Rabu, 09 Desember 2009

Alquran - Kitab Suci Palsu

Catatan:
Tulisan ini saya posting di forum MyQuran untuk menanggapi sebuah topik yang berjudul "Pemalsuan Bibel, ....dst..dst..."

Setelah tulisan ini tidak mendapat respons atau bantahan selama berhari-hari pada akhirnya (10 Desember 2009) saya mendapatkan pesan bahwa saya di-banned di forum tersebut.

Maaf EENS, Anda dikucilkan dari penulisan ataupun pengiriman pesan pribadi pada forum ini.

Tidak masalah, itu hak mereka.
--------------------------------------------------


Membaca judul thread ini sebenarnya saya agak geli, 'Pemalsuan Bibel...'.

Apa yang ada di otak naif TS saat memberi judul?

Oh ya, sebuah tipikal prasangka muslim yang ditanamkan dengan kuat selama berabad-abad: kitab-kitab suci sebelumnya (Taurat. Zabur/Mazmur, dan Injil) sudah diselewengkan, ditambah-tambah dan diubah sedemikian rupa sehingga sudah kehilangan keasliannya sebagai Sabda Tuhan. Dengan kata lain kitab-kitab tersebut sudah dipalsukan.

Sebenarnya cukup dengan akal sehat kita akan tahu bahwa tuduhan semacam ini hanyalah sebuah fitnah yang tidak bertanggung jawab, yang memang perlu dilancarkan agar manusia mau menerima sebuah 'kitab suci' baru bernama Alquran. Nanti di artikel lain akan saya jelaskan mengapa tuduhan semacam ini tidak bisa tidak hanyalah sebuah fitnah yang berlandaskan pada pemikiran yang sesat. Ya betul, dasar pemikirannya adalah ajaran sesat.

Sekarang saya ingin berkonsentrasi pada apa itu kitab palsu?

Banyak orang yang terlalu mudah menerima begitu saja definisi pemalsuan kitab suci yang diberikan oleh golongan muslim: apabila kitab tersebut sudah mengalami perubahan, apapun itu, maka itu artinya dipalsukan. Padahal tidak sesederhana itu.


Bukan Teks Tapi Substansi Makna

Perkembangan peradaban niscaya juga mengakibatkan perkembangan bahasa. Konsekuensinya, suatu teks yang ditulis berabad-abad sebelumnya akan mengalami pergeseran makna sehingga memerlukan penyesuaian-penyesuaian jika ingin menampilkan makna yang sama seperti yang dimaksudkan penulis teks asli. Maka dari itu perubahan-perubahan teks yang dilakukan dengan maksud seperti ini sama sekali bukanlah pemalsuan. Yang penting bukanlah otentisitas teks, tetapi otentisitas makna atau substansi dari teks tersebut. Sejauh substansi dari teks-teks kitab suci tersebut tetap terjaga maka perubahan teks bukanlah suatu masalah.

Bukan Teks Tapi Manusia

Jadi dari sudut ini keutuhan teks itu sendiri sesungguhnya tidak mampu menjamin dan menjaga keutuhan substansi isi karena adanya perkembangan bahasa. Ini fakta ilmiah. Menyerahkan keutuhan substansi pada keaslian teks (seperti pada Alquran, misalnya) menjadi sesuatu yang konyol dan absurd. Lalu kepada siapakah keutuhan substansi ini dipercayakan penjagaannya?

Ketika kita berbicara substansi kitab suci berupa Sabda Tuhan maka satu-satunya yang layak dipercaya untuk menjaga keutuhannya adalah justru manusia, bukan teks. Sejarah keselamatan telah menunjukkan bahwa Tuhan mempercayakan keutuhan substansi isi kitab suci ini kepada manusia, bukan kepada teks-teks. Berkali-kali teks kitab suci hilang, rusak atau mengalami perubahan, namun substansi Sabda Tuhan tetap terjaga utuh sampai akhir jaman. Dalam hal menjaga keutuhan substansi Sabda Tuhan, tentunya Tuhan sendiri lebih percaya kepada manusia ciptaan-Nya daripada kepada hasil budaya manusia (teks dan kertas). Setidaknya begitulah menurut akal sehat. Dan dalam kenyataannya, manusia tidak hanya dipercaya untuk menjaga Sabda Tuhan tapi juga untuk menyampaikan Sabda Tuhan.

Menyatakan otentisitas substansi kitab suci dipercayakan pada teks dan bukan kepada manusia sama saja dengan menghina Tuhan karena menganggap ciptaan Tuhan lebih buruk dan lebih tidak layak dipercaya dari pada ciptaan manusia.

Para Penjaga dan Pembawa Sabda Tuhan

Demikianlah dapat kita simpulkan bahwa yang paling layak dalam menjaga otentisitas substansi Sabda Tuhan adalah manusia, bukan yang lain. Maka jika Tuhan menurunkan Sabda-Nya tentu Dia juga HARUS menyediakan manusia-manusia pilihan yang dipercaya untuk menjaga dan menyampaikan Sabda-Nya, tidak mungkin tidak. Tentunya yang dimaksud adalah manusia-manusia pilihan yang mendapatkan karunia dan anugerah khusus dari Tuhan. Inilah yang di sepanjang sejarah PL kita kenal sebagai nabi-nabi, raja-raja, imam-imam dan banyak orang pilihan lainnya yang PASTI disiapkan Tuhan untuk mewartakan sekaligus menjaga keutuhan Sabda-Nya.

Dalam era PB, manusia pilihan penjaga dan pembawa Sabda Tuhan ini diserahkan pada para rasul, dan seluruh hirarki Gereja yang kita kenal sebagai Tradisi Suci. Dengan demikian apapun yang telah disetujui dan diakui Tradisi Suci (hirarki Gereja) sebagai Sabda Tuhan sudah pasti merupakan Sabda Tuhan yang otentik. Jadi kalau kita ingin mengetahui Kitab Suci yang otentik maka yang perlu kita lakukan adalah mengetahui Kitab Suci yang diakui secara sah oleh Tradisi Suci, bukan yang lain.

Kitab-kitab Palsu

Saya akan memberi ilustrasi sederhana sebagai berikut:

BI adalah otoritas yang dapat menerbitkan uang di negeri ini. Uang apapun, berapapun nilainya seperti apapun bentuk dan gambarnya sepanjang BI menetapkannya sebagai uang yang resmi maka uang tersebut berlaku sebagai alat pembayaran yang sah. Jika beberapa waktu kemudian BI menerbitkan uang dengan bentuk atau desain yang berbeda, uang tersebut bukanlah uang palsu, itu uang asli dan nilainya tidak berubah sama sekali.

Tapi jika ada orang lain (yang tidak berhak) menerbitkan uang yang bentuknya sama, meski segala sesuatunya mirip, uang tersebut adalah uang palsu. Bukan karena bentuknya tapi karena uang tersebut diterbitkan oleh otoritas yang tidak berhak menerbitkannya.

Dari ilustrasi sederhana di atas kita bisa mengambil analoginya untuk masalah kitab suci dan menyimpulkan bahwa palsu atau tidaknya suatu Kitab Suci sangat ditentukan oleh pengakuan dari otoritas yang berhak, bukan oleh hal-hal lain atau pertimbangan pihak-pihak lain. Harus saya ingatkan bahwa otoritas ini PASTI ADA karena Tuhan sendiri menghendakinya sebagai penjaga dan pewarta Sabda-Nya. Dalam konteks Gereja Katolik, otoritas ini ada di tangan hirarki Gereja yang kita kenal sebagai Tradisi Suci.

Nah, sekarang situasinya jadi terbalik.... dari sudut ini malah kita bisa mengatakan bahwa justru Alquran adalah kitab palsu yang sesungguhnya. Jika Alquran hanya membuat kisah tentang Muhamat saja maka hal itu mungkin bukan masalah, orang Arab sah-sah saja menyebutnya sebagai kitab suci tentang Muhamat. Itu urusan mereka. Tapi ketika Alquran mengambil dan mengklaim kisah-kisah nabi-nabi PL dan juga kisah-kisah tentang Yesus dalam kitabnya maka persoalannya menjadi lain. Selain kisah tersebut secara substansi berbeda dengan aslinya, Muhamat sama sekali tidak punya otoritas apapun untuk mengangkat kisah-kisah nabi PL dan kisah tentang Yesus di dalam Alquran. Kira-kira seperti Malaysia yang mengaku-aku batik atau reog. Kita bisa katakan batik atau reog versi Malaysia tentunya adalah batik dan reog yang palsu. Jadi dari sudut ini kita bisa menyatakan bahwa Alquran adalah kitab suci yang palsu.

Ketika orang Islam berteriak-teriak soal pemalsuan kitab suci sebelumnya, itu seperti MALING BERTERIAK MALING.

Soal ini Rasul Paulus sudah mengingatkan:

Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. (Gal.1:6-9)

Ini adalah sebuah nubuat yang sangat meyakinkan dan akurat tentang Muhamat (rasul palsu) yang mengaku mendapat bisikan Jibril (malaikat palsu) dan memberitakan tentang Injil palsu, yaitu kisah tentang Yesus yang diputarbalikkan dan berbeda dengan yang diajarkan dan diberitakan Gereja. Terkutuklah dia, kata Paulus.

Jumat, 02 Oktober 2009

Satu Kawanan Satu Gembala (6): Keturunan Abraham Dan Agama Universal

Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham,
kata-Nya:

"Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri--demikianlah firman TUHAN--:

Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk
menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati
engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti
bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan
menduduki kota-kota musuhnya.
Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat,
karena engkau mendengarkan firman-Ku."
(Kej. 22:15-18)

------------------

Dipilih, Bukan Diklaim

Semoga sudah jelas bagimu bahwa Tuhan hanya menciptakan satu agama universal bagi seluruh umat manusia. Tapi mungkin akan timbul pertanyaan selanjutnya: agama universal yang mana? Banyak agama mengklaim dirinya sebagai agama universal. Atas dasar apa sebuah agama dapat mengklaim dirinya agama universal?

Jawabanku: tidak ada dasar apapun yang bisa digunakan untuk mengklaim sebuah agama sebagai agama universal. Agama universal itu dipilih dan dibentuk oleh Tuhan sendiri, tepat seperti yang dikatakan Yesus: “Bukan kamu yang memilih Aku tapi Akulah yang memilih kamu…" (Yoh.15:16). Agama universal bukanlah suatu status yang dapat diklaim, diraih, dilombakan apalagi diperdebatkan oleh manusia. Tuhan sendiri yang telah memilih dan membentuk agama universal ini, bukan berdasarkan pengakuan atau klaim manusia. Dan sekali Tuhan memilih, pilihanNya itu tetap, Tuhan tidak pernah mengganti pilihanNya di tengah jalan seolah-olah Dia telah melakukan kesalahan pada pilihan sebelumnya. Jadi apapun yang diupayakan manusia tidak dapat membuat agama universal menjadi bukan universal lagi, dan sebaliknya juga tidak dapat mengubah agama yang sebelumnya bukan agama universal menjadi agama universal. Manusia tidak bisa mengubah apa yang telah ditetapkan dan dipilih Tuhan sendiri.

Anakku, kalau engkau memahami ini akan menjadi lebih mudah bagimu untuk menentukan mana sesungguhnya agama universal diantara agama-agama lainnya. Kata kuncinya: dipilih, bukan diklaim. Ingatlah perkataanku ini: Tuhan hanya menciptakan satu agama universal dan Dia tidak pernah gagal. Prinsip ini dapat menjadi peganganmu dalam mencari agama universal yang otentik.

Engkau tinggal mencari dalam sejarah keselamatan, di dalam kisah-kisah para nabi kapan saat Tuhan menentukan pilihanNya dan mulai membangun agama universal ini. Bandingkanlah diantara sekian banyak agama yang ada, mana yang paling layak sebagai agama universal. Dan harus engkau ingat, sekali Ia menetapkan pilihan Tuhan tidak pernah menggantinya seolah-olah Ia telah gagal. PilihanNya sudah pasti benar dan lagi Tuhan selalu setia pada apa yang telah dipilihNya sendiri. Sekalipun manusia atau malaikat berupaya mengacaukan agama universal ini, Tuhan pasti sanggup memulihkannya. RancanganNya selalu berhasil.

Dan engkau akan melihat agama universal ini memiliki keunggulan yang jauh di atas semua agama lain, bedanya akan seperti langit dan bumi, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yes: 55:8-9). Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya agama universal ini memiliki suatu unsur yang hanya dapat dibuat oleh Tuhan dan tidak dapat dibuat oleh tangan manusia sebagai bukti otentik agama tersebut memang diciptakan sendiri oleh Tuhan. Ini yang akan menjadi pembeda signifikan antara agama universal dan agama-agama lain. Aku akan menerangkan soal ini nanti.

Sama seperti seorang nabi yang dipilih Tuhan untuk mengajar kebenaran, demikian juga agama universal ini dipilih Tuhan untuk mewartakan sabdaNya bagi seluruh umat manusia. Kalau engkau bijaksana dan sungguh-sungguh menggunakan akal-budimu engkau akan bisa menemukannya di antara sekian banyak agama yang ada.

Mereka yang mengatakan Tuhan telah memilih agama universal baru karena agama universal yang lama sudah gagal atau diselewengkan adalah sama dengan menghina Tuhan, seolah-olah Dia tidak mampu memilih dengan baik sejak awal dan rancanganNya gagal. Kalau sudah begitu sama sekali tidak ada jaminan ‘agama universal’ yang baru juga benar, mungkin saja Tuhan salah lagi dan kita butuh agama universal yang baru lagi. Lalu sampai kapan Tuhan akan membuat agama universal yang baru? Jangan engkau percaya perkataan orang-orang semacam itu, asumsi mereka tidak logis dan mereka hanya akan menyesatkanmu. Ujilah dengan akal sehatmu dan engkau akan menemukan kebenaran.

Perjanjian Dengan Abraham

Sebagai seorang Katolik aku percaya bahwa Gereja Katolik adalah agama universal yang diciptakan oleh Tuhan bagi seluruh umat manusia. Dari namanya, Katolik memang berarti universal. Sekalipun secara resmi Gereja Katolik baru hadir dalam panggung sejarah setelah kehadiran Yesus di dunia, Gereja Katolik bukanlah agama yang sepenuhnya baru. Gereja Katolik merupakan kelanjutan dan penggenapan dari ajaran-ajaran para nabi dalam tradisi agama Yahudi. Bisa dikatakan Gereja Katolik adalah agama universal yang dibentuk Tuhan secara bertahap sejak dimulainya tradisi keagamaan Yahudi yang digenapi dengan kehadiran Yesus Kristus dan berlanjut terus hingga hari ini melalui Paus dan para uskup.

Dalam pengertianku, Tuhan merencanakan penyelamatan manusia memang sejak kejatuhan Adam, tapi momen paling signifikan yang menandai dimulainya pembentukan agama universal ini adalah saat Tuhan melakukan perjanjian dengan Abraham. Setelah Abraham berhasil melewati ujian dimana dia diminta mengorbankan anaknya, Ishak, Tuhan mengikat perjanjian bahwa Ia akan menjadikan keturunan Abraham sebagai bangsa yang besar dan melalui keturunannya semua bangsa akan mendapatkan berkat.

Ini berkaitan erat dengan puncak karya keselamatan, yaitu penyaliban Yesus Kristus. Pada penyaliban Yesus, Tuhan menyelamatkan manusia dengan mengorbankan putraNya sendiri. Lihat benang merahnya, kesediaan dan ketaatan Abraham mengorbankan anaknya menjadi awal dari karya keselamatan yang berpuncak pada pengorbanan diri Yesus Sang Putra Allah. Kesediaan Abraham mengorbankan anaknya menjadi pembuka jalan bagi penyaliban Kristus, Putra Allah, Anak Domba Allah. Setelah Abraham menyatakan kesediaannya mengorbankan Ishak, Tuhan memberikan anak domba sebagai korban pengganti sekaligus tanda dimulainya karya keselamatan, dan ribuan tahun kemudian Tuhan memberikan lagi Yesus Kristus Sang Anak Domba Allah (Agnus Dei) sebagai korban salib yang menjadi puncak karya keselamatan.

Korelasi ini menegaskan hubungan yang tak terpisahkan antara perjanjian Tuhan dan Abraham dengan karya penebusan Yesus Kristus. Dengan sendirinya ini juga menjadi tanda adanya kesinambungan antara tradisi keagamaan Yahudi yang dimulai dari Abraham dan dilanjutkan oleh Gereja Katolik. Hubungan tak terpisahkan antara keturunan Abraham dan Gereja Katolik juga ditegaskan secara simbolik melalui 12 orang rasul pengikut Yesus yang melambangkan 12 suku Israel yang berasal dari 12 anak Yakub, cucu Abraham. Sulit sekali menyangkal ini semua saling berkaitan.

Lihatlah anakku, perjanjian Tuhan dan Abraham ini juga menjadi kunci untuk memahami mengapa Tuhan memilih Abraham dan keturunannya sebagai agama universal, bukan bangsa yang lain: Abraham telah menunjukkan iman dan ketaatan yang begitu besar kepada Tuhan dengan sanggup mengorbankan miliknya yang terbaik bagi Tuhan. Ketaatan dan iman Abraham yang demikian besar ini telah membuat Tuhan berkenan mempercayakan seluruh karya keselamatan melalui Abraham dan keturunannya. Ini semua menjadikan bangunan agama universal ciptaan Tuhan begitu indah, kokoh, dan penuh makna simbolik: dimulai dengan iman dan ketaatan Abraham lalu dipuncaki oleh cinta kasih Yesus Kristus.

Kesetiaan Tuhan

Aku ingin mengulangi lagi pernyataanku: Tuhan hanya menciptakan satu agama universal dan Dia tidak pernah gagal. Eksistensi Gereja Katolik hingga saat ini sebagai perwujudan dari agama universal yang dibentuk Tuhan sejak perjanjianNya dengan Abraham menjadi bukti yang tidak terbantahkan. Sekalipun perjalanan sejarah agama universal ini tidak mulus dan penuh dengan pergolakan, agama universal ini tetap eksis dan terus menjadi cahaya kebenaran bagi seluruh bangsa hingga saat ini.

Faktor yang paling berperan dalam eksistensi agama universal ini adalah kesetiaan Tuhan. Pada masa Perjanjian Lama (PL), bangsa Israel sebagai pembawa agama universal berkali-kali ditaklukkan dan ditindas bangsa lain, mengalami pembuangan, bahkan berkali-kali tidak setia pada Tuhan dan berpaling pada dewa-dewa bangsa asing, namun itu semua tidak membuat Tuhan meninggalkan bangsa Israel. Tuhan tetap percaya dan setia pada keturunan Abraham, Dia tetap menjadikan keturunan Abraham sebagai sarana sabda-Nya.

Demikian juga di dalam sejarah Gereja Katolik, agama universal ini berkali-kali mengalami upaya penghancuran, mulai dari munculnya aliran-aliran bidaah yang memecah-belah gereja, mengalami berbagai tekanan dan penindasan politis, peperangan, ancaman invasi Islam yang memicu munculnya Perang Salib, dan banyak lagi. Ini tidak membuat Gereja Katolik runtuh. Bahkan ketika Gereja Katolik menjadi demikian korup, penuh skandal, tidak setia pada Tuhan dan mencintai keduniawian sehingga memunculkan gerakan reformasi dari Martin Luther, Tuhan juga tidak pernah meninggalkannya. Tuhan hanya memberikan peringatan dan dengan caraNya sendiri Tuhan memulihkan kembali kemurnian Gereja Katolik sebagai agama universal pembawa sabdaNya.

Sama seperti bangsa Israel yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, Gereja Katolik juga penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Namun itu semua tidak mengalihkan penyertaan Tuhan. Kesetiaan dan belas kasih Tuhan jauh lebih besar dari ketidaksetiaan Gereja Katolik. Sebagai penerus keturunan Abraham (secara rohani) sampai saat ini Gereja Katolik tetap dipercaya sebagai agama universal yang menjadi sarana berkat Tuhan bagi seluruh bangsa. Tuhan tetap mempercayakan seluruh SabdaNya kepada Gereja dan menjaganya dari segala kesesatan hingga saat ini. Tak ada satu momen yang cukup signifikan dalam sejarah yang menunjukkan Tuhan pernah mengalihkan berkat dan sabdaNya dari Gereja Katolik. Ini semua membuktikan kesetiaan Tuhan yang tanpa syarat sebagaimana pernah ditegaskan kembali oleh Yesus sendiri: "...Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat. 28:20).


Minggu, 05 Oktober 2008

Satu Kawanan Satu Gembala (5): Sabda Tuhan Dan Agama Universal

Adapun Aku, inilah perjanjian-Ku dengan mereka, firman TUHAN: Roh-Ku yang menghinggapi engkau dan firman-Ku yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya, firman TUHAN.
(Yes. 59:21)


-----------------

Nabi Pewarta Sabda


Semoga sudah menjadi jelas bagimu bahwa Tuhan menghendaki manusia menjadi sempurna. Di dalam hati nurani setiap manusia sesungguhnya terdapat panggilan menuju kesempurnaan, yang ditanamkan oleh Tuhan sendiri. Hal ini sengaja kuulang-ulang supaya benar-benar tertanam dalam pikiranmu yang terdalam.

Lalu dengan cara apa Tuhan memulihkan keadaan manusia yang penuh kelemahan dan dosa ini menjadi sempurna?

Ketika Tuhan memulai karya ciptaNya Dia bersabda, “Jadilah terang…” maka terangpun terjadilah. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan sabdaNya. Ketika ciptaanNya yang utama, yaitu manusia, jatuh ke dalam dosa maka Dia juga memulihkannya dengan sabdaNya yang menyelamatkan. Dengan sabdaNya Dia menciptakan segalanya dan dengan sabdaNya juga Dia memulihkan segalanya.

Memang benar sabda Tuhan terus menyapa semua manusia sepanjang jaman dan di setiap bangsa. Di setiap bangsa selalu muncul orang-orang bijak yang mengajarkan dan mencontohkan kebaikan. Dan itu dalam arti tertentu memang sabda Tuhan juga. Disitu aku bisa menerima kenyataan bahwa agama-agama lain juga pembawa cahaya kebenaran. Namun agama-agama tersebut tidak dimaksudkan sebagai pembawa sabda Tuhan yang bersifat universal, jadi sifatnya cuma lokal dan parsial. Sabda yang diwartakannya hanya dimaksudkan untuk mempersiapkan manusia menerima sabdaNya yang universal. Disini aku menghendaki engkau mengenali keterbatasan yang ada dalam agama-agama lokal tersebut.

Ketika agama-agama tersebut menyadari keterbatasannya, itu bagus. Aku kira itu memang kehendak Tuhan. Keterbatasan yang ada dalam agama-agama itu juga termasuk tidak adanya jaminan tidak dapat salah, dengan kata lain agama-agama tersebut bisa memiliki kesesatan yang berdampingan dengan kebenaran. Tapi ketika agama-agama itu tidak mau menyadari keterbatasannya dan berusaha mengklaim keuniversalan yang bukan haknya, masalahnya menjadi lain. Agama semacam itu bukan lagi pewarta sabda Tuhan melainkan penyesat yang harus dihindari dan dimusnahkan.

Pikirkan seperti ini, bayangkan seolah-olah engkau hidup di jaman seorang nabi. Bukankah melalui orangtuamu engkau juga menerima berbagai ajaran yang baik, yang telah diajarkan nenek-moyangmu secara turun-temurun? Itu tidak salah, tapi ajaran kedua orangtuamu bahkan nenek-moyangmu bagaimanapun ada keterbatasannya. Dan seorang nabi yang dipilih oleh Tuhan telah diberi kuasa dan kemampuan untuk mengajarkan lebih dari apa yang bisa diajarkan kedua orang tuamu. Kalau orang tuamu menyadari keterbatasannya dan menyerahkan engkau untuk belajar serta mendengarkan nabi itu tentu bagus. Itu adalah kehendak Tuhan. Tapi kalau orang tuamu melarang engkau pergi mengikuti sang nabi, tentu menjadi salah. Orang tuamu telah menjadi kaki-tangan iblis dan berbalik menentang Tuhan. Dengan analogi ini mudah-mudahan engkau bisa memahami keterbatasan agama-agama lokal di hadapan agama universal.

Demikian juga melalui rencana keselamatan yang universal sabdaNya secara penuh hadir menyapa manusia melalui sarana pilihan yang dirancang dan dibuatNya sendiri. Sarana ini yang sekarang kita kenal sebagai agama universal. Ini seperti sang nabi yang dipilih Tuhan dalam analogi di atas.

Di dalam agama universal ini kita bisa mengenal sabda Tuhan di sepanjang jaman yang diterima manusia melalui para nabi, rasul, orang-orang kudus, dan juga kitab-kitab suci. Melalui sarana ini Tuhan secara total mencurahkan sabdaNya, apapun yang perlu diketahui manusia demi keselamatannya akan disampaikan melalui sarana ini, bukan yang lain. Bukankah tidak ada sarana yang lebih baik selain agama universal yang telah dibuat dengan tanganNya sendiri?.

Sabda Tuhan - Satu Sabda Banyak Sarana

Sekarang aku ingin engkau juga memperluas wawasanmu bahwa yang namanya sabda Tuhan tidak hanya disampaikan melalui kitab suci saja. Sabda Tuhan bisa hadir juga melalui manusia, baik itu para nabi, orang-orang kudus, atau siapapun yang dipilihNya untuk mewartakan sabda. Nanti aku akan menjelaskan padamu lebih lanjut bahwa sabda Tuhan tidak hanya dipercayakan pada kitab suci saja, tetapi juga pada orang-orang pilihan. Bagaimanapun sabda Tuhan yang tertulis dalam berbagai kitab suci pada awalnya juga hadir melalui manusia. Tuhan itu maha kreatif, Dia bisa menggunakan banyak sarana untuk menyampaikan sabdaNya. Kitab suci hanyalah salah satunya, tapi bukan satu-satunya.

Mungkin timbul pertanyaan, jika Tuhan bisa menggunakan banyak sarana mengapa hanya melalui agama universal? Mengapa Tuhan tidak menggunakan agama-agama lain juga? Sebenarnya kalau engkau cermati dengan baik, agama universal yang aku bicarakan merupakan kumpulan dari banyak ajaran, tulisan, dan kisah-kisah para nabi serta orang-orang pilihan di berbagai jaman. Tetapi para nabi dan ajaran-ajarannya tidak membentuk agama yang berbeda-beda melainkan membentuk satu kesatuan ajaran yang utuh dalam satu agama universal. Jadi bisa dikatakan sabda Tuhan dalam agama universal sebenarnya sudah mencerminkan penggunaan banyak sarana pewartaan sabda Tuhan karena merupakan kumpulan dari ajaran-ajaran para nabi dan kitab-kitab suci. Ajaran para nabi dan kitab-kitab suci yang berbeda-beda namun membentuk satu kesatuan dalam agama universal ini menandakan adanya satu sumber sabda Tuhan yang sama.

Agama Universal Sebagai Jaminan Otentisitas Sabda

Adanya satu agama universal juga merupakan cara Tuhan untuk memberi jaminan otentisitas sabdaNya. Melalui agama universal yang satu Tuhan menegaskan bahwa apa yang ada di dalamnya adalah sabdaNya yang sesungguhnya (otentik) dan bebas dari kesesatan. Ini sangat penting untuk menghindarkan manusia dari sabda Tuhan yang palsu. Harus engkau sadari bahwa ada banyak upaya-upaya untuk menyesatkan manusia dengan cara memalsukan dan membajak sabda Tuhan untuk maksud-maksud lain.

Jika tidak ada agama universal pasti akan menimbulkan kesulitan yang serius: bagaimana manusia bisa menemukan sabda Tuhan yang otentik diantara sekian banyak ajaran dan agama-agama dunia yang berbeda satu sama lain? Tanpa adanya agama universal ini manusia akan dibingungkan dengan begitu banyak ‘kitab suci’ dan ajaran yang mengklaim sebagai sabda Tuhan. Semuanya kelihatannya baik, ajaran-ajaran palsu ini sepintas lalu memang mirip dengan sabda Tuhan yang sesungguhnya. Sungguh-sungguh sulit untuk membedakannya. Apalagi manusia begitu mudah termakan oleh propaganda yang menyesatkan sehingga apa yang salah dianggap benar sedangkan yang benar justru dikira palsu. Apa pegangan manusia dalam situasi seperti ini? Tanpa agama universal maka tidak ada kepastian jalan kebenaran dan jurang menuju kesesatan akan terbuka lebar.

Butuh karunia dan rahmat khusus untuk bisa mengetahui mana sabda Tuhan yang benar dan mana yang bukan. Sama seperti Tuhan di jaman dulu telah memberikan karunia khusus ini kepada para nabi yang dipilihNya dan tidak kepada semua orang, Tuhan sampai sekarang juga mempercayakan rahmat dan karunia khusus ini kepada agama universal yang dibangun dengan tanganNya sendiri, bukan kepada yang lain. Adanya agama universal memberikan kepastian sabda Tuhan yang benar dan otentik. Cukup dengan percaya pada apa yang diajarkan agama universal, engkau sudah terhindar dari kesesatan dan engkau sudah mendengarkan sabda Tuhan yang membawa kebenaran dan menyelamatkan. Tidak perlu ada keraguan lagi.

Sekarang bagimu sudah cukup jelas bahwa sabda Tuhan yang otentik dipercayakan pada agama universal. Ada dua hal yang penting yang akan engkau dapatkan melalui agama universal. Yang pertama terdapat jaminan bahwa seluruh sabda Tuhan yang perlu bagi keselamatan manusia sudah tersedia seluruhnya di dalam agama universal. Yang kedua, terdapat jaminan bahwa seluruh ajaran yang ada di dalamnya terbebas dari kesesatan. Ini semua dimungkinkan karena Tuhan sendirilah yang membentuk agama universal ini. Kedua hal penting ini, kebenaran yang penuh dan bebas dari kesesatan, tidak mungkin ada dalam agama lain. Jadi sekalipun ada kebenaran dan kebaikan di dalam agama lain, kebenaran tersebut tidak penuh dan juga tidak bebas dari kekeliruan. Extra ecclesiam nulla salus - Tuhan tidak memberikan jalan keselamatan lain selain yang telah diberikanNya melalui agama universal!


Satu Kawanan Satu Gembala (4): Manusia Dan Citra Tuhan

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
(Kej. 1:26-27)


----------------

Agama Dan Kesempurnaan

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang agama universal ini, aku ingin mengajak kalian merenungkan lagi mengapa Tuhan menciptakan agama universal. Agama diciptakan tentu agar dapat membawa manusia menuju kebenaran dan menjadikan manusia menjadi lebih baik. Kalau manusia sudah berada dalam keadaan baik, untuk apa lagi Tuhan menciptakan agama?

Jadi adanya agama mengandaikan bahwa manusia berada dalam keadaan tidak mengenal kebenaran dan dalam kondisi yang tidak baik. Keadaan ini tidak dikehendaki Tuhan sehingga Dia menciptakan agama universal untuk membawa manusia pada kebenaranNya dan menjadikan manusia lebih baik dari sebelumnya. Jika agama universal adalah jalan terbaik yang telah disediakan Tuhan sendiri, maka tentunya jalan tersebut dapat membawa manusia pada kondisi terbaik yang mungkin ada pada manusia. Dan kondisi terbaik yang mungkin pada manusia adalah menjadi manusia sempurna, tidak ada lagi kondisi yang lebih baik dari itu. Jadi agama universal adalah jalan terbaik yang dapat membawa manusia pada kesempurnaan.

Tapi masalahnya ada banyak ukuran sempurna. Jika engkau tanyakan pada 10 orang mungkin akan ada 10 ukuran sempurna yang berbeda-beda. Tidak heran jika ada banyak agama yang menawarkan manusia untuk sampai pada kesempurnaan tapi pada akhirnya jatuh pada ukuran sempurna yang relatif. Bahkan ada yang bilang tidak ada ciptaan yang sempurna, termasuk manusia. Bagiku ini sebuah penghinaan terhadap Tuhan karena sama saja dengan mengatakan Tuhan tidak mampu menciptakan mahluk yang sempurna! Dimanakah kesempurnaan dan kemahakuasaan Tuhan kalau begitu? Tentunya Tuhan mampu menciptakan manusia yang sempurna.

Sebenarnya hanya ada satu ukuran sempurna yang mutlak, yaitu sempurna seperti Tuhan sendiri. Adakah yang akan membantah perkataanku ini dan memberikan alternatif yang lebih baik? Tak ada yang lebih sempurna dari pada Tuhan maka dari itu bagi manusia tak ada yang lebih baik dari pada menjadi seperti Tuhan sendiri. Tuhan adalah ukuran sempurna yang mutlak.

Dengan demikian Tuhan menciptakan agama universal bagi manusia bukan sekedar membuat manusia menjadi lebih baik tapi lebih dari itu. Yaitu manusia bisa menjadi sempurna seperti Dia sendiri adalah sempurna. Ini harus engkau ingat baik-baik karena akan menjadi salah satu unsur pembeda penting yang memisahkan agama universal dengan agama-agama lainnya.

Engkau akan melihat bahwa panggilan untuk menjadi sempurna seperti Tuhan ini ada dalam Injil:

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
(Mat. 5:48)


Aku belum melihat tuntutan se-ekstrim ini di agama-agama lain. Mungkin tuntutan untuk menjadi sempurna ada di agama lain, tapi sempurna yang seperti apa? Tuntutan menjadi sempurna seperti Tuhan hanya ada di dalam Injil.

Kesempurnaan Sebagai Jati Diri Manusia


Dari apa yang telah aku pelajari dari agama Katolik aku mengetahui bahwa kondisi sempurna ini bukan suatu kondisi yang baru sama sekali. Kondisi inilah yang justru pada mulanya ada pada manusia. Dalam pemahaman iman Katolik, manusia adalah puncak karya penciptaan Tuhan. Setelah menciptakan manusia, Tuhan merasa puas dan merayakannya dengan beristirahat. Dan karya terbaik yang mampu dihasilkan oleh Tuhan adalah membuat ciptaan yang serupa dengan diriNya sendiri, yaitu manusia yang diciptakan sempurna sesuai dengan citraNya.

Demikianlah, Adam dan Hawa yang kisahnya tertulis dalam Kitab Suci adalah gambaran metaforis manusia awal sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna dan hidup dalam kondisi ideal. Namun sayang sekali karena ketidaktaatan dan penyalahgunaan kehendak bebas, manusia pertama ini telah kehilangan kondisinya yang sempurna sebagai citra Tuhan dan untuk selanjutnya hidup dalam penderitaan selama turun-temurun. Ketidaktaatan manusia pertama dan hilangnya hidup manusia sebagai citra Tuhan adalah dosa asal yang suatu saat harus dipulihkan kembali.

Saat Tuhan kehilangan ciptaan terunggulNya, manusia berusaha lari dan sembunyi tapi Tuhan justru mencarinya, "Dimanakah engkau?" Dengan demikian Tuhan yang merasakan kehilangan dan berinisiatif mencari manusia. Dia ingin memulihkan kondisi manusia kembali menjadi sempurna sebagai citraNya.

Karena manusia telah jatuh ke dalam dosa dan kehilangan kesempurnaannya, manusia memang harus diusir dari Taman Eden. Manusia sudah tidak layak lagi hidup bersama Tuhan. Ini bukan berarti Tuhan membenci manusia karena bersamaan dengan itu Tuhan sendiri menyiapkan suatu rencana penyelamatan yang akan membuat manusia kembali menemukan martabatnya sebagai citra-Nya. Tuhan ingin manusia kembali lagi kepadaNya sebagai anak-anakNya yang sempurna, bukan sebagai hamba dosa.

Telah kukatakan tadi bahwa setelah manusia terpisah dari Tuhan, bukan manusia yang ingin kembali pada Tuhan tapi sebaliknya justru Tuhanlah yang mencari manusia. Sekalipun manusia sudah jatuh kedalam tipu daya Iblis, Tuhan tahu bahwa ciptaanNya tidak sepenuhnya gagal dan kejatuhan ini bisa dipulihkan dengan suatu rencana keselamatan. Dan soal rencana keselamatan itu, Tuhan tidak peduli harganya, berapapun biayanya Tuhan siap melaksanakannya karena manusia adalah ciptaan yang begitu berharga dimataNya. Jadi rencana keselamatan adalah inisiatif yang berasal dari Tuhan sendiri.

Karya Keselamatan - Karya Cinta Tuhan

Kalian mungkin masih ingat sewaktu kalian kecil dulu aku membelikan kalian beberapa ekor kelinci yang lucu. Kalian senang sekali dengan kelinci-kelinci itu dan setiap hari aku mengeluarkannya dari kandang supaya kalian bisa bermain-main dengan kelinci-kelinci itu. Suatu saat salah satu kelinci itu lepas dari kandang dan hilang entah kemana, kalian sedih dan aku beserta ibumu mencari-cari kelinci kecil itu semalaman sampai akhirnya ketemu. Kelinci itu cuma binatang yang harganya hanya puluhan ribu seekor dan aku sebenarnya bisa membelinya lagi, tapi toh kita semua terlanjur sayang dan kehilangannya membuat kita mau bersusah payah mencarinya sampai ketemu. Maka dari itu kita juga bisa memahami betapa besar rasa kehilangan Tuhan saat manusia ciptaanNya yang begitu dikasihi jatuh ke dalam dosa dan kehilangan martabatnya oleh tipu daya iblis. Dan bagaimana Tuhan sendiri juga akan melakukan apapun yang mungkin untuk dapat menyelamatkan manusia kembali.

Dengan demikian inilah yang menurutku menjadi alasan mengapa Tuhan membangun sebuah agama universal untuk manusia: Tuhan ingin memulihkan martabat manusia agar kembali menjadi sempurna sebagai citra Tuhan. Ini dilakukanNya supaya manusia layak hidup bersama-sama dengan Tuhan dalam cinta kasih yang maha membahagiakan.

Jadi bisa disimpulkan bahwa agama universal ini adalah rencana keselamatan yang telah dirancang sendiri oleh Tuhan sejak kejatuhan Adam. Dan dalam ajaran Katolik, harga dari rencana keselamatan ini sungguh tidak terbayangkan besarnya: Tuhan sendiri rela mati di kayu salib untuk memulihkan martabat manusia. Engkau bayangkan nak, harga sebesar itu untuk menebus manusia-manusia durhaka seperti kita ini sungguh tidak masuk di akal kecuali dipahami dengan alasan ini: begitu besar kasih Tuhan kepada manusia sehingga Dia sendiri mau menyerahkan nyawaNya di kayu salib untuk menebus kesalahan dan dosa-dosa manusia, agar manusia kembali memperoleh martabatnya sebagai citra Tuhan dan hidup dalam kemuliaan surgawi bersamaNya.

Sejauh ini aku telah menjelaskan mengapa Tuhan menciptakan agama dan apa tujuan Tuhan menciptakan agama. Sekarang coba engkau selidiki hal tersebut pada agama-agama lain. Telah kukatakan bahwa Tuhan menciptakan agama karena Dia begitu mencintai manusia dan ingin menyelamatkannya dari kejatuhan akibat dosa. Dan itu dibuktikanNya dalam perbuatan, bukan sekedar kata-kata. Tuhan membangun agama universal karena cinta. Selidiki adakah alasan yang lebih baik dari ini dalam agama-agama lain?

Juga kukatakan bahwa tujuan agama adalah memulihkan martabat manusia untuk kembali menjadi sempurna sebagai citra Tuhan. Selidiki adakah tujuan yang lebih baik dari ini dalam agama-agama lain? Adakah agama yang menjadikan kesempurnaan seperti Tuhan sebagai tujuan akhir martabat manusia? Aku sendiri terus terang belum sanggup menemukannya.

Satu Kawanan Satu Gembala (3): Jalan-Jalan Menuju Tuhan

Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.
(Mat. 7:13-14)


--------------------

Ada Banyak Tawaran Jalan


Anakku, memilih jalan yang benar di antara sekian banyak jalan yang ada di hadapan kalian bukan perkara mudah. Adalah sebuah kenyataan yang harus kalian terima bahwa kalian hidup dalam masyarakat yang plural dengan agamanya yang beragam. Dan kalau kalian mengamati dengan baik agama-agama yang berbeda tersebut, kalian akan sampai pada kesimpulan yang sama dengan aku: semua agama mengajarkan kebaikan.

Tapi apakah dengan demikian semua agama sama saja? Apakah semua agama mengajarkan kebaikan-kebaikan yang sama dan mengarahkan manusia pada tujuan yang sama? Atau lebih jauh lagi apakah semua agama yang beragam itu berasal dari Tuhan yang satu dan sama?

Mungkin ada banyak orang yang terpancing menjawab pertanyaan ini dengan jawaban penuh basa-basi dan semangat toleransi: semua agama sama baiknya, semua agama berasal dari Tuhan atau semua agama sama-sama mengarahkan manusia pada Tuhan. Ada yang mengambil perumpamaan seolah-olah agama-agama yang berbeda itu seperti orang-orang buta yang sedang memegang bagian-bagian yang berbeda dari seekor gajah dan berusaha menjelaskan apa itu gajah sesuai dengan apa yang dipegangnya. Ada juga yang mengambil perumpamaan seolah-olah agama itu hanyalah jalan yang berbeda-beda yang sebenarnya mengarahkan manusia pada tujuan yang sama. Dan ada banyak lagi jawaban basa-basi lainnya yang kira-kira serupa.

Jawaban semacam ini tidak dapat dipertanggungjawabkan oleh akal sehat. Bagaimana mungkin dua agama atau lebih yang saling bertentangan bisa sama-sama benar? Aku akan mengambil contoh yang ekstrim: orang Katolik (dan juga Kristen pada umumnya) percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, tapi Islam menolak keras Yesus sebagai Tuhan. Bisakah kedua ajaran tersebut sama-sama benar? Salah satunya sudah pasti salah. Ada jawaban yang mencoba jalan tengah dengan mengatakan bahwa pemakaian atribut Tuhan pada pribadi Yesus hanyalah sekedar simbol dan tidak berarti Tuhan yang sesungguhnya. Tapi aku akan mengatakan sebagai seorang Katolik bahwa Yesus memang benar diyakini sebagai Tuhan dalam arti kata yang sesungguhnya dalam iman Katolik, tidak pernah kurang dari itu. Jadi menurutku ini kenyataan pahit yang harus diterima: salah satu dari kedua agama itu pasti salah.

Meskipun demikian jawaban basa-basi yang mencoba mengkompromikan keduanya harus dimengerti sebagai upaya untuk menjaga kerukunan umat beragama dan untuk menjaga perasaan orang lain yang berbeda agama. Maklumlah, bangsa kita bukanlah bangsa yang rasional dan mampu menerima kelemahan dengan kepala dingin. Apalagi dalam hal yang sangat sensitif seperti agama. Bisa kalian bayangkan apa yang terjadi kalau di negara kita ini agama seseorang dikatakan sebagai agama yang keliru dan tidak berasal dari Tuhan?

Agama Memang Tidak Sama

Sebaliknya, aku tidak akan memberikan jawaban basa-basi semacam itu yang hanya akan membuat kalian bingung untuk memutuskan jalan kebenaran yang harus kalian pilih. Sekiranya aku harus memilih sikap, aku lebih takut menyesatkan kalian dari pada menyinggung perasaan orang lain. Membimbing kalian menuju kebenaran adalah tugas suci yang aku terima dari Tuhan sebagai orang tua, dan aku lebih takut kepada Tuhan dari pada kepada manusia.

Pada kenyataannya cepat atau lambat aku harus memilih tetap berbasa-basi pada manusia atau bersikap tegas demi kebenaran Tuhan. Dan sekarang aku memutuskan untuk bersikap tegas demi kebenaran, aku akan menjawab pertanyaan di atas: tidak semua agama sama baiknya. Sekalipun kebaikan dan ajaran-ajaran yang ada dalam semua agama memang berasal dari Tuhan yang satu tapi tidak semua agama tersebut dirancang dan diciptakan Tuhan bagi manusia. Bahkan aku akan mengatakan yang lebih ekstrim lagi: Tuhan hanya menciptakan satu agama untuk manusia, tidak lebih. Tuhan di berbagai jaman telah memilih dan mengutus banyak nabi serta orang-orang pilihan untuk mengajarkan manusia jalan kebenaranNya. Bagiku itu adalah bagian dari sebuah proses yang dilakukan Tuhan dalam menciptakan satu agama untuk manusia, tidak lebih.

Memang ada pandangan yang mengatakan bahwa agama sesungguhnya hanyalah ciptaan manusia sebagai ungkapan kerinduan kepada Tuhan, oleh karenanya tidak ada satupun agama yang bisa merasa berhak sebagai agama yang paling benar bagi manusa. Jika agama itu ciptaan manusia, siapakah yang bisa melarang kita untuk menciptakan agama baru bagi diri kita sendiri? Tidak ada! Konsekuensinya tidak ada nilai-nilai absolut, semua kebenaran akan bersifat relatif. Semua orang akan menciptakan kebenaran sesuai keinginan dan ukurannya sendiri.

Satu Agama Untuk Semua

Jadi hanya mungkin ada agama yang layak ditaati manusia kalau agama itu memang ciptaan Tuhan. Tapi apakah Tuhan menciptakan hanya satu agama? Mengapa Dia tidak menciptakan agama yang berbeda-beda untuk manusia yang berbeda-beda budayanya?

Memang betul manusia berbeda-beda kebudayaan dan tradisinya, tapi apakah Tuhan juga harus menciptakan lebih dari satu agama yang berbeda satu sama lain? Bagi Tuhan perbedaan budaya dan tradisi tidak mengubah kenyataan bahwa kesemuanya itu adalah satu umat manusia yang sama. Di mata Tuhan tidak ada perbedaan ras dan budaya, Tuhan sama sekali tidak rasialis! Bagi Tuhan semua manusia adalah satu umat.

Jika demikian tidak mampukah Tuhan menciptakan hanya satu agama untuk seluruh manusia yang satu itu? Atau adakah manusia yang berani menganggap Tuhan tidak mampu menciptakan satu agama yang dapat berlaku secara universal untuk semua manusia? Tentu jawabannya Tuhan pasti mampu menciptakan satu agama universal semacam itu. Memang ada orang yang dalam semangat pluralisnya mengatakan demikian: Tuhan tidak cukup dimengerti hanya melalui satu agama. Itu benar jika agama yang dimaksud adalah agama-agama ciptaan manusia. Tetapi untuk agama universal yang diciptakan Tuhan tentu pandangan itu tidak berlaku. Agama universal ciptaan Tuhan pasti sanggup memberikan semua kebenaran yang dibutuhkan manusia untuk mengenal dan mencintai Tuhan.

Pertanyaan lain yang mungkin muncul, mengapa Tuhan tidak menciptakan dua atau tiga agama yang berbeda yang sama benarnya dan sama baiknya? Mengapa Tuhan hanya menciptakan satu agama?

Sebelum engkau menjawabnya tanyalah pada dirimu sendiri adakah sebuah negara di dunia ini yang diatur oleh dua atau lebih undang-undang dasar? Tentu saja tidak, dua undang-undang dasar yang berbeda dalam satu negara hanya akan membuat keadaan menjadi kacau dan memunculkan pertentangan yang tidak ada habisnya. Adakah kapal yang dipimpin oleh dua nahkoda atau lebih? Tentu tidak ada, karena kalau ada kapal semacam itu tentu tidak pernah sampai ke tujuan atau akan tenggelam di tengah lautan karena pertentangan diantara awaknya. Demikian juga jika Tuhan melihat manusia sebagai satu umat, tentunya Dia akan memberikan satu hukum yang sama untuk semua orang, bukan dua atau lebih yang hanya akan membawa perpecahan abadi.

Coba engkau bayangkan apa jadinya jika Tuhan menciptakan satu agama untuk orang Jawa, satu agama untuk orang Arab, satu agama untuk orang Cina, dan masing-masing satu agama untuk bangsa-bangsa lain?

Pada masa lalu dimana bangsa-bangsa merupakan komunitas yang cenderung terpisah satu sama lain ide semacam ini tampak baik. Tapi menjadi tidak memadai lagi jika komunitas manusia cenderung menjadi satu dan tidak lagi terpisah-pisah dalam wilayah geografis atau komunitas-komunitas etnis seperti yang sekarang terjadi dalam era globalisasi. Aku yakin tentu saja Tuhan sudah memperhitungkan kemungkinan semakin bersatunya manusia menjadi satu komunitas global.

Agama-agama yang berbeda itu, yang dalam banyak hal memiliki perbedaan yang mendasar (seperti contoh soal ketuhanan Yesus itu tadi) hanya akan menghalangi manusia untuk percaya akan adanya kebenaran mutlak. Semua kebenaran menjadi relatif dan subyektif. Karena kebenaran mutlak menjadi mustahil, maka juga berarti tidak ada Tuhan. Dari alasan ini saja engkau mengetahui bahwa Tuhan tidak mungkin menciptakan banyak agama karena hal itu hanya akan menjauhkan manusia dari kebenaran. Jadi kesimpulannya jelas, Tuhan memang menghendaki satu agama universal yang akan menjadi jalan kebenaran mutlak bagi seluruh manusia.

Dengan memahami ini kalian menjadi tahu bahwa dari sekian banyak agama yang ada sekarang ini memang hanya ada satu agama yang layak menjadi agama kalian dan Tuhan menghendaki kalian memilih agama itu, yaitu agama yang telah diciptakanNya sendiri bagi manusia.

Lalu bagaimana dengan agama-agama lainnya? Bukankah ada banyak orang yang sungguh-sungguh tulus dan baik yang berasal dari agama-agama tersebut?

Anakku, aku tidak pernah mengatakan bahwa agama-agama lain adalah agama yang sepenuhnya buruk dan tidak mengandung ajaran kebenaran. Aku sungguh menaruh hormat pada agama-agama itu karena bagamanapun agama-agama itu telah menjadi penerang bagi sebagian manusia yang dengan tulus berusaha mencari Tuhan dan kebenaranNya.

Dalam kenyataannya agama-agama tersebut dalam batas-batas tertentu juga mengajarkan kebenaran dan membawa manusia menjadi lebih baik. Tapi dengan sangat menyesal aku harus mengatakan bahwa agama-agama tersebut tidak mampu mengajarkan kebenaran dan kebaikan pada tingkat yang sama dengan agama yang diciptakan Tuhan bagi manusia, yakni agama universal yang aku maksudkan. Logikanya sederhana saja: tidak mungkin yang bukan Tuhan mampu menyamai atau bahkan melebihi karya Tuhan sendiri. Jadi engkau tidak perlu ragu untuk memilih agama universal dan melepaskan yang lain.

Kalian mungkin akan bertanya: lalu dari manakah kebaikan dan kebenaran yang ada pada agama-agama itu berasal? Sumbernya banyak, dan langsung atau tidak langsung memang berasal dari Tuhan juga. Bukankah Tuhan itu sumber segala kebaikan dan kebenaran?

Pada setiap manusia Tuhan telah memberikan hati nurani yang memiliki bibit kebaikan dan kerinduan akan kebenaran. Dari orang-orang yang sungguh tulus mencari kebenaran dan melakukan kebaikan ini agama-agama yang muncul dalam berbagai tradisi dan bangsa mendapatkan ajaran kebenarannya. Sementara itu beberapa agama lainnya memperoleh ajaran kebenaran dan kebaikan dengan jalan mencomot sebagian ajaran-ajaran yang sudah ada dalam agama ciptaan Tuhan.

Baik kebenaran yang muncul dari hati nurani orang-orang suci maupun kebenaran yang ditiru dari agama Tuhan, semuanya langsung atau tidak langsung memang berasal dari Tuhan juga. Pada suatu bangsa, yang entah karena jaman atau karena terpisah secara geografis belum mengenal agama Tuhan, agama-agama ini juga bisa menjadi sarana untuk mengarahkan manusia pada kebenaran meski belum sempurna. Aku percaya, menurut kebijaksanaan-Nya sendiri Tuhan juga menggunakan agama-agama buatan manusia ini untuk mengarahkan manusia kepada-Nya. Seperti kata pepatah: tidak ada rotan, akarpun berguna.

Aku ingin mengumpamakan ini seperti air yang sama tapi diambil dari tempat yang berbeda-beda, ada yang mengambilnya dari mata air yang jernih, tapi ada juga yang mengambil dari sungai atau tempat lain yang sedikit banyak sudah tercemar dan tidak murni lagi. Agama universal ini seperti mata air yang dipersiapkan oleh Tuhan supaya manusia bisa mengambil air yang jernih dan berlimpah yang tidak pernah habis. Sedangkan agama-agama lain seperti sungai-sungai atau danau-danau kecil yang sedikit banyak sudah tercemar dan tidak murni seperti halnya mata air tadi. Kalau engkau belum bisa menemukan mata air itu, tentu mengambil air dari sungai atau danau juga tidak apa-apa asalkan engkau memasaknya lebih dulu supaya kuman-kumannya hilang. Tapi jika engkau sudah menemukan mata air yang jernih yang dipersiapkan Tuhan sendiri, untuk apa lagi mengambil dari sungai atau danau? Jika engkau tetap mengambil air di tempat lain bisa jadi engkau justru mengecewakan dan menyakiti hati Tuhan yang telah dengan susah payah menyiapkan sumber mata air murni.

Membedakan Agama Universal Dengan Yang Lain

Baiklah kita sudah sampai pada kesimpulan penting ini: Tuhan hanya menciptakan satu agama universal untuk seluruh manusia, tidak lebih. Sekarang bagaimanakah kita bisa mengetahui yang mana agama universal ciptaan Tuhan diantara sekian banyak agama yang mengaku sebagai agama yang berasal dari Tuhan? Adakah ciri khusus yang bisa membuat kita mampu membedakan agama universal ini dengan agama-agama lainnya?

Jika kalian percaya bahwa karya Tuhan jauh melampaui karya-karya manusia, maka agama universal ini tentunya memiliki keunggulan yang jauh melampaui agama lainnya. Keunggulan itu menjadi mutlak dan tak terbantahkan lagi apabila di dalam agama universal itu terdapat unsur-unsur yang hanya mungkin dibuat oleh Tuhan sendiri.

Untuk apa Tuhan menciptakan agama universal kalau manusia sendiri sudah mampu menciptakan agama yang setara dengan itu? Dengan demikian Tuhan menciptakan agama universal karena manusia memang tidak mampu menciptakan agama yang semacam itu. Dengan kata lain dalam agama universal itu pasti terdapat unsur-unsur yang tidak mungkin dapat dibuat oleh tangan manusia tidak peduli seberapa hebatnyapun manusia itu.

Jadi inilah kesimpulanku: agama universal selain memiliki keunggulan yang melampaui agama-agama lainnya pasti memiliki unsur-unsur yang tidak mungkin diciptakan oleh manusia, tidak peduli seberapapun kerasnya usaha manusia dan sampai kapanpun manusia mencobanya. Dengan demikian ada landasan obyektif untuk memilih manakah agama universal itu diantara sekian banyak agama yang ada. Ini adalah salah satu kunci penting untuk menemukan agama universal ciptaan Tuhan.

Aku tidak ingin mengatakan bahwa aku berangkat dari sikap yang sepenuhnya netral seolah-olah saat ini aku tidak memeluk agama apapun. Dalam perjalanan hidupku aku telah berkesempatan mempelajari dan menjalani berbagai ajaran agama sampai akhirnya aku menemukan agama universal itu, yaitu Katolik. Kebetulan dari namanyapun Katolik sudah berarti universal. Aku tidak memilihnya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan subyektif saja, tapi juga berdasarkan pertimbangan-pertimbangan obyektif. Antara lain konsep-konsep ajarannya yang melampaui agama manapun juga, dan dalam agama Katolik terdapat elemen-elemen mendasar yang sangat kokoh yang tidak mungkin dapat dibuat oleh manusia. Ini yang membuatnya unggul jauh melampaui agama-agama lain yang tidak diciptakan Tuhan. Aku akan berupaya menjelaskan ini semua kepadamu, selain untuk membantumu memilih agama yang benar juga sebagai bagian dari pertanggungjawaban imanku sendiri.

Satu Kawanan Satu Gembala (2): Naiklah Keatas

Kemudian naiklah Musa dari dataran Moab ke atas gunung Nebo, yakni ke atas puncak Pisga, yang di tentangan Yerikho, lalu TUHAN memperlihatkan kepadanya seluruh negeri itu: daerah Gilead sampai ke kota Dan, seluruh Naftali, tanah Efraim dan Manasye, seluruh tanah Yehuda sampai laut sebelah barat, Tanah Negeb dan lembah Yordan, lembah Yerikho, kota pohon korma itu, sampai Zoar.
(Ul. 34:1-3)


-----------------------

Aku akan mulai dengan cerita sederhana ini.

Ada dua anak yang sedang mencari jalan pulang ke rumahnya. Di tengah hutan mereka tersesat dan bingung dengan banyaknya pilihan jalan. Mereka berpikir semua jalan-jalan itu tentunya akan membawa mereka pergi dari tempat itu, tapi apakah jalan tersebut akan membawa mereka pulang? Belum tentu! Merekapun kebingungan dan mulai menangis tidak tahu harus memilih jalan yang mana. Beberapa saat kemudian kakaknya mulai dapat menguasai diri dan berpikir dengan jernih.

"Adikku, jangan menangis. Kita tidak mungkin sampai di rumah kalau engkau terus menangis seperti ini. Ayo kita naik ke atas pohon yang tinggi, supaya kita bisa melihat jalan mana yang bisa membawa kita pulang ke rumah."

Mulailah mereka naik ke pohon yang tinggi. Semakin tinggi mereka naik, semakin jelas ke arah mana jalan-jalan tersebut akan membawa mereka. Ada jalan yang hanya berputar-putar di sekitar hutan, ada jalan yang menuju hutan lain, ada juga jalan yang tampaknya mengarah ke rumah mereka tapi sesungguhnya justru membawa mereka menjauh dari rumah. Setelah mengamati semuanya dengan seksama akhirnya mereka menemukan sebuah jalan yang bisa membawa mereka pulang ke rumah. Merekapun turun dan mengikuti jalan tersebut hingga akhirnya sampai di rumah dengan selamat.


Begitulah anakku, dulu manakala manusia masih terkotak-kotak pada komunitasnya sendiri seorang anak tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti agama orang tua atau masyarakat sekitarnya. Dalam kondisi seperti itu engkau tidak akan disalahkan sepenuhnya jika mengikuti agama yang kurang baik karena memang hanya itu jalan terbaik yang tersedia. Tapi sekarang tidak demikian lagi, engkau dihadapkan pada banyak pilihan agama yang masing-masing mengklaim dirinya sebagai jalan kebenaran. Bukan hanya kalian tapi ada begitu banyak orang di seluruh dunia ini yang berada dalam kebingungan untuk memilih jalan kebenaran di tengah begitu banyaknya pilihan agama-agama yang ada.

Ada yang memilih jalan berdasarkan dorongan hatinya dan pertimbangan-pertimbangan yang sederhana seperti keuntungan-keuntungan ekonomis maupun politis, ada juga yang sekedar mengikuti apa yang dipilih oleh orang tua, teman hidup, atau lingkungannya. Cara demikian sangat besar resikonya dan sungguh-sungguh tidak bertanggungjawab. Tak ada jaminan agama yang menarik dan semarak adalah agama yang benar. Tak ada jaminan agama yang memberikan keuntungan-keuntungan duniawi adalah agama yang benar. Dan tak ada jaminan agama yang diikuti orang-orang yang terdekat dengan kita atau agama yang secara tradisi diikuti keluarga kita secara turun-temurun adalah agama yang benar.

Aku mengharapkan kalian bertindak seperti kedua anak yang tersesat itu: naiklah ke atas dan lihatlah jalan mana yang akan membawamu pulang. Yang kumaksudkan dengan naik ke atas adalah kalian harus membebaskan diri dari sikap-sikap subyektif, pandangan-pandangan sempit, tradisi-tradisi yang keliru dan tawaran-tawaran kebenaran palsu. Selanjutnya kalian harus mulai menggunakan akal budi dan hati nurani supaya kalian dapat melihat dengan lebih jelas kemana agama-agama itu akan mengarahkan jiwamu dan agama mana yang akan mengarahkanmu pada kebenaran yang sesungguhnya. Hanya dengan cara naik ke atas engkau dapat melihat kebenaran sejati.

Dengan menggunakan akal budi dan hati nurani kalian akan melihat bahwa semua agama memang mengajarkan kebaikan, tapi sesungguhnya kebaikan yang diajarkan sekian banyak agama yang berbeda-beda itu tidak sama. Engkau akan melihatnya kalau engkau mau naik ke atas. Ini seperti cerita di atas, semua jalan memang akan membawa kedua anak pergi dari tempat itu, tapi tidak semua jalan dapat mengarahkan anak-anak itu pulang. Melalui akal budi dan nurani, kalian akan mengetahui ke arah mana tujuan perjalanan hidupmu yang sesungguhnya, dan jalan mana yang akan membawa kalian ke tujuan itu. Sekarang aku akan mencoba mengajak kalian naik ke atas untuk melihat jalan mana yang membawa kalian sampai ke tempat tujuan. Semoga kalian dapat melihat jalan itu dan selanjutnya kalian berani mengambil keputusan untuk mengikutinya sampai ke tujuan.

Satu Kawanan Satu Gembala (1): Untuk Anak-Anakku

Anak-anakku, kalian adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepadaku. Sama seperti kata-kata para bijak, kalian bukanlah milikku ataupun milik kami orang tuamu. Kalian adalah pribadi-pribadi bebas ciptaan Tuhan yang dipercayakan pada kami.

Adalah sebuah kebahagiaan dan kegembiraan bagi kami karena telah dipercaya Tuhan untuk menjadi sarana kehadiran kalian di dunia. Tapi bersama dengan itu di dalamnya terkandung suatu tugas dan tanggung jawab yang berat sekaligus suci, yaitu membimbing dan membesarkan kalian sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri.

Di antara sekian banyak tugas dan kewajiban kami dalam membesarkan kalian, bagiku salah satu yang terpenting dan terluhur adalah ini: mengarahkan kalian ke dalam jalan Tuhan supaya kalian dapat menapaki jalan yang telah dipersiapkanNya untuk menjadi manusia yang utuh sesuai dengan kehendakNya.

Ini bukan tugas yang ringan, tapi sebaliknya sangat berat dan menuntut seluruh kemampuan terbaik yang aku miliki. Tugas ini sungguh berat karena kalian hidup dalam masyarakat yang plural dimana ada banyak jalan yang memproklamirkan diri sebagai jalan Tuhan yang benar sehingga kebenaran sejati semakin sulit ditemukan.

Dan yang lebih berat lagi karena kalian dibesarkan dalam dua tradisi iman yang berbeda. Ibumu, sama seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, mengikuti agama Islam sebagai jalan hidupnya. Sebaliknya aku ayahmu, sekalipun dulu sedikit-banyak pernah menjalani hidup sebagai seorang muslim serta pernah mengikuti berbagai ajaran agama dan kepercayaan, sekarang telah menetapkan pilihan menjadi seorang Katolik.

Memang hidup dalam kondisi demikian membuat kalian sulit untuk menentukan pilihan agama. Tapi menurutku hal tersebut justru memiliki keuntungan tersendiri karena kalian dituntut memiliki kesadaran untuk memilih agama secara bertanggungjawab, bukan mengikuti tradisi yang belum tentu benar.

Kalian tentu tidak akan memilih Katolik hanya karena ingin mengikuti agama ayahmu, sikap itu akan melukai ibumu yang telah melahirkan kalian dengan susah payah dan mencintai kalian lebih dari dirinya sendiri. Atau kalian juga tidak akan memilih Islam hanya karena ingin mengikuti ibumu, sikap tersebut tentunya akan mengecewakan dan melukai ayahmu yang juga menyayangi kalian sama besarnya dengan yang dilakukan ibumu.

Kalianpun jangan memilih agama karena agama tersebut sudah diikuti oleh nenek-moyang kalian. Ibumu, ayahmu, bahkan nenek-moyangmu belum tentu benar dalam memilih agama. Jangan sampai kesalahan mereka kalian ikuti dan kalian telan butal-bulat begitu saja. Demi kebenaran, kalian berhak untuk mengambil pilihan yang berbeda dengan siapapun. Kalian punya kebebasan yang suci untuk memilih kebenaran sejati.

Juga hendaknya kalian tidak memilih agama hanya karena agama tersebut cocok atau sesuai dengan selera kalian. Agama bukanlah pakaian yang bisa kalian pilih berdasarkan unsur suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok. Sewaktu kalian bersekolah, mungkin jajanan yang penuh warna-warni dengan aneka rasa nikmat yang ditawarkan penjual makanan di luar sekolah lebih menarik selera dibanding bekal makanan yang sehat yang telah dipersiapkan ibumu dari rumah. Tapi kemungkinan besar jajanan itu bukanlah makanan yang sehat dan tidak selayaknya kalian makan. Demikian juga dalam memilih agama, jangan kalian memilihnya hanya karena alasan-alasan subyektif (suka tidak suka, cocok tidak cocok, senang tidak senang) karena dengan begitu kalian telah mengabaikan akal budi dan hati nurani yang telah diberikan Tuhan sebagai bekal untuk mencari dan menemukan kebenaran. Perlu kalian ketahui, dalam banyak hal jalan kebenaran sejati justru jauh tidak menarik dan lebih sempit dibanding kebenaran palsu.

Sebaliknya kalian dituntut untuk memilih suatu agama berdasarkan pertimbangan seluruh akal budi dan hati nuranimu yang terdalam bahwa agama tersebut memang benar dan sungguh-sungguh berasal dari Tuhan. Jika hal tersebut adalah alasannya, apapun pilihannya maka aku maupun ibumu tidak punya alasan untuk kecewa dan sakit hati oleh karena anaknya telah menemukan jalan kebenaran.

Sebagai ayahmu aku tidak akan membiarkan kalian mencari jalan kebenaran itu sendirian tanpa arah dan terombang-ambing diantara sekian banyak pilihan. Dan sebagai ujud dari tanggungjawabku untuk membimbing kalian, pada tulisan sederhana ini aku akan menuangkan apa yang kuketahui berdasarkan anugerah dan hikmat pengertian yang telah diberikan Tuhan kepadaku selama ini. Inilah bagian terbaik dari hidupku dan akan kuberikan kepada kalian dengan tujuan agar kalian dapat menemukan jalan kebenaran sebagaimana aku percaya akupun telah menemukan jalan kebenaran itu. Mungkin saat kalian membaca ini, kalian masih sangat belia dan belum semuanya dapat kalian pahami isinya. Baca dan pahami apa yang dapat kalian pahami saat ini, dalam perjalanan waktu semoga Tuhan memberi kalian hikmat pengertian yang baik untuk memahami seluruhnya secara bertahap.

Sekalipun demikian aku tidak pernah memaksa kalian menerima begitu saja apa yang kukatakan dalam buku ini, kalian punya hak yang suci untuk berpikir dan menilai berdasarkan akal budi dan hati nurani yang dianugerahkan Tuhan kepada kalian. Tapi dari diriku aku percaya bahwa aku telah berkata dan mengajarkan apa yang benar. Kalian adalah anugerah terbesar dalam hidupku, kalian adalah darah dagingku sendiri dan aku tidak akan pernah menipu atau menyesatkan darah dagingku sendiri.