Kamis, 18 Desember 2014

Antara Gandum Dan Lalang

Catatan:
Artikel ini pernah diposting di forum ekaristi.org tapi DIHAPUS oleh moderator tanpa alasan yang jelas. Moderator hanya memberikan tanggapan yang bersifat ad hominem (menyerang pribadi) tanpa memberi argumen jelas. Itu semakin membuat saya yakin bahwa KVII memang bermasalah. Silahkan disimak dengan hati-hati dalam bimbingan Roh Kudus, mungkin memang berbahaya bagi sebagian orang.

"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku." (Mat.13:24-30)

Sabtu, 06 Desember 2014

Konsili Vatikan II Dan Menara babel

Satu hal yang membuat saya perlu berterimakasih pada Paus Fransiskus adalah: saya dipaksa untuk menggali lebih jauh apa yang membuat paus ini hadir sebagai sosok yang sangat kontroversial. Saya sebagai manusia tidak bisa dan tidak punya hak untuk menghakimi seorang paus, oleh karenanya saya harus memastikan bahwa ajaran Gereja yang infallible dan Tuhan sedirilah yang telah menghakiminya. Apa yang saya temukan ternyata sangat membantu untuk memahami apa yang terjadi di Gereja Katolik sekarang ini.

Sabtu, 22 November 2014

Di Atas Bumi Seperti Di Dalam Surga

Sungguh sangat beruntung kita mendapatkan seorang Paus Fransiskus. Well, kelihatannya ini bukan saya yang sedang menulis kalimat tersebut. Tapi memang benar saya merasakan sebuah blessing in disguise. Karena berbagai tindakan dan ucapannya yang kontroversial, termasuk kata-katanya yang menjadi ikon, "Who am I to judge" saat ditanya soal homoseksualitas membuat saya segera tersadar bahwa ada sesuatu yang salah dengan Gereja kita. Suaranya berbeda dengan semangat Gereja Katolik sejauh yang saya tahu. Jika bukan karena kontroversi Paus Fransiskus mungkin sampai hari ini saya masih seorang pengikut setia Konsili Vatikan II.

Sabtu, 01 November 2014

Sinode Luar Biasa Tentang Keluarga 2014: Absurd Tapi Nyata

Absurditas menggelikan ini selalu terjadi setiap tahun: menjelang Idul Fitri kaum ulama mengadakan sidang isbat untuk menentukan kapan tepatnya tanggal 1 Syawal itu. Aneh tapi nyata. Seharusnya di jaman serba modern hal sederhana itu sudah bisa ditentukan dan disepakati secara ilmiah, tidak perlu sidang bertele-tele yang lucu setiap tahun. Hal yang sederhana dan jelas tapi bisa menjadi rumit dan berlarut-larut, itulah absurditas agama.

Sekarang absurditas itu juga tengah terjadi secara mencolok, bukan di agama lain, tapi di Gereja Katolik. Bayangkan, begitu banyak uskup yang punya karunia khusus sebagai gembala, setidaknya secara formal, bersidang begitu lama tanpa keputusan jelas untuk membahas hal yang sudah jelas: apakah kumpul-kebo itu dosa atau tidak, apakah bercerai dan kawin lagi itu dosa atau tidak, apakah gaya hidup gay itu punya nilai tambah (sehingga layak di dukung dan dihormati keadaannya) atau tidak.

Quo Vadis Homine?

"...Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak. (Mat.16:3)

Kata-kata Yesus di atas makin menjadi relevan akhir-akhir ini ketika manusia dibuat bingung dengan apa yang terjadi dalam Sinode Luar Biasa Keluarga di Vatikan. Gereja yang secara tradisional begitu kokoh mempertahankan nilai kesucian perkawinan dan menolak pembenaran perilaku homoseksualitas tiba-tiba mengkhianati seluruh nilai-nilai tradisionalnya dan berubah menjadi permisif dengan alasan kebijakan pastoral. Menyedihkan.

Minggu, 05 Januari 2014

Quo Vadis Francisce (3/3)

Satu hal yang membuat saya perlu berterimakasih pada Paus Fransiskus adalah: saya dipaksa untuk menggali lebih jauh apa yang membuat paus ini hadir sebagai sosok yang sangat kontroversial. Saya sebagai manusia tidak bisa dan tidak punya hak untuk menghakimi seorang paus, oleh karenanya saya harus memastikan bahwa ajaran Gereja yang infallible dan Tuhan sedirilah yang telah menghakiminya. Apa yang saya temukan ternyata sangat membantu untuk memahami apa yang terjadi di Gereja Katolik sekarang ini. Munculnya sosok kontroversial Paus Fransiskus bukanlah terjadi begitu saja, melainkan merupakan puncak dari suatu proses panjang yang bisa ditarik benang merahnya bukan hanya sampai pada Konsili Vatikan II tapi sampai pada peristiwa penampakan Bunda Maria di Fatima dan bahkan sampai pada penglihatan yang dialami oleh Paus Leo XIII pada tahun 1884. Saya akan coba menunjukkan bahwa seluruhnya berkaitan satu sama lain karena pada dasarnya apa yang terjadi adalah bagian dari peperangan antara Kristus melawan iblis dan seluruh pengikutnya.

Quo Vadis Francisce (2/3)

Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.  (Mat.24:32)
..Dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. (1Tes.5:20)

Pertanda Dari Tuhan Atau Kebetulan?

Tanggal 11 Februari 2013, Paus Benediktus XVI mengambil sebuah keputusan penting: beliau memutuskan untuk mengundurkan diri pada tanggal 28 Februari 2013. Dalam 600 tahun terakhir, Paus Benediktus XVI menjadi paus pertama yang mengundurkan diri. Hanya beberapa jam setelah keputusannya, sebuah kilat menyambar kubah Basilika St. Petrus. Apakah ini sekedar kebetulan atau sebuah pertanda dari Tuhan?