjukkan bagaimana Islam sebagai agama gagal menawarkan visi peradaban yang ideal bagi manusia, bahkan dalam banyak hal ajaran-ajaran Islam justru memiliki unsur-unsur yang merusak peradaban.
Tulisan-tulisan ini memang bernuansa anti-islam. Mengapa saya melakukannya? Sebenarnya apa yang saya lakukan kurang lebih memiliki semangat yang sama seperti yang dilakukan oleh St. John of Damascus (676 - 479), atau juga Peter The Venerable (1092 - 1156) dalam tulisan-tulisan mereka tentang Islam. Bagi saya tulisan-tulisan ini bukanlah ekspresi kebencian, sebaliknya ini adalah sebuah ekspresi dari kecintaan saya pada kebenaran. Kalau anda mencintai kebenaran, pada saat yang sama anda juga akan membenci ketidakbenaran atau apapun yang melawan kebenaran (antitesis kebenaran). Tidak mungkin anda mencintai kebenaran tapi bersikap setuju terhadap antitesisnya. Kecuali anda seorang yang plin-plan, tidak punya pendirian, atau agak pengecut!
Agama-Agama Misioner
Sebenarnya diantara semua agama-agama di dunia, kedua agama ini: kristianitas dan Islam, memiliki karakter khas yang sama yaitu agama yang bersifat misioner. Tapi keduanya memiliki doktrin yang berbeda dalam mewujudkan tujuannya.
Doktrin misioner Gereja dijiwai oleh ayat ini:
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. (Mat. 28:19)
Sementara itu doktrin misioner Islam dijiwai ayat ini:
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian…sampai mereka membayar Jizyah dengan patuh sedang mereka mereka dalam keadaan tunduk”. (Qur’an 9:29)
Silahkan cermati kedua ayat tersebut baik-baik... Yang satu mengajak orang untuk mengenal Yesus dan menjadikanNya sebagai teladan hidup, kemudian memberikan sarana keselamatan dalam rupa baptisan. Sedangkan yang satunya memisahkan manusia menjadi dua golongan: 'beriman' dan 'tidak beriman/kafir', lalu memerintahkan pihak 'beriman' untuk memerangi 'kafir' sampai mereka tunduk.
Tidak heran jika kedua agama ini memiliki kedua cara yang berbeda juga dalam upaya-upaya misionernya. Hampir empat abad pertama sejarahnya, Gereja perdana mampu menyebarkan ajaran Kristus sepenuhnya tanpa bantuan kekuasaan. Meski abad-abad selanjutnya Gereja juga berkolaborasi dengan kekuasaan, sejarah Gereja perdana menunjukkan bahwa kristianitas punya kemampuan untuk menyebar tanpa bantuan kekuasaan duiniawi. Kekuasaan bukanlah keharusan dalam karya misioner Gereja tetapi sekedar pilihan! Gereja punya kemampuan dialogis dan juga inkulturatif dalam mewujudkan karya misionernya.
Sementara itu sejak awal sejarah Islam, penyebaran agama selalu diikuti oleh tindakan ekspansi kekuasaan politik. Entah agama digunakan sebagai alat kekuasaan atau sebaliknya kekuasaan dijadikan alat bagi penyebaran agama. Yang jelas tak pernah ada masa yang cukup signifikan dimana Islam dapat berkembang tanpa bantuan kekuasaan politik.
Bagi saya salah satu unsur yang membedakan keduanya (selain doktrin-doktrin ajarannya) adalah soal teladan hidup. Bagi Gereja, Yesus Kristus adalah teladan utama dan sempurna yang menjadi sumber inspirasi bagi para pengikutNya. Sebaliknya bagi Islam teladan terbaik yang tersedia mau tidak mau harus Muhamat. Mengajukan kandidat lain sebagai teladan jelas sebuah pelecehan dan penghujatan. Ironisnya Muhamat memiliki karakter yang kompleks, disamping memiliki perbuatan baik yang mungkin cukup layak diteladani Muhamat juga banyak melakukan perbuatan-perbuatan tidak terpuji seperti menzinahi budak-budak, mengawini anak di bawah umur (6 tahun), membunuh, menjarah, dan banyak lagi.
Karena ketiadaan teladan yang layak maka Islam mau tidak mau harus disebarkan melalui propaganda (dakwah) yang hanya efektif jika didukung oleh kekuasaan politik. Selanjutnya penerapan hukum-hukum Islam (syariah) juga membutuhkan dukungan politik. Akibatnya Islam tidak pernah disebarkan murni sebagai sistem religius, tapi juga sekaligus sistem politik. Tidak percaya? Tantanglah kaum muslim untuk menyebarkan Islam tanpa bantuan kekuatan politik (dalam berbagai bentuknya), sampai kiamat mereka tidak akan mampu!
Invasi Islam: Perang Jihad
Ketika St. John of Damascus menulis tentang Islam, dia melihat Islam hanya sebagai bidaah yang cukup diatasi dengan cara membongkar kekeliruannya. St. John of Damaskus tidak mengira bahwa Islam adalah sebuah agama baru yang sejak awal memang dirancang untuk menentang kristianitas dan peradaban manusia. Memang Islam juga berasal dari keturunan Abraham dan percaya pada nabi-nabi yang ada di Kitab Suci, tapi Islam tidak sungguh-sungguh berasal dari agama Abraham! Islam bukanlah gerakan bidaah penerus arianisme, Islam adalah agama baru yang berbeda!
Sejak awal berdirinya Islam sudah berlumuran darah. Muhamat sendiri memimpin tidak kurang dari 70 operasi peperangan atas nama penyebaran Islam. Dan perang atas nama agama ini tidak berhenti dengan meninggalnya Muhamat. Para pengikutnya dengan setia meneruskan semangat jihad ini untuk melakukan invasi ke luar wilayah Arab. Ini adalah fakta sejarah.
Memanfaatkan kelemahan kekaisaran Romawi Timur akibat konflik internal dan peperangan dengan Persia selama bertahun-tahun, tentara-tentara Islam terus melakukan jihad dengan menginvasi wilayah-wilayah yang pada awalnya merupakan basis kekristenan. Termasuk juga kota suci Yerusalem, ketika patriark Yerusalem St. Sophronios pada tahun 638 terpaksa harus menyerahkan kota suci ini pada penguasaan muslim untuk menghindari bahaya kelaparan dan penghancuran kota. Pada masa inilah Islam menodai kota suci Yerusalem dengan membangun mesjid 'Dome of Rock' tepat di tengah-tengah Gunung Bait Allah (Yahweh's Temple Mount). Tindakan ini oleh St. Sophronios dianggap telah melanggar kesepakatan sebelumnya sehingga dia berteriak-teriak dan meratap, "Sungguh ini sebuah penghujatan dan perusakan yang dinubuatkan oleh Daniel!"
Tidak berhenti di situ saja, Islam terus melancarkan serangan jihadnya untuk menguasai Mesir, Armenia, Afrika Utara, dan provinsi-provinsi kekaisaran Rowawi Timur (Byzantium) . Bahkan pada tahun 711 tentara Islam berhasil memasuki Spanyol. Setidaknya dua per tiga wilayah kekristenan dirampas oleh keganasan jihad Islam. Seandainya Charles Martel dari Perancis tidak berhasil mematahkan serangan tentara Islam dalam pertempuran di Tours pada tahun 732, bukan mustahil seluruh Eropa akan berhasil ditaklukkan. Bahkan kota Roma sendiri juga pernah mendapatkan ancaman tentara jihad, ketika tahun 827 mereka menyerang Sicilia dan Korsika, lalu berlanjut dengan upaya penyerangan di sekitar kota Roma pada tahun 846.
Dari episode beberapa ratus tahun perang jihad ini sudah cukup menjadi bukti bahwa Islam memang disebarkan melalui pedang. Muhamat boleh saja tidak berhasil memberikan teladan untuk hidup, tapi dia sangat berhasil memberikan teladan untuk mati: yaitu melancarkan jihad dengan imbalan surga penuh bidadari. Inilah warisan terbesar Muhamat untuk umat manusia: kultur kematian. Dan inilah wajah asli Islam yang sesungguhnya, yang entah mengapa sekarang ingin dihilangkan atau ditutup-tutupi dengan mempropagandakan Islam sebagai agama damai. Damai apanya?
Gereja Menentang Islam
Pada peperangan Manzikert, tahun 1071, Kekaisaran Bizantium mengalami kekalahan yang serius. Paus Gregorius II berupaya membantu dengan mengirimkan pasukan. Akan tetapi karena kekurangan dukungan, operasi ini tidak berhasil. Baru pada tahun 1095, Paus Urbanus II di Konsili Clairmont menyerukan upaya peperangan untuk mengambil alih kembali kota suci Yerusalem dari tangan kaum muslim. Ajakan heroik ini kemudian disambut oleh para pendengarnya dengan seruan: "Deus Vult", atau "Tuhan menghendakinya!"
Ajakan Paus yang kemudian menyulut dimulainya Perang Salib sebenarnya bukanlah seruan yang bersifat ofensif. Ini adalah tanggapan yang sangat terlambat atas serangan dan invasi jihad Islam yang sudah berlangsung berabad-abad sebelumnya. Meski Perang Salib I ini meraih sukses dan berhasil merebut kembali Yerusalem, perang-perang salib berikutnya tidak. Sebagian besar wilayah-wilayah kekristenan yang diinvasi Islam selama perang jihad seperti Mesir, Siria, Turki dan Afrika Utara tidak pernah kembali lagi sampai sekarang. Ini ongkos yang sangat mahal akibat terlambatnya tanggapan Gereja atas invasi jihad Islam.
Bahkan Yerusalem hanya sanggup dikuasai selama 100 tahun dan kemudian terlepas lagi selama berabad-abad. Sampai akhirnya pada tahun 1917 Jendral Allenby memasuki kota Jerusalem dan menyatakan ini sebagai akhir dari Perang Salib, Yerusalempun terlepas dari tangan muslim sampai hari ini. Mungkin Jendral Allenby tidak pernah menyadari bahwa sikapnya saat memasuki Yerusalem yang seolah-olah menjadi akhir drama Perang Salib membuat sakit hati dan dendam berkepanjangan di kalangan muslim karena dipaksa menerima keadaan sebagai pihak yang kalah.
Belajar Dari Sejarah Dan Tanda-Tanda Jaman
Sekalipun beberapa tahun yang lalu Paus Yohanes Paulus II menyatakan permintaan maaf atas segala kesalahan dan tindakan atas nama Gereja, diantaranya selama Perang Salib, Inkuisisi, perang Katolik - Protestan, dan lain-lain, tidak sedikitpun Paus meminta maaf atau menyesal atas Perang Salib itu sendiri.
Dengan demikian Gereja menyadari bahwa tindakannya melawan invasi jihad Islam dan penodaan kota suci Yerusalem adalah benar dan sudah seharusnya. Apa yang digalang oleh Paus Urbanus II dan ditanggapi dengan penuh antusias oleh raja-raja dan putra-putra terbaik Gereja bukanlah sebuah kesalahan, itu adalah kehendak Tuhan: Deus Vult!
Dalam konteks jamannya, mungkin seruan itu bertujuan untuk merebut kembali Yerusalem dan membantu Kekaisaran Bizantium merebut kembali wilayahnya yang dikuasai Islam. Tapi membatasinya pada konteks itu akan membuat kita gagal menangkap kehendak Tuhan dalam cakupan yang lebih luas!
Seruan perang Paus Urbanus II adalah sebuah pertanda pada jamannya bahwa Tuhan tidak menghendaki Islam menguasai dunia. Tuhan tidak menghendaki Islam menodai tempat-tempat suciNya! Tuhan tidak menghendaki Islam menggantikan SabdaNya dengan Alquran. Tuhan tidak menghendaki Islam menggantikan Agama Universal yang telah dibangunNya sendiri selama ribuan tahun! Lebih jauh lagi, seruan Paus Urbanus II juga berarti bahwa Tuhan menghendaki umatNya tidak tinggal diam menerima nasib, tapi melawan dengan semangat yang suci didasari kecintaan pada Tuhan dan Gereja!
Seruan perang ini tidak pernah ditarik kembali, dengan demikian semangatnya masih tetap hingga hari ini. Tapi perang ini tidak selalu berarti dengan senjata dan kekerasan, tentunya perlu disesuaikan dengan konteks jaman. Jika St. Bernard of Clairvaux memilih panggilan ini dengan mengangkat senjata, pada saat yang sama Bl. Peter The Venerable memilih panggilan ini dengan cara intelektual: "...aku menyerangmu bukan sebagaimana sebagian dari kami, dengan senjata, tapi dengan kata-kata, bukan dengan kekuatan tapi dengan akal-budi, bukan dengan kebencian tapi dengan kasih. Aku sungguh mengasihimu, dan aku memang menulis kepadamu, aku mengajakmu pada keselamatan."
Islam Agama Damai, Sebuah Topeng
Dalam konteks jaman sekarang cara yang ditempuh oleh Peter The Venerable mungkin lebih sesuai untuk menanggapi panggilan Gereja yang diserukan berabad-abad lalu. Tapi menjadi pertanyaan, apakah kita harus menganggap Islam sebagai musuh yang harus diperangi dan dilawan? Sebenarnya tidak juga! Jika bisa dilakukan dengan dialog dan saling pengertian mengapa memilih jalan perang? Upaya untuk melakukan dialog dan menjadikan Islam sebagai mitra dalam membangun peradaban manusia terus-menerus dilakukan Gereja, bahkan sampai sekarang.
Tetapi hal itu tidak pernah mengubah kenyataan bahwa Islam memang merupakan antitesis dari Gereja. Islam sejak awal berdirinya memang bermaksud melawan Gereja dan seluruh ajarannya. Tak ada yang dapat mengubah ini, bahkan para malaikat dari surga sekalipun! Sangat berbahaya memelihara anak macan, suatu saat macan tersebut menjadi besar dan akan menerkam anda saat merasa lapar! Demikian juga kurang bijaksana dan sia-sia mencoba percaya bahwa Islam tidak memusuhi Gereja, karena secara alamiah Islam memang dirancang sebagai antitesis dari Gereja!
Gereja punya wewenang untuk menafsirkan Sabda Tuhan dan mengambil berbagai kebijakan sesuai konteks jaman, termasuk mencoba menerima Islam sebagai mitra dalam membangun peradaban. Akan tetapi kita tidak boleh lupa bahwa tidak ada orang Islam atau organisasi Islam yang bisa dan berhak mengubah ajaran Islam. Jika sejak awal Islam memang dimaksudkan menjadi antitesis Gereja, maka Islam akan tetap seperti itu sampai kapanpun!
Anda mungkin akan bertanya, ajaran Islam memang tidak berubah tapi penafsirannya tentu bisa disesuaikan dalam konteks jaman dan orang-orang Islam yang berniat baik dapat menafsirkannya untuk kebaikan manusia tanpa harus bersikap memusuhi agama lain. Tapi masalahnya tidak ada penafsiran yang bersifat resmi dan mengikat dalam Islam. Penafsiran yang bersahabat, moderat, dan pluralis hanyalah salah satu dari sekian banyak penafsiran yang sama benarnya menurut Islam!
Akibatnya posisi golongan Islam moderat ini menjadi menjadi sedikit unik. Penafsiran mereka tidak ditolak oleh golongan Islam yang lain, tapi juga tidak didengarkan! Umumnya penafsiran Islam moderat ini tidak populer dan tidak membumi. Penafsiran semacam ini hanya menjadi konsumsi kaum intelektual dan pihak luar Islam. Jadilah Islam moderat sebagai juru bicara atau PR yang sangat efektif menggambarkan Islam sebagai agama damai, sementara rekan-rekannya dari golongan lain dengan tenang menyiapkan rencana serangan bom bunuh diri dan rudal nuklir.
Menurut saya, dari pada golongan moderat ini sibuk membersihkan citra buruk Islam dan berupaya menggambarkan Islam sebagai agama damai kepada orang lain, jauh lebih baik mereka meyakinkan penafsiran moderat itu kepada teman-temannya sendiri sesama muslim! Semoga dengan cara itu mereka bisa menjadikan dunia lebih damai.
Dunia Menentang Islam
Upaya Gereja untuk membangun dialog yang konstruktif dan bersahabat dengan Islam mencapai puncaknya pada jaman Paus Yohanes Paulus II. Untuk pertama kalinya seorang Paus memasuki sebuah mesjid di Siria dengan rasa hormat dan menyatakan Islam bersama Yahudi dan Kristen adalah 'tiga anak-anak Abraham'. Tapi segala upaya yang dilakukan tidak menghasilkan buah yang sepadan, 'kambing tidak juga berubah menjadi domba'. Upaya dialog hanya berpengaruh pada golongan elit kaum moderat tapi di tingkat 'grass-root' wajah Islam yang penuh kekerasan dan tidak toleran justru lebih alami, lebih mudah diterima, dan lebih populer. Tidak heran jika tindakan teror dan kekerasan atas nama Islam semakin menjadi fenomena umum.
Era wajah lemah-lembut Gereja kepada Islam mulai berubah menjadi lebih tegas pada jaman Paus Benediktus XVI. Sebelumnya Paus Yohanes Paulus II masih menyebut terorisme kaum fundamentalis berakar pada rasa ketidakadilan. Tapi dengan mengutip perkataan Kaisar Manuel II Paleologus mengenai Muhamat yang hanya membawa 'kejahatan dan ketidakmanusiawian' Paus Benediktus XVI seolah mengisyaratkan bahwa akar kekerasan itu ada di dalam ajaran yang dibawa Muhamat! Saya tidak menganggap ini sebuah kebetulan, dan meski Paus menyesali kemarahan kaum muslim, dia tidak pernah menarik ucapannya!
Di atas telah saya singgung bahwa Islam memang diciptakan dan dirancang sebagai antitesis dari Gereja dan seluruh ajarannya. Sebagai konsekuensi lanjutannya, yang menjadi lawan Islam tidak hanya Gereja, tapi juga seluruh dunia! Ketika Gereja berupaya membangun peradaban dan kultur kehidupan, Islam dengan sikap intoleran dan kekerasan yang mengatasnamakan agama justru berupaya menghancurkan peradaban dan membangun kultur kematian!
Bukan sebuah kebetulan jika seorang anggota parlemen Belanda yang atheis bernama Geertz Wilders membuat sebuah film berjudul FITNA yang isinya menunjukkan keterkaitan antara ajaran Islam dan tindakan-tindakan kekerasan atas nama Islam! Di akhir film FITNA Geertz Wilder dengan singkat dan tegas mengajak penontonnya untuk menyadari bahaya Islam dan menghentikan proses islamisasi yang mulai melanda Eropa. Geertz Wilders tidak sedang menyerang Islam, sebaliknya dia hanya berusaha mempertahankan kebebasan dan kedaulatan negerinya dari serangan Islam. Menyadari hal ini, selesai menonton film FITNA saya berteriak (tentu saja dalam hati): Deus Vult!
Bagi saya ini juga sebuah tanda-tanda jaman. Dulu beberapa abad yang lalu Paus Urbanus II menyerukan Perang Salib melawan Islam, selain itu banyak orang suci seperti St. John of Damascus, St. Bernard of Clairvaux atau juga Bl. Peter The Venerable yang sudah menyadarkan kita akan kekeliruan Islam. Kini seorang atheis juga menyuarakan seruan yang senada untuk melawan Islam. Dengan demikian Islam telah disadari sebagai musuh, tidak hanya oleh mereka yang beragama tapi juga yang tidak beragama. Islam seolah menjadi musuh seluruh kemanusiaan!
Lalu bagaimana kita menanggapi seruan ini? Tuhan jelas menghendaki kita bangkit melawan, bukan diam dan tidak peduli. Tentu saja saya tidak sedang menyarankan anda ikut latihan militer dan belajar merakit bom. Itu bukan konteks yang tepat untuk saat ini dan akan membuat kita tidak berbeda dengan apa yang kita lawan. Kita bisa mengikuti apa yang dilakukan Peter The Venerable: dengan kata-kata, akal-budi, dan kasih! Bukan untuk menghancurkan tapi untuk menyelamatkan.
Akan tetapi kita perlu belajar dari sejarah, apapun yang anda lakukan tidak pernah dapat mengubah Islam itu sendiri. Dari awalnya Islam memang diciptakan sebagai antitesis Agama Universal dan tidak mungkin berubah sampai kapanpun. Yang bisa kita lakukan adalah menunjukkan fakta wajah Islam yang sebenarnya dan sekaligus menunjukkan jalan kebenaran yang sejati, yaitu Agama Universal yang telah diciptakan Tuhan bagi manusia sejak jaman Abraham dan keberadaannya tidak pernah terputus sampai hari ini. Meski ini tidak akan mengubah Islam, tapi mungkin akan mengubah pengikutnya. Lebih dari itu sudah bukan wewenang kita lagi.
Langgan:
Entri (Atom)


