Minggu, 05 Januari 2014

Quo Vadis Francisce (3/3)

Satu hal yang membuat saya perlu berterimakasih pada Paus Fransiskus adalah: saya dipaksa untuk menggali lebih jauh apa yang membuat paus ini hadir sebagai sosok yang sangat kontroversial. Saya sebagai manusia tidak bisa dan tidak punya hak untuk menghakimi seorang paus, oleh karenanya saya harus memastikan bahwa ajaran Gereja yang infallible dan Tuhan sedirilah yang telah menghakiminya. Apa yang saya temukan ternyata sangat membantu untuk memahami apa yang terjadi di Gereja Katolik sekarang ini. Munculnya sosok kontroversial Paus Fransiskus bukanlah terjadi begitu saja, melainkan merupakan puncak dari suatu proses panjang yang bisa ditarik benang merahnya bukan hanya sampai pada Konsili Vatikan II tapi sampai pada peristiwa penampakan Bunda Maria di Fatima dan bahkan sampai pada penglihatan yang dialami oleh Paus Leo XIII pada tahun 1884. Saya akan coba menunjukkan bahwa seluruhnya berkaitan satu sama lain karena pada dasarnya apa yang terjadi adalah bagian dari peperangan antara Kristus melawan iblis dan seluruh pengikutnya.

Penglihatan Paus Leo XIII

Pada tanggal 13 Oktober 1884, setelah mempersembahkan misa Paus Leo XIII mendadak pucat seperti mayat dan seolah tidak sadarkan diri. Ia mendapatkan penglihatan langit terbuka dan iblis serta para malaikatnya menyerang Basilika St. Petrus dengan hebat sampai nyaris hancur lebur. Paus Leo XIII kemudian berteriak, "Apakah tidak mungkin ada lagi keselamatan di Gereja??!!!" Lalu ia melihat Malaikat Agung St. Mikael serta pasukannya turun dari surga dan mengalahkan iblis dan malaikat-malaikatnya. Paus Leo XIII mendengar suara dari langit, "Kesemuanya ini akan terjadi pada beberapa masa kepausan yang berbeda dan diakibatkan oleh Rusia..." Ia juga mendengarkan percakapan antara iblis dan Tuhan Yesus dimana iblis menyombongkan diri dapat menghancurkan Gereja-Nya dengan syarat diberi waktu 75 sampai 100 tahun dan kekuatan sebesar-besarnya bagi para pengikutnya. Penglihatan inilah yang kemudian menginspirasikannya untuk menyusun 'Doa St. Mikael' dan mewajibkan doa ini diucapkan setiap akhir misa di seluruh Gereja. Sayangnya setelah Konsili Vatikan II kebiasaan ini tidak lagi dilakukan.

Gereja vs Freemasonry

Upaya iblis untuk mewujudkan impiannya menghancurkan Gereja mulai menjadi kenyataan ketika pada tahun 1887 Paus Leo XIII menunjuk Kardinal Mariano Rampolo Del Tindaro sebagai Secretary of State. Kardinal ini tidak lain adalah seorang anggota freemasonry. Mungkin sejak saat itulah penyusupan freemason ke dalam tubuh Gereja Katolik sudah tidak terbendung lagi. Para freemason ini seperti kanker, sekali menyusup ke dalam Gereja mereka tidak akan pernah keluar lagi dan akan terus menggerogoti Gereja sampai tujuannya menghancurkan Gereja tercapai.

Sebenarnya jauh sebelum ini freemasonry telah berupaya menghancurkan Gereja dengan berbagai cara. Salah satunya melalui Revolusi Perancis yang berciri anti-Gereja. Pada tingkat permukaan, gerakan freemasonry mempromosikan ide-ide liberalisme, humanisme sekular, naturalisme, dan terutama indiferentisme religius yang memikat banyak kaum intelektual termasuk kaum klerus. Pemikiran-pemikiran seperti ini merupakan filsafat yang bersifat antroposentris, atau berpusat pada manusia, yang pada dasarnya bertentangan dengan ajaran Gereja yang bersifat teosentris. Meskipun tidak pernah mengaku sebagai agama, gerakan freemasonry memiliki ritual-ritual, dan simbol-simbol layaknya agama. Dan di balik semua filsafat antroposentrisnya, freemasonry tidak lain adalah pemujaan terhadap iblis - bapa segala dusta. Hal ini diakui sendiri oleh Albert Pike, tokoh freemasonry yang menulis buku teks masonik 'Morals And Dogma' (1871). Tentu saja penyembahan iblis ini tidak akan ditawarkan pada tahap awal karena semua calon anggota selalu disumpah sesuai agama (apapun) yang dianutnya. Tapi pada tahap yang lanjut baru akan diungkapkan 'tuhan' sesungguhnya yang tidak lain adalah iblis.

Menyadari bahaya freemasonry, Gereja Katolik tidak henti-hentinya mengingatkan manusia akan kesesatan ajaran freemasonry dan melarang semua orang Katolik untuk menjadi anggota freemasonry dengan ancaman ekskomunkasi. Setidaknya freemasonry sudah dikutuk oleh 12 paus dalam 23 dokumen Gereja, termasuk yang paling jelas adalah dalam Humanum Genus (Paus Leo XIII). Kenyataan ini menjadikan freemasonry sebagai musuh terbesar Gereja Katolik di sepanjang sejarah. Sebaliknya, freemasonry juga menempatkan Gereja Katolik sebagai musuh utama yang harus dihancurkan dengan cara apapun. Jadi perseteruan antara Gereja dan freemasonry bisa dikatakan sebagai perwujudan dari perseteruan besar antara Kristus dan iblis.

Tatanan Dunia Baru

Terlepas dari penolakan Gereja Katolik terhadap freemasonry, banyak orang-orang penting dan tokoh dunia yang menjadi anggotanya. Diantaranya: Napoleon Bonaparte, Benyamin Franklin, George Washington, Mozart, Sir Arthur Conan Doyle, Voltaire, Winston Churchill, Mark Twain, Oscar Wilde, Henry Ford, Walter Chrysler, JC Penney, Col. Sanders (KFC), Clark Gable, John Wayne, Harry Houdini, dan masih banyak lagi. Karena pada dasarnya freemasonry adalah organisasi yang bersifat rahasia, tentu masih banyak lagi tokoh-tokoh dunia anggota freemason yang tidak kita ketahui. Dan mereka bisa jadi adalah tokoh-tokoh yang berperan penting atau ada di balik segala perubahan yang terjadi di dunia sekarang ini.

Karena di balik gerakan freemasonry adalah iblis, maka kita bisa tahu apa yang membuat gerakan ini begitu menarik bagi kelompok elit dunia. Di Injil diceritakan bagaimana iblis menggoda Yesus di atas bukit. Godaan terakhir yang ditawarkan iblis adalah: Yesus bisa memperoleh seluruh dunia jika bersedia menyembah iblis. Tentu saja dengan tegas Yesus menolaknya karena hanya Allah saja yang patut disembah. Tapi ini menunjukkan bahwa iblis punya kemampuan untuk menawarkan kekuasaan duniawi bagi siapapun yang mau menjadi pengikutnya.

Tampaknya kekuasaan duniawi dengan segala kenikmatan dan kemegahan palsunya itu juga yang ditawarkan kepada para anggota freemasonry. Maka dari itu tujuan utama dari gerakan freemasonry adalah membangun tata dunia baru (new world order) yang didasarkan pada prinsip-prinsip freemasonry: humanisme dan pengabdian pada iblis.

Pesaing terbesar bagi freemasonry tidak lain adalah Gereja Katolik yang juga ingin membangun tata dunia baru berdasarkan visi surgawi sebagaimana yang diungkapkan dalam doa visioner yang diajarkan oleh Yesus sendiri: "...datanglah Kerajaan-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga.." Gereja mengharapkan terwujudnya Kerajaan Allah di atas bumi yang berpusat pada Kristus.

Memahami perbenturan antara kedua visi 'tata dunia baru' ini akan membantu kita memahami apa yang terjadi di dunia sekarang, terutama yang berkaitan dengan Gereja Katolik.

Rencana Keselamatan: Penampakan Bunda Maria di Fatima

Bagi freemasonry penghancuran Gereja Katolik adalah syarat mutlak, dan mereka akan melakukan dengan cara apapun baik menyerang dari luar maupun dengan cara infiltrasi atau menghancurkan Gereja dari dalam. Dan seperti apa yang ditunjukkan pada penglihatan Paus Leo XIII, iblis diberi kuasa untuk menggunakan seluruh kekuatan yang bisa digunakan untuk menghancurkan Gereja. Sementara itu Tuhan Yesus pasti tidak akan membiarkan Gereja-Nya diserang begitu saja tanpa pertahanan yang memadai.

Tuhan mengutus Bunda-Nya untuk memberikan Gereja senjata rohani yang diperlukan untuk menghadapi kekuatan iblis. Di Fatima, Portugal, Bunda Maria menampakkan diri kepada tiga orang anak: Lucia, Jacinta, dan Fransisco pada tanggal 13 Mei 1917 dan setiap tanggal 13 bulan-bulan berikutnya. Pada penampakan terakhir pada tanggal 13 Oktober 1917 (tepat 33 tahun setelah penglihatan Paus Leo XIII) terjadi mujizat matahari yang disaksikan oleh lebih dari 50.000 orang yang hadir di lokasi tersebut. Dalam rangkaian penampakannya di Fatima, Bunda Maria memberikan pesan rahasia dalam 3 bagian.

Dua bagian pertama sudah dibuka, yang pertama mengenai penglihatan tentang neraka dan akan terjadinya perang dunia kedua. Dalam pesan tersebut Bunda Maria secara khusus meminta Bapa Paus untuk mengkonsekrasikan Rusia kepada Hati Bunda Maria Yang Tak Bernoda untuk pertobatan Rusia dan perdamaian dunia. Ini adalah senjata rohani yang diberikan Tuhan melalui Bunda-Nya kepada Gereja untuk mengalahkan kekuatan iblis. Jika konsekrasi ini tidak dilakukan sesuai yang diminta maka Rusia akan menyebarkan kesesatannya ke seluruh dunia yang akan membawa dunia ke dalam bencana besar. Sedangkan bagian pesan yang ketiga atau yang lebih dikenal sebagai Rahasia Ketiga Fatima baru boleh dibuka pada tahun 1960 karena isinya mengenai bahaya yang mengancam Gereja dan hanya dapat dipahami setelah tahun 1960.

Tidak lama setelah penampakan ini di Rusia pecah Revolusi Bolshevik pada tanggal 7 November 1917 yang meruntuhkan kekuasan Tsar dan membuat komunisme berkuasa di seluruh Rusia. Meskipun dilakukan oleh kelompok komunis Marxist-Leninist yang atheis, revolusi ini dirancang dan didanai oleh freemasonry. Ini adalah kemenangan strategis freemasonry yang menjadikan Rusia sebagai pusat kekuatan untuk melawan Gereja Katolik dan meraih kekuasaan di seluruh dunia guna mewujudkan tatanan dunia baru.

Revolusi Bolshevik yang menjadikan Rusia sebagai kekuatan anti-Gereja yang dahsyat membuat pesan Bunda Maria di Fatima menjadi sangat relevan dan strategis bagi Gereja. Namun sayang sekali, mungkin khawatir akan reaksi Rusia, permintaan Bunda Maria tidak ditanggapi oleh Gereja sebagaimana mestinya. 

Rahasia Ketiga Dan Konsili Vatikan II

Penyusupan anggota freemasonry ke dalam hirarki Gereja sangat mempengaruhi iklim dan semangat (spirit) di dalam Gereja yang sedikit demi sedikit menjadi semakin liberal. Ini mencapai momen yang cukup menentukan ketika Paus  Pius XII wafat pada tahun 1958 dan konklaf diadakan untuk memilih paus yang baru. Asap putih sempat mengepul beberapa lama setelah Kardinal Giuseppe Siri yang tradisionalis terpilih menjadi paus. Namun asap putih itu segera berganti hitam yang menandakan konklav belum menghasilkan keputusan. Akhirnya setelah proses panjang Kardinal Angelo Giuseppe Roncalli yang dikenal dekat dengan kelompok komunis terpilih menjadi paus dan mengambil nama Paus Yohanes XXIII.

Sangat disayangkan perhatian Paus Yohanes XXIII terhadap pesan Bunda Maria di Fatima sangat minim atau bahkan bisa dikatakan tidak ada. Bukannya menunggu saat dibukanya Rahasia Ketiga sebelum mengambil keputusan penting, tanggal 25 Januari 1959 Paus Yohanes XXIII malah mengumumkan rencananya untuk mengadakan konsili ekumenis di Vatikan. Tahun 1959 adalah 75 tahun setelah penglihatan yang dialami oleh Paus Leo XIII, tahun yang menandai pencapaian awal upaya iblis mengalahkan Gereja.

Paus Yohanes XXIII tentu tidak tahu apa isi Rahasia Ketiga dan apa permintaan Bunda Maria di dalamnya, tapi dengan mengambil keputusan penting sebelum Rahasia Ketiga dibuka seolah-olah ia melakukan fait-accomplli terhadap apapun permintaan Bunda Maria dalam Rahasia Ketiga. Paus Yohanes XXIII juga menolak permintaan Bunda Maria untuk mengkonsekrasikan Rusia, sebaliknya ia malah melakukan perjanjian rahasia dengan Rusia yang memastikan konsili tersebut tidak akan mengutuk Rusia dengan imbalan Rusia mengirimkan wakil-wakil dari Gereja Ortodoks untuk menghadiri konsili.

Lebih jauh lagi, pada tahun 1960 saat Rahasia Ketiga dibuka, Paus Yohanes XXIII menyatakan isinya tidak berhubungan dengan kepausannya. Ia bahkan menolak membuka Rahasia Ketiga untuk umum dan memilih tetap menyimpannya. Pembangkangan Paus Yohanes XXIII ini berdampak sangat fatal dan berbahaya bagi Gereja. Dengan jelas Paus Yohanes XXIII telah menolak jalan yang ditunjukkan oleh Roh Kudus dan sebaliknya ia memilih jalannya sendiri dengan mengadakan Konsili Vatikan II dan berkompromi dengan Rusia. Dengan melihat apa yang terjadi bisalah disimpulkan bahwa Konsili Vatikan II bukan berasal dari inspirasi Roh Kudus melainkan semata-mata keputusan manusiawi.

Semangat aggiornamento atau pembaharuan yang menjadi nafas dari Konsili Vatikan II cukup jelas menunjukkan konsili ini bukan karya Roh Kudus. Bukannya menegaskan kembali ajaran Gereja di dunia modern dan menyatakan kekeliruan-kekeliruan dunia modern dalam pandangan Gereja, konsili ini malah berupaya aktif merangkul nilai-nilai dunia modern yang berpusat pada martabat manusiawi dan menjadikannya sebagai arah Gereja di masa depan. Ini ditegaskan oleh Paus Paulus VI yang menyatakan bahwa Gereja pasca-konsili adalah '..a true CULT of MAN'. Gereja tidak lagi menguduskan dunia melainkan membiarkan dirinya dipenuhi oleh semangat kompromistis terhadap dunia. Bukannya membangun tata dunia baru yang berpusat pada Kristus, Gereja malah bahu-membahu dengan dunia untuk membangun tata dunia baru yang berpusat pada manusia. Dapat dikatakan sejak Konsili Vatikan II Gereja Katolik sebenarya sudah mengkhianati Kristus dengan merangkul nilai-nilai duniawi demi untuk diterima oleh dunia. Gereja Katolik dalam proses menjadi pelacur yang disebut dalam Kitab Wahyu.

Ekumenisme Palsu Dan Agama Universal Dunia Baru

Akan terlalu luas kalau harus membahas seluruh masalah yang ada pada teks Konsili Vatikan II, dan itu bukan tujuan dari tulisan ini. Cukuplah kalau saya katakan bahwa teks-teks konsili begitu ambigu dan berbahaya karena mencoba mengkompromikan pandangan liberal dan tradisionalis.

Seperti yang saya sebut di atas, Gereja Katolik sekarang sudah meninggalkan visi tatanan dunia yang berpusat pada Kristus dan beralih pada visi tatanan dunia baru yang berpusat pada manusia. Tatanan dunia baru ini memiliki tiga pilar: satu pemerintahan dunia, satu institusi keuangan dunia, dan satu agama dunia. Sebagai sebuah institusi agama terbesar di dunia, Gereja Katolik yang sudah menjadi antek tatanan dunia baru (versi freemasonry) tentu saja merasa punya kewajiban untuk membangun satu agama dunia. Dan teks-teks konsili ternyata sudah dipersiapkan untuk mengakomodasi tujuan tersebut!

Dignitatis Humanae:

"Konsili Vatikan ini menyatakan, bahwa pribadi manusia berhak atas kebebasan beragama.."

Tampaknya ini teks yang ok, kita menerima itu sebagai kebenaran yang sewajarnya. Tapi ternyata pernyataan ini mengandung bahaya terselubung. Apanya yang berbahaya?

Teks tersebut mengajarkan bahwa manusia punya hak untuk memilih agama apapun yang dianggapnya cocok: Katolik, Protestan, Islam, Yahudi, Hindu, Budha, paganisme, bahkan satanisme sekalipun... Ini jelas bertentangan dengan ajaran tradisional Gereja Katolik: extra ecclesiam nulla salus. Selain Katolik semua agama yang lain adalah agama yang salah. Dengan demikian apakah manusia punya hak untuk melakukan kesalahan? Apakah manusia punya hak untuk memeluk agama yang salah? Saya ingin perjelas lagi: apakah Tuhan memberi hak manusia untuk memeluk agama yang salah? Tentu tidak.

Konsekuensi dari teks tersebut: manusia dibenarkan (oleh Gereja Katolik) untuk memeluk agama selain Katolik. Dengan demikian Gereja Katolik sudah menghilangkan haknya sendiri untuk mewartakan iman Katolik kepada non-katolik. Ini tentu masalah besar! Teks ini pada dasarnya membuka peluang pada paham indiferentisme dan pluralisme: semua agama menyembah Tuhan yang sama. Inilah konsep freemasonry tentang agama-agama. Paham kebebasan beragama seperti ini paling tidak sudah ditolak oleh Paus Pius IX, Pius XII dan juga Paus Leo XIII.

Unitatis Redintegratio:

"Tidak sedikit pula upacara-upacara agama kristen, yang diselenggarakan oleh saudara-saudari yang tercerai dari kita. Upacara-upacara itu dengan pelbagai cara dan menurut bermacam-ragam situasi masing-masing Gereja dan jemaat sudah jelas memang dapat menyalurkan hidup rahmat yang sesungguhnya, dan harus diakui dapat membuka pintu memasuki persekutuan keselamatan."

Jadi menurut teks ini gereja-gereja non-katolik sudah memiliki rahmat yang sesungguhnya dan bahkan dapat meraih keselamatan, karenanya tidak perlu bersatu kembali ke dalam Gereja Katolik!

Dari dua teks konsili di atas kita melihat peluang kemurtadan yang diletakkan oleh musuh Kristus ke dalam Gereja Katolik. Kemurtadan ini muncul dalam bentuk ekumenisme palsu yang menempatkan gereja-gereja lain bahkan agama-agama lain sejajar dan setara dengan Gereja Katolik. Ekumenisme sejati sesuai ajaran tradisional Gereja adalah kembali ke Gereja Katolik (ecumenism of return), tidak ada yang lain. Namun dalam ekumenisme palsu konsep ecumenism of return ditolak jauh-jauh dan digantikan dengan persatuan dalam dialog dan kesetaraan (ecumenism of encounter).

Hasilnya, pada tahun 1989, Paus Yohanes Paulus II mengadakan pertemuan agama-agama sedunia di Asisi untuk berdoa bagi perdamaian dunia. Selain ini sebuah skandal besar (yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah Gereja), ini juga ungkapan ketidakpercayaan Gereja terhadap Bunda Maria. Solusi untuk perdamaian dunia telah ditawarkan oleh Bunda Maria, yaitu dengan mengkonsekrasikan Rusia. Tapi ini tidak pernah dilakukan dengan benar, termasuk saat Paus Yohanes Paulus II melakukannya pada tahun 1984. Dan pada tahun 1989 Gereja malah mencari solusi perdamaian dunia dengan caranya sendiri yang penuh skandal dan mengandung unsur kemurtadan. Inilah buah terbaik Konsili Vatikan II, tonggak sejarah baru yang menjadi awal kemurtadan nyata di dalam Gereja.

Puncak Kemurtadan: Satu Agama Dunia

Paus Benediktus XVI sebenarnya memberikan sedikit harapan. Meskipun harus diakui bahwa ia juga dipengaruhi atmosfir kesesatan Konsili Vatikan II, setidaknya Paus Benediktus XVI menyadari sebagian hasil konsili memang tidak sejalan dengan ajaran Gereja yang tradisional. Bahkan Paus Benediktus XVI secara resmi mengembalikan Misa Latin sebagai pilihan yang sah di samping Misa Novus Ordo. Ia juga membatalkan ekskomunikasi terhadap uskup-uskup SSPX yang sangat tradisional dan menentang hasil konsili.

Dimata musuh Gereja, Paus Benediktus XVI adalah hambatan besar yang bisa mengacaukan rencana membangun tata dunia baru. Paus ini yang sangat konservatif dalam masalah homoseksual, kontrasepsi, dan aborsi tentu menjadi penghalang bagi prinsip kontrol populasi yang ingin diterapkan tata dunia baru. Dan dengan semangatnya yang ingin mengembalikan ajaran tradisional Gereja tentu juga menjadi penghalang besar bagi terwujudnya rencana membangun satu agama dunia sesuai rancangan tata dunia baru. Paus Benediktus XVI harus disingkirkan dengan cara apapun dan diganti oleh paus yang lebih kooperatif. Dan itulah yang terjadi, akumulasi skandal pedofilia di Gereja, vatileaks, dan sangat minimnya dukungan dari para kardinal serta uskup memaksa Paus Benediktus XVI harus mengundurkan diri. 

Tepat 13 hari setelah pengunduran diri Paus Benediktus XVI, yaitu tanggal 13 Maret 2013 jam 07:06 waktu Italia, Kardinal Jorge Mario Bergoglio terpilih menjadi paus yang baru dengan nama Paus Fransiskus. Semangat liberal segera tampak dalam perbuatan dan perkataannya. Mungkinkan ia paus yang diharapkan musuh Kristus menjadi kolaborator tata duna baru?

Fr. Malachi Martin SJ., salah satu dari sedikit orang yang pernah melihat langsung Rahasia Ketiga, dalam sebuah acara radio mengatakan bahwa akan ada seorang paus yang berada dalam kontrol penuh iblis. Ini mengkonfirmasi apa yang dikatakan oleh Fr. Mario Luigi Ciapi, teolog kepausan pada masa Paus Pius XII yang mengatakan, "Dalam Rahasia Ketiga diramalkan, di samping hal-hal yang lain, bahwa kemurtadan besar di Gereja akan dimulai dari atas". Sementara itu di Kitab Suci St. Paulus juga menubuatkan adanya 'manusia durhaka' yang akan menduduki Bait Allah.

Saya masih teringat betul perkataannya yang sangat kontroversial: "Tidak ada Tuhan Katolik..." yang bagi saya merupakan pertanda jelas semangat penolakan terhadap Kristus. Ada banyak lagi perkataan dan perbuatannya yang kontroversial. Mengingat sepak terjangnya yang cenderung liberal dan berbeda dari semua paus yang lain, mungkinkah paus ini seorang anti-paus? Jika memang demikian bagaimanakah manusia bisa mengetahuinya? Ironisnya, tidak ada satu manusiapun di dunia yang berhak menghakimi seorang paus. Selain itu kita juga tidak mungkin mengetahui apakah seseorang adalah paus palsu atau bukan dari sumber resmi Gereja. Oleh karenanya jika apa yang dinubuatkan oleh Kitab Suci dan juga pesan Bunda Maria dalam Rahasia Ketiga, pasti Tuhan sendiri yang akan menunjukkannya.

Menurut Rasul Paulus, paus palsu ini adalah manusia durhaka yang diutus oleh iblis. Paus palsu ini juga harus terkait erat dengan penampakan Bunda Maria di Fatima, dikontrol sepenuhnya oleh iblis, dan membawa kemurtadan besar. Jika dicermati, pengangkatan paus ini sangat berhubungan dengan angka 13: dia diangkat 13 hari setelah pengunduran diri Paus Benediktus XVI, pada tanggal 13 Maret 2013. Dan jika angka tanggal dijumlahkan (13/3/2013, 1+3+3+2+0+1+3) muncul angka 13 lagi. Ingat, penglihatan Paus Leo XIII (13)  terjadi tanggal 13 Oktober 1884, penampakan Bunda Maria di Fatima terjadi setiap tanggal 13 mulai dari 13 Mei sampai 13 Oktober 1917. Sebuah kebetulan? Sama sekali tidak! Ini pertanda dari Tuhan bahwa Paus Fransiskus sangat terkait dengan pesan Bunda Maria di Fatima. Jadi antara penglihatan Paus Leo XIII, penampakan Bunda Maria di Fatima, dan pengangkatan Paus Fransiskus saling berhubungan.

Kemudian jam terpilihnya Paus Fransiskus adalah jam 07:06 atau bisa dibaca sebagai jam 06:66. Angka 666 tentu bukan angka sembarangan menurut Kitab Suci, itu merujuk keterkaitan dengan iblis. Lalu dalam sebuah wawancara, Paus Fransiskus cukup tegasmengidentifikasikan dirinya dengan, "I am a sinner". Istilah 'manusia durhaka' dalam Kitab Suci versi Douay-Rheims tidak lain adalah 'man of sin'. Bisa melihat kaitannya? Mungkin saja paus ini sangat identik dengan nubuat Rasul Paulus. Saya tidak yakin kalau ini cuma othak-athik gathuk, kemungkinan besar ini memang pertanda dari Tuhan sendiri. Lagi pula jika benar paus ini dikontrol sepenuhnya oleh iblis (menurut Fr. Malachi Martin) maka paus ini akan sepenuhnya sejalan dengan semangat dunia dan mendukung rancangan tata dunia baru versi freemasonry. Bukankah tanda-tanda itu sedikit banyak bisa terlihat dari segala perkataan dan perbuatannya selama ini?

Jika asumsi di atas benar maka tidak lama lagi kita akan segera melihat puncak kemurtadan di dalam Gereja Katolik. Apa yang terjadi di Gereja Katolik sejak Paus Yohanes Paulus II menyelenggarakan doa bersama antar agama di Asisi mungkin akan bergulir ke arah yang ekstrim: bersatunya semua agama-agama dunia di bawah Gereja Katolik dan menjadi satu agama universal. Memang benar Tuhan sendiri menghendaki adanya satu kawanan satu gembala, tapi melalui konversi atau masuknya kawanan/agama lain ke dalam Gereja Katolik yang adalah agama universal ciptaan Tuhan. Sementara itu apa yang dilakukan Gereja Katolik (sejak tahun 1989 di Asisi) untuk mempersatukan agama-agama bukanlah seperti yang dikehendaki Tuhan melainkan seperti yang dipikirkan manusia, yaitu melalui dialog dan kompromi. Inilah Menara Babel jaman baru yang berupaya membangun bangunan menjulang menuju surga dengan cara-cara dan rancangan manusiawi. Dengan cara ini maka hanya satu penghalang terbesar Menara Babel ini: Yesus Kristus Tuhan, batu penjuru yang dibuang oleh tukang bangunan (Mat. 21:42, Mrk. 12:10, Luk. 20:17). Pada puncak kemurtadan Gereja Katolik akan terjadi perubahan dogma yang pada dasarnya adalah penyangkalan terhadap Yesus Kristus demi tercapainya persatuan agama-agama seluruh dunia. Ini memang belum terjadi, tapi berdasarkan trend sejarah yang sudah terjadi sampai hari ini maka puncak kemurtadan itu tinggal menunggu waktu.

Di Fatima, Iman Gereja Tidak Terkalahkan

Melihat apa yang saya ungkapkan di atas tentu mengundang rasa kecewa dan pesimis. Bagaimana mungkin janji Kristus yang akan menyertai Gereja sampai akhir jaman dan tidak terkalahkannya Tahta Petrus oleh iblis sepertinya akan gagal? Saya ingin mengingatkan bahwa rancangan Tuhan tidak seperti apa yang tampak. Seperti 2000 tahun yang lalu para rasul juga kecewa dan sangat terpukul: bagaimana mungkin Yesus Sang Mesias Putra Allah yang hidup harus tertangkap, dipermalukan, disiksa dan disalibkan sampai mati seperti penjahat hina? Bagaimana mungin Allah kalah oleh kematian? Tapi kebangkitan Yesus membalikkan semua kekecewaan para rasul. Ternyata kematian di kayu salib tidak pernah sedikitpun mengalahkan Yesus.

Demikian juga dengan apa yang terjadi pada Gereja Katolik, Sang Mempelai Kristus. Sekalipun pada saat terjadi kemurtadan besar Gereja seolah sudah dihancurkan total oleh iblis, keadaan sebenarnya tidak seperti itu. Pada pesannya di Fatima (Rahasia Ketiga), Bunda Maria mengatakan: "Di Fatima, dogma Gereja akan tetap terjaga...." Apa artinya? Saya menduga akan ada sekelompok kecil, yakni sisa-sisa Gereja Katolik yang setia dan menjaga kebenaran iman Gereja seutuhnya. Mereka adalah orang-orang, baik hirarki maupun awam, yang setia pada pesan Bunda Maria di Fatima. Seperti yang sudah saya ungkapkan di atas, Konsili Vatikan II tidak lain adalah ketidaksetiaan Gereja pada Bunda Maria. Dengan demikian mereka yang setia pada Bunda Maria adalah mereka yang menolak Konsili Vatikan II dan tetap setia pada ajaran tradisional Gereja Katolik. Manusia tidak bisa mengabdi pada dua tuan: Konsili Vatikan II atau ajaran tradisonal Gereja Katolik. Manusia harus berani memilih.

Kitab Wahyu mengatakan demikian:

Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: "Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya. (Why. 18:4).

Ini merujuk pada pelacur yang di dahinya tertulis 'Babel besar...' (Why. 17:5), yaitu Gereja Katolik yang sudah murtad dan mengkhianati Kristus demi kejayaan duniawi. Yang dimaksud tentu saja Gereja Katolik pasca-konsili.

Waktu sudah tidak banyak, pilihan harus segera ditetapkan: pro-konsili atau pro-tradisi. Tidak ada pilihan abu-abu. Saya pribadi secara material sudah menolak konsili meski secara formal belum. Saya masih menunggu apakah ada uskup Indonesia yang berani mengambil sikap tersebut. Atau jika ada komunitas SSPX di Bandung/Jakarta kemungkinan besar saya akan bergabung. Memang ini keputusan pahit dan sangat tidak populer, tapi harus dilakukan demi keselamatan jiwa. Tidak ada pilihan lain, bukan di Vatikan melainkan di Fatima iman Gereja Katolik yang benar tetap terjaga.

Quo Vadis Francisce (2/3)

Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.  (Mat.24:32)
..Dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. (1Tes.5:20)

Pertanda Dari Tuhan Atau Kebetulan?

Tanggal 11 Februari 2013, Paus Benediktus XVI mengambil sebuah keputusan penting: beliau memutuskan untuk mengundurkan diri pada tanggal 28 Februari 2013. Dalam 600 tahun terakhir, Paus Benediktus XVI menjadi paus pertama yang mengundurkan diri. Hanya beberapa jam setelah keputusannya, sebuah kilat menyambar kubah Basilika St. Petrus. Apakah ini sekedar kebetulan atau sebuah pertanda dari Tuhan?
Bagi orang beriman tidak ada yang namanya kebetulan karena Tuhan berkuasa atas seluruh alam, Ia bisa menggunakan fenomena alam apapun untuk memberitahukan suatu pesan. Dalam Injil dikisahkan sebuah bintang yang menjadi pertanda kelahiran Yesus. Juga di jaman modern sebuah cahaya aneh di langit menjadi pertanda akan dimulainya Perang Dunia II sesuai pesan Bunda Maria di Fatima. Memang kilat menyambar suatu gedung bukan fenomena istimewa, itu kejadian alam yang biasa. Tapi jika itu terjadi di kubah Basilika St Petrus hanya beberapa jam setelah Paus Benediktus XVI menyatakan akan mengundurkan diri tentu cukup menarik perhatian.

Pesan Apokaliptik Bunda Maria di Fatima

Tanda yang menyertai pengunduran diri Paus Benediktus XVI mungkin dapat dipahami lebih baik jika dikaitkan dengan pesan-pesan Bunda Maria di Fatima (Portugal) yang bercorak apokaliptik. Setelah peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus, penampakan Bunda Maria di Fatima adalah mujizat terbesar yang pernah ada dalam sejarah Gereja Katolik. Penampakan Bunda Maria di Fatima dimulai pada tanggal 13 Mei 1917 kepada tiga orang anak: Lucia Santos, 2 bersaudara Yasinta dan Fransisco Marto. Selanjutnya penampakan ini terjadi secara rutin setiap tanggal 13 setiap bulan dan pada tanggal 13 Oktober 1917 dipuncaki sebuah mujizat luar biasa dimana matahari berputar-putar di langit dengan disaksikan lebih dari 50 ribu orang, baik Katolik, non-Katolik, maupun atheis. Surat kabar sekular di Portugal memberitakan peristiwa tersebut dengan headline "Tanda Besar Di Langit..." Orang lalu mengkaitkan peristiwa ini sebagai penggenapan Kitab Wahyu:

Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. (Why.12:1)

Mengingat  besarnya mujizat yang terjadi dan keterkaitannya dengan Kitab Wahyu maka penampakan Bunda Maria di Fatima bisa dianggap sebagai penanda masuknya manusia ke dalam era apokaliptik/akhir jaman. Dua dari tiga penerima penampakan, yaitu Yasinta dan Fransisco Marto, meninggal karena wabah flu dalam kurun waktu dua tahun setelah penampakan. Sementara itu Lucia Santos masuk biara di Coimbra dan menjadi seorang suster. Selama penampakannya Bunda Maria memberikan 3 pesan rahasia. Dua pesan sudah dibuka, pesan pertama berisi visi tentang neraka, pesan kedua berisi nubuat akan terjadinya perang dunia dan Rusia yang akan menebarkan kejahatan ke seluruh dunia apabila Paus tidak mengkonsekrasi Rusia kepada Hati Tak Bernoda Bunda Maria. Sementara itu rahasia ketiga menurut Suster Lucia baru boleh dibuka setelah tahun 1960 karena isi pesan tersebut baru akan dipahami setelah tahun 1960.

Kontroversi Pesan Fatima dan Suster Lucia

Amat disayangkan, meski Gereja Katolik mengakui otentisitas penampakan tersebut dan bahkan memasukkan tanggal 13 Oktober sebagai bagian dari penanggalan liturgis, Gereja tidak menanggapi pesan tersebut sebagaimana mestinya. Konsekrasi Rusia tidak pernah dilaksanakan oleh semua paus sesuai dengan kondisi yang dikehendaki Bunda Maria sampai hari ini. Sementara itu Rahasia Ketiga juga tidak dibuka pada waktunya. Setelah membaca Rahasia Ketiga pada tahun 1960, Paus Yohanes XXIII malah memutuskan untuk tidak membuka pesan tersebut kepada publik. Anehnya, Suster Lucia yang sebelumnya mendesak pesan tersebut dibuka pada tahun 1960 seolah berubah pendirian dengan mengatakan pesan tersebut ditujukan untuk paus saja setelah pertemuanya dengan Paus Yohanes Paulus II. Meski akhirnya Gereja membuka pesan tersebut pada tahun 2000, muncul kontroversi yang menganggap pesan tersebut tidak lengkap atau bahkan meragukan keasliannya.

Pada tahun 1957 Suster Lucia diwawancarai oleh Rm. Augustin Fuentes. Meski tidak mengungkapkan isi Rahasia Ketiga, Suster Lucia mengisyaratkan bahwa pesan tersebut mengenai visi apokaliptik: kejatuhan para religius yang akan menyeret banyak jiwa ke dalam dosa dan hukuman besar yang akan diterima manusia. Namun satu tahun kemudian Keuskupan Coimbra menyatakan isi wawancara tersebut hanyalah karangan Rm. Fuentes.

Beberapa orang yang mengetahui isi Rahasia Ketiga, misalnya Rm. Mario Luigi Ciappi (teolog kepausan pada masa Paus Pius XII) mengatakan bahwa isinya mengisyaratkan munculnya kemurtadan besar di dalam Gereja Katolik yang dimulai dari pucuk hirarki. Kardinal Ratzinger sebelum menjadi paus juga mengungkapkan bahwa isi Rahasia Ketiga mengenai bahaya yang mengancam iman serta kehidupan umat kristiani, dan karenanya juga seluruh dunia.

Akan tetapi dalam Rahasia Ketiga versi resmi yang diungkapkan pada publik pada tahun 2000 tidak tercermin adanya masalah bahaya yang mengancam iman, kemurtadan di dalam hirarki Gereja Katolik dan juga soal penghukuman serta hal-hal yang berkaitan dengan masalah akhir jaman. Menurut Kardinal Bertone, isi Rahasia Ketiga semua sudah diungkapkan secara lengkap dan pesannya hanya mengenai peristiwa yang sudah terjadi yaitu upaya pembunuhan Paus Yohanes Paulus II. Hal ini juga dikonfirmasi kebenarannya oleh Suster Lucia sendiri.

Banyak orang yang menganggap versi resmi Vatikan tidak lengkap atau hanya rekayasa. Bahkan Paus Benediktus XVI dalam sebuah wawancara mengatakan dampak pesan Rahasia Ketiga Bunda Maria di Fatima masih tetap dan terus berlanjut sampai sekarang termasuk juga penderitaan Gereja yang diakibatkan oleh kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh sebagian rohaniwan. Ini sebuah bukti bahwa Rahasia Ketiga Fatima belum seluruhnya diungkap atau malah direkayasa.

Belakangan juga muncul kecurigaan beberapa orang bahwa Suster Lucia yang ditampilkan oleh Vatikan setelah tahun 1960 bukanlah Suster Lucia yang asli. Ini tampak dari perbedaan profil wajah pada foto Suster Lucia pasca 1960 dengan Suster Lucia sebelum 1960. Selain itu juga tampak pada perbedaan tulisan tangan antara keduanya. Perlu diketahui bahwa sejak tahun 1960 Vatikan memutuskan bahwa Suster Lucia tidak bisa dikunjungi siapapun, termasuk anggota keluarganya, tanpa ijin resmi dari paus. Ada kecurigaan bahwa Suster Lucia yang asli disembunyikan atau bahkan sudah dibunuh demi menjaga isi Rahasia Ketiga Fatima. Memang ini terdengar fantastis dan seperti di dalam novel, tapi saya tidak membicarakan kaum rohaniwan (imam/uskup/kardinal) biasa yang ada di Vatikan melainkan rohaniwan jahat, anggota freemason utusan iblis yang menyusup ke dalam tubuh Gereja Katolik dengan tujuan untuk menghancurkannya dari dalam.
Penggantian Suster Lucia sangat masuk akal karena rekayasa isi Rahasia Ketiga hanya akan berhasil kalau Vatikan bisa mengendalikan 'Suster Lucia' untuk mengkonfirmasi apapun yang dikatakan Vatikan. Jika benar demikian maka ini adalah suatu konspirasi yang sangat jahat dan melawan Roh Kudus. Apa yang ingin disembunyikan dari semua orang sehingga para konspirator jahat ini sampai berani memalsukan identitas seorang utusan Tuhan (bahkan mungkin membunuhnya juga) dan merekayasa isi Rahasia Ketiga Bunda Maria? Tentu saja rencana jahat mereka untuk menghancurkan Gereja Katolik dengan mempersiapkan paus palsu yang akan membawa Gereja Katolik dalam kemurtadan besar dan menyembah Antikristus. Perlu diingat bahwa bagi orang Katolik ketaatan pada paus adalah sebagian dari iman, maka kemurtadan besar dan penyembahan Antikristus hanya dimunginkan jika iblis bisa menempatkan paus palsu sebagai pemimpin Gereja Katolik.

Konsili Vatikan II Dan Ekumenisme Palsu

Setahun sebelum Rahasia Ketiga boleh dibuka, yaitu tahun 1959, Paus Yohanes XXIII mengumumkan rencananya untuk mengadakan konsili ekumenis di Vatikan. Bukannya menghormati dan menaati pesan Bunda Maria untuk mengkonsekrasikan Rusia, Paus Yohanes XXIII malah mengadakan pakta rahasia dengan Rusia (Uni Sovyet waktu itu) bahwa konsili tersebut tak akan mengeluarkan pernyataan yang mengutuk Rusia dengan imbalan Gereja Ortodoks Rusia mengirimkan wakilnya sebagai pengamat di konsili tersebut. Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja Katolik sebuah konsili ekumenis diikuti oleh mereka yang memisahkan diri dari Gereja Katolik. Bukan hanya dari Gereja Ortodoks, Vatikan juga mengundang wakil-wakil dari Gereja Anglikan dan Protestan.

Mungkin inilah alasan mengapa Bunda Maria berpesan bahwa Rahasia Ketiga hanya boleh dibuka setelah tahun 1960. Ini sekaligus menunjukkan bahwa versi resmi Vatikan adalah tidak benar karena percobaan pembunuhan paus tidak menjadi lebih jelas di tahun ini. Sebaliknya jika Rahasia Ketiga memang berisi tentang kemurtadan besar (great apostasy) yang akan terjadi di Gereja Katolik, maka rencana konsili ekumenis yang melibatkan gereja-gereja di luar Gereja Katolik bisa jadi sangat berhubungan dan dapat menjadi pemicu. Kemungkinan besar Rahasia Ketiga Bunda Maria di Fatima berusaha mengingatkan Gereja Katolik tentang bahaya yang akan muncul dalam konsili. Tapi sayang sekali pesan ini diabaikan dan konsili berjalan terus dengan semangat ekumenisme palsu.

Pada prinsipnya ekumenisme palsu adalah mencari kebersamaan ajaran dan saling menerima perbedaan demi mencapai persatuan ekumenis. Ini prinsip yang dikecam oleh Paus Pius XI dalam Mortalium Animos. Tidak ada ekumenisme sejati selain kembali ke Gereja Katolik, tidak ada kompromi!

Contoh nyata hasil ekumenise palsu adalah Misa Novus Ordo yang menurut Uskup Agung Annibale Bunini (yang belakangan diketahui adalah seorang freemason) berupaya menghilangkan unsur-unsur yang terlalu Katolik demi menghilangkan hambatan bagi Gereja Protestan untuk bersatu kembali dengan Gereja Katolik.
Akibat dari semangat ekumenisme palsu ini dogma Extra Ecclesiam Nulla Sallus menjadi semakin kabur (bahkan banyak orang Katolik termasuk sebagian religius yang mengira dogma itu sudah kadaluarsa) dan berganti dengan semangat toleransi yang melampaui batas.

Yang menyedihkan kekeliruan ini juga menjangkiti Paus Yohanes Paulus II yang mengadakan doa bersama semua agama untuk perdamaian dunia di Asisi dan menjadikannya sebagai kegiatan rutin. Ini didasari semangat ekumenisme palsu KVII yang menafsirkan bahwa dengan cara yang berbeda agama-agama lain juga pada dasarnya menyembah Allah yang sama. Saya tidak mengerti bagaimanakah Allah Tritunggal bisa sama dengan Dewa-dewa Hindu, Roh-roh yang disembah voodoo, atau bahkan Allah SWT-nya Islam yang menolak keilahian Yesus? Mungkin Gereja Katolik demi torensi sedang berusaha menipu diri sendiri dengan menganggap Tuhan yang disembah agama lain sama dengan Allah Tritunggal, tapi bagaimana menurut mereka sendiri (penganut agama lain)? Apakah saat menyembah tuhannya mereka juga percaya sedang menyembah Tuhan yang sama dengan Allah Tritunggal? Saya yakin TIDAK. Hanya melalui Yesus, tidak melalui cara lain,  manusia sampai pada penyembahan Tuhan yang benar.

Bahkan Paus Benediktus XVI, seorang jawara ortodoksi dan harapan para Katolik tradisionalis juga terjebak pada semangat ekumenisme palsu. Di satu sisi Paus benediktus XVI menyadari kekurangan dalam KVII dan berusaha merestorasi kembali ajaran-ajaran Gereja. Diantaranya dengan mengembalikan lagi Misa Latin sebagai salah satu pilihan di samping Misa Novus Ordo. Tapi di sisi lain demi 'bersatu' dengan Yahudi Paus Benediktus XVI mengatakan kitab-kitab Perjanjian Lama bisa ditafsirkan, baik untuk menerima Yesus sebagai Mesias seperti pada Gereja Katolik ataupun menolak Yesus sebagai Mesias seperti pada Yahudi. Ini jelas-jelas relativisme yang dikecam oleh Paus Pius X dalam Pascendi Gregis. Lebih jauh lagi Paus Benediktus XVI juga mengatakan bahwa Gereja Protestan masa kini bukan lagi bidaah sebagaimana gerakan Protestan di masa lalu dan tidak perlu kembali ke Gereja Katolik. Ini jelas ekumenisme palsu karena satu-satunya ekumenisme sejati hanyalah kembali ke Gereja Katolik, bukan tetap berada di luarnya.
Melalui pesan di dalam Rahasia Ketiga, sesungguhnya Bunda Maria ingin mengingatkan Gereja akan bahaya ini, sayangnya peringatan penting ini diabaikan oleh Gereja. Akibatnya racun ekumenisme palsu yang mengarah pada kemurtadan terus bertumbuh semakin kuat sehingga mematangkan kondisi untuk hadirnya seorang manusia durhaka yang akan menjadi paus palsu sebagaimana dinubuatkan oleh St. Paulus:

Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah. (2Tes.2:3-4).

Lebih jauh lagi St. Paulus mengatakan bahwa manusia durhaka ini adalah utusan iblis:

Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu,...(2Tes.2:9).

Tidak ada yang tahu kapan manusia durhaka ini akan datang. Tapi mengingat pentingnya ini bagi keselamatan jiwa manusia maka Tuhan pasti tidak membiarkan manusia kebingungan dan Dia akan memberi petunjuk, baik melalui nubuat-nubuat ataupun tanda-tanda yang membuat orang beriman tahu bahwa itulah dia. Pasti, tidak mungkin tidak, karena Tuhan mengasihi manusia.

Paus Fransiskus - Tanda dan Nubuat

Selanjutnya konklav para kardinal diadakan untuk memilih paus yang baru untuk menggantikan Paus Benediktus XVI. Dan akhirnya tepat 13 hari setelah pengunduran diri Paus Benediktus XVI: Habemus Papam! Kardinal Jorge Maria Bergoglio dari Argentina terpilih menjadi paus yang baru pada tanggal 13 Maret 2013 jam 07:06 waktu Italia.

Jika jeli mencermati apa yang terjadi kita bisa melihat ada suatu pertanda yang menyertai pengangkatan Paus Fransiskus. Ada banyak angka 13 yang menandai pemilihan Paus Fransiskus. Setidaknya ada empat angka 13: Paus Fransiskus terpilih 13 hari setelah pengunduran diri Paus Benediktus XVI, pada tanggal 13, tahun 2013, dan jika seluruh angka tanggal (3/03/2013)  dijumlahkan: 1+3+0+3+2+0+1+3 = 13. Mengapa muncul begitu banyak angka 13? Apakah ini angka sial? Atau ini angka yang berkaitan dengan okultisme dan penyembahan iblis? Mungkin saja, tapi saya tidak melihat dari perspektif itu.

Angka 13 bisa saja menunjukkan bahwa paus yang baru bukanlah bagian dari para rasul Kristus yang jumlahnya ada 12. Tapi yang menurut saya paling relevan: angka 13 mengingatkan kita pada tanggal penampakan Bunda Maria di Fatima yang bukan kebetulan selalu terjadi pada tanggal 13. Menurut saya ini sangat jelas menunjukkan keterkaitan yang erat antara terpilihnya Paus Fransiskus dan penampakan Fatima. Juga bukan kebetulan kalau nama tengah paus ini semasa menjadi kardinal adalah Mario, nama maskulin untuk Maria. Sulit untuk membantah adanya keterkaitan antara Penampakan Bunda Maria di Fatima dengan pengangkatan Paus Fransiskus.

Bukan itu saja, jika kita cermati jam terpilihnya Paus Fransiskus 07:06, itu bisa dibaca juga sebagai jam 06:66, atau 666. Menurut Alkitab ini jelas bukan angka yang baik!
Satu lagi, Vatikan menerbitkan koin atau medali untuk memperingati pengangkatan Paus Fransiskus. Apa yang terjadi..., aneh tapi nyata, medali yang sudah terlanjur diproduksi sebanyak 6000 keping ternyata mengandung kesalahan fatal sehingga harus ditarik kembali. Kata 'JESUS' mengalami salah tulis menjadi 'LESUS'.

Pertanda lain yang mengejutkan, dalam sebuah wawancara dengan Antonio Spadarro SJ., dari sebuah jurnal Yesuit, ketika ditanya, "Who is Jorge Mario Bergoglio". Paus Fransiskus menjawab, "I am a sinner," kemudian dia melanjutkan, "It is a not a figure of speech, a literary genre. I am a sinner." Paus Fransiskus dengan jelas dan tegas, mungkin dengan maksud menunjukkan kerendahan hati, mengidentifikasikan dirinya dengan sebutan, "I am a sinner." Ternyata istilah 'manusia durhaka' dalam nubuat St. Paulus pada Alkitab terjemahan bahasa Inggris versi Douay-Rheims adalah: 'the man of sin'. Tentu ini bukan sebuah kebetulan.

Apa artinya semua ini?

Keterkaitan Penampakan Bunda Maria di Fatima yang selalu terjadi pada tanggal 13 dan munculnya banyak angka 13 pada pengangkatan Paus Fransiskus sulit dibantah dan saya yakin ini bukan suatu kebetulan. Jika pesan pada Rahasia Ketiga mengacu pada kemurtadan besar di Gereja Katolik maka Paus Fransiskus kemungkinan besar punya peran yang sangat penting. Kilat yangmenyambar Basilika St. Petrus setelah Paus Benediktus menyatakan keinginannya untuk mengundurkan diri bisa jadi adalah cara Tuhan untuk menarik perhatian manusia akan dimulainya suatu babak yang penting dalam sejarah Gereja.

Bukan tidak mungkin Paus Fransiskus 'manusia durhaka' yang duduk di Bait Allah sebagaimana yang disebut St. Paulus dalam nubuatnya. Apalagi tanpa sengaja paus ini sudah mengidentifikasi dirinya sebagai 'the sinner' dimana istilah 'manusia durhaka' dalam bahasa Inggris (Douay-Rheims) adalah 'the man of sin'.  Tidak satupun manusia dibumi yang berhak menghakimi seorang paus, apalagi menyebutnya sebagai paus palsu berdasarkan opininya sendiri. Seorang paus hanya bisa dihakimi oleh dogma Gereja dan oleh Tuhan sendiri. Mungkin tanda-tanda yang menyertai Paus Fransiskus adalah cara Tuhan untuk menunjukkan siapa jatidiri Paus Fransiskus yang sesungguhnya. Ini mengingatkan saya bagaimana tanpa sengaja koran sekular di Portugal menulis berita penampakan Bunda Maria di Fatima dengan headline, "Tanda Besar di Langit..." yang membuat banyak orang lalu mengidentifikasi penampakan ini dengan nubuat pada Kitab Wahyu.
Kemudian jam terpilihnya Paus Fransiskus yang bisa dibaca sebagai 6:66 seolah mengkonfirmasi nubuat St. Paulus bahwa paus ini bukan pilihan Kristus melainkan mungkin berasal dari iblis. Kejadian aneh salah tulis 'JESUS' menjadi 'LESUS' pada peringatan pengangkatan Paus Fransiskus seolah mengkonfirmasi bahwa Tuhan Yesus tidak ingin dikaitkan dengan paus ini.

Sebagai konfirmasi tambahan, nubuat daftar paus dari St. Malachy ikut menguatkan fakta ini. Nubuat St Malachy merupakan daftar 111 nama paus mulai dari Paus Celestine II, yang di simbolkan dengan istilah-istilah latin ditambah nama terakhir di luar daftar yang 111, yaitu Petrus Romanus. Ketepatan yang mengagumkan dalam mengidentifikasi paus-paus dalam sejarah Gereja Katolik membuat banyak orang percaya pada nubuat ini. Menurut nubuat tersebut paus yang ke 111 adalah Paus Benediktus XVI, berarti Petrus Romanus merujuk pada penggantinya, yaitu Paus Fransiskus. Kebetulan meski berasal dari Argentina, Paus Fransiskus adalah keturunan Italia dan St. Fransiskus yang namanya dipakai sebagai paus ternyata memiliki nama tengah 'Pietro' atau Petrus. Jadi banyak orang yang percaya bahwa Paus Fransiskus adalah Petrus Romanus yang disebut dalam nubuat St. Malachy.

Keterkaitan yang erat dengan visi apokaliptik pada pesan Bunda Maria di Fatima dan berbagai tanda serta nubuat memang mengarah pada konklusi bahwa kemungkinan Paus Fransiskus adalah figur manusia durhaka yang dirujuk oleh St. Paulus menjelang kedatangan Kristus. Apakah memang demikian kenyataannya, saya tidak mau menjawab. Silahkan anda masing-masing yang memutuskannya.

Saat Kedatangan Akhir Jaman

Seandainya memang benar Paus Fransiskus adalah 'manusia durhaka' yang dirujuk St. Paulus apakah itu berarti kita sudah ada di akhir jaman sekarang ini? Seharusnya demikian, keduanya tidak bisa dipisahkan. Tidak ada satupun paus yang dapat menjadi kandidat manusia durhaka jika bukan di akhir jaman, sebaliknya jika tidak ada manusia durhaka yang duduk di bait Allah maka Yesus juga tidak akan datang dan itu artinya bukan akhir jaman.

Bencana-bencana besar yang datang silih-berganti dalam 10 tahun terakhir, peperangan dan ekskalasi ancaman perang yang makin besar bisa menjadi pertanda. Juga dosa manusia yang makin menjadi-jadi harusnya merupakan tanda akhir jaman sudah dekat. Semua dosa yang mendatangkan hukuman Tuhan di dalam Kitab Suci sudah menjadi sesuatu yang wajar saat ini.

Mungkin di jaman lain kondisi ini juga ada meski secara relatif kualitas maupun kuantitasnya tidak sama. Kondisi ini bisa membuat orang berkata "Ah dulu juga begitu dan kenyataannya tidak ada akhir jaman...."
Dan orang-orang yang skeptis selalu berdalih, "Tidak ada yang tahu kapan akhir jaman akan datang, bahkan Yesuspun tidak, hanya Bapa yang tahu". Betul, hanya Bapa saja yang tahu. Tapi pada saat Bapa memutuskan mengadakan akhir jaman, Ia akan memberi tanda-tanda sebelumnya. Bukankah di Kitab Suci ada banyak nubuat-nubuat akhir jaman yang menjelaskan tanda-tanda akhir jaman secara simbolik? Artinya Tuhan menghendaki manusia mengenali tanda-tanda akhir jaman. Maka tanda-tanda inilah yang harus ada untuk meyakinkan umat beriman bahwa saatnya sudah dekat. Tanda-tanda itu harus unik, otentik, sangat meyakinkan, dan memiliki kaitan yang langsung dengan akhir jaman.

Salah satu tanda yang signifikan ini tidak lain adalah Penampakan Bunda Maria di Fatima. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, dalam sepanjang sejarah Gereja Katolik penampakan Fatima adalah peristiwa mujizat yang terbesar setelah peristiwa Kebangkitan Kristus. Tidak ada mujizat yang lebih dari itu, jadi ini adalah tanda yang sangat signifikan. Tanda ini juga terkait langsung dengan akhir jaman karena banyak orang mengidentifikasi mujizat penampakan Fatima dengan istilah 'tanda besar di langit' dan 'wanita berselubungkan matahari' sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Wahyu, sebuah kitab suci yang secara khusus bersifat apokaliptik.

Sangat wajar kalau saya mengaitkan penampakan Fatima sebagai pertanda otentik dari Tuhan bahwa kita sudah masuk ke dalam masa apokaliptik. Saya pernah menyebutkan di artikel lain bahwa tahun 2017 adalah tahun yang sangat penting. Apakah saya mendapat mimpi? Bisikan gaib? Sama sekali tidak! Tahun 2017 merupakan tahun yang sangat penting karena itu adalah peringatan 100 tahun penampakan Bunda Maria di Fatima.

Angka 100 tahun ternyata punya makna penting pada pesan adikodrati yang otentik. Pada tanggal 17 Juni 1689 Tuhan Yesus melalui St. Margaret Maria Alacoque meminta Raja Louis XIV mengkonsekrasikan Perancis kepada Hati Kudus Yesus. Permintaan ini diabaikan oleh Raja Louis XIV dan anak serta cucunya (Raja Louis XV dan Raja Louis XVI). Karena penolakan ini, tepat 100 tahun kemudian yaitu tanggal 17 Juni 1789 gerakan revolusi Perancis yang anti-Katolik berhasil mencopot Raja Louis XVI dari singgasananya dan akhirnya beberapa tahun kemudian memancung kepala raja serta permaisurinya.

Selain itu tahun 2017 juga merupakan 100 tahun peringatan revolusi Bolshevik di Rusia yang menumbangkan kekuasaan Tsar dan mengawali teror komunisme di seluruh dunia. Bukan kebetulan bahwa pesan Bunda Maria di Fatima secara khusus menyebut kejahatan Rusia yang akan menebar teror di seluruh dunia. Bisa jadi tahun 2017 akan merupakan momentum kebangkitan teror kekuatan jahat komunisme Rusia yang dahsyat dan tidak bisa dibendung lagi. Jika Revolusi Bolshevik membuat komunisme serta seluruh kejahatannya menguasai Rusia, maka tahun 2017 mungkin mereka akan menguasai dunia.


Dua even ini: peringatan 100 tahun penampakan Bunda Maria di Fatima dan revolusi Bolshevik membuat tahun 2017 akan menjadi tahun yang sangat signifikan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, yang paling penting waktunya sudah sangat dekat. Sangat bijaksana kiranya kalau kita mulai mempersiapkan diri dengan bertobat, berdoa dan berpuasa agar kita boleh melalui masa-masa sulit tersebut, entah apapun itu, dan menyongsong kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus.

Quo Vadus Francisce (1/3)

Paus dan dunia

Belum setahun umat Katolik mendapat pemimpin baru setelah pemimpin sebelumnya, seorang paus yang luar biasa, jawara ortodoksi, Paus Benediktus XVI mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Kardinal Jorge Maria Bergoglio sekarang menjadi pemimpin Gereja Universal dengan nama Paus Fransiskus.

Berbeda dengan pendahulunya, baik Paus Yohanes Paulus II maupun Paus Benediktus XVI, kepemimpinan Paus Fransiskus mendapat sambutan yang luar biasa, tidak hanya dari sebagian besar umat Katolik tapi juga dari seluruh dunia. Semua orang berharap Paus ini mampu membawa perubahan besar. Beberapa jajak-pendapat menunjukkan bahwa Paus ini adalah orang paling populer sejagad. Majalah TIME menobatkan Paus Fransiskus sebagai 'Person of The Year 2013'. Bahkan ikon perubahan yang sebelumnya dipegang oleh Presiden Obama sekarang bergeser ke Paus Fransiskus. Dalam waktu singkat Paus Fransiskus tidak hanya menjadi Paus bagi umat Katolik tapi juga bagi seluruh dunia.

Ironisnya saya pribadi merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan ini, intuisi saya mengatakan ada sesuatu yang salah. Banyak pernyataan dan tindakan paus ini yang kontroversial dan sangat berbeda dari para paus pendahulunya, bahkan dengan sebagian besar tradisi Gereja. Tapi justru itulah yang membuatnya menjadi begitu populer di mata dunia: seorang paus yang merakyat dan pro-pembaharuan.

Saya jadi teringat nas Kitab Suci:

"Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu." (Luk. 6:26)

Mungkinkah paus ini disukai dunia karena dia mengatakan apa yang diinginkan dunia, dan bukan apa yang dikehendaki Kristus? Tentunya ini sangat kontras dengan Paus Benediktus XVI yang diakhir jabatannya seolah menjadi 'public enemy number one', musuh dunia yang dihujat dimana-mana dan terakhir sebelum 'terpaksa' mengundurkan diri beliau mendapat ancaman kriminalisasi dari komunitas Eropa padahal dia tidak punya salah apa-apa, sama kasusnya seperti Yesus sewaktu disalibkan dulu.

Untuk inipun Kitab Suci sudah mengatakannya:

Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. (Yoh. 15:19)

Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. (Yoh.17:14)

Kontroversi Paus

Tidak lama setelah menduduki Tahta Petrus, Paus Fransiskus mulai menarik perhatian dengan berbagai kontroversi. Mulai dari pelecehan liturgi Kamis Putih dengan melibatkan wanita dan muslim sebagai simbol para rasul, lalu pernyataan-pernyataannya yang sangat liberal mengenai keselamatan untuk atheis, tidak perlunya Gereja terobsesi pada masalah-masalah moral (homoseksual, aborsi, kontrasepsi, dll), penolakannya terhadap Tuhan versi Katolik, dan banyak lagi kontroversi lainnya.

Sebagai seorang yang mencoba menghayati iman Katolik secara konservatif/ortodoks, saya tentu kecewa sekali dan merasa ada yang salah dengan paus ini. Apalagi jika perbuatan dan pernyataan-pernyataannya tidak dilihat secara terpisah melainkan sebagai sebuah kesatuan. Ada indikasi kuat bahwa paus ini sangat dipengaruhi oleh ajaran lain yang bukan Katolik, bahkan bertentangan dengan ajaran Katolik.

Spiritualitas New-Age

Sebelumnya saya ingin menjelaskan sedikit latarbelakang saya sehingga pembaca bisa sedikit memahami mengapa saya sampai pada kesimpulan tersebut.

Saya berasal dari keluarga muslim yang tertarik menjadi Katolik karena pengaruh pendidikan. Awalnya saya adalah Katolik yang sangat toleran. Lalu lama-kelamaan berkembang menjadi seorang pluralis-indiferentis yang menganggap semua agama tanpa kecuali hanyalah jalan yang berbeda-beda menuju kebenaran yang sama. Saya tertarik mendalami berbagai tradisi dan ajaran lain dengan maksud untuk memahami kebenaran secara lebih komprehensif. Saya bergabung dengan banyak kelompok-kelompok spiritual/new-age seperti Ancient Mystic Order of Rosae Crucis (AMORC - freemason/rosicrusian), Builders Of The Adytum (BOTA - kabalah/Tarot), Self Realization Fellowship (SRF - Kriya Yoga), dan kebatinan Islam di bawah bimbingan seorang guru dari Banten. Diantara semuanya yang paling serius adalah SRF. Saya menjadi seorang pluralis-indiferentis hampir selama 10 tahun sampai akhirnya sebuah pengalaman spiritual pada tahun 1996 menyadarkan saya untuk meninggalkan itu semua dan kembali berusaha setia pada ajaran Gereja Katolik, sampai sekarang.

Jadi saya cukup mengenal pola pemikiran dan spiritualitas new-age, bukan hanya dari buku dan teori, tapi dari pengalaman hidup. Sebaliknya saya juga kenal betul seperti apa ajaran Gereja Katolik dan apa perbedaannya dengan spiritualitas new-age yang saya tolak. Oleh karena itu ketika mencermati berbagai tindakan dan pernyataan Paus Fransiskus yang kontroversial, secara intuitif saya bisa mengenali adanya kemungkinan pengaruh ajaran new-age di dalamnya. Ini seperti seorang penikmat kopi yang bisa mengenali kopi enak hanya dari mencium aromanya. Atau seperti ex-pecandu narkoba yang langsung bisa mengenali seorang pecandu narkoba hanya dengan melihat matanya.

Tapi saya tidak ingin menilai situasi ini semata-mata berdasarkan intuisi, saya mencoba menyelidikinya lebih jauh agar kesimpulan yang diambil cukup obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Paus Dan Spiritualitas New-Age

Salah satu ciri yang sangat mencolok dari semua spiritualitas new-age yang saya ikuti adalah: sangat ekumenis dan toleran. Semuanya selalu mengatakan bahwa mereka dapat diikuti oleh agama apapun. Ajaran mereka tidak akan membuat seseorang meninggalkan agamanya melainkan membuatnya menghayati agamanya dengan lebih baik.

Bagi ajaran new-age ada dua cara menghayati agama: eksoteris (kulit luar atau yang tampak) dan esoteris (inti ajaran yang bersifat rohani). Semua perbedaan agama hanya ada pada tingkat eksoteris, sedangkan pada tingkat esoteris pada dasarnya sama. Dengan demikian bagi seorang praktisi new-age, semua ritual, liturgi, bahkan dogma-dogma agama hanyalah bersifat eksoteris. Sementara itu pada tingkat esoteris itu semua yang bersifat eksoteris harus ditinggalkan dan manusia berjumpa secara pribadi dengan Tuhan yang universal/Supreme Being, yang dikenal oleh berbagai agama dalam nama yang berbeda-beda.

Oleh karena itu bisa terjadi seorang praktisi new-age mengikuti misa, menerima ekaristi, dan meyakini kebenaran teks-teks Kitab Suci, namun semua itu dipahami secara berbeda dengan ajaran Katolik yang ortodoks.

Sebagai contoh, di SRF Paramahansa Yogananda (pendiri/guru SRF) sering mengutip teks Injil yang mengatakan bahwa tidak ada yang sampai kepada Bapa kecuali melalui Yesus Kristus.

Tapi dalam pemahamannya Yesus Kristus yang dimaksud bukanlah Yesus Kristus manusia historis yang pernah hidup 2000 tahun yang lalu melainkan suatu arketip yang merujuk pada kesadaran spiritual tertinggi: Kesadaran Kristus (Christ Consciousness). Kesadaran Kristus adalah kondisi dimana manusia mengalami kesatuan dengan yang ilahi, atau dalam bahasa Jawa: Manunggaling Kawulo Gusti. Di SRF kondisi ini dapat dicapai melalui Kriya Yoga. Dengan demikian ayat Injil tersebut tidak khas untuk pengikut Kristus saja tapi juga dapat diaplikasikan pada agama-agama dan tradisi spiritual lainnya meski dengan nama atau istilah yang berbeda. Semua agama dapat menjadi jalan untuk menuju keselamatan, Extra Ecclesiam Nulla Salus adalah nonsense.

Ciri khas ini saya lihat cukup menonjol pada diri Paus Fransiskus. Semasa masih menjadi kardinal, beliau setiap tahun mengadakan pertemuan ekumenis semua agama di Katedral Buenos Aires. Kardinal Bergoglio juga tidak segan ikut secara aktif dalam perayaan Hanukah, serta memberikan dirinya dengan berlutut untuk diberkati oleh pendeta karismatik. BTW, semangat ekumenis dan kecenderungan indiferentis juga ada pada Paus JPII (doa bersama di Asisi, mencium Alquran, dll), tapi saya tidak melihat ciri lainnya yang menonjol.

Keengganannya untuk mengajak orang mengimani Kristus ('Proselytism is nonsense...', katanya) sangat mungkin didasari oleh sikapnya yang menganggap semua agama punya jalannya yang khas untuk menuju keselamatan. Bahkan atheispun punya cara yang khas untuk menuju keselamatan, yaitu dengan mengikuti kata hati. Kalau semua agama punya jalan keselamatan masing-masing maka untuk apa lagi memberitakan Kristus? Buat saya sikap ini sama saja dengan menyangkal Kristus secara halus atau tidak langsung.

Pernyataannya yang terkenal "There is NO Catholic God..." mengindikasikan bahwa Paus Fransiskus menganggap dogma-dogma Katolik, termasuk ritual dan liturginya, hanyalah bersifat eksoterik. tidak esensial. Sebuah pandangan khas praktisi spiritualitas new-age. Kenyataan ini juga didukung dengan tindakannya yang begitu mudah melecehkan liturgi Kamis Putih dengan mengikutsertakan wanita dan juga muslim sebagai simbol para rasul.

Dari pengalaman saya tahu bahwa spiritualitas new-age sama sekali tidak kompatibel dengan ajaran Gereja Katolik. Saya pribadi memutuskan untuk meninggalkan ajaran new-age untuk kembali pada ajaran Kristus. Anda tidak bisa menggabungkan keduanya dan tetap setia kepada Kristus. Tuhan sendiri telah mengatakan bahwa manusia tidak bisa mengabdi kepada dua tuan. Saya yakin ini juga berlaku untuk Paus Fransiskus. Sama sekali saya tidak mengatakan kalau Paus Fransiskus adalah pengikut spiritualitas new-age, saya tidak tahu soal itu, tapi dia memiliki kecenderungan semangat yang sama. Oleh karenanya kalau Paus Fransiskus tetap menunjukkan kecenderungannya pada spiritualitas new-age, kemungkinan besar dia tidak mengabdi pada Kristus.

Senin, 30 Juli 2012

Berkat Dan Kutuk Terbesar Sepanjang Sejarah


(Catatan: Tulisan ini pernah diposting ke forum EDO tapi dihapus oleh moderatornya tanpa bisa menunjukkan kesalahan apapun dalam isinya kecuali masalah: gaya bahasa)

Pada suatu kesempatan saya berbincang-bincang dengan seorang klien, usianya sekitar 60-an. Entah dari mana mulanya akhirnya dia curhat tentang masalah agama, “Saya ini seorang muslim, semua keluarga saya juga muslim, tapi saya kok ngeri ya melihat muslim-muslim yang berjenggot itu… apalagi kalau mendengar kotbah-kotbah ulama mereka. Katanya Islam itu satu, tidak seperti kristen yang ada banyak gereja, tapi saya rasa Islam saya dan Islam mereka berbeda…” 

Saya cuma manggut-manggut saja tanpa banyak komentar. Maklum ini masalah yang sangat sensitif dan mudah terjadi salah paham jika kurang berhati-hati dalam menyampaikannya. Satu hal yang menarik bagi saya adalah kenyataan bahwa fundamentalisme Islam tidak hanya menakutkan untuk pengikut agama lain tapi juga menakutkan bagi banyak orang Islam sendiri. Sebenarnya ini bukan hal yang baru, tapi apa yang diungkapkan klien saya tadi menambah konfirmasi bahwa apa yang saya yakini memang benar: Islam bukanlah rahmatan lil alamin (rahmat untuk semesta alam) sebagaimana yang selalu diklaim mereka. Dan ini bukan suatu keyakinan yang muncul dari prasangka emosional, di baliknya ada dasar pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Janji Tuhan Dan Bangsa Terpilih

Kepada Abraham untuk pertama kalinya Tuhan menetapkan sebuah bangsa menjadi saluran berkat-Nya bagi seluruh manusia: “Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.” (Kej. 22:18). Ini adalah titik awal munculnya bangsa terpilih, bangsa yang akan menjadi saluran berkat bagi seluruh manusia.

Untuk menunjukkan bahwa bangsa terpilih ini bersifat khusus dan spesifik, bukan umum dan multi-interpretasi, Tuhan menyaringnya paling tidak sampai dua kali untuk menegaskan identitas bangsa pilihanNya. Yang pertama ketika Tuhan dengan sangat tegas dan jelas menyatakan bahwa yang dimaksud keturunan Abraham adalah yang berasal dari Ishak, bukan Ismail (Kej.21:12). Yang kedua, ketika Ishak yang sudah terlanjur memberikan berkatnya kepada Yakub tidak bisa memberikan berkatnya lagi kepada Esau (Kej. 27:33). Maka sejak itu yang yang menjadi bangsa terpilih, penerus janji Tuhan kepada Abraham, adalah seluruh keturunan Yakub, bukan yang lain dan tidak pernah yang lain. Saya percaya ketetapan ini tidak akan berubah sampai akhir jaman karena Tuhan itu maha setia. Tak ada perbuatan iblis atau manusia yang sanggup membuat Tuhan mengingkari janjiNya sendiri.

Persoalan di atas menjadi sangat penting dan relevan untuk dipahami terutama ketika manusia di hadapkan pada kenyataan pluraritas agama, dimana semua agama menyatakan dirinya sebagai agama yang benar dan saluran berkat bagi semua manusia. Dengan memahami bagaimana Tuhan menetapkan bangsa pilihanNya kita tahu bahwa kenyataan yang sesungguhnya sama sekali tidak seperti itu.

Jika Tuhan memutuskan memilih banyak bangsa sebagai saluran berkat-Nya atau bisa diartikan juga bahwa Tuhan membenarkan banyak agama, maka sejak awal Ia tidak akan pernah menolak Ismail yang juga anak Abraham sebagai penerus keturunan Abraham dan Esau tentu juga akan mendapat berkat yang sama seperti Yakub. Tapi kita tahu bukan seperti itu yang dinyatakan oleh Alkitab.

Sejak awal Tuhan sudah menetapkan sebuah sarana yang khusus, spesifik, dan tidak tergantikan. Bagi-Nya satu bangsa pilihan sudah cukup untuk menjadi sarana berkat-Nya.  Dengan memahami ini bisa disimpulkan bahwa sejak awal sesungguhnya Tuhan sudah menetapkan satu agama saja sebagai jalan keselamatan manusia dan ketetapan ini tidak pernah akan berubah. Tuhan tidak pernah membenarkan banyak agama sebagaimana yang dipikirkan kaum pluralis. Pada jaman Abraham tidak, dan pada jaman sekarangpun juga tidak.

Sabda Tuhan Dan Berkat untuk Seluruh Bangsa 

Lalu berkat seperti apakah yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham untuk diberikan kepada semua manusia? Berkat yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah SabdaNya sendiri, yang akan menjadi sarana keselamatan bagi seluruh manusia. Berkat Tuhan inilah yang kemudian di sepanjang sejarah bangsa Israel dinyatakan dalam karya-karya tulis terinspirasikan, yang kemudian dikenal sebagai kitab-kitab Perjanjian Lama. Berkat Tuhan ini juga yang kemudian mencapai puncak kesempurnaannya dalam Yesus Kristus, Sang Sabda, seperti yang dinyatakan dalam kitab-kitab Perjanjian Baru. Inilah berkat terbesar yang dapat diberikan Tuhan kepada manusia seperti yang dijanjikanNya kepada Abraham: SabdaNya sendiri yang berpuncak pada Yesus Kristus.

Saya ingin menggarisbawahi supaya kita tidak terjebak mengikuti pandangan sola-scriptura yang menyesatkan: Alkitab memang benar Sabda Tuhan tapi Sabda Tuhan bukanlah Alkitab. Yesus sendirilah yang menyatakan bahwa jika Sabda Tuhan harus ditulis seluruhnya dalam kitab-kitab suci, dunia tidak akan sanggup memuat semua kitab tersebut. Dengan mengikuti pandangan sola-scriptura maka konsekuensi logisnya manusia hanya menerima sebagian Sabda Tuhan saja, tidak pernah lengkap karena Alkitab bukanlah keseluruhan Sabda Tuhan.

Seluruh kepenuhan Sabda Tuhan hanya mungkin diterima manusia dengan menerima Yesus Sang Sabda itu sendiri. Hanya ada satu cara manusia dapat menerima Kristus seutuhnya, yaitu melalui Ekaristi. Tak ada sarana yang lain. Lalu dari manakah manusia memperoleh Ekaristi kalau bukan dari Gereja? Ini adalah bagian dari pemenuhan janji Tuhan kepada Abraham karena keturunan Abraham tidak lagi terbatas pada keturunan menurut daging, tapi keturunan menurut roh. Dalam pengertian ini Gereja adalah bangsa terpilih keturunan Abraham yang bersifat rohani.

Tanpa Gereja tidak ada Ekaristi, konsekuensi logisnya Sabda Tuhan tidak pernah tersampaikan kepada manusia dengan penuh, sekeras apapun dan sampai kapanpun manusia mengupayakannya. Tapi melalui Gereja seluruh manusia dimungkinkan untuk menerima berkat Tuhan yang utuh, yaitu Sabda Tuhan yang terungkap dalam kitab suci dan Sabda Tuhan yang hadir dalam Ekaristi. Dengan demikian melalui Gerejalah janji Tuhan kepada Abraham sepenuhnya akan tergenapi. Saya mengatakan ‘akan’ karena janji Tuhan kepada Abraham adalah ‘semua bangsa di bumi’ tanpa kecuali, bukan sebagian bangsa.

Kutuk Untuk Seluruh Bangsa 

Sementara Tuhan berkarya melalui Gereja untuk memenuhi janji-Nya, iblis tidak pernah berhenti menghalangi dan terus-menerus berupaya menggantikan berkat yang menyelamatkan ini dengan kutuk yang mematikan. Ada banyak upaya yang dilakukan iblis, tapi yang dampaknya sangat fenomenal dan menurut saya menjadi salah satu mahakarya iblis terjadi sekitar 6 abad setelah Sang Sabda menjadi daging.

Pada abad ke 6 di tanah Arab hidup seorang pemuda yatim piatu bernama Muhamad. Ia diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Thalib. Hidupnya yang keras dan dalam kemiskinan membuatnya terobsesi pada tiga hal ini: harta, wanita, dan tahta. Ia bemimpi menjadi kaya, banyak istri, dan menjadi penguasa. Menurut beberapa hadis Muhamad sering pergi bertapa menyendiri di gua Hira, mungkin dengan maksud untuk mewujudkan obsesinya.

Obsesinya yang pertama, menjadi kaya, mulai terwujud saat dia mengawini Khadijah, majikannya yang kaya. Tetapi karena Khadijah memiliki latar belakang kristen maka Muhamad terpaksa harus menerima kenyataan bahwa selama Khadijah masih hidup maka Muhamad tidak bisa memiliki istri lain. Muhamad yang cerdik tahu ini tidak akan lama karena Khadijah memang jauh lebih tua dari Muhamad. Dia akan bisa menikmati banyak istri, obsesinya yang kedua, nanti setelah istrinya yang pertama meninggal. Dan hal itu memang dilakukannya kemudian. Sebagian hadis mengatakan istrinya ada 9, sebagian lagi mengatakan 11, atau mungkin juga lebih.
Obsesinya yang ketiga mendapatkan jalan pemenuhannya ketika suatu saat ia mendapatkan penampakan sosok gaib yang mengaku sebagai ‘Malaikat Jibril’ (atau Gabriel). Dengan bantuan ‘Malaikat Jibril’ ini Muhamad melihat kesempatannya menjadi penguasa tanah Arab bisa terwujud. Selanjutnya Muhamad menyatakan dirinya sebagai rasul Allah dan nabi terakhir, yang mendapat wahyu dari Allah berupa Alquran untuk diwartakan kepada semua manusia. Dengan cara itu Muhamad mulai mendapatkan pengikut yang loyal.
Di Mekkah, Muhamad banyak mendapat tantangan dan sulit berkembang. Muhamad lalu pindah ke Medinah, dan di kota ini ia mendapatkan sambutan positif. Ide adanya seorang nabi muncul dari keturunan Ismail tentu sangat menarik bagi bangsa Arab di Madinah yang sebelumnya merasa inferior dari bangsa Yahudi di kota tersebut. Muhamad sebagai nabi keturunan Arab berhasil mengangkat harga diri orang-orang Arab dan pengikutnyapun menjadi semakin bertambah pesat.

Kemudian dengan legitimasi ‘wahyu Allah’ yang turun melalui ‘Malaikat Jibril’, Muhamad dan gerombolannya melakukan perampokan-perampokan terhadap saudagar-saudagar kafir, penculikan-penculikan untuk mendapatkan uang tebusan dan juga peperangan-peperangan untuk untuk mendapatkan pajak jizya. Dengan cara ini pengikut agama baru Muhamad menjadi semakin besar.

Akhirnya dengan bantuan ‘Malaikat Jibril’ dan perjuangan yang panjang Muhamad berhasil menuntaskan seluruh obsesinya: kaya-raya, banyak istri, dan menjadi penguasa sekaligus nabi. Muhamad berada di puncak dunia: ia menjadi nabi yang terakhir dan terbesar sepanjang sejarah serta telah mewartakan Sabda Tuhan yang terakhir untuk umat manusia melalui Alquran. Seluruh kenikmatan duniawi sudah berhasil diraihnya dan ganjaran kenikmatan di surga juga sedang menunggunya.

Benarkah demikian?

Banyak orang yang dengan mudah terpedaya pada klaim-klaim bombastis Islam seperti Muhamad nabi terakhir yang membawa Alquran sebagai Sabda Allah yang paling murni dan penutup. Mereka yang lemah imannya atau tidak menggunakan akal-budinya dengan baik akan mudah tertarik pada Islam. Saya harus mengakui dengan jujur bahwa saya sendiri pernah dalam posisi itu. Tapi dengan sedikit saja kita mau menggunakan akal-budi yang diberikan Tuhan, maka Islam akan tampak tidak lebih dari sebuah hoax dan scam. Tak ada kebenaran dan keselamatan sejati di dalamnya.

Muhamad mendapatkan legitimasinya sebagai nabi dari Alquran dan sebaliknya Alquran mendapatkan legitimasinya sebagai kitab suci pamungkas dari siapa lagi kalau bukan Muhamad. Bagi orang yang kritis pembenaran siklis semacam ini sudah cukup untuk menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres di dalamnya.
Apalagi dari Kitab Suci kita mengetahui bahwa Tuhan telah memilih sarana yang ekslusif dan tidak tergantikan untuk mewartakan SabdaNya, yaitu melalui keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub. Muhamad sama sekali tidak masuk kriteria itu, baik menurut daging maupun menurut roh. Dan Tuhan tidak pernah mengubah pendirianNya meskipun dalam sejarahnya bangsa Israel berkali-kali mengecewakanNya. Berdasarkan ini kenabian Muhamad tidak hanya meragukan tapi juga sama sekali tidak bisa diterima. Tapi sayang sekali banyak orang yang tidak menyadari ini dan tetap mau percaya bahwa Muhamad adalah rasul / nabi terakhir.
Muhamad tahu betul bahwa Alquran yang diwartakannya meskipun mengandung kisah-kisah nabi terdahulu yang ada di Alkitab, memiliki banyak perbedaan yang mendasar di dalamnya. Logikanya, jika isi Alquran sejalan dengan Alkitab maka seharusnya kita mengenal sebuah Alkitab baru yang terdiri dari tiga bagian: Perjanjian Lama – Perjanjian Baru – dan Perjanjian Yang Lebih Baru (Alquran). Tapi nyatanya kitab semacam ini tidak pernah ada karena isi Alquran memang tidak kompatibel dengan kitab-kitab suci sebelumnya. Sebuah kenyataan yang tidak bisa dibantah

Bandingkan hal ini dengan Perjanjian Baru yang sangat kompatibel dengan Perjanjian Lama sehingga keduanya bisa dijadikan sebagai satu kesatuan dalam Alkitab. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memang berasal dari sumber yang sama yaitu Tuhan sendiri, sebaliknya Alquran yang tidak kompatibel  jelas berasal dari sumber yang berbeda.

Ketidaksesuaian isi Alquran dengan kitab suci sebelumnya tentu akan banyak memunculkan pertanyaan yang bisa melemahkan Islam. Muhamad tidak ingin hal itu terjadi, maka untuk mencegah keraguan para pengikutnya Muhamad menggunakan cara yang gampang: fitnah. Cukup dengan mengatakan bahwa kitab-kitab suci sebelumnya sudah diselewengkan atau diubah-ubah dan Alquran datang untuk meluruskan penyelewengan itu maka masalah ketidaksesuaian isi Alquran dan kitab-kitab tersebut bisa diselesaikan. Lalu buktinya apa kalau kitab-kitab itu sudah diselewengkan? Tidak perlu bukti, Alquran sendiri yang mengatakannya!

Tapi mari kita bersikap kritis sedikit…

Kitab-kitab suci (PL) yang dinyatakan sudah diselewengkan adalah kitab-kitab suci yang sudah mengalami sejarah panjang, yaitu kitab-kitab yang ditulis dan dibaca oleh para nabi-nabi Israel. Kitab apakah yang dibaca Daud dan Salomo kalau bukan Kitab Taurat yang ada di Perjanjian Lama? Kitab apakah yang dibaca oleh Yesus kalau bukan semua kitab-kitab Perjanjian Lama? Tidak ada catatan sedikitpun yang menyatakan bahwa Yesus meragukan kebenaran kitab-kitab suci tersebut atau menyatakan ada yang mengubah-ubah isinya. Sementara itu kitab Perjanjian Lama yang ada pada jaman Yesus dengan mudah bisa dibuktikan memiliki isi yang sama dengan kitab Perjanjian Lama yang ada sekarang. Berdasarkan ini bisa dipastikan bahwa setidaknya menurut Yesus semua kitab-kitab suci Perjanjian Lama adalah benar dan tidak ada penyelewengan atau pemalsuan di dalamnya. Dengan demikian bisalah kita katakan bahwa kebenaran isi kitab-kitab Perjanjian Lama sudah diverifikasi oleh Yesus sendiri.

Lalu siapakah yang lebih bisa dipercaya: Yesus yang hidup dalam tradisi Yahudi atau Muhamad yang mengaku nabi? Jawabannya tentu sudah jelas. Dengan demikian tuduhan bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama sudah diselewengkan sama sekali tidak bisa diterima dan harus dinyatakan sebagai fitnah dan kebohongan publik. Lalu bagaimana dengan Perjanjian Baru? Tidak perlu dibahas lebih lanjut. Di dalam pengadilan kalau seorang saksi sudah terbukti berdusta pada satu hal maka pernyataan lainnya sudah tidak bisa dipercaya lagi. Seharusnya kenyataan ini sudah menjadi cukup alasan bagi manusia untuk sesegera mungkin memusnahkan semua salinan Alquran yang ada di muka bumi. Caranya bermacam-macam, bisa dibakar atau bisa juga didaur ulang.

Bisa dipahami Muhamad melakukan fitnah ini demi mempertahankan kedudukannya sebagai nabi. Tapi tanpa disadarinya dengan melakukan itu Muhamad tengah menabur benih malapetaka terbesar bagi umat manusia!
Berkat untuk seluruh manusia yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham, yaitu SabdaNya, yang dinyatakan melalui para nabi selama berabad-abad, yang dipercaya, dijaga dan dipertahankan kebenarannya dengan darah dan nyawa oleh banyak nabi, martir, dan bahkan oleh Kristus sendiri, tiba-tiba demi obsesi duniawi seorang Muhamad dinyatakan sebagai kebohongan! Ini adalah bencana dan tragedi kemanusiaan yang mengerikan: melalui Islam dan Alquran, Muhamad secara efektif telah membuat begitu banyak umat manusia menolak dan merendahkan Sabda Tuhan yang sebenarnya.

Dengan menjadi Islam seseorang tidak hanya menolak untuk percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan, tapi bahkan juga menolak untuk percaya seluruh isi Kitab Suci yang telah dibaca dan dipercaya banyak nabi. Martin Luther memang bersalah karena membuat banyak orang di dunia yang  tidak lagi menerima Ekaristi, tapi setidaknya Sabda Tuhan lainnya, yaitu yang ada di Alkitab tetap dipercaya dan diterima pengikutnya. Sedangkan apa yang dilakukan Muhamad jauh lebih mengerikan dari itu, seluruh Sabda Tuhan dari A sampai Z secara efektif ditolak dan tidak lagi dibaca oleh pengikutnya!

Bisakah anda bayangkan kemarahan seperti apa yang ada pada Tuhan ketika SabdaNya dinyatakan sebagai kebohongan sementara kebohongan justru dinyatakan sebagai SabdaNya? Bayangkan berapa miliar jiwa manusia sepanjang sejarah yang telah menolak percaya Alkitab karena mereka lebih percaya kepada Alquran?

Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. (Ul. 18:20) 

Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. (Gal. 1:9) 

Dengan menyatakan Alquran sebagai Sabda Tuhan, padahal bukan, Muhamad sudah mendatangkan kutuk dan kematian bagi dirinya sendiri. Kematian yang bukan sekedar kematian badan (karena semua orang juga akan mati) tetapi kematian jiwa yang kekal. Lalu dengan menyatakan Alkitab sebagai kitab suci yang sudah diselewengkan, Muhamad telah menambah hukumannya lebih jauh lagi karena telah menyesatkan banyak jiwa yang dengan sadar menolak untuk membaca Alkitab. Oleh karena itu seperti Dante Alighieri dalam La Divina Comedia, saya juga percaya Muhamad saat ini tidak berada di surga impiannya bersama para bidadari melainkan sedang terpuruk di neraka meratapi kebodohannya.

Jika kita percaya berkat Tuhan yang terbesar bagi umat manusia adalah Sabda Tuhan yang terungkap dalam Kitab Suci dan tergenapi seluruhnya dalam Yesus Kristus, maka sebaliknya Islam dan Alquran yang membuat begitu banyak manusia secara total menolak seluruh Sabda Tuhan, tidak lain adalah kutuk yang terbesar bagi seluruh umat manusia. Islam dan Alquran sesungguhnya adalah mahakarya Iblis, dan Muhamad tidak lebih adalah seorang rasul iblis.

Saya tidak menulis ini dengan perasaan bangga, sebaliknya dengan kesedihan dan kemarahan yang mendalam membayangkan lebih dari satu milyar orang di dunia saat ini dengan penuh iman percaya Muhamad sebagai rasul Allah dan berharap bisa mengikutinya di surga sementara Muhamad sendiri tidak pernah berada di sana melainkan sedang menanti para pengikutnya di neraka. Terlebih lagi karena diantara mereka yang disesatkan Muhamad adalah saudara-saudara, teman-teman, dan tetangga kita yang terdekat yang kita temui sehari-hari sementara kita tidak berani atau tidak tahu bagaimana caranya menyelamatkan mereka dari jalan yang mengarahkan kepada kematian kekal. Cobalah tanyakan pada pastor bagaimana kalau kita mewartakan Injil kepada teman-teman dan saudara-saudara yang muslim, saya yakin 99% dia akan mencarikan alternatif kegiatan lain yang lebih aman untuk menyalurkan semangat evangelisasi ini.

Tapi bagaimanapun saya percaya janji Tuhan kepada Abraham, yaitu semua bangsa akan mendapat berkat, pada waktunya akan tergenapi. Berkat Tuhan pasti akan menang atas kutuk iblis. Tapi sekarang pemenuhan janji itu harus diakui memang masih jauh, perjalanan masih panjang dan pekerjaanpun belum selesai.